BINTANG IMAN MENUNTUN LANGKAH ANAK-ANAK MISIONER
Misa Hari Raya Penampakan Tuhan dan Hari Anak Misioner
di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang
Ketapang, Minggu, 4 Januari 2026 menjadi hari yang penuh makna dan sukacita bagi umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Pada hari ini, Gereja semesta merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani, sekaligus memperingati Hari Anak Misioner Sedunia dan Natal Anak-anak. Perayaan ini bukan hanya menjadi momentum liturgis, tetapi juga perayaan iman yang menegaskan panggilan misioner sejak usia dini, sebagaimana dihidupi oleh anak-anak dan remaja Katolik dalam kehidupan Gereja.
Sejak pagi hari, suasana Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang sudah tampak semarak. Anak-anak, remaja, orang tua, para pendamping, dan seluruh umat paroki berdatangan dengan wajah penuh sukacita. Nuansa Natal masih terasa kuat, berpadu dengan semangat Epifani yang mengajak umat untuk memandang Kristus sebagai terang bagi segala bangsa. Dalam kebersamaan itu, Gereja tampil sebagai rumah yang hidup, tempat iman dirayakan dan diwartakan.
Misa kudus Hari Raya Penampakan Tuhan dan Hari Anak Misioner Sedunia ini dilaksanakan di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dan dimulai pada pukul 08.00 WIB hingga selesai. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Paroki, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Dengan penuh khidmat dan kesederhanaan, misa berjalan lancar dan menjadi ruang perjumpaan umat dengan Kristus yang hadir dalam Sabda dan Sakramen.
Perayaan liturgi ini melibatkan secara aktif anak-anak dan remaja sebagai petugas. Mereka bukan hanya hadir sebagai peserta, tetapi mengambil peran nyata dalam pelayanan liturgi. Pemazmur dalam misa ini adalah Christaviona Tanvenia yang membawakan mazmur dengan suara yang jernih dan penuh penghayatan. Sabda Tuhan disampaikan melalui lektor Brigida Rosariasti Marhen dengan artikulasi yang jelas dan penuh hormat. Paduan suara dan nyanyian umat dipandu oleh dua dirigen, Alicia Calista Damara dan Yohana Ratu Betania Adonza, yang dengan penuh semangat menggerakkan anak-anak dan umat untuk memuji Tuhan. Doa Anak Misioner dibawakan oleh Johannes Ivan Sudiyono Putra, sementara iringan musik dipercayakan kepada organis Saudari Elisabet Cintia yang menghadirkan suasana doa yang mendalam.
Keterlibatan anak-anak dalam perayaan ini menjadi tanda nyata bahwa Gereja memberi ruang dan kepercayaan kepada mereka sebagai bagian dari Tubuh Kristus yang hidup. Anak-anak tidak sekadar belajar tentang iman, tetapi menghayatinya secara langsung dalam pelayanan dan kebersamaan.
Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP menegaskan makna mendalam dari perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Misioner Sedunia yang ke-183. Pastor mengajak umat untuk merenungkan kisah orang-orang Majus yang datang dari Timur untuk mencari dan menyembah Yesus. Perjalanan para Majus bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka meninggalkan kenyamanan, menempuh jarak yang jauh, dan mengikuti bintang sebagai tanda penuntun.
Orang-orang Majus, sebagaimana disampaikan dalam homili, adalah gambaran manusia yang berani melangkah keluar dari zona nyaman demi mencari kebenaran dan keselamatan. Mereka tidak hanya datang untuk melihat Bayi Yesus, tetapi untuk menyembah-Nya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Persembahan ini bukan sekadar hadiah, melainkan simbol penyerahan diri dan pengakuan iman: Yesus adalah Raja, Allah, dan Juruselamat bagi semua orang.
Pastor Oscar menekankan bahwa keselamatan yang dinyatakan dalam peristiwa Epifani tidak terbatas pada satu bangsa atau kelompok tertentu. Dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya dan bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus, ditegaskan bahwa terang Tuhan terbit bagi seluruh bangsa dan bahwa semua orang, termasuk bangsa-bangsa lain, dipanggil menjadi anggota Tubuh Kristus dalam satu kesatuan. Epifani menjadi perayaan universalitas keselamatan Allah.
Dalam konteks Hari Anak Misioner, Pastor mengajak umat untuk bertanya kepada diri sendiri: bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita berani meninggalkan kenyamanan demi mengikuti panggilan Tuhan? Apakah kita memiliki hati yang besar seperti orang-orang Majus yang mau melangkah, mencari, dan menyembah? Pertanyaan-pertanyaan ini diarahkan tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak dan remaja.
Tema Hari Anak Misioner Sedunia 2026, “One in Christ, United in Mission”, ditegaskan sebagai panggilan nyata bagi anak-anak untuk terlibat dalam misi Kristus. Anak-anak bukan penonton dalam kehidupan Gereja, melainkan bagian yang hidup dan aktif. Mereka dipanggil untuk bertumbuh sebagai murid-murid Kristus yang memiliki satu visi menggereja, berbagi pengalaman hidup bersama Yesus, dan membawa damai bagi sesama.
Pastor juga mengangkat teladan Maria yang menerima orang-orang Majus sebagaimana ia menerima setiap orang yang datang kepada Yesus. Maria menjadi teladan Gereja yang terbuka, penuh kasih, dan setia pada kehendak Allah. Dalam diri Maria, anak-anak dan seluruh umat diajak belajar mempersembahkan diri kepada Sang Raja dengan hati yang tulus dan murni.
Perayaan ini semakin diperdalam dengan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sarat makna. Bacaan Injil dari Matius 2:1-12 mengisahkan kedatangan orang-orang Majus dari Timur yang dipimpin oleh bintang untuk menyembah Sang Raja. Mereka datang dengan hati yang terbuka, penuh kerinduan, dan kesediaan untuk berubah. Setelah berjumpa dengan Yesus, mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain, menandakan transformasi hidup setelah perjumpaan dengan Tuhan.
Bacaan dari Kitab Yesaya 60:1-6 menggemakan seruan untuk bangkit dan menjadi terang, karena kemuliaan Tuhan terbit dan bangsa-bangsa datang kepada terang-Nya. Gambaran bangsa-bangsa yang membawa emas dan kemenyan menjadi simbol pemenuhan nubuat yang digenapi dalam peristiwa Epifani. Sementara itu, bacaan kedua dari Efesus 3:2-3a.5-6 menegaskan bahwa rahasia Kristus kini telah diwahyukan dan semua bangsa menjadi pewaris janji Allah, anggota Tubuh Kristus dalam satu kesatuan.
Dalam suasana liturgi yang khidmat, umat diajak merenungkan bahwa setiap orang memiliki “bintang” dalam hidupnya, sebagaimana orang-orang Majus. Bintang itu bisa berupa panggilan hidup, suara hati, dorongan untuk berbuat baik, atau kerinduan akan damai. Bintang itu menuntun manusia kepada Kristus, Sang Terang sejati. Namun, seperti Herodes dalam Injil, selalu ada tantangan, ketakutan, dan kenyamanan palsu yang berusaha menghalangi perjalanan iman. Oleh karena itu, umat diajak untuk peka dan berani memilih jalan Tuhan.
Perayaan Hari Anak Misioner Sedunia ini juga menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali peran anak-anak dalam misi Gereja. Karya Misi Kepausan Indonesia melalui KMKI mengajak seluruh Gereja untuk mendampingi anak-anak agar sejak dini mereka menyadari panggilan misioner. Anak-anak diajak untuk berdoa, berbagi, peduli, dan bersaksi dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar.
“One in Christ” menegaskan bahwa dalam Kristus, setiap anak diterima apa adanya dan dijadikan bagian dari satu Tubuh yang hidup. Persatuan ini melampaui perbedaan usia, latar belakang, budaya, dan bangsa. Sementara itu, “United in Mission” menegaskan bahwa persatuan ini melahirkan perutusan. Anak-anak berjalan bersama Gereja semesta, membawa terang dan harapan bagi dunia.
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, semangat ini tampak nyata dalam kebersamaan umat. Orang tua, pendamping, dan pengurus paroki bekerja sama mempersiapkan perayaan ini dengan penuh cinta. Anak-anak didampingi bukan hanya untuk tampil, tetapi untuk memahami makna iman yang mereka rayakan. Gereja menjadi ruang belajar, bertumbuh, dan bersaksi.
Perayaan ini juga menjadi momen refleksi bagi seluruh umat bahwa misi bukanlah tugas segelintir orang, melainkan panggilan semua orang beriman. Dari anak-anak hingga orang dewasa, setiap orang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Misi dimulai dari hal-hal sederhana: doa yang setia, sikap berbagi, perhatian kepada sesama, dan keberanian untuk hidup sesuai dengan nilai Injil.
Dalam suasana Natal Anak-anak yang masih terasa, umat diajak melihat Yesus dengan hati yang sederhana seperti anak-anak. Hati yang terbuka, penuh kepercayaan, dan siap dibentuk oleh kasih Allah. Anak-anak misioner diingatkan bahwa langkah mereka mungkin kecil, tetapi jika dijalani bersama Kristus dan Gereja, langkah itu membawa dampak besar bagi dunia.
Menjelang akhir misa, suasana syukur dan sukacita semakin terasa. Umat pulang dengan hati yang dikuatkan dan diutus kembali ke kehidupan sehari-hari. Seperti orang-orang Majus yang pulang melalui jalan lain, umat diajak untuk membawa perubahan nyata dalam hidup: jalan damai, jalan kasih, jalan pertobatan, dan jalan pengharapan.
Perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan dan Hari Anak Misioner Sedunia di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang ini menjadi kesaksian iman yang hidup. Gereja tidak hanya merayakan liturgi, tetapi menghadirkan perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hati dan menggerakkan langkah. Anak-anak tampil sebagai subjek misi, bukan objek, dan seluruh umat bersatu dalam satu irama iman dan perutusan.
Melalui perayaan ini, Gereja Keuskupan Ketapang kembali menegaskan komitmennya untuk mendampingi generasi muda agar bertumbuh sebagai murid-murid Kristus yang beriman, berpengharapan, dan berkasih. Dengan bintang iman sebagai penuntun, anak-anak misioner diajak melangkah bersama, bersatu dalam Kristus, dan diutus untuk membawa terang-Nya ke tengah dunia.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 4 Januari 2026
0 comments:
Posting Komentar