Misa Arwah sebagai Perjalanan Suci Menuju Kepenuhan Abadi
Refleksi Iman atas Wafatnya Almarhum Bapak Fransiskus Saverius Tugiman dan Almarhumah Ibu Sisilia Sarbini (Dua Tahun yang Lalu)
Misa Arwah ini dipersembahkan sebagai ungkapan iman Gereja akan kehidupan kekal serta sebagai doa bagi arwah orang-orang beriman yang telah berpulang dua tahun yang lalu, agar memperoleh kebahagiaan abadi bersama Allah di Surga. Selain itu, perayaan ini menjadi momen refleksi iman bagi keluarga dan umat yang hadir untuk kembali merenungkan makna hidup, kematian, dan tujuan akhir manusia dalam terang kasih Allah.
Perayaan Ekaristi yang Khidmat dan Penuh Makna
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, yang dengan penuh penghayatan memimpin seluruh rangkaian liturgi. Suasana rumah duka disiapkan dengan sederhana namun sarat makna iman: salib, lilin-lilin bernyala, serta altar perayaan menjadi tanda kehadiran Kristus yang wafat dan bangkit, sumber pengharapan umat beriman.
Misa berlangsung dalam suasana tenang, hening, dan penuh kekhusyukan. Setiap bagian liturgi mengalir dengan tertib, mengantar umat untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri iman akan wafat dan kebangkitan Tuhan, yang menjadi dasar harapan akan kehidupan kekal bagi setiap orang beriman.
Petugas liturgi yang mengambil bagian dalam perayaan ini antara lain:
Lagu-lagu liturgi: Ibu Sutarti Rahayu
Lektor: Ibu Theresia Suriawati Hui Zhen
Pemazmur: Ibu Efriana Pipin
Doa makan: Bapak Antonius Suparno
Pelayanan para petugas liturgi dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab, sehingga perayaan Ekaristi berjalan dengan baik dan membantu umat menghayati suasana doa secara mendalam.
Homili: Hidup sebagai Perjalanan Suci dari Allah dan Kembali kepada Allah
Dalam homilinya, Romo RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP mengajak umat untuk merenungkan hakikat hidup manusia sebagai sebuah perjalanan suci yang berawal dari Allah dan berakhir kembali kepada Allah. Hidup manusia, menurut Romo Oscar, tidak pernah terlepas dari rencana dan kehendak kasih Allah.
“Hidup kita adalah perjalanan yang suci dan bermakna,” ungkap Romo Oscar. “Kita berasal dari kasih Allah dan kita dipanggil untuk kembali kepada-Nya. Seluruh perjalanan hidup ini merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah.”
Ia menegaskan bahwa kasih Allah senantiasa mengambil bagian dalam setiap tahap kehidupan manusia. Kasih itulah yang membimbing, meneguhkan, dan menyertai manusia hingga saat kematian, yang bukan merupakan akhir, melainkan pemenuhan dari perjalanan hidup.
Kematian Bukan Akhir, Melainkan Puncak Kehidupan
Romo Oscar menekankan bahwa dalam iman Kristiani, kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan puncak kehidupan yang menghantar manusia pada kepenuhan Surga. Gereja mengajarkan bahwa hidup manusia tidak dihapus oleh kematian, tetapi diubah.
“Kematian bukan akhir dari segalanya,” tegas Romo Oscar. “Kematian adalah saat di mana hidup kita diubah. Dari kehidupan jasmani, kita masuk ke dalam kehidupan rohani yang kekal.”
Dalam terang iman inilah wafatnya Almarhum Bapak Fransiskus Saverius Tugiman dan Almarhumah Ibu Sisilia Sarbini, yang telah berpulang dua tahun yang lalu, dipahami sebagai saat kepulangan kepada Allah, Sang Sumber Hidup.
Kematian sebagai Pintu Menuju Kepenuhan Abadi
Lebih lanjut, Romo Oscar menggambarkan kematian sebagai sebuah pintu. Pintu yang mengantar manusia dari kehidupan duniawi menuju kehidupan kekal bersama Allah. Pintu ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diimani dengan penuh kepercayaan.
“Dalam iman kita,” ujar Romo Oscar, “kematian jasmani adalah awal kehidupan rohani yang kekal. Yesus sendiri dalam Injil Yohanes berkata: ‘Jangan takut, percayalah saja.’ Sabda ini menguatkan kita agar tidak gentar menghadapi kematian.”
Kematian sebagai pintu iman akan membawa manusia kepada kepenuhan hati, yaitu Surga, kebahagiaan tertinggi yang menjadi tujuan akhir setiap manusia.
Surga sebagai Tujuan dan Kepenuhan Hidup
Romo Oscar menegaskan bahwa Surga adalah kepenuhan abadi, tujuan akhir perjalanan hidup manusia. Surga merupakan kebahagiaan sejati, tempat manusia bersatu sepenuhnya dengan Allah dalam kasih yang sempurna.
“Kepenuhan tertinggi hidup manusia adalah Surga,” katanya. “Di sanalah manusia menemukan kebahagiaan yang tidak berakhir, kepenuhan kasih, dan damai yang sejati.”
Ia mengutip Santo Agustinus yang berkata, “Hatiku tidak akan tenang sebelum beristirahat dalam Engkau, ya Allah.” Kutipan ini menjadi penegasan bahwa kerinduan terdalam manusia hanya dapat dipenuhi dalam Allah.
Hidup sebagai Karunia dan Tanggung Jawab
Dalam homilinya, Romo Oscar juga mengajak umat untuk memandang hidup sebagai karunia yang harus dikembangkan. Hidup bukan kebetulan, melainkan anugerah yang dipercayakan Allah agar dihidupi sesuai kehendak-Nya.
“Hidup yang kita jalani adalah kesempatan,” ujarnya. “Apakah kita sudah menghidupi hidup ini sesuai dengan kehendak Tuhan? Apakah kita sudah mempersiapkan bekal untuk menghadap-Nya?”
Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini mengajak umat untuk melihat hidup sehari-hari sebagai bagian dari perjalanan suci menuju Allah, dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab iman.
Penguatan bagi Keluarga dalam Iman
Misa Arwah dua tahun wafat ini menjadi momen penguatan iman bagi keluarga. Kenangan akan Almarhum Bapak Fransiskus Saverius Tugiman dan Almarhumah Ibu Sisilia Sarbini tidak hanya menjadi sumber kerinduan, tetapi juga dorongan untuk terus hidup dalam iman, harapan, dan kasih.
Romo Oscar menegaskan bahwa kebersamaan dalam keluarga bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah. Keluarga dipanggil untuk diteguhkan dan dikuatkan dalam perjalanan hidup menuju kepenuhan abadi.
Misa Arwah sebagai Ungkapan Iman Gereja
Perayaan Misa Arwah ini menegaskan iman Gereja akan persekutuan para kudus, di mana Gereja yang masih berziarah di dunia bersatu dengan mereka yang telah dimuliakan di Surga. Doa-doa Gereja menjadi jembatan kasih yang melampaui batas waktu dan kematian.
Ekaristi menjadi sumber penghiburan, harapan, dan kekuatan rohani bagi umat, karena di dalamnya dihadirkan kembali misteri wafat dan kebangkitan Kristus, dasar iman akan kehidupan kekal.
Penutup
Misa Arwah dua tahun wafatnya Almarhum Bapak Fransiskus Saverius Tugiman dan Almarhumah Ibu Sisilia Sarbini yang dilaksanakan oleh Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus, Keuskupan Ketapang, pada 5 Januari 2026, menjadi perayaan iman yang penuh makna dan pengharapan.
Melalui perayaan Ekaristi dan homili yang mendalam, umat diajak untuk kembali menyadari bahwa hidup adalah perjalanan suci dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan ambang pintu menuju kepenuhan abadi, yaitu Surga.
Semoga jiwa Almarhum Bapak Fransiskus Saverius Tugiman dan Almarhumah Ibu Sisilia Sarbini beristirahat dalam damai Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diteguhkan dalam iman, harapan, dan kasih, sambil terus melangkah dalam perjalanan suci menuju kepenuhan hidup bersama Allah.
Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Januari 2026

0 comments:
Posting Komentar