Peserta dari Berbagai Paroki
Peserta kegiatan SOMA berasal dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Ketapang. Di antaranya Paroki Paulus Rasul Tumbang Titi, Paroki Santo Gabriel Sandai, Paroki Santo Martinus Balai Berkuak, Paroki Salib Suci Menyumbung, Paroki Santa Gemma Galgani, Paroki Keluarga Kudus Sepotong, Paroki Santo Agustinus, Paroki Santo Yosef Serengkah, Paroki Maria Ratu Rosari Riam Kota, Paroki Santo Mikael Simpang Dua, Paroki Santo Stefanus Kendawangan, Paroki Santo Carolus Borromeus, Paroki Emanuel Sukadana, serta Paroki Sungai Daka.
Para peserta terdiri dari para imam, suster, umat awam, kaum muda, serta para pendamping anak dan remaja yang selama ini aktif dalam pelayanan pastoral di paroki masing-masing. Kehadiran mereka mencerminkan semangat Gereja lokal untuk terus memperkuat karya misi universal Gereja.
Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh empat orang peserta dari Seminari Menengah Santo Laurensius Ketapang yang turut mengambil bagian dalam pembinaan misioner tersebut.
Kehadiran Narasumber Nasional
Dalam kegiatan SOMA ini turut hadir sejumlah narasumber dari tingkat nasional maupun keuskupan yang menjadi fasilitator dan pembimbing bagi para peserta.
Selain RD. Yosefus Anting Patimura, hadir pula Antonius Turmudi Hartono dari Staf Sekretariat Nasional KMKI, Margaretha Nicken dari Tim KMKI Keuskupan Pangkalpinang, serta Dita Derista dan Angela Yunita Ariyanti dari Tim KMKI Keuskupan Malang.
Kehadiran para narasumber ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk belajar dari pengalaman pelayanan misioner yang lebih luas dalam Gereja.
Turut hadir pula RP. Rovinus Longa, CP yang menjabat sebagai Direktur Diosesan sekaligus Ketua KMKI Komisi Keuskupan Ketapang, bersama RD. Zurich Arian Withosha selaku Sekretaris KMKI Komisi Keuskupan Ketapang.
Struktur Kepengurusan KMKI Keuskupan Ketapang
Dalam kesempatan tersebut juga diperkenalkan struktur kepengurusan KMKI Komisi Keuskupan Ketapang yang bertugas mendukung berbagai program pembinaan iman dan kegiatan misioner di tingkat keuskupan.
Struktur kepengurusan tersebut terdiri dari:
Direktur Diosesan / Ketua KMKI Komisi Keuskupan: RP. Rovinus Longa, CPSekretaris KMKI Komisi Keuskupan: RD. Zurich Arian WithoshaAnggota – Bendahara: Sr. Agnes, OSABidang Liturgi: Sr. Dyipna, OSAAnggota – Humas: Susana Eniyanti, S.PdPerlengkapan: Sr. Seraphine, OSADokumentasi: Jojo dan Doni bekerja sama dengan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan KetapangPengurus Iman dan Misi SEKAMI Keuskupan Ketapang: Sr. PetraAnimator T-SoM Nasional dan Keuskupan KMKI:Adventus Fuji .Sebagai Volunteer (Kader)Struktur ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat pelayanan misi Gereja di Keuskupan Ketapang, khususnya dalam pengembangan kegiatan SEKAMI dan pembinaan para animator misioner.
Belajar dari Teladan Timotius
Dalam materinya, RD. Yosefus Anting Patimura mengajak para peserta untuk merenungkan panggilan pelayanan melalui kisah tokoh Kitab Suci, yaitu Timothy yang merupakan murid dan rekan pelayanan Paul the Apostle.
Ia menjelaskan bahwa Timotius merupakan seorang pemimpin muda yang menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan Gereja. Tantangan tersebut datang baik dari dalam dirinya maupun dari situasi di sekitarnya.
Tantangan dari Dalam
Beberapa tantangan yang dihadapi Timotius berasal dari dalam dirinya sendiri. Salah satunya adalah usianya yang masih muda. Dalam 1 Timotius 4:12, Paulus mengingatkan agar Timotius tidak merasa rendah diri karena usia mudanya.
Selain itu, Timotius juga memiliki kelemahan fisik. Dalam 1 Timotius 5:23, Paulus bahkan menyarankan agar Timotius menggunakan sedikit anggur untuk mengatasi masalah kesehatan perutnya.
Timotius juga dikenal memiliki sifat yang cenderung pemalu atau kurang percaya diri. Karena itu Paulus menegaskan bahwa Roh yang diberikan Allah bukanlah roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih, dan ketertiban.
Tantangan dari Luar
Selain tantangan internal, Timotius juga menghadapi tantangan dari luar. Pada masa itu, umat Kristen mengalami tekanan dari kekuasaan Romawi maupun kelompok yang menolak ajaran Injil.
Jemaat juga menghadapi berbagai ajaran sesat yang dapat menyesatkan umat. Karena itu Paulus mengingatkan Timotius untuk tetap setia pada ajaran yang benar serta berpegang pada Kitab Suci sebagai dasar pengajarannya.
Selain itu, terdapat pula persoalan moral dalam kehidupan jemaat, seperti sikap materialistis dan konflik antaranggota jemaat.
Paulus sebagai Mentor Rohani
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Paulus berperan sebagai mentor rohani yang terus menguatkan Timotius. Ia mengingatkan bahwa karunia yang diterima Timotius melalui penumpangan tangan adalah pemberian Allah yang harus terus dikobarkan.
Paulus juga memberikan teladan kesetiaan dalam penderitaan. Ia tidak malu menderita demi Injil dan mengajak Timotius untuk tetap setia dalam panggilan pelayanan.
Relevansi bagi Para Animator
Menurut RD. Yosefus Anting Patimura, pengalaman Timotius sangat relevan bagi para animator dan animatris yang terlibat dalam pelayanan Gereja saat ini.
Para pendamping anak dan remaja sering menghadapi berbagai kesulitan dalam pelayanan. Kadang mereka merasa kurang percaya diri, lelah, atau menghadapi keterbatasan waktu dan tenaga.
Namun demikian, seperti Timotius yang dikuatkan oleh Paulus, para animator juga dipanggil untuk tetap setia dalam pelayanan.
Animator sebagai Rekan Kerja Gereja
Dalam refleksi tersebut ditegaskan bahwa para animator adalah rekan kerja Gereja dalam bidang pewartaan Injil. Mereka bekerja bersama para imam, biarawan-biarawati, guru agama, katekis, serta umat awam dalam mendampingi anak-anak untuk mengenal dan mencintai Kristus.
Seorang animator bukanlah tokoh utama dalam kegiatan pelayanan. Yang menjadi pusat perhatian adalah anak-anak yang dilayani.
Karena itu pelayanan animator harus dijalankan dengan semangat kebersamaan dan kerja sama tim.
Tidak Ada Pahlawan Tunggal
Dalam pelayanan Gereja tidak ada pahlawan tunggal. Keberhasilan pelayanan selalu merupakan hasil kerja bersama.
Para animator diajak untuk membangun kerja sama tim yang baik melalui dialog, saling mendukung, serta berbagi tanggung jawab.
Keharmonisan dalam pelayanan tidak terjadi secara otomatis. Hal tersebut perlu dibangun melalui rasa memiliki, kreativitas, program yang terencana, serta kepercayaan satu sama lain.
Energi Antusias dalam Pelayanan
Seorang animator juga dituntut memiliki energi antusias dalam melayani. Ia harus percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang.
Seorang pendamping harus mampu melihat kebaikan dalam diri setiap anak serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertumbuh.
Bahkan ketika seorang anak melakukan kesalahan, seorang animator tetap dipanggil untuk mempercayai mereka dan membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Hidup Rohani sebagai Sumber Kekuatan
Dalam bagian refleksi spiritualitas animator, RD. Yosefus menekankan pentingnya kehidupan doa. Seorang animator tidak hanya bekerja secara organisatoris, tetapi juga harus memiliki relasi pribadi dengan Tuhan.
Ia mengingatkan bahwa meskipun tidak selalu dapat berbicara tentang Yesus kepada anak-anak, para animator selalu dapat berbicara kepada Yesus tentang anak-anak yang mereka layani.
Doa, keheningan, dan hidup dalam komunitas menjadi sumber kekuatan bagi para animator dalam menjalankan tugas pelayanan mereka.
Tanggung Jawab Besar Pendamping
Para animator juga diingatkan bahwa orang tua mempercayakan anak-anak mereka kepada para pendamping. Kesadaran akan tanggung jawab ini menuntut para animator untuk berhati-hati dalam tindakan, perkataan, dan pilihan hidup mereka.
Dengan demikian para pendamping dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang mereka layani.
Kerendahan Hati dalam Pelayanan
Pada bagian akhir refleksi, para peserta diajak untuk mengembangkan sikap kerendahan hati. Seorang animator tidak boleh merasa bahwa dirinya sudah mencapai kesempurnaan dalam pelayanan.
Sebaliknya, mereka harus terus belajar, terbuka terhadap kritik dan masukan, serta menyadari bahwa pusat pelayanan bukanlah diri sendiri, melainkan orang lain yang dilayani.
Harapan bagi Gereja Keuskupan Ketapang
Melalui kegiatan SOMA ini, KMKI Keuskupan Ketapang berharap semakin banyak animator dan animatris yang siap terlibat dalam pelayanan misioner Gereja.
Pembinaan ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memperdalam spiritualitas pelayanan para peserta.
Dengan semangat “One in Christ, United in Mission”, para peserta diharapkan kembali ke paroki masing-masing dengan semangat baru untuk mengembangkan kegiatan SEKAMI serta berbagai program pembinaan iman bagi anak-anak dan remaja.
Dengan demikian, karya misi Gereja di Keuskupan Ketapang dapat terus berkembang dan menjangkau generasi muda, sehingga pewartaan Injil tetap hidup dari generasi ke generasi.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 7 Maret 2026
0 comments:
Posting Komentar