MISA SYUKUR TAHUN BARU IMLEK 2577 KONGZILI


Foto RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP.Pimpin Misa didampingi oleh Pastor Kepala ex officio, RP. Vitalis Nggeal, CP. Turut mendampingi pula para imam konselebran: RD. Agustinus Mujianto, RP. Advent Novianto Stephanus SJ, RD. Fransiscus Suandi, serta RD. Gabriel Bala.

MISA SYUKUR TAHUN BARU IMLEK 2577 KONGZILI

“Awaslah Terhadap Ragi Orang Farisi dan Ragi Herodes”

Ketapang, 17 Februari 2026.Umat Katolik Tionghoa dan seluruh umat beriman di wilayah Keuskupan Ketapang merayakan Misa Syukur Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dengan penuh sukacita dan semangat iman. Perayaan yang berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 07.00 WIB ini diselenggarakan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dan dihadiri oleh umat dari berbagai lingkungan serta komunitas kategorial.

Perayaan Imlek tahun ini terasa istimewa karena jatuh pada Tahun Kuda Api (Fire Horse), yang dalam kalender Kongzili menandai tahun 2577. Misa Syukur ini bukan sekadar tradisi budaya, melainkan ungkapan iman dan rasa syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan hidup umat.

Dipimpin Para Gembala Gereja

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pastor Vikaris ex officio, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, dan didampingi oleh Pastor Kepala ex officio, RP. Vitalis Nggeal, CP. Turut mendampingi pula para imam konselebran: RD. Agustinus Mujianto, RP. Advent Novianto Stephanus SJ, RD. Fransiscus Suandi, serta RD. Gabriel Bala.

Dalam suasana liturgi yang khidmat namun sarat nuansa budaya Tionghoa, umat mengenakan busana bernuansa merah dan emas sebagai simbol sukacita dan harapan baru. Hiasan lampion dan ornamen khas Imlek menghiasi altar serta ruang gereja, menyatukan kekayaan budaya dengan iman Katolik yang hidup.

Petugas liturgi dalam Misa ini antara lain:

Lektor: Saudari Christivera Tanvenia

Pemazmur: Saudari Abigail Vallerie Relegion

Organis: Ibu Martha Koleta Popyzesika

Dirigen: Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini






































































































Koordinator:
Tim Koor Imlek

Koor Imlek membawakan lagu-lagu liturgi bernuansa inkulturatif, memadukan irama tradisional Tionghoa dengan puji-pujian Gereja, sehingga suasana perayaan menjadi semakin khusyuk sekaligus meriah.







































































Bacaan Injil: Peringatan Tentang Ragi

Injil hari itu dibacakan oleh RP. Advent Novianto Stephanus, SJ, diambil dari Markus 8:14–21 dengan tema peringatan Yesus:

“Awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”

Dalam perikop tersebut, para murid Yesus lupa membawa roti dan hanya memiliki satu roti di perahu. Yesus lalu memperingatkan mereka agar waspada terhadap “ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Murid-murid justru salah memahami perkataan itu, mengira Yesus menyinggung kekurangan roti mereka.

Yesus menegur mereka dengan pertanyaan-pertanyaan tajam:
“Belum jugakah kamu memahami dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat? Kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?”

Yesus mengingatkan kembali mukjizat penggandaan roti lima roti untuk lima ribu orang dengan dua belas bakul sisa, dan tujuh roti untuk empat ribu orang dengan tujuh bakul sisa. Namun para murid masih belum mengerti makna iman di balik peristiwa itu.

Demikianlah Injil Tuhan.

Homili: Iman di Tengah Semangat Kuda Api

Dalam homilinya, RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP mengajak umat merenungkan makna Imlek bukan sekadar sebagai tradisi budaya, tetapi sebagai perayaan iman.

“Tahun ini kita memasuki Tahun Kuda Api. Kuda melambangkan semangat, kekuatan, keberanian, dan kecepatan. Namun unsur api juga dapat menjadi tidak terkendali. Maka bagi kita orang beriman, perayaan ini bukan sekadar simbol, tetapi ajakan untuk mengendalikan diri dan berjalan bersama Tuhan,” ujar beliau.

Tahun Kuda Api (Bing Wu) dikenal sebagai tahun yang dinamis, penuh energi dan perubahan cepat. Pastor Oscar menekankan bahwa semangat tersebut perlu disertai kebijaksanaan dan keseimbangan rohani.

“Dalam Injil hari ini kita melihat murid-murid yang tidak memahami makna ragi. Mereka fokus pada kekurangan roti, bukan pada penyertaan Tuhan. Kita pun sering demikian lebih sibuk menghitung kekurangan daripada mensyukuri mukjizat yang sudah terjadi,” lanjutnya.

Cengli, Cincai, dan Cuan: Falsafah yang Diterangi Iman

Dalam konteks perayaan Imlek, Pastor Oscar juga menyinggung falsafah Tionghoa yang dikenal dengan prinsip Cengli, Cincai, Cuan.

1. Cengli (Jujur/Adil/Masuk Akal)

Bisnis dan kehidupan harus dijalankan dengan kejujuran dan keadilan. Integritas adalah dasar kepercayaan jangka panjang. Tanpa kejujuran, keberhasilan tidak akan bertahan lama.

2. Cincai (Fleksibel/Mudah Diatur)

Sikap fleksibel membantu membangun relasi yang harmonis. Tidak kaku, tidak memaksakan kehendak, tetapi tetap berpegang pada nilai kebenaran.

3. Cuan (Untung/Profit)

Keuntungan adalah hasil dari usaha yang baik. Namun bagi orang beriman, “cuan” bukan hanya soal materi, melainkan juga pertumbuhan rohani dan relasi yang sehat.

Pastor Oscar menegaskan bahwa prinsip 3C ini selaras dengan iman Kristiani bila dijalankan dalam terang Injil. Kejujuran (cengli) mencerminkan kebenaran Kristus. Fleksibilitas (cincai) mencerminkan kasih dan pengampunan. Keuntungan (cuan) menjadi berkat ketika dibagikan dan dipergunakan untuk kebaikan bersama.

Makna “Ragi” dalam Hidup Modern

Yesus memperingatkan murid-murid tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Dalam homili dijelaskan bahwa ragi adalah simbol sikap batin yang bekerja perlahan namun mengubah seluruh hidup.

  • Ragi Farisi melambangkan kemunafikan rohani, merasa paling benar, dan menutup diri terhadap karya Allah.

  • Ragi Herodes melambangkan ambisi, kekuasaan, dan ketakutan kehilangan posisi.

Di zaman modern, “ragi” itu bisa berupa kesombongan digital, kecanduan popularitas, atau obsesi pada materi. Tanpa disadari, sikap kecil yang salah dapat merusak iman secara perlahan.

“Mata kita melihat, telinga kita mendengar, tetapi apakah hati kita terbuka?” tanya Pastor Oscar kepada umat.

Tradisi sebagai Sarana Syukur

Dalam budaya Imlek, rumah-rumah dibersihkan sebelum Tahun Baru. Pastor Oscar mengajak umat melihat simbol ini sebagai ajakan rohani:

“Membersihkan rumah berarti membuang kemunafikan, kesombongan, dan hati yang degil. Kita memohon hati yang melahirkan kebenaran dan damai.”

Tradisi bukan sekadar warisan budaya, tetapi sarana untuk memperdalam iman. Dalam terang Kristus, setiap simbol mendapat makna baru.

Sukacita dan Harapan Baru

Perayaan Misa ditutup dengan doa syukur dan berkat khusus Tahun Baru Imlek. Umat saling mengucapkan selamat dan berbagi sukacita. Anak-anak menerima angpao sebagai simbol berkat dan harapan.

Tahun Kuda Api mengingatkan umat akan semangat juang dan keberanian. Namun iman mengajarkan bahwa keberanian sejati lahir dari kepercayaan kepada Tuhan.

Sebagaimana ditegaskan dalam homili:
“Kita merayakan Imlek dengan semangat, tetapi juga dengan iman. Kita percaya bahwa segala sesuatu yang baik datang dari Bapa segala terang. Dengan mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, kita tidak perlu khawatir akan masa depan.”

Misa Syukur Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Ketapang menjadi momentum untuk memperbarui hati, memperkuat iman, dan membangun kehidupan yang cengli, cincai, serta membawa cuan yang diberkati Tuhan.

Demikian liputan Misa Syukur Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Ketapang. Semoga Tahun Kuda Api membawa semangat baru, kedamaian, dan berkat berlimpah bagi seluruh umat. Gong Xi Fa Cai. Tuhan memberkati.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 17 Februari 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar