Misa Lingkungan Santa Lusia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Meneguhkan Iman, Ketaatan, dan Tanggung Jawab Pelayanan dalam Terang Sabda Tuhan

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Pimpin Misa

Misa Lingkungan Santa Lusia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Meneguhkan Iman, Ketaatan, dan Tanggung Jawab Pelayanan dalam Terang Sabda Tuhan

Ketapang, 20 Januari 2026.Pada Selasa malam, 20 Januari 2026, umat Katolik Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, berkumpul dengan penuh sukacita dan iman untuk mengikuti Misa Lingkungan yang dilaksanakan di Rumah Bapak Daduanto, Jalan Gatot Subroto, Ketapang. Perayaan Ekaristi yang dimulai tepat pukul 18.30 WIB ini berlangsung dalam suasana sederhana namun sarat makna, mencerminkan hidup menggereja yang tumbuh di tengah umat basis.

Misa Lingkungan malam itu dipimpin oleh Pastor RP. Vitalis Nggeal, CP, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam doa, pujian, serta permenungan Sabda Tuhan. Kehadiran umat yang cukup banyak menunjukkan semangat kebersamaan dan kerinduan akan perjumpaan dengan Tuhan melalui Ekaristi, meskipun perayaan dilaksanakan di rumah umat dan bukan di gereja paroki.





































Suasana Perayaan yang Hangat dan Penuh Kekeluargaan

Sejak sore hari, rumah Bapak Daduanto telah dipersiapkan dengan rapi untuk menjadi tempat perayaan Ekaristi. Ruang tamu dan bagian rumah yang lebih luas diatur sedemikian rupa agar dapat menampung umat Lingkungan Santa Lusia. Salib, lilin, dan meja altar sederhana menjadi pusat perhatian, mengingatkan umat bahwa Kristus hadir di tengah-tengah mereka.

Umat mulai berdatangan sebelum misa dimulai. Ada yang saling menyapa, berbagi cerita singkat, dan saling membantu menyiapkan tempat duduk. Anak-anak, orang muda, orang tua, hingga para lansia hadir bersama, mencerminkan wajah Gereja yang hidup dan inklusif.

Tepat pukul 18.30 WIB, misa dimulai dengan lagu pembuka yang dibawakan oleh Ibu Maria Suharyati. Suara nyanyian yang sederhana namun penuh penghayatan mengantar umat memasuki perayaan Ekaristi dengan hati yang siap dan terbuka. Lagu-lagu yang dipilih menyesuaikan tema ketaatan dan panggilan, selaras dengan bacaan Kitab Suci malam itu.

Mazmur tanggapan dibawakan oleh Ibu Efriana Pipin dengan penuh penghayatan. Lantunan mazmur menjadi jembatan doa antara bacaan pertama dan Injil, membantu umat merenungkan kasih dan kehendak Tuhan dalam hidup mereka. Sementara itu, pengantar doa umat dan doa makan dipimpin oleh Ibu Sutarti Rahayu, yang dengan suara tenang dan jelas mengajak umat bersyukur atas rahmat Tuhan yang melimpah.Lektor, Saudari Brigita Dianing Pratiwi. Dengan suara yang jelas dan penuh penghayatan, Saudari Brigita membawakan bacaan pertama dari Kitab Pertama Samuel, sehingga Sabda Tuhan dapat diterima dengan baik oleh seluruh umat yang hadir.

Bacaan Kitab Suci: Ketaatan Lebih Utama daripada Persembahan

Dalam homilinya, Pastor RP. Vitalis Nggeal, CP, mengajak umat untuk menaruh perhatian khusus pada bacaan pertama dari Kitab Pertama Samuel. Bacaan tersebut mengisahkan tentang penolakan Allah terhadap Raja Saul dan pengurapan Daud sebagai raja Israel yang baru.

Pastor Vitalis menjelaskan bahwa kisah Raja Saul merupakan pelajaran iman yang sangat penting bagi umat beriman sepanjang zaman. Saul kehilangan jabatannya bukan karena kekalahan dalam peperangan, melainkan karena ketidaktaatannya kepada perintah Tuhan. Ketika Saul menaklukkan bangsa Amalek, ia tidak sepenuhnya melaksanakan perintah Allah. Ia membiarkan harta rampasan, berupa domba dan lembu terbaik, dengan alasan akan dipersembahkan kepada Tuhan.

“Saul sempat membela dirinya,” ungkap Pastor Vitalis dalam homili. “Ia merasa tindakannya benar karena harta itu akan dipersembahkan kepada Allah. Namun, Allah tidak pernah memerintahkan hal itu. Allah menghendaki ketaatan penuh, bukan persembahan yang lahir dari ketidaktaatan.”

Melalui Nabi Samuel, Tuhan menegaskan bahwa ketaatan lebih berkenan di hadapan-Nya daripada korban persembahan. Saul telah mengubah sabda Tuhan sesuai dengan keinginannya sendiri. Akibatnya, Tuhan menarik kembali kekuasaan yang telah diberikan kepadanya.

Pesan ini, menurut Pastor Vitalis, sangat relevan bagi umat Katolik saat ini. Dalam hidup sehari-hari, sering kali manusia tergoda untuk menyesuaikan kehendak Tuhan dengan kepentingan pribadi, kenyamanan, atau tekanan lingkungan. Padahal, Tuhan menghendaki ketaatan yang tulus dan utuh.

Pemilihan Daud: Allah Melihat Hati, Bukan Penampilan

Setelah menyinggung penolakan terhadap Saul, Pastor Vitalis melanjutkan homilinya dengan mengulas kisah pemilihan Daud. Tuhan mengutus Nabi Samuel ke rumah Isai di Betlehem untuk mengurapi raja yang baru. Dari tujuh anak Isai yang dihadirkan, tidak satu pun dipilih Tuhan.

Samuel sempat terpikat oleh penampilan Eliab yang gagah dan tinggi. Namun Tuhan mengingatkan Samuel agar tidak terpancang pada paras dan perawakan. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Allah melihat hati,” demikian sabda Tuhan yang ditekankan kembali dalam homili malam itu.

Akhirnya, Daud yang bungsu, yang saat itu sedang menggembalakan domba, dipanggil dan diurapi. Sejak saat itu, Roh Tuhan berkuasa atas Daud. Pemilihan Daud menunjukkan bahwa Tuhan tidak memilih berdasarkan standar manusia, melainkan berdasarkan hati yang berkenan kepada-Nya.

Pastor Vitalis menegaskan bahwa pesan ini juga berlaku bagi umat Katolik masa kini. Dalam pelayanan Gereja, baik sebagai prodiakon, lektor, pemazmur, pengurus lingkungan, maupun umat biasa, yang utama bukanlah jabatan atau penampilan, melainkan hati yang tulus, taat, dan siap dipakai Tuhan.

Panggilan dan Tanggung Jawab dalam Pelayanan Gereja

Dalam bagian homili selanjutnya, Pastor Vitalis secara khusus menyinggung panggilan pelayanan dalam Gereja, terutama tugas prodiakon. Ia menegaskan bahwa menjadi prodiakon bukanlah tugas yang sederhana atau sekadar formalitas, melainkan sebuah tanggung jawab suci.

“Tugas prodiakon adalah memberikan Tubuh Kristus kepada umat,” ujar Pastor Vitalis. “Itu bukan hal kecil. Rahmat Tuhan sedang bekerja dalam diri para prodiakon. Melalui doa dan pelayanan, Tuhan memakai kita sebagai alat-Nya.”

Ia juga mengajak seluruh umat untuk bersyukur karena telah dipanggil menjadi Katolik. Menurutnya, iman Katolik adalah rahmat yang tidak boleh dianggap biasa. Gereja bertumbuh ketika setiap umat, sesuai dengan panggilannya masing-masing, menjalankan tanggung jawab dengan iman dan kesungguhan.

“Kita adalah orang-orang yang dipakai Tuhan,” lanjutnya. “Ketika kita diberi kepercayaan, jalankanlah dengan iman. Saat itulah Gereja bertumbuh, dalam tanggung jawab yang suci.”

Homili tersebut tidak hanya meneguhkan para pelayan Gereja, tetapi juga mengajak seluruh umat Lingkungan Santa Lusia untuk terus terlibat aktif dalam kehidupan menggereja, baik melalui doa, pelayanan, maupun kesaksian hidup sehari-hari.

Rangkaian Doa dan Partisipasi Umat

Perayaan Ekaristi berlangsung dengan khidmat hingga akhir. Doa umat yang dipanjatkan mencakup berbagai intensi, mulai dari Gereja universal, para pemimpin bangsa, umat yang sakit dan menderita, hingga kebutuhan khusus Lingkungan Santa Lusia. Umat mengikuti setiap bagian misa dengan penuh perhatian, menjawab doa-doa dengan suara yang kompak.

Doa Bapa Kami, salam damai, serta komuni kudus menjadi puncak perayaan. Dalam keheningan, umat menerima Tubuh Kristus sebagai sumber kekuatan iman. Suasana hening dan khusyuk menyelimuti rumah Bapak Daduanto, menandakan kehadiran Tuhan yang nyata di tengah umat-Nya.

Setelah doa penutup, doa makan kembali dipimpin oleh Ibu Sutarti Rahayu. Doa tersebut menjadi ungkapan syukur atas perayaan Ekaristi dan kebersamaan yang terjalin. Meskipun sederhana, doa itu mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas berkat Tuhan.

Kebersamaan Setelah Misa

Usai perayaan Ekaristi, umat Lingkungan Santa Lusia tidak langsung beranjak pulang. Mereka melanjutkan kebersamaan dengan santap sederhana bersama. Hidangan yang disiapkan secara gotong royong menjadi sarana mempererat persaudaraan.

Dalam suasana santai, umat saling berbincang, berbagi cerita, dan mempererat relasi sebagai satu keluarga iman. Pastor RP. Vitalis Nggeal, CP, juga tampak berbaur dengan umat, menyapa dan berbincang ringan, mencerminkan gembala yang dekat dengan umatnya.

Kebersamaan ini menjadi bagian penting dari kehidupan lingkungan. Tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga membangun relasi yang hangat dan saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Misa Lingkungan bagi Kehidupan Iman Umat

Misa Lingkungan seperti yang dilaksanakan oleh Lingkungan Santa Lusia Paroki Santo Agustinus Paya Kumang memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan iman umat. Perayaan Ekaristi di tingkat lingkungan membantu umat untuk lebih merasakan kedekatan dengan Gereja dan sesama.

Melalui misa di rumah umat, Gereja hadir secara nyata di tengah kehidupan sehari-hari. Umat diajak untuk menyadari bahwa Gereja bukan hanya gedung, tetapi persekutuan orang-orang beriman yang berkumpul dalam nama Tuhan.

Pesan homili tentang ketaatan, pemilihan Daud, dan tanggung jawab pelayanan menjadi bekal rohani yang relevan bagi umat dalam menghadapi tantangan hidup. Di tengah dunia yang sering kali menuntut kompromi, umat diingatkan untuk tetap setia pada sabda Tuhan dan menjalankan panggilan dengan iman.

Peneguhan Iman dan Harapan ke Depan

Misa Lingkungan Santa Lusia pada malam Selasa, 20 Januari 2026, menjadi momen peneguhan iman bagi seluruh umat yang hadir. Melalui Sabda Tuhan, homili yang mendalam, serta kebersamaan dalam doa dan persaudaraan, umat diteguhkan untuk terus bertumbuh dalam iman dan tanggung jawab.

Semoga semangat ketaatan seperti yang dikehendaki Tuhan, serta kerendahan hati dan ketulusan seperti yang ditunjukkan oleh Daud, semakin mengakar dalam kehidupan umat Lingkungan Santa Lusia. Dengan demikian, Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akan terus bertumbuh sebagai komunitas yang hidup, beriman, dan melayani.

Perayaan sederhana di rumah Bapak Daduanto malam itu menjadi saksi bahwa Tuhan bekerja di tengah umat-Nya, memanggil setiap orang untuk taat, setia, dan siap dipakai demi kemuliaan-Nya dan pertumbuhan Gereja.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   20 Januari  2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar