Ketapang, Sabtu, 14 Maret 2026.Perayaan Misa Minggu Prapaskah IV berlangsung khidmat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, wilayah Ketapang, Sabtu (14/3/2026) pukul 18.00 WIB. Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh RP. Donatus Anggur, CP, dengan mengangkat pesan refleksi tentang pentingnya mengenali jati diri manusia secara mendalam dan tidak mudah tertipu oleh penampilan atau “profil” duniawi.
Misa yang berlangsung dalam suasana masa Prapaskah itu menggunakan warna liturgi ungu, yang melambangkan pertobatan dan refleksi iman. Hari tersebut juga diperingati sebagai pesta liturgi bagi Louise de Marillac, seorang janda yang dikenal karena karya pelayanannya kepada kaum miskin, serta Clemens Maria Hofbauer, seorang pengaku iman yang berperan penting dalam karya evangelisasi Gereja.
Perayaan Ekaristi dihadiri umat paroki yang memenuhi ruang gereja sejak menjelang misa dimulai. Liturgi dipandu oleh sejumlah petugas yang telah ditunjuk. Ibu Theresia Suriawati Hui Zhen bertugas sebagai lektor yang membacakan Sabda Tuhan, sementara mazmur tanggapan dinyanyikan oleh Ibu Genoveva Sonia. Paduan suara dipimpin oleh dirigen Giovanni dengan koor dari SMP Santo Augustinus Ketapang, yang mengiringi jalannya perayaan dengan nyanyian liturgi.
Dalam liturgi Sabda, dibacakan Injil dari Injil Yohanes 9:1–41 dengan kutipan singkat Yohanes 9:1, 6–9, 13–17, 34–38 yang mengisahkan mukjizat Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir.
Kisah Injil tersebut menceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir dengan mengoleskan tanah pada matanya dan menyuruhnya membasuh diri di kolam Siloam. Setelah melakukan perintah tersebut, orang itu memperoleh kembali penglihatannya.
Mukjizat itu kemudian menimbulkan perdebatan di kalangan orang-orang Farisi karena dilakukan pada hari Sabat. Mereka mempertanyakan keabsahan mukjizat tersebut dan meragukan kesaksian orang yang disembuhkan.
Meski mendapat tekanan dan interogasi dari para pemimpin agama saat itu, orang yang telah disembuhkan tetap memberikan kesaksian sederhana namun tegas bahwa ia sebelumnya buta, tetapi kini dapat melihat.
Dalam homilinya, Pastor Donatus Anggur mengaitkan kisah Injil tersebut dengan kehidupan manusia di zaman modern yang sering kali dipenuhi berbagai “topeng” sosial.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat seseorang dengan mudah membangun citra diri yang belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya.
“Di zaman modern ini, profil seseorang sangat mudah dibentuk. Media sosial, penampilan luar, gelar, jabatan, bahkan tutur kata yang santun sering kali menjadi topeng yang menutupi jati diri sesungguhnya,” kata Pastor Donatus dalam homilinya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat sering kali menilai seseorang hanya dari penampilan luar atau citra yang ditampilkan kepada publik.
“Sering kali kita menilai buku dari sampulnya. Seseorang bisa terlihat seperti malaikat di luar, namun menyimpan niat jahat di dalam,” ujarnya.
Pastor Donatus mengingatkan umat agar memiliki kebijaksanaan dalam menilai seseorang serta tidak mudah tertipu oleh penampilan luar. Ia menekankan pentingnya mengenal sesama secara pribadi dan mendalam.
Menurutnya, pesan Injil tentang penyembuhan orang buta tidak hanya berbicara mengenai kesembuhan fisik, tetapi juga tentang membuka mata hati manusia agar mampu melihat kebenaran.
Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang secara fisik dapat melihat tetapi hatinya tertutup terhadap kebenaran, seperti yang digambarkan dalam sikap sebagian orang Farisi dalam kisah Injil tersebut.
“Kadang-kadang orang yang merasa paling tahu justru tidak mampu melihat kebenaran. Sebaliknya, orang yang sederhana justru memiliki iman yang tulus,” katanya.
Pastor Donatus juga mengajak umat untuk lebih fokus memperbaiki hati sendiri daripada sibuk membangun citra diri di hadapan orang lain.
“Pada akhirnya bukan profil duniawi yang menyelamatkan kita, melainkan ketulusan hati kita di hadapan Tuhan,” katanya.
Ia menutup homilinya dengan mengajak umat memohon rahmat kebijaksanaan dari Roh Kudus agar mampu hidup dalam kebenaran di tengah dunia yang penuh kepalsuan.
“Di dunia yang penuh dengan kepalsuan, jadilah umat yang bijaksana. Kenali sesama dengan kasih, tetapi tetap waspada. Jangan tertipu oleh profil palsu,” ujarnya.
Perayaan Ekaristi berlangsung dengan tertib dan khidmat hingga bagian komuni kudus. Umat secara bergiliran maju ke depan altar untuk menerima komuni, sementara paduan suara dari SMP Santo Augustinus Ketapang mengiringi dengan nyanyian liturgi yang menambah suasana doa.
Masa Prapaskah sendiri merupakan periode penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang berlangsung selama 40 hari sebelum perayaan Paskah. Pada masa ini, umat diajak untuk memperdalam iman melalui doa, puasa, dan amal kasih.
Minggu Prapaskah IV sering juga disebut Minggu Laetare, yang secara tradisional menjadi momen penguatan harapan di tengah perjalanan pertobatan menuju Paskah.
Perayaan misa Sabtu malam di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang tersebut menjadi salah satu kesempatan bagi umat untuk merenungkan kembali panggilan iman mereka, sekaligus memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan.
Dengan pesan Injil tentang terang yang membuka mata orang buta, umat diingatkan untuk selalu mencari kebenaran dan menjaga ketulusan hati dalam kehidupan sehari-hari.
Misa ditutup dengan doa penutup dan berkat dari Pastor Donatus. Setelah perayaan berakhir, umat meninggalkan gereja dengan tertib sambil saling menyapa dan berbincang di halaman gereja.
Melalui perayaan Ekaristi tersebut, umat diharapkan dapat membawa pesan Injil ke dalam kehidupan nyata, terutama dalam membangun relasi yang jujur, tulus, dan berlandaskan iman di tengah masyarakat.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 14 Maret 2026










0 comments:
Posting Komentar