Ketapang, Selasa 10 Februari 2026 menjadi hari yang penuh rahmat bagi umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang. Pada hari itu Gereja merayakan Perayaan Wajib Santa Skolastika, Perawan, serta memperingati Santo Zenon, Pertapa, dengan warna liturgi putih sebagai lambang kesucian, kemurnian, dan sukacita rohani. Dalam suasana yang teduh dan penuh kebersamaan, umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi pada pukul 18.30 WIB di rumah Bapak Srianto.
Sejak sore hari, umat lingkungan mulai berdatangan. Halaman rumah telah dipersiapkan dengan sederhana namun rapi. Sebuah meja yang ditata menjadi altar sederhana berdiri di ruang tengah rumah, dihiasi taplak putih dan lilin-lilin yang menyala lembut. Suasana doa terasa sejak awal, ketika umat saling menyapa dengan ramah, lalu duduk dengan tertib menantikan perayaan dimulai.
Misa dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Kehadiran beliau membawa sukacita tersendiri bagi umat. Turut hadir Ketua Lingkungan Santa Lusia, Ibu Sutarti Rahayu, serta Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Jeno Leo. Kehadiran pengurus lingkungan dan paroki menjadi tanda nyata kebersamaan dan kesatuan dalam hidup menggereja.
Petugas liturgi telah mempersiapkan diri dengan baik. Lagu-lagu dipandu oleh Ibu Lucia Nilus dengan suara yang lembut dan penuh penghayatan, mengantar umat masuk dalam suasana doa. Mazmur tanggapan dibawakan oleh Ibu Efriana dengan penuh kekhusyukan, sementara tugas lektor dipercayakan kepada Saudari Yoan yang membacakan Sabda Tuhan dengan jelas dan penuh penghayatan. Pengantar dan doa makan dibawakan oleh Ibu Klaudia Sri Pawanti, menambah kehangatan dalam perayaan tersebut.
Perayaan Santa Skolastika: Kesucian dalam Kesetiaan
Perayaan Wajib Santa Skolastika mengingatkan umat akan teladan hidup doa dan kesetiaan kepada Tuhan. Santa Skolastika dikenal sebagai saudari kembar Santo Benediktus, yang mengabdikan hidupnya dalam doa dan keheningan. Warna putih dalam liturgi hari itu menjadi simbol kemurnian hati dan kesetiaan dalam mengikuti kehendak Allah.
Dalam suasana sederhana di rumah Bapak Srianto, semangat Santa Skolastika terasa nyata. Perayaan tidak dilaksanakan di gedung gereja megah, melainkan di rumah umat, namun justru di situlah terasa makna mendalam tentang Gereja sebagai persekutuan umat Allah yang hidup dan berdoa bersama.
Liturgi Sabda: Kerendahan Hati Salomo dan Kritik terhadap Kesalehan Semu
Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP menyapa umat dengan penuh kehangatan:
“Bapa, Ibu, Saudara-saudari terkasih, bacaan Sabda hari ini menghadirkan sesuatu yang kontras.”
Beliau mengawali refleksi dengan mengangkat kisah Raja Salomo dari Kitab Pertama Raja-Raja. Salomo berdiri di depan mezbah dan Bait Suci dengan kerendahan hati. Ia menyadari bahwa Allah yang Mahabesar tidak mungkin dibatasi oleh bangunan fisik. Salomo bahkan bertanya, apakah Allah hendak tinggal di bumi, sementara langit dan segala isinya pun tidak dapat memuat Dia.
Di hadapan Tuhan, Salomo tidak menyombongkan kemegahan bait Allah. Ia justru menampilkan hati yang rendah dan penuh kesadaran akan kebesaran Tuhan. Bagi Salomo, yang terpenting bukanlah bangunan fisik, melainkan relasi dengan Allah yang dibangun melalui doa dan kesetiaan.
Pastor Oscar menegaskan bahwa kehadiran Tuhan tidak terbatas pada gedung atau simbol lahiriah. Pertanyaan penting bagi umat adalah: sejauh mana kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Sejauh mana kita memaknai pembaptisan kita? Apakah kita sungguh tunduk dan bersujud di hadapan Tuhan dalam kerendahan hati?
Injil Markus 7:1–13 – Ketika Iman Tinggal di Permukaan
Injil hari itu diambil dari Markus 7:1–13 dengan tema: “Hati yang Taat, Bukan Sekadar Tradisi” dan “Ketika Iman Tinggal di Permukaan”.
Dalam Injil tersebut, Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang menegur murid-murid-Nya karena tidak mencuci tangan menurut adat sebelum makan. Kaum Farisi sangat menjaga tradisi lahiriah, tetapi hati mereka kosong dari makna sejati.
RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP menjelaskan bahwa Yesus tidak menolak tradisi. Tradisi itu penting. Namun tradisi harus mengantar orang pada kehendak Allah, bukan menggantikannya. Yesus mengutip Nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Di sinilah kontras yang tajam antara Salomo dan kaum Farisi. Salomo menunjukkan kerendahan hati, sementara kaum Farisi merasa diri paling benar. Mereka tampak suci secara lahiriah, tetapi tidak melaksanakan kehendak Allah dengan tulus.
Pastor Oscar mengingatkan bahwa ibadat yang benar bukan sekadar soal tangan yang bersih, melainkan hati yang bersih. Tuhan tidak terkesan pada seberapa rapi penampilan religius kita, tetapi pada ketulusan hati kita dalam menyerahkan diri.
Refleksi: Salomo atau Farisi?
Dalam bagian refleksi, Pastor Oscar mengajak umat bertanya pada diri sendiri: Apakah kita mirip dengan Salomo, ataukah kita lebih mirip kaum Farisi?
Salomo memahami bahwa yang terpenting bukan kemegahan bait Allah, melainkan relasi dengan Tuhan. Kaum Farisi, sebaliknya, membiarkan hati mereka kosong dan terjebak dalam kemunafikan.
Beliau menegaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk merasa diri paling benar. Kita bisa rajin mengikuti Misa, aktif dalam pelayanan, bahkan fasih dalam bahasa rohani, tetapi hati kita mungkin masih keras, mudah menghakimi, dan sulit mengampuni.
Iman yang sejati adalah iman yang hidup di hati. Tradisi tanpa jiwa akan menjadi formalitas. Sebaliknya, tradisi yang dihidupi dengan kerendahan hati akan melahirkan relasi yang mendalam dengan Tuhan.
Mazmur Tanggapan: Kerinduan akan Rumah Tuhan
Mazmur tanggapan yang dibawakan oleh Ibu Efriana menggema dengan indah:
“Betapa menyenangkan kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!”
Umat mengikuti dengan penuh penghayatan. Kata-kata mazmur itu menjadi doa bersama, mengungkapkan kerinduan akan kehadiran Tuhan. Bahkan burung pipit pun mendapat tempat di mezbah Tuhan. Demikian pula setiap umat yang hadir malam itu menemukan tempat untuk berdoa dan berserah.
Mazmur tersebut menguatkan pesan homili bahwa kebahagiaan sejati bukan pada kemegahan lahiriah, melainkan pada tinggal dalam rumah Tuhan dan memuji-Nya tanpa henti.
Relevansi bagi Kehidupan Berparoki
Dalam penutup homilinya, Pastor Oscar mengajak umat untuk menghidupi Sabda Tuhan dalam kehidupan berparoki dan menggereja. Iman tidak boleh berhenti pada rutinitas. Iman harus dihidupi dalam relasi yang nyata dengan Tuhan dan sesama.
Beliau menekankan pentingnya kerendahan hati dalam pelayanan. Dalam lingkungan, dalam keluarga, dan dalam masyarakat, sikap rendah hati akan membawa kedamaian. Kesalehan sejati tampak dalam kasih, dalam kesediaan mengampuni, dan dalam kesetiaan pada doa.
Suasana hening menyelimuti umat ketika homili berakhir. Pesan yang disampaikan terasa sederhana namun menyentuh hati.
Kebersamaan yang Menguatkan
Setelah perayaan Ekaristi selesai, umat melanjutkan dengan doa makan yang dipimpin oleh Ibu Klaudia Sri Pawanti. Kebersamaan terasa hangat dalam suasana sederhana. Hidangan yang disiapkan menjadi sarana mempererat persaudaraan.
Ketua Lingkungan, Ibu Sutarti Rahayu, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Misa lingkungan dengan baik. Kehadiran Ketua DPP, Bapak Jeno Leo, semakin menguatkan rasa kebersamaan antara lingkungan dan paroki.
Malam itu bukan sekadar perayaan liturgi, melainkan juga perayaan iman dan persaudaraan. Rumah Bapak Srianto menjadi saksi persekutuan umat yang hidup.
Dari Rutinitas Menuju Pertobatan
Perayaan Santa Skolastika dan refleksi Injil Markus 7:1–13 menjadi pengingat bahwa iman tidak boleh berhenti di permukaan. Rutinitas religius perlu disertai pertobatan yang terus-menerus.
Tradisi yang dijalankan dengan hati yang taat akan menghasilkan iman yang hidup. Sebaliknya, tradisi tanpa hati akan menjadi kosong. Pesan inilah yang menguatkan umat Lingkungan Santa Lusia malam itu.
Perayaan ditutup dengan berkat penutup dan lagu syukur yang dipandu Ibu Lucia Nilus. Umat pulang dengan hati yang diteguhkan, membawa pesan Sabda Tuhan untuk dihidupi dalam keseharian.
Misa lingkungan Santa Lusia pada Selasa, 10 Februari 2026, menjadi momentum refleksi mendalam tentang kerendahan hati dan kemurnian iman. Dalam kesederhanaan rumah umat, Sabda Tuhan kembali ditegaskan: Tuhan menghendaki hati yang taat, bukan sekadar tradisi.
Semoga sapaan Sabda itu terus hidup dalam hati umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, membimbing langkah dalam doa, pelayanan, dan kasih setiap hari.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 10 Februari 2026
0 comments:
Posting Komentar