KGPP Regio Barat Keuskupan Ketapang Gelar Aksi Pembagian Pembatas Buku Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

 

KGPP Regio Barat Keuskupan Ketapang Gelar Aksi Pembagian Pembatas Buku Stop Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Ketapang, 7 Desember 2025.Gelombang kampanye kemanusiaan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak kembali menggema di seluruh wilayah Keuskupan Ketapang. Mengusung pesan inti “Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak” dan “Stop Pernikahan Anak”, Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (KGPP) Regio Barat bergerak serempak di empat paroki sejak 25 November hingga 10 Desember 2025.

Keempat paroki tersebut meliputi Paroki Santa Gemma Galgani Katedral Ketapang, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Paroki Santo Stefanus Kendawangan, dan Paroki Immanuel Sukadana. Gerakan ini menjadi bagian dari aksi global 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence, sebuah inisiatif internasional yang setiap tahun digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai urgensi penghapusan kekerasan berbasis gender.

Di antara rangkaian kegiatan yang berlangsung di wilayah Regio Barat, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menjadi salah satu lokasi kegiatan yang paling aktif. Pada Minggu, 7 Desember 2025, seusai Misa Pagi yang berlangsung pukul 08.20 WIB, ratusan pembatas buku bertema anti kekerasan dibagikan langsung kepada umat sebagai media edukatif. Aksi ini dipimpin oleh Koordinator SGGP Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ibu Efriana Pipin, dan dibantu oleh Ibu Sutarti Rahayu, dengan dukungan penuh dari Pastor Kepala Paroki RP. Vitalis Nggeal, CP., Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Bapak Jeno Leo, serta Ketua II Bapak Andreas Didik Eko Purwantoro.













Gerakan Pastoral: Suara Gereja bagi Perempuan dan Anak

Momentum kampanye tahun ini dijalankan karena Gereja memandang kekerasan terhadap perempuan dan anak sebagai salah satu isu kemanusiaan yang sangat mendesak. Kekerasan tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik, tetapi juga kekerasan psikis, verbal, ekonomi, bahkan spiritual, yang sering kali terjadi tanpa disadari atau tidak dilaporkan karena dianggap sebagai persoalan domestik semata.

Melalui KGPP, Gereja ingin memastikan bahwa setiap umat memahami bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun bertentangan dengan martabat manusia. Perempuan dan anak adalah pribadi yang memiliki hak asasi, martabat ilahi, dan layak dihormati tanpa syarat. Dalam banyak kasus, Gereja berperan sebagai jembatan yang membantu korban mendapatkan dukungan moral dan sosial, sekaligus mendorong masyarakat untuk tidak tinggal diam.

Karena itu, kampanye tahun ini tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi diarahkan sebagai refleksi pastoral yang mendalam, mengajak seluruh umat membangun budaya keluarga yang ramah, aman, dan bebas dari kekerasan.

Kegiatan Pembagian Pembatas Buku di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Pada Minggu, 7 Desember 2025, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang menghadirkan sebuah suasana edukatif seusai Misa pagi. Sesaat setelah umat keluar dari gereja, sebuah standing banner besar telah terpampang di dekat pintu keluar. Standing banner tersebut memuat pesan kampanye yang tegas dan mendalam: STOP KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK serta STOP PERNIKAHAN ANAK.

Tidak ada rangkaian meja, stan, atau booth khusus. KGPP Paroki Paya Kumang memilih bentuk penyampaian yang lebih sederhana namun efektif. Kehadiran standing banner menjadi fokus visual yang langsung menarik perhatian umat, memberikan pengingat bahwa Gereja sedang bergiat secara serius dalam upaya menghentikan kekerasan berbasis gender.

Di sisi lain, Ibu Efriana Pipin bersama Ibu Sutarti Rahayu berdiri di area luar gereja, menyapa umat dengan ramah sembari membagikan pembatas buku. Pendekatan ini sengaja dipilih agar pesan kampanye dapat dibawa pulang langsung oleh setiap umat, tanpa membuat suasana menjadi formal atau kaku.

Pembatas buku yang dibagikan memuat pesan yang lugas dan mudah diingat. Desainnya sederhana namun kuat, sehingga cocok digunakan pada Kitab Suci, buku doa, buku pelajaran, atau bacaan sehari-hari lainnya. Dengan demikian, setiap kali pembatas buku digunakan, pesan terkait perlindungan terhadap perempuan dan anak akan kembali terbaca dan diingat.

Para orang tua, remaja, hingga anak-anak tampak antusias menerima pembatas buku tersebut. Sebagian umat bahkan langsung melihat isi pesan yang tertera, sementara yang lain menyimpannya untuk dibawa pulang dan diberikan kepada anggota keluarga yang tidak sempat hadir dalam Misa minggu tersebut.

Peran Pastor Paroki dan DPP dalam Mensukseskan Kampanye

Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan penuh Pastor Kepala Paroki, RP. Vitalis Nggeal, CP. Dalam arahannya sebelumnya, Pastor Vitalis menegaskan bahwa isu kekerasan terhadap perempuan dan anak harus mendapat perhatian serius dari seluruh umat. Beliau menilai bahwa Gereja harus menjadi tempat di mana setiap orang merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Ketua DPP Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Jeno Leo, bersama Ketua II, Bapak Andreas Didik Eko Purwantoro, turut berperan mendukung kegiatan ini, membantu koordinasi teknis, serta memastikan bahwa pembagian pembatas buku berlangsung dengan tertib dan menjangkau seluruh umat yang hadir.

Kolaborasi pastor paroki, DPP, SGGP, dan umat menunjukkan bahwa kampanye ini bukan hanya inisiatif satu pihak, melainkan gerakan bersama demi kebaikan seluruh komunitas.

Empat Paroki Regio Barat Bergerak Bersama

KGPP Regio Barat menaungi empat paroki dengan latar komunitas dan dinamika pastoral yang berbeda, namun memiliki satu visi yang sama menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta menolak tegas praktik pernikahan anak.

Paroki-paroki tersebut meliputi:

  1. Paroki Santa Gemma Galgani – Katedral Ketapang

  2. Paroki Santo Agustinus – Paya Kumang

  3. Paroki Santo Stefanus – Kendawangan

  4. Paroki Immanuel – Sukadana

Setiap paroki menjalankan kampanye dengan metode dan pendekatan masing-masing, namun pesan utamanya tetap seragam dan menyuarakan prinsip Gereja tentang martabat manusia.

Di beberapa paroki lain, kampanye diwujudkan melalui pembacaan pengumuman pastoral, pemasangan standing banner di halaman gereja, edukasi singkat kepada kategorial, serta pembagian bahan edukatif lainnya. Semua dilakukan untuk memastikan bahwa isu kekerasan tidak dianggap sepele dan tidak disembunyikan di balik budaya diam.

Standing Banner sebagai Media Kampanye Visual

Ketiadaan meja atau stan fisik digantikan dengan kehadiran standing banner yang berdiri tegak di area luar gereja. Standing banner sengaja ditempatkan di lokasi strategis agar setiap umat dapat melihat pesan kampanye tanpa hambatan.

Sebagai media visual, standing banner memiliki keunggulan dalam mengomunikasikan pesan secara cepat. Bahkan dari kejauhan, umat sudah dapat membaca kata “STOP!” yang tertulis besar dan mencolok. Pesan itu menuntut tindakan, bukan hanya pemahaman.

Desain standing banner dibuat dengan mempertimbangkan:

  • visibilitas,

  • keterbacaan,

  • kekuatan pesan,

  • dan relevansi bagi umat.

Dengan demikian, setiap umat yang melewati area gereja pada masa kampanye akan mendapatkan pengingat berulang mengenai komitmen Gereja terhadap perlindungan perempuan dan anak.

Mengakar pada Ajaran Sosial Gereja

Kampanye ini bukan hanya kegiatan sosial, tetapi berakar pada refleksi mendalam Gereja tentang martabat manusia. Dalam banyak dokumen Gereja, perempuan dan anak disebut sebagai pribadi yang memerlukan perlindungan khusus karena mereka sering menjadi korban ketidakadilan sosial maupun kekerasan.

Melalui KGPP, Gereja Keuskupan Ketapang mengajak umat untuk:

  • membangun keluarga yang bebas dari kekerasan,

  • membina relasi yang saling menghargai,

  • menjadi pendamping bagi korban kekerasan,

  • serta aktif mencegah pernikahan anak yang dapat merusak masa depan generasi muda.

Kekerasan bukan hanya melukai fisik, tetapi juga merusak keutuhan batin dan masa depan seseorang. Gereja ingin memastikan bahwa komunitas Katolik menjadi ruang yang aman, penuh kasih, dan mendukung pemulihan bagi mereka yang pernah mengalami luka kekerasan.

16 Hari Aktivisme: Kesatuan Gerakan Lokal dan Global

Gerakan yang dimulai pada 25 November dan berakhir pada 10 Desember ini mengakar pada kampanye global tahunan 16 Days of Activism Against Gender-Based Violence. KGPP Regio Barat menyatukan diri dalam gerakan dunia yang menyerukan keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Melalui berbagai kegiatan, umat diajak untuk:

  • menyadari adanya kekerasan di sekitar mereka,

  • berani bersuara untuk menghentikan kekerasan,

  • saling mendukung dalam keluarga dan komunitas,

  • dan membangun budaya baru yang menjunjung kasih, penghormatan, serta keadilan.

Penutup

Kegiatan pembagian ratusan pembatas buku di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pada 7 Desember 2025 menjadi bukti nyata bahwa Gereja di Regio Barat Keuskupan Ketapang tidak tinggal diam menghadapi masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dengan dukungan Pastor RP. Vitalis Nggeal, CP., pengurus DPP, serta keterlibatan aktif SGGP Paroki, kampanye ini menghadirkan pesan kuat yang langsung menyentuh umat.

Dengan standing banner sebagai penanda visual utama dan pembatas buku sebagai media edukasi yang mudah dibawa ke rumah, Gereja mengajak setiap umat menyatakan komitmen:
STOP KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK. STOP PERNIKAHAN ANAK.

Kampanye ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan kekerasan adalah tugas bersama, dimulai dari keluarga, komunitas, hingga Gereja. Upaya ini tidak akan pernah sia-sia, karena setiap langkah kecil dapat menjadi jalan menuju perubahan besar demi masa depan generasi yang lebih manusiawi, adil, dan penuh kasih.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   7  Desember  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar