MISA JUMAT PERTAMA ADVEN DI PAROKI SANTO AGUSTINUS PAYA KUMANG: MENGHADIRKAN SUKACITA IMAN MELALUI ADORASI DAN RENUNGAN TENTANG “MELIHAT DENGAN IMAN”
Ketapang, Sabtu, 6 Desember 2025.umat pertama dalam Pekan I Adven menjadi hari penuh berkat bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Umat berkumpul dalam suasana hening, penuh pengharapan, dan dilingkupi semangat pertobatan yang mendalam sesuai warna liturgi ungu yang mewarnai perayaan hari itu. Pada kesempatan khusus ini, umat mengambil bagian dalam Misa Jumat Pertama yang dirangkai dengan adorasi Sakramen Mahakudus, sebuah tradisi rohani yang sudah lama menyatu dalam kehidupan spiritual umat paroki.
Perayaan Ekaristi dilaksanakan pada Jumat, 5 Desember 2025, pukul 18.00 WIB, dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP, imam dari Kongregasi Passionis (CP) yang dikenal umat sebagai pribadi yang tenang, sederhana, namun penuh ketegasan rohani dalam pewartaan. Suasana gereja tampak penuh namun tetap tertib, dengan umat yang hadir dari berbagai lingkungan, keluarga, dan kelompok kategorial di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Sebagai bagian dari kesiapan rohani menjelang Natal, umat tampak hadir lebih awal, memanfaatkan waktu sebelum misa untuk berdoa pribadi dan mengheningkan diri. Cahaya lilin di altar, pendar lampu gereja yang lembut, serta tata liturgi khas Adven menghadirkan suasana hati yang mengajak umat masuk ke dalam refleksi bahwa masa penantian ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan panggilan untuk membangun harapan akan kedatangan Tuhan.
Tata Liturgi yang Tersusun Baik Mewarnai Perayaan
Perayaan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh tim liturgi paroki. Dirigen Ibu Feronika Eka Eddy memimpin koor dengan penuh penghayatan, menghadirkan lantunan lagu-lagu Adven yang memadukan kesyahduan dan semangat penantian. Sementara itu, Saudara Staislaus Wisnu Apriyandi menjalankan tugasnya sebagai lektor dengan artikulasi jelas dan intonasi yang kuat, membantu umat menghayati Sabda Tuhan yang dibacakan.
Koor dari Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi tampil dengan kompak dan harmonis, membawa suasana doa yang lebih mendalam. Kehadiran mereka menjadi warna tersendiri dalam perayaan, terlebih karena lagu-lagu yang dinyanyikan dibawakan dengan penuh kesungguhan yang meneguhkan hati umat.
Bagian musik liturgi didukung oleh permainan organ yang lembut oleh Ibu Martha Koleta Popyzesika, yang mengalirkan nada-nada pengantar doa sehingga seluruh rangkaian misa terasa mengalun dengan anggun. Musik yang ditampilkan tidak hanya menjadi pengiring liturgi, tetapi juga membangun suasana kontemplatif yang menuntun umat masuk dalam misteri Ekaristi.
Homili RP. Vitalis Nggeal, CP: “Melihat dengan Iman, Bukan dengan Mata”
Dalam renungan yang disampaikan, RP. Vitalis mengangkat Injil hari itu, yakni Matius 9:27-31, yang berkisah tentang dua orang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan rohani, beliau menguraikan bahwa mukjizat Yesus bukan hanya memulihkan penglihatan jasmani, melainkan membangkitkan penglihatan batin yang jauh lebih penting.
Beliau menyoroti bagaimana dua orang buta itu berlari mengikuti Yesus sambil berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Seruan itu bukan sekadar permintaan penyembuhan, tetapi pernyataan iman. Mereka memandang Yesus bukan sebagai sosok biasa, melainkan sebagai Mesias yang dijanjikan.
RP. Vitalis menegaskan:
“Yesus bertanya kepada mereka, ‘Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?’ Pertanyaan ini adalah undangan untuk memeriksa hati. Iman sejati tidak diukur dari seberapa sering kita melakukan sesuatu yang bersifat religius, tetapi dari seberapa besar kita percaya bahwa kuasa Tuhan bekerja bahkan ketika situasi tampak tidak mungkin.”
Beliau mengajak umat untuk menyadari bahwa dalam banyak hal, manusia sering mengalami “kebutaan” rohani. Bukan karena mata fisik tidak mampu melihat, tetapi karena hati terlalu dipenuhi hal duniawi, kecemasan, ambisi, atau keangkuhan yang membuat seseorang sulit melihat karya Tuhan yang diam-diam bekerja di balik kehidupan.
“Iman adalah mata hati. Tanpa iman, kita berjalan dalam gelap. Namun dengan iman, kita tetap dapat menapaki jalan hidup, bahkan ketika badai datang, karena kita tahu Yesus menggandeng tangan kita,” ujar beliau dalam homili yang mengalir sangat menyentuh.
Makna Adven: Masa Pengharapan dan Pertobatan
RP. Vitalis mengaitkan kisah dua orang buta dengan situasi umat dalam masa Adven. Adven adalah kesempatan untuk membuka “mata iman” dan melihat dengan jernih, bukan hanya realitas duniawi yang sering mengaburkan pengharapan, tetapi juga realitas rohani tentang kasih Allah yang senantiasa mengalir.
Beliau mengajak umat untuk:
-
menyadari kelemahan diri,
-
mengakui kebutuhan akan penyembuhan hati,
-
menyambut Tuhan dengan hati yang bersih,
-
menyiapkan jalan bagi kedatangan Kristus dalam setiap aspek hidup.
Dalam suasana menjelang Natal yang sering diwarnai kesibukan persiapan duniawi, beliau mengingatkan bahwa hati manusia perlu ditata terlebih dahulu agar kehadiran Tuhan sungguh dirasakan.
Adorasi Sakramen Maha Kudus: Saat Teduh Bersama Tuhan
Usai homili dan doa-doa liturgi lainnya, misa dirangkai dengan adorasi Sakramen Maha Kudus. Pastor membawa Sakramen Mahakudus ke hadapan umat, dan suasana gereja berubah menjadi sangat hening. Semua tunduk dalam keheningan, memandang Kristus yang hadir secara nyata dalam rupa roti konsekrasi.
Adorasi menjadi momen indah ketika umat dapat berbicara kepada Tuhan dengan hati yang paling dalam tentang pergumulan, syukur, harapan, dan kerinduan untuk bertumbuh dalam iman.
Banyak umat yang tampak meneteskan air mata, bukan karena sedih, tetapi karena tersentuh oleh kehadiran Tuhan yang begitu dekat. Hening yang suci itu seolah menjadi ruang perjumpaan pribadi, ketika manusia berhadapan langsung dengan Sang Kasih.
Iman yang Memerdekakan: Pesan Penutup dari Pastor
Menjelang akhir adorasi, RP. Vitalis mengajak umat untuk menjadikan peristiwa Injil hari itu sebagai cermin kehidupan pribadi. Beliau mengingatkan bahwa keajaiban bukan hanya berupa mukjizat fisik, tetapi juga kemampuan untuk bangkit dari keputusasaan, kemampuan untuk melihat harapan ketika dunia menawarkan ketidakpastian, dan kemampuan untuk membangun kasih dalam keluarga serta komunitas.
Beliau berkata:
“Ketika Yesus menyembuhkan, Ia tidak hanya memulihkan tubuh, tetapi juga membukakan hati agar mampu melihat kasih Bapa. Iman bukan tentang mengetahui, tetapi mempercayai. Dan kepercayaan itu memampukan kita berjalan dalam terang.”
Beliau juga memberikan ajakan agar umat tidak takut menjadi saksi kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dua orang buta yang justru memasyhurkan perbuatan Yesus meskipun dipesan untuk diam, sukacita rohani yang dialami seorang beriman seharusnya terpancar dan menjadi kesaksian hidup.
Peran Umat dan Komunitas dalam Perayaan Liturgi
Perayaan liturgi malam itu menjadi semakin indah karena partisipasi aktif umat dari berbagai lingkungan. Keterlibatan Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi sebagai koor, lektor, dan pelayan liturgi lain menunjukkan bahwa kehidupan paroki berjalan dengan dinamis, penuh semangat pelayanan, serta dijiwai oleh kebersamaan.
Pembagian tugas liturgi yang rapi menunjukkan koordinasi tim liturgi yang teratur, mencerminkan komitmen Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dalam menghadirkan liturgi yang bermutu, hidup, dan membangun iman umat.
Penerapan Pesan Injil dalam Kehidupan Sehari-Hari
Berita ini tidak hanya menyoroti jalannya misa, tetapi juga refleksi yang dapat dipetik umat. Kisah tentang dua orang buta mengajarkan:
-
Ketekunan dalam berdoa.Dua orang buta itu tidak berhenti berseru bahkan ketika Yesus belum menjawab.
-
Kepercayaan total kepada Tuhan.Mereka percaya sebelum melihat. Iman mereka mendahului penglihatan.
-
Hidup sebagai saksi.Setelah melihat, mereka tidak bisa menahan sukacita. Kesaksian mereka mendorong yang lain untuk percaya.
-
Menyadari bahwa Tuhan bekerja secara halus.Banyak orang gagal melihat karya Tuhan karena terlalu fokus pada hal lahiriah.
Pastor mengajak umat untuk meneladani dua orang buta itu dalam kehidupan sehari-hari—dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, relasi, serta perjuangan hidup.
Akhir Perayaan: Umat Pulang dengan Sukacita Adven
Misa ditutup dengan berkat penutup dan lagu penutup yang dibawakan dengan penuh harapan. Umat pulang dengan hati yang lebih damai, membawa pesan bahwa iman bukan sekadar pengetahuan, tetapi cara melihat hidup dengan terang Kristus.
Malam itu, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang tidak hanya merayakan misa, tetapi juga merayakan kehadiran Tuhan yang menyapa setiap hati, menyembuhkan setiap luka, dan membangkitkan harapan baru dalam perjalanan menuju Natal.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 6 Desember 2025
0 comments:
Posting Komentar