Minggu Prapaskah IV “Laetare” di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Umat Diajak Menjadi Anak-Anak Terang dalam Sukacita Iman

 

Foto  RP. Donatus Anggur, CP.Pimpin Misa

Minggu Prapaskah IV “Laetare” di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Umat Diajak Menjadi Anak-Anak Terang dalam Sukacita Iman

Ketapang, Minggu 15 Maret 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengikuti Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah IV yang dikenal sebagai Minggu Laetare atau Minggu Sukacita pada Minggu pagi (15/3/2026). Perayaan misa yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut dipimpin oleh RP Donatus Anggur, CP, dengan warna liturgi ungu yang menandai masa tobat dan pertobatan dalam masa Prapaskah menjelang Paskah.

Minggu Prapaskah IV memiliki makna khusus dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Hari ini disebut Minggu Laetare, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti “bersukacitalah”. Sebutan tersebut diambil dari kata pembuka misa atau introit yang mengajak umat untuk bersukacita di tengah perjalanan rohani menuju Paskah. Minggu ini juga menjadi tanda bahwa umat telah memasuki separuh perjalanan masa Prapaskah.

Sejak pagi hari, umat sudah mulai berdatangan ke gereja untuk mengikuti perayaan misa. Suasana gereja tampak khidmat sekaligus penuh sukacita. Meskipun masa Prapaskah dikenal sebagai masa tobat dan refleksi diri, Minggu Laetare memberikan nuansa pengharapan bahwa terang kebangkitan Kristus semakin dekat.

Dalam perayaan misa tersebut, sejumlah petugas liturgi mengambil bagian dalam pelayanan. Lektor yang membacakan Sabda Tuhan adalah Bapak Dedy Candra. Pemazmur yang membawakan mazmur tanggapan adalah Ibu Donna Natashia Eunike. Sementara itu, dirigen koor dipercayakan kepada Ibu Herklana Haini dengan iringan musik organ oleh Cintia.

Koor pada misa Minggu ini dilayani oleh Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi yang memimpin umat dalam nyanyian liturgi sepanjang perayaan. Nyanyian-nyanyian yang dibawakan membantu umat menghayati suasana doa dan permenungan selama misa berlangsung.



























































































































Makna Minggu Laetare

Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, Minggu Prapaskah IV menjadi momentum penting bagi umat untuk kembali menguatkan harapan. Setelah menjalani masa puasa, pantang, doa, dan pertobatan, umat diajak untuk merasakan sukacita karena perjalanan menuju Paskah telah mencapai pertengahan.

Kata “Laetare” yang berarti bersukacita diambil dari teks pembuka misa yang mengajak umat untuk bergembira dalam Tuhan. Sukacita ini bukan sekadar kegembiraan lahiriah, melainkan sukacita rohani karena keselamatan yang dijanjikan Allah bagi umat manusia.

Pada Minggu ini, Gereja mengingatkan bahwa masa tobat tidak semata-mata dipenuhi dengan kesedihan, tetapi juga dengan harapan dan sukacita akan kasih Allah yang menyelamatkan.

Bacaan Injil: Yesus Menyembuhkan Orang Buta Sejak Lahir

Bacaan Injil pada misa Minggu Prapaskah IV diambil dari Injil Yohanes 9:1-41 dengan bagian singkat Yohanes 9:1.6-9.13-17.34-38 yang mengisahkan tentang mukjizat Yesus yang menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir.

Dalam kisah tersebut, Yesus melihat seorang yang buta sejak lahir ketika sedang berjalan bersama para murid-Nya. Murid-murid bertanya kepada Yesus mengenai penyebab kebutaan orang tersebut, apakah karena dosanya sendiri atau dosa orang tuanya.

Namun Yesus menegaskan bahwa kebutaan itu bukan disebabkan oleh dosa, melainkan agar pekerjaan Allah dinyatakan melalui dirinya.

“Yesus berkata, ‘Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.’”

Yesus kemudian meludah ke tanah, mengaduk tanah dengan ludah itu, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tersebut. Ia kemudian menyuruh orang itu pergi membasuh diri di kolam Siloam.

Orang itu menuruti perintah Yesus. Setelah membasuh dirinya, ia kembali dengan mata yang sudah dapat melihat.

Peristiwa ini menggemparkan orang-orang di sekitarnya. Banyak yang tidak percaya bahwa ia adalah orang yang sebelumnya dikenal sebagai pengemis buta. Sebagian orang menganggap ia hanya mirip dengan orang tersebut.

Namun orang itu sendiri menegaskan bahwa dialah orang yang sama.

“Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat,” katanya.

Perdebatan dengan Orang Farisi

Mukjizat tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan di antara orang-orang Farisi. Mereka mempertanyakan tindakan Yesus karena mukjizat itu terjadi pada hari Sabat.

Sebagian orang Farisi menuduh Yesus tidak datang dari Allah karena dianggap melanggar aturan Sabat. Namun sebagian lainnya bertanya bagaimana mungkin seorang berdosa mampu melakukan mukjizat seperti itu.

Perdebatan semakin memuncak ketika orang yang tadinya buta itu dengan tegas menyatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi.

Karena tidak percaya, orang-orang Farisi bahkan memanggil orang tua dari orang yang disembuhkan itu untuk memastikan apakah benar ia lahir dalam keadaan buta.

Orang tuanya membenarkan bahwa anak mereka memang lahir buta, tetapi mereka tidak mengetahui bagaimana ia bisa melihat.

Akhirnya orang yang disembuhkan itu kembali dipanggil untuk memberikan kesaksian. Dengan berani ia berkata bahwa meskipun tidak tahu apakah Yesus seorang berdosa atau tidak, ia hanya mengetahui satu hal yang pasti.

“Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”

Kesaksian tersebut membuat orang-orang Farisi semakin marah hingga akhirnya mereka mengusirnya.

Pertemuan dengan Yesus

Setelah diusir oleh orang-orang Farisi, orang yang telah disembuhkan itu kembali bertemu dengan Yesus. Dalam pertemuan tersebut, Yesus bertanya kepadanya apakah ia percaya kepada Anak Manusia.

Ketika ia bertanya siapakah Anak Manusia itu, Yesus menjawab bahwa Dialah yang sedang berbicara dengannya.

Orang itu pun berkata dengan penuh iman, “Aku percaya, Tuhan,” lalu sujud menyembah Yesus.

Yesus kemudian berkata bahwa Ia datang ke dunia agar mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang merasa melihat justru menjadi buta.

Homili RP Donatus Anggur, CP

Dalam homilinya, RP Donatus Anggur, CP mengajak umat untuk tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.

Ia mengawali homili dengan sebuah kisah sederhana tentang pengalaman ketika membeli buah di pasar.

“Saya pernah diajak ke pasar buah. Di sana ada durian dan jambu. Mata saya tertuju pada jambu yang kelihatannya mulus dan bagus. Saya membeli jambu itu,” katanya.

Namun ketika sampai di rumah dan membuka buah tersebut, ternyata di dalamnya banyak ulat.

Sebaliknya, ketika membuka buah durian yang tampak berduri dan keras, ternyata isinya justru tidak sesuai dengan harapan.

Melalui pengalaman tersebut, ia mengajak umat untuk memahami bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

“Jangan menilai buku dari luarnya. Jangan menilai hanya dari foto profil. Lebih baik kita mengenal dan berjumpa langsung,” katanya.

Belajar dari Bacaan Kitab Suci

RP Donatus juga mengaitkan pesan tersebut dengan bacaan Kitab Suci hari itu, khususnya kisah dalam Perjanjian Lama ketika Nabi Samuel memilih raja bagi bangsa Israel.

Menurutnya, manusia sering melihat hanya dari penampilan luar, sementara Tuhan melihat hati manusia.

“Apa yang dilihat manusia hanya dari luarnya. Tetapi Tuhan melihat hati,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kisah Yudas Iskariot yang mengkhianati Yesus dengan sebuah ciuman.

“Dari luar tampaknya baik, tetapi ternyata ada pengkhianatan,” katanya.

Menjadi Anak-Anak Terang

Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak umat untuk hidup sebagai anak-anak terang. Hal ini juga menjadi pesan utama yang ditekankan oleh RP Donatus dalam homilinya.

Menurutnya, menjadi anak terang berarti hidup dalam kebenaran, kejujuran, dan kasih.

“Jadilah anak-anak terang yang penuh sukacita,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjadi anak terang tidak selalu mudah karena selalu ada tantangan dan godaan dalam kehidupan.

“Tidak mudah menjadi anak terang. Selalu ada angin yang meniup,” katanya.

Namun demikian, umat diajak untuk tetap setia dalam iman dan terus menghadirkan terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Sukacita dalam Iman

RP Donatus menekankan bahwa orang yang semakin beriman biasanya semakin mampu menghadirkan sukacita dalam hidupnya.

“Orang yang semakin beriman biasanya semakin tersenyum,” ujarnya.

Senyuman dan sikap ramah, menurutnya, merupakan cara sederhana untuk menyebarkan kabar sukacita kepada orang lain.

“Mendengarkan kabar sukacita membawa damai dan sukacita bagi banyak orang,” katanya.

Jangan Buta terhadap Dosa

Dalam Injil hari itu, Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Namun RP Donatus mengingatkan bahwa kebutaan yang lebih berbahaya adalah kebutaan rohani.

Ia mencontohkan orang-orang Farisi yang secara fisik sehat tetapi tidak mampu melihat kebenaran karena hati mereka tertutup.

“Ada orang Farisi yang sehat, tetapi buta secara iman,” katanya.

Sebaliknya, orang yang sebelumnya buta justru mampu melihat kebenaran dan menyatakan imannya kepada Yesus.

“Tuhan, aku percaya,” ujarnya menirukan pengakuan iman orang tersebut.

Refleksi bagi Kehidupan Umat

RP Donatus juga mengajak umat untuk melakukan refleksi diri, apakah dalam kehidupan sehari-hari mereka juga pernah menjadi “buta” terhadap dosa-dosa sendiri.

“Apa kita buta terhadap dosa kita sendiri?” tanyanya kepada umat.

Ia mengajak umat untuk tidak menyembunyikan diri dalam kegelapan dosa, melainkan berani hidup dalam terang.

“Rasul Paulus mengajak kita menjadi anak-anak terang, tidak bersembunyi dalam kegelapan dosa,” katanya.

Nasihat bagi Kaum Muda

Dalam homilinya, RP Donatus juga memberikan pesan khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang sedang menjalin hubungan atau berpacaran.

Ia mengingatkan agar tidak hanya menilai pasangan dari penampilan luar.

“Bagi yang masih berpacaran, kenali calon pasanganmu dengan baik,” katanya.

Menurutnya, banyak orang tertipu oleh penampilan yang gagah atau menarik, tetapi tidak mengenal kepribadian sebenarnya.

“Jangan hanya melihat penampilan. Supaya tidak menikah dengan orang yang salah,” katanya.

Menjadi Terang dalam Keluarga

RP Donatus juga mengajak setiap anggota keluarga untuk menjadi terang bagi satu sama lain.

“Istri bisa menjadi terang bagi suaminya, dan suami juga menjadi terang bagi istrinya,” katanya.

Begitu pula anak-anak dapat menjadi terang bagi orang tua dan keluarganya.

Dengan saling menjadi terang, keluarga dapat menjadi tempat yang penuh kasih, damai, dan sukacita.

Penutup

Di akhir homilinya, RP Donatus berharap agar seluruh umat dapat terus bertumbuh dalam iman dan menjadi saksi terang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga kita semua menjadi anak-anak terang yang jujur dan hidup dalam kebenaran,” katanya.

Perayaan misa Minggu Prapaskah IV di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berlangsung dengan khidmat hingga akhir. Umat mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan penuh perhatian dan doa.

Minggu Laetare menjadi pengingat bahwa di tengah perjalanan tobat dan pertobatan dalam masa Prapaskah, umat tetap dipanggil untuk bersukacita karena terang Kristus selalu hadir dalam kehidupan.

Dengan semangat tersebut, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diharapkan terus melangkah menuju perayaan Paskah dengan hati yang diperbarui, penuh iman, harapan, dan kasih.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 15 Maret 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar