Lihatlah Anak Domba Allah”: Perayaan Minggu Biasa II dan Pembukaan Pekan Doa Sedunia di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

 

Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP,Pimpin Misa

   Lihatlah Anak Domba Allah”: Perayaan Minggu Biasa II dan Pembukaan Pekan Doa Sedunia di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Ketapang, 18 Januari 2026.Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Ketapang, pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, menggelar Perayaan Ekaristi Minggu Biasa II yang sekaligus menjadi Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Perayaan ini berlangsung khidmat dan penuh makna, sejalan dengan semangat Gereja universal yang pada hari ini juga mengenangkan Santa Priska, Perawan dan Martir, serta Santa Margaretha dari Hungaria, Pengaku Iman, dengan warna liturgi hijau sebagai lambang pengharapan, pertumbuhan, dan kehidupan iman yang terus bersemi.

Misa Kudus dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, dan dimulai tepat pada pukul 07.00 WIB. Sejak pagi hari, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang telah memenuhi gereja dengan penuh sukacita. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan mencerminkan semangat kebersamaan dan kerinduan untuk memulai Pekan Doa Sedunia dengan doa, Sabda Allah, serta perayaan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak kehidupan iman umat Katolik.





















































































































Suasana Liturgi yang Khidmat dan Penuh Partisipasi

Perayaan Ekaristi pada Minggu tersebut berlangsung dengan tata liturgi yang tertib dan penuh partisipasi umat. Petugas liturgi yang terlibat dalam perayaan ini menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab. Saudari Lianny Safa Casimira bertugas sebagai lektor yang membawakan Sabda Tuhan dengan suara jelas dan penuh penghayatan. Saudari Odilia Deyulan mengemban tugas sebagai pemazmur, melantunkan mazmur tanggapan dengan irama yang membantu umat masuk ke dalam suasana doa dan permenungan.

Sementara itu, alunan musik yang mengiringi perayaan Ekaristi dimainkan dengan apik oleh Bapak Yulius Sudarisman sebagai organis. Musik liturgi yang harmonis berpadu dengan nyanyian Koor Lingkungan St. Simon, yang dipimpin oleh Ibu Fransiska Romana Sri Wijati selaku dirigen. Koor menampilkan lagu-lagu liturgi yang sesuai dengan tema Minggu Biasa II dan semangat persatuan umat Kristen, sehingga seluruh umat dapat berpartisipasi secara aktif dalam nyanyian pujian dan doa.

Kehadiran para petugas liturgi ini menunjukkan bahwa perayaan Ekaristi adalah karya bersama seluruh umat Allah. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki makna dan kontribusi besar dalam menghadirkan perayaan yang hidup, khidmat, dan berdaya rohani.

Makna Minggu Biasa II dan Pembukaan Pekan Doa Sedunia

Minggu Biasa II menandai kelanjutan perjalanan umat beriman dalam masa liturgi biasa, setelah perayaan Natal dan penampakan Tuhan. Meskipun disebut “biasa”, masa ini sesungguhnya sarat dengan ajakan untuk menghidupi iman secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Minggu Biasa II mengarahkan umat untuk semakin mengenal siapa Yesus dan bagaimana menanggapi panggilan-Nya dalam hidup.

Tahun ini, Minggu Biasa II bertepatan dengan Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Pekan Doa Sedunia merupakan momentum penting bagi seluruh umat Kristen dari berbagai denominasi untuk bersatu dalam doa, memohon rahmat persatuan yang dikehendaki oleh Kristus sendiri. Dalam Injil Yohanes, Yesus berdoa agar semua murid-Nya menjadi satu, supaya dunia percaya. Oleh karena itu, doa untuk persatuan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan panggilan terus-menerus bagi seluruh umat Kristen.

Dalam konteks Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, pembukaan Pekan Doa Sedunia ini menjadi kesempatan bagi umat untuk merefleksikan kembali sikap hati dalam relasi dengan sesama umat Kristen, baik di lingkungan sekitar maupun dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.

Homili: “Lihatlah Anak Domba Allah” sebagai Inti Iman

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP membuka dengan sapaan hangat, “Selamat pagi,” seraya mengajak umat menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah baru dari Tuhan. Ia kemudian mengarahkan perhatian umat pada sosok Yohanes Pembaptis, yang dalam Injil hari itu berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Romo Oscar menjelaskan bahwa sebutan Anak Domba Allah bukanlah simbol kosong. Dalam tradisi Perjanjian Lama, anak domba merupakan kurban penebusan dosa, terutama dalam perayaan Paskah Yahudi. Namun semua kurban dalam Perjanjian Lama itu menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Yesus adalah Kurban Sempurna, yang sekali untuk selamanya menghapus dosa manusia.

Yesus, menurut Romo Oscar, bukan sekadar lambang penghapusan dosa, melainkan Pribadi yang sungguh memikul segala kerapuhan, luka, dan dosa manusia. Ia masuk ke dalam realitas hidup manusia, menanggung penderitaan, dan menyerahkan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan dunia.

Ekaristi: Perjumpaan Nyata dengan Anak Domba Allah

Romo Oscar kemudian mengaitkan kesaksian Yohanes Pembaptis dengan perayaan Ekaristi. Setiap kali imam mengangkat Hosti dan berkata, “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia,” Gereja sebenarnya sedang menggemakan kembali seruan Yohanes Pembaptis. Saat umat menjawab, “Amin,” itu bukan sekadar jawaban lisan, melainkan pernyataan iman: “Saya percaya bahwa yang saya terima adalah Tubuh Kristus.”

Namun, Romo Oscar menegaskan bahwa iman tidak boleh berhenti pada pengakuan di bibir. Pertanyaan penting yang harus dijawab oleh setiap orang beriman adalah: Bagaimana kita menerima Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari? Apakah Kristus sungguh menjadi pusat hidup kita, atau hanya hadir secara ritual tanpa pengaruh nyata dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak?

Yohanes Pembaptis: Teladan Kerendahan Hati dan Pelayanan

Dalam homili tersebut, Romo Oscar menyoroti sikap Yohanes Pembaptis yang meskipun sangat populer dan memiliki banyak pengikut, tetap memilih untuk merendahkan diri di hadapan Yesus. Yohanes berkata, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kerendahan hati Yohanes menjadi teladan penting bagi setiap pelayan Gereja dan umat beriman.

Yohanes tidak mencari pujian, tidak mempertahankan popularitas, dan tidak menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian. Ia dengan tulus menunjuk kepada Yesus. Inilah sikap yang seharusnya juga dimiliki oleh umat beriman: melayani bukan untuk mencari balasan, melainkan sebagai ungkapan kasih yang tanpa syarat.

Romo Oscar menegaskan bahwa Allah-lah yang hidup dan berkarya dalam diri setiap orang beriman. Ketika seseorang melayani dengan tulus dan rendah hati, sesungguhnya Allah sedang berkarya melalui dirinya.

Roh Kudus yang Turun dan Tinggal

Mengacu pada Injil Yohanes 1:29–34, Romo Oscar menjelaskan kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Roh Kudus yang turun seperti merpati dan tinggal di atas Yesus. Tanda ini menegaskan bahwa Yesus adalah Dia yang diurapi oleh Allah. Roh Kudus tidak hanya turun sebentar, melainkan tinggal dan menyertai seluruh hidup Yesus.

Hal ini menjadi pesan penting bagi umat beriman: hidup Kristen bukan hanya soal memahami ajaran, tetapi tentang membiarkan Roh Kudus tinggal dan bekerja dalam diri kita. Roh Kudus membimbing pikiran, memperbarui hati, dan menguatkan umat dalam mengambil keputusan serta menjalani relasi dengan sesama.

Kesaksian Iman dan Panggilan Persatuan

Yohanes Pembaptis tidak memaksa orang untuk percaya. Ia bersaksi tentang apa yang ia lihat dan alami. Dari kesaksian inilah iman dapat tumbuh. Romo Oscar mengajak umat untuk merefleksikan kembali pengalaman pribadi bersama Tuhan: apakah Yesus sungguh telah menjadi Pribadi yang hidup dan menyentuh kehidupan kita?

Dalam konteks Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, kesaksian iman ini menjadi sangat relevan. Persatuan tidak lahir dari perdebatan, melainkan dari kesaksian hidup yang mencerminkan kasih Kristus. Ketika umat Kristen hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan pelayanan, dunia akan melihat Kristus yang hidup di tengah-tengah mereka.

Relevansi bagi Kehidupan Umat di Zaman Kini

Di tengah dunia modern yang penuh dengan kebisingan informasi, umat beriman dihadapkan pada berbagai suara dan pengaruh. Dalam situasi ini, pesan Yohanes Pembaptis tetap актуal: menunjuk kepada Kristus. Setiap orang, baik remaja, kaum muda, orang tua, pekerja, maupun pelayan Gereja, dipanggil untuk menjadi saksi iman melalui sikap hidup sehari-hari.

Dunia tidak hanya membutuhkan kata-kata indah, tetapi kesaksian nyata tentang kasih, kejujuran, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, kehidupan umat beriman dapat menjadi tanda yang menunjuk kepada Kristus, Sang Anak Domba Allah.

Penutup dan Harapan

Perayaan Ekaristi Minggu Biasa II dan Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang pada 18 Januari 2026 menjadi momentum rohani yang penting bagi umat. Melalui Sabda Tuhan dan perayaan Ekaristi, umat diajak untuk semakin mengenal Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, serta meneladani kerendahan hati dan kesaksian Yohanes Pembaptis.

Dengan semangat Pekan Doa Sedunia, umat diharapkan semakin membuka hati untuk persatuan, baik di dalam Gereja Katolik sendiri maupun dengan seluruh saudara-saudari Kristen lainnya. Semoga perayaan ini meneguhkan iman umat dan mendorong setiap orang untuk hidup sebagai saksi Kristus dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat.

“Lihatlah Anak Domba Allah.” Seruan ini tidak hanya menggema dalam Injil dan liturgi, tetapi hendaknya menjadi arah hidup setiap orang beriman: melihat, menerima, dan mewartakan Kristus dalam seluruh aspek kehidupan.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   18 Januari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar