Ibadat Pertunangan Leoni Clara Selvita S dan Filisianus Richardus Viktor:
Menapaki Masa Persiapan Perkawinan dalam Terang Iman Katolik
Ketapang, 17 Januari 2026.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, kembali merasakan sukacita iman melalui Ibadat Pertunangan pasangan Leoni Clara Selvita S dan Filisianus Richardus Viktor, yang dilaksanakan pada Jumat, 16 Januari 2026, pukul 18.00 WIB, bertempat di kediaman Bapak Markus Aluat, Jalan Gatot Subroto, Gang Anggrek, Ketapang.
Ibadat pertunangan ini dipimpin oleh Bapak Yulius Sudarisman, selaku Prodiakon, dan berlangsung dengan penuh kekhidmatan, kesederhanaan, serta nuansa kekeluargaan yang kental. Kehadiran keluarga besar kedua calon tunangan, umat lingkungan, serta para pelayan liturgi menegaskan bahwa pertunangan bukan sekadar peristiwa pribadi, melainkan peristiwa iman Gereja yang melibatkan komunitas.
Pertunangan sebagai Langkah Awal Menuju Sakramen Perkawinan
Dalam tradisi Gereja Katolik, pertunangan dipahami sebagai masa persiapan yang serius dan bertanggung jawab menuju Sakramen Perkawinan. Oleh karena itu, ibadat pertunangan Leoni Clara Selvita S dan Filisianus Richardus Viktor tidak hanya dirayakan secara simbolis, tetapi juga sarat dengan pendalaman iman dan refleksi hidup berkeluarga Kristiani.
Ibadat dimulai tepat waktu dan dipandu dengan tertib. Lagu-lagu ibadat dipimpin oleh Ibu Sutarti Rahayu, yang dengan suara penuh penghayatan mengantar umat masuk dalam suasana doa. Setiap lagu menjadi ungkapan syukur dan permohonan, agar Tuhan sendiri yang menuntun perjalanan cinta kedua calon mempelai.
Pengantar ibadat disampaikan oleh Ibu Angelina Norma Sanger, yang juga bertugas membawakan doa makan dalam kebersamaan setelah ibadat. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, pengantar tersebut menegaskan bahwa pertunangan merupakan rahmat Tuhan yang patut disyukuri dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Sabda Tuhan: Dasar Cinta yang Sejati
Dalam renungannya, Bapak Yulius Sudarisman mengawali dengan mengutip sabda Yesus dari Injil Yohanes:
“Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”
Sabda ini menjadi landasan utama refleksi tentang makna pertunangan dan panggilan hidup berkeluarga. Menurut beliau, cinta sejati tidak lahir hanya dari perasaan, tetapi dari panggilan dan pilihan Tuhan. Pertunangan menjadi kesempatan bagi pasangan untuk menyadari bahwa relasi mereka bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah yang lebih besar.
Renungan: Masa Pertunangan sebagai Masa Pemurnian Cinta
Dalam renungan yang mendalam dan menyentuh, Bapak Yulius Sudarisman menyampaikan bahwa ia sangat terkesan dengan pribadi Filisianus Richardus Viktor, yang menunjukkan kesungguhan dan kedewasaan dalam menjalani masa pertunangan. Hal ini menjadi tanda harapan bahwa masa pertunangan benar-benar dipahami sebagai jalan menuju jenjang perkawinan, bukan sekadar formalitas.
Beliau menegaskan bahwa masa pertunangan adalah masa saling menguatkan, saling belajar menerima, dan saling menumbuhkan iman. Mengutip pesan Paus Fransiskus, beliau menekankan bahwa dalam perkawinan tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada adalah dua pribadi yang dipanggil untuk saling melengkapi dalam kasih.
Sebagai contoh teladan iman, beliau mengingatkan umat pada Santo Agustinus, pelindung Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Dikisahkan bahwa ibunda Santo Agustinus, Santa Monika, dengan penuh ketekunan dan doa terus mendampingi putranya yang bergumul dalam dosa, hingga akhirnya Agustinus bertobat dan menjadi seorang kudus besar Gereja. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesetiaan, kesabaran, dan doa memiliki daya ubah yang luar biasa dalam kehidupan manusia.
Enam Bulan Masa Pertunangan: Waktu untuk Saling Mengenal
Dalam renungannya, Bapak Yulius Sudarisman juga menyinggung tentang lamanya masa pertunangan. Ia menyampaikan bahwa tidak ada patokan baku, namun banyak pihak berpendapat bahwa enam bulan merupakan waktu yang ideal untuk masa pertunangan.
Selama masa tersebut, pasangan tidak hanya diajak untuk menikmati sisi romantis hubungan, tetapi lebih dari itu, untuk saling memahami karakter, latar belakang, kebiasaan, serta nilai-nilai hidup masing-masing. Pertunangan menjadi ruang pembelajaran untuk berdialog, menyelesaikan perbedaan, dan membangun komunikasi yang jujur serta terbuka.
Beliau juga mengingatkan bahwa dalam masa pertunangan terdapat dua kemungkinan. Pertama, pertunangan dapat berlanjut ke jenjang perkawinan jika kedua calon sungguh merasa cocok dan siap. Kedua, pertunangan dapat berakhir sebelum perkawinan jika ternyata terdapat hal-hal mendasar yang tidak dapat dipersatukan. Oleh karena itu, masa ini harus dijalani dengan kejujuran dan keberanian.
Nilai-Nilai Kristiani dalam Masa Pertunangan
Renungan dilanjutkan dengan penekanan pada nilai-nilai Kristiani yang harus dipupuk selama masa pertunangan, antara lain:
Rela berkorban dan menanggalkan egoisme pribadi.
Kerendahan hati untuk menerima pasangan apa adanya.
Semangat solidaritas, kerukunan, dan damai.
Kesetiaan pada iman Katolik, yang menjadi fondasi kuat dalam membangun keluarga Kristiani.
Beliau menegaskan bahwa cinta sejati, sebagaimana diajarkan Kristus, adalah cinta yang siap berkorban dan setia pada komitmen. Banyak perkawinan di zaman modern runtuh karena dibangun di atas dasar yang semu seperti harta, status sosial, kekuasaan, atau penampilan lahiriah, bukan pada cinta yang sejati dan iman yang kokoh.
Kesucian Masa Pertunangan
Hal penting lain yang ditekankan dalam renungan adalah bahwa ikatan pertunangan tidak sama dengan ikatan perkawinan, karena pasangan belum menerima Sakramen Perkawinan. Oleh karena itu, kedua calon diingatkan untuk menjaga kesucian masa pertunangan, menghormati tubuh dan martabat masing-masing, serta hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Kesucian bukanlah pembatas cinta, melainkan bentuk penghormatan terhadap kasih Allah yang bekerja dalam diri manusia.
Berkat Pertunangan dan Tukar Cincin
Puncak ibadat ditandai dengan ritus berkat pertunangan dan tukar cincin. Cincin dipandang sebagai lambang kasih, kesetiaan, dan niat tulus untuk melangkah bersama menuju Sakramen Perkawinan.
Dalam doa berkat, Pemimpin Ibadat memohon agar Tuhan memberkati cincin tersebut sebagai tanda kasih yang terus bertumbuh dan menjadi pengingat akan komitmen yang telah dinyatakan di hadapan Allah dan umat.
Setelah itu, Leoni Clara Selvita S dan Filisianus Richardus Viktor saling mengenakan cincin di jari manis, disaksikan oleh keluarga dan umat yang hadir. Suasana haru dan doa menyelimuti momen sakral tersebut.
Doa Mohon Berkat atas Masa Pertunangan
Pemimpin ibadat kemudian mengulurkan tangan dan mendoakan kedua tunangan agar masa pertunangan yang mereka jalani sungguh dipergunakan selaras dengan kehendak Tuhan. Doa ini menegaskan harapan agar mereka semakin saling mengenal, semakin mencintai, dan semakin sehati sejiwa, sehingga kelak siap memasuki jenjang perkawinan dengan hati yang mantap.
Kedua tunangan juga secara bersama-sama menyerahkan masa pertunangan mereka ke dalam tangan Tuhan melalui doa yang penuh kerendahan hati, memohon bimbingan, perlindungan dari godaan, serta kesetiaan pada nasihat orang tua dan Gereja.
Penutup: Sukacita Gereja dan Harapan Masa Depan
Ibadat pertunangan ini ditutup dengan doa umat dan pemberkatan air suci, sebagai tanda penyucian dan pengutusan. Seluruh rangkaian ibadat berlangsung dengan tertib, penuh kekhusyukan, dan sarat makna iman.
Melalui ibadat ini, Gereja kembali menegaskan bahwa pertunangan bukan sekadar tradisi sosial, melainkan bagian penting dari perjalanan iman menuju Sakramen Perkawinan. Umat Lingkungan Santa Lusia pun bersyukur atas rahmat Tuhan yang dianugerahkan kepada Leoni Clara Selvita S dan Filisianus Richardus Viktor.
Semoga masa pertunangan ini menjadi masa pertumbuhan cinta yang sejati, iman yang semakin dewasa, dan persiapan yang matang menuju keluarga Kristiani yang kudus, setia, dan penuh kasih, sebagaimana dikehendaki oleh Allah.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 17 Januari 2026
0 comments:
Posting Komentar