Ibadat APP Pertemuan IV di Lingkungan Sta.Lusia: Umat Didorong Hadirkan Harapan bagi Jeritan Bumi dan Kaum Miskin

 

Foto Bapak Jeno Leo

Ibadat APP Pertemuan IV di Lingkungan Sta.Lusia: Umat Didorong Hadirkan Harapan bagi Jeritan Bumi dan Kaum Miskin

Ketapang, 17 Maret 2026.Umat Katolik Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, menggelar Ibadat Pertemuan IV Aksi Puasa Pembangunan (APP) pada Selasa (17/3/2026) pukul 18.30 WIB hingga selesai. Kegiatan yang berlangsung di rumah Bapak Ivan Lendel dan Ibu Verra Vitness ini mengangkat tema “Aksi Puasa Pembangunan (APP) Menghadirkan Harapan bagi Jeritan Bumi dan Orang Miskin.”

Ibadat yang merupakan bagian dari rangkaian masa prapaskah 2026 ini dipimpin oleh Bapak Jeno Leo, dengan iringan lagu oleh Ibu Suharyati. Kegiatan dihadiri oleh para suster serta umat Lingkungan Santa Lusia yang dengan penuh khidmat mengikuti seluruh rangkaian ibadat dari awal hingga akhir.



Ibadat Berlangsung Khidmat dan Penuh Makna

Sejak dimulai pada pukul 18.30 WIB, suasana ibadat berlangsung dalam suasana hening, reflektif, dan penuh penghayatan. Umat yang hadir tampak mengikuti setiap bagian ibadat dengan penuh kesungguhan, mulai dari salam pembuka, doa pembuka, pembacaan Kitab Suci, hingga doa penutup.

Dalam salam pembuka, pemimpin ibadat mengajak umat untuk menyadari bahwa pertemuan keempat APP ini menjadi kesempatan penting untuk merenungkan panggilan iman, khususnya dalam menghadirkan harapan di tengah dunia yang rapuh. Tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini, di mana banyak orang mengalami penderitaan akibat kemiskinan, ketidakadilan sosial, serta krisis lingkungan.

Umat diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat secara aktif sebagai pelaku utama pengharapan melalui tindakan nyata, baik dalam bentuk solidaritas, kepedulian sosial, maupun aksi kasih terhadap sesama.

Refleksi Mendalam tentang Harapan dan Kepedulian

Dalam doa pembuka, umat diajak bersyukur atas rahmat keselamatan yang diperoleh melalui wafat dan kebangkitan Kristus. Doa tersebut juga menegaskan pentingnya aksi nyata dalam masa prapaskah sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Salah satu bagian penting dalam ibadat ini adalah pendalaman pesan terkait Hari Orang Miskin Sedunia 2025. Dalam refleksi tersebut, umat diajak untuk melihat kaum miskin bukan sebagai objek belas kasih semata, melainkan sebagai subjek yang memiliki martabat dan peran penting dalam kehidupan Gereja.

Pesan tersebut menekankan bahwa harapan sejati tidak terletak pada kekuatan materi, melainkan pada iman kepada Allah. Selain itu, ditegaskan pula bahwa kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana atau janji.

Umat juga diajak untuk menyadari bahwa kemiskinan tidak hanya bersifat material, tetapi juga spiritual, yakni ketika seseorang tidak mengenal Allah. Oleh karena itu, pelayanan kepada kaum miskin harus mencakup aspek jasmani dan rohani.

Pendalaman Kitab Suci Matius 26:6-13

Dalam ibadat tersebut, dibacakan Injil menurut Matius 26:6-13 yang mengisahkan seorang perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi mahal di rumah Simon si kusta.

Kisah ini menjadi bahan refleksi utama dalam pertemuan APP kali ini. Dalam bacaan tersebut, tindakan perempuan itu sempat dianggap sebagai pemborosan oleh para murid. Namun Yesus justru memuji tindakan tersebut sebagai perbuatan baik yang memiliki makna mendalam.

Melalui pendalaman Kitab Suci, umat diajak untuk memahami bahwa kasih sejati tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia atau nilai materi. Apa yang terlihat sebagai pemborosan bisa jadi merupakan ungkapan kasih yang tulus dan berharga di mata Tuhan.

Pemimpin ibadat menegaskan bahwa umat perlu berhati-hati agar tidak mudah menghakimi tindakan orang lain, terutama dalam hal berbuat baik. Terkadang, niat baik seseorang justru disalahpahami karena dinilai dari sudut pandang yang sempit.

Dinamika Ibadat yang Partisipatif

Dalam sesi dinamika, umat diberikan kesempatan untuk menuliskan hal-hal yang paling berkesan dari pesan yang telah disampaikan, baik dari refleksi pesan Gereja maupun dari bacaan Kitab Suci.

Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan umat secara aktif dalam proses permenungan, sehingga setiap peserta dapat mengalami secara pribadi makna dari ibadat tersebut.

Selain itu, umat juga diajak menjawab beberapa pertanyaan reflektif, seperti bagaimana menjadi pelaku harapan di tengah dunia yang rapuh, siapa yang dimaksud dengan orang miskin dalam konteks Gereja, serta bagaimana sikap yang seharusnya diambil terhadap mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.

Suasana diskusi berlangsung dalam keheningan dan keseriusan, menunjukkan bahwa umat benar-benar menghayati tema yang diangkat.

Penegasan Nilai Kasih dan Kepedulian

Dalam penegasan akhir, pemimpin ibadat menyoroti beberapa poin penting dari bacaan Injil. Salah satunya adalah bahwa tindakan kasih yang dilakukan dengan tulus memiliki nilai yang sangat tinggi di hadapan Tuhan, meskipun tidak selalu dipahami oleh manusia.

Selain itu, umat diingatkan bahwa orang miskin akan selalu ada, sehingga kesempatan untuk berbuat baik tidak pernah habis. Oleh karena itu, umat diajak untuk tidak menunda-nunda dalam melakukan kebaikan.

Yesus dalam bacaan tersebut juga membela perempuan yang melakukan tindakan kasih, sekaligus mengingatkan bahwa setiap perbuatan baik yang dilakukan dengan hati tulus akan dikenang dan memiliki makna abadi.

Doa Umat dan Penutup

Dalam doa umat, setiap peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan doa dan harapan mereka secara spontan. Doa-doa yang dipanjatkan mencerminkan keprihatinan terhadap berbagai persoalan kehidupan, mulai dari kemiskinan, ketidakadilan, hingga kebutuhan akan kedamaian dan persatuan.

Ibadat kemudian dilanjutkan dengan doa Bapa Kami yang didaraskan bersama, menandakan persatuan umat dalam iman dan harapan.

Dalam doa penutup, umat kembali diajak untuk bersyukur atas sabda Tuhan yang telah menguatkan dan menggerakkan hati mereka. Harapan disampaikan agar kegiatan APP tahun ini benar-benar menjadi sarana untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadat ditutup dengan berkat penutup, di mana umat memohon perlindungan dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Harapan Umat ke Depan

Kegiatan Ibadat APP Pertemuan IV ini diharapkan tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan semata, tetapi benar-benar membawa perubahan nyata dalam kehidupan umat.

Umat diharapkan semakin peka terhadap penderitaan sesama, khususnya mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Selain itu, umat juga diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa harapan di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Gereja ingin menegaskan kembali perannya sebagai komunitas yang hidup dalam kasih dan solidaritas. Dengan semangat prapaskah, umat diajak untuk memperdalam iman, memperbaiki diri, serta meningkatkan kepedulian sosial.

Kesimpulan

Ibadat APP Pertemuan IV di Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, berlangsung dengan lancar, khidmat, dan penuh makna. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga momentum refleksi dan pembaruan iman bagi umat.

Tema yang diangkat memberikan pesan kuat bahwa setiap orang dipanggil untuk menghadirkan harapan, terutama bagi mereka yang mengalami penderitaan. Melalui tindakan nyata, sekecil apa pun, umat dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menghadirkan kasih di dunia.

Dengan berakhirnya ibadat tersebut, umat diutus kembali ke tengah kehidupan sehari-hari dengan semangat baru untuk berkarya, melayani, dan menjadi pembawa damai.

“Syukur kepada Allah,” menjadi ungkapan penutup yang menggema, menandai berakhirnya ibadat sekaligus awal dari komitmen baru untuk hidup dalam kasih dan pengharapan.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 17 Maret 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar