Misa Penutupan SOMA Keuskupan Ketapang: 90 Peserta Resmi Diutus Menjadi Animator dan Animatris Misioner

 

Foto Bapa Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, serta didampingi oleh RP. Rovinus Longa, CPRD. Yosefus Anting Patimura, dan RD. Zurich Arian Withosha.Pimpin Misa

Misa Penutup SOMA Keuskupan Ketapang: 90 Peserta Resmi Diutus Menjadi Animator dan Animatris Misioner

Ketapang, 8 Maret 2026.Suasana penuh syukur, haru, dan semangat misioner mewarnai perayaan Misa Penutup kegiatan SOMA (School of Missionary Animators) Dasar Keuskupan Ketapang yang dilaksanakan pada Minggu pagi, 8 Maret 2026. Perayaan Ekaristi yang menjadi puncak sekaligus penutup seluruh rangkaian kegiatan pembinaan tersebut berlangsung pada pukul 06.00 – 07.00 WIB di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, yang berada di kawasan Catholic Center Paya Kumang, Ketapang.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Ketapang ini menjadi momen penting bagi para peserta yang selama beberapa hari mengikuti proses pembinaan misioner. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, serta didampingi oleh RP. Rovinus Longa, CP, RD. Yosefus Anting Patimura, dan RD. Zurich Arian Withosha.

Misa penutup ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas seluruh rangkaian kegiatan SOMA yang telah berlangsung, tetapi juga menjadi momen pengutusan para peserta untuk menjadi animator dan animatris misioner yang siap melayani Gereja, khususnya dalam pendampingan anak-anak dan remaja di paroki masing-masing.

Tema pengutusan yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “Aku Diutus Bersama dan Bagi yang Lain.” Tema tersebut menegaskan bahwa setiap peserta dipanggil untuk berjalan bersama Gereja serta mengabdikan diri bagi pelayanan kepada sesama.





















































Misa Penutup yang Meneguhkan

Sejak pagi hari, para peserta, para imam, suster, serta umat yang hadir telah memadati lokasi perayaan Ekaristi di Rumah Adat Dermalo Josep Murial. Suasana liturgi berlangsung dengan khidmat dan penuh penghayatan.

Perayaan Ekaristi diawali dengan lagu pembuka yang dinyanyikan dengan penuh semangat oleh seluruh peserta. Kehadiran umat dari berbagai paroki semakin memperkaya suasana kebersamaan dalam perayaan tersebut.

Bacaan Injil pada misa tersebut dibacakan oleh RD. Zurich Arian Withosha. Sabda Tuhan yang diwartakan mengajak umat untuk merenungkan makna kehausan manusia akan Tuhan serta panggilan untuk menjadi pembawa kabar gembira bagi sesama.

Dalam perayaan Ekaristi tersebut juga dilaksanakan Janji Animator, yaitu momen ketika para peserta SOMA menyatakan kesediaan mereka untuk melayani Gereja sebagai animator dan animatris misioner.

Di hadapan Tuhan dan seluruh umat yang hadir, para peserta dengan penuh kesadaran mengucapkan janji setia untuk mendampingi anak-anak dan remaja dalam kehidupan iman serta karya misioner Gereja.

Setelah pengucapan janji tersebut, Bapa Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi secara resmi melantik dan mengutus para peserta. Dengan demikian, mereka kini telah sah menjadi animator dan animatris misioner yang siap berkarya di paroki masing-masing maupun di mana pun mereka berada.

Sekitar 90 Peserta dari Berbagai Paroki

Kegiatan SOMA Dasar Keuskupan Ketapang tahun ini diikuti oleh sekitar 90 peserta yang berasal dari berbagai wilayah pelayanan Gereja di Keuskupan Ketapang.

Para peserta merupakan calon pendamping SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) yang nantinya akan terlibat secara aktif dalam pelayanan pastoral anak dan remaja di paroki masing-masing.

Selain para peserta utama, kegiatan ini juga dihadiri oleh para suster serta umat yang memberikan dukungan dan doa bagi kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.

Para peserta datang dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Ketapang, antara lain:

Paroki Paulus Rasul Tumbang Titi

Paroki Santo Gabriel Sandai

Paroki Santo Martinus Balai Berkuak

Paroki Salib Suci Menyumbung

Paroki Santa Gemma Galgani

Paroki Keluarga Kudus Sepotong

Paroki Santo Agustinus

Paroki Santo Yosef Serengkah

Paroki Maria Ratu Rosari Riam Kota

Paroki Santo Mikael Simpang Dua

Paroki Santo Stefanus Kendawangan

Paroki Santo Carolus Borromeus

Paroki Emanuel Sukadana

Paroki Sungai Daka

Keberagaman asal paroki tersebut menunjukkan semangat besar dari berbagai komunitas Gereja di Keuskupan Ketapang untuk mengembangkan pelayanan iman bagi anak-anak dan remaja.

Para peserta tidak hanya datang untuk mengikuti kegiatan secara formal, tetapi juga membawa semangat baru untuk memperdalam iman dan memperkuat komitmen pelayanan di Gereja.

Dukungan Tim KMKI Nasional

Pelaksanaan kegiatan SOMA Dasar ini juga mendapatkan dukungan dari Tim Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) yang turut memberikan pembinaan dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Adapun personalia tim KMKI yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah:

  1. RD. Yosefus Anting Patimura – Dewan Nasional KMKI

  2. Antonius Turmudi Hartono – Staf Sekretariat Nasional KMKI

  3. Margaretha Nicken – Staf Tim KMKI Keuskupan Pangkalpinang

  4. Dita Derista – Tim KMKI Keuskupan Malang

  5. Angela Yunita Ariyanti – Tim KMKI Keuskupan Malang

Kehadiran tim ini memberikan dukungan yang sangat berarti dalam proses pembinaan peserta. Melalui berbagai sesi materi, dinamika kelompok, refleksi spiritual, dan pelatihan pastoral, para peserta dipersiapkan untuk menjadi animator yang mampu mendampingi anak-anak dengan penuh kreativitas dan semangat misioner.

Homili Bapa Uskup: Relevansi Sabda Tuhan dengan Kehidupan Saat Ini

Dalam homilinya, Mgr. Pius Riana Prapdi menegaskan bahwa bacaan Kitab Suci pada hari itu sangat relevan dengan semangat kegiatan SOMA.

Beliau mengawali refleksinya dengan menyoroti kisah kehausan bangsa Israel serta perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria. Menurutnya, kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang kehausan fisik, tetapi juga menggambarkan kehausan batin manusia.

Bapa Uskup menjelaskan bahwa banyak orang pada zaman sekarang mengalami kehausan yang mendalam—haus akan penerimaan, kasih, perhatian, dan pengertian dari sesama.

Ia mencontohkan kisah tragis seorang anak yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pensil. Kisah tersebut, menurut beliau, bukan hanya cerita masa lalu, melainkan potret nyata dari situasi kehidupan saat ini.

“Kita melihat banyak orang mengalami kehausan untuk diterima dan dimengerti,” ungkapnya.

Kehausan tersebut menunjukkan adanya krisis moralitas dan kepedulian yang semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.

Keluarga sebagai Panggung Bertumbuhnya Iman

Dalam homilinya, Bapa Uskup juga mengutip pemikiran Paus Fransiskus yang mengatakan bahwa hidup merupakan panggung bertumbuhnya iman.

Ia menegaskan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat pertama di mana iman bertumbuh.

Namun dalam kenyataannya, banyak keluarga saat ini hanya menjadi seperti terminal, yaitu tempat singgah sementara untuk makan, berganti pakaian, lalu kembali pergi menjalani aktivitas masing-masing.

Padahal keluarga seharusnya menjadi ruang perjumpaan yang penuh kasih, tempat di mana setiap anggota keluarga mengalami perhatian dan pendampingan iman.

“Keluarga adalah titik nol dari pertumbuhan iman,” tegas Bapa Uskup.

Dari keluarga, iman kemudian berkembang ke lingkungan sekitar, dan akhirnya diteguhkan dalam kehidupan menggereja di paroki.

Semangat Misioner Dimulai dari Rumah

Lebih lanjut, Bapa Uskup menegaskan bahwa semangat misioner tidak pertama-tama dimulai dari tempat yang jauh, tetapi dari keluarga sendiri.

Ia mengajak para peserta SOMA untuk melihat keluarga sebagai lahan perutusan pertama.

Seperti kisah perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus dan kemudian menjadi saksi bagi orang-orang di kotanya, setiap umat dipanggil untuk menjadi pembawa kabar gembira bagi orang-orang di sekitarnya.

Menurut beliau, perjalanan iman dapat digambarkan seperti perjalanan kilometer:

Kilometer 0 adalah keluarga

Kilometer 2 adalah lingkungan sekitar

Kilometer 3 adalah paroki

Ketiga ruang tersebut menjadi tempat di mana iman tumbuh dan diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Melampaui Batas Sosial

Dalam refleksinya, Bapa Uskup juga menyoroti sikap Yesus yang melampaui batas sosial ketika berbicara dengan perempuan Samaria.

Pada masa itu, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Namun Yesus justru menembus batas tersebut demi membawa keselamatan.

Sikap tersebut menjadi teladan bagi umat Kristiani untuk tidak membatasi kasih hanya kepada kelompok tertentu.

Sebagai animator dan animatris misioner, para peserta diharapkan mampu melayani siapa saja tanpa membeda-bedakan.

Semangat pewartaan Injil harus melampaui perbedaan suku, budaya, maupun latar belakang sosial.

Kasih yang Melampaui Pengertian

Bapa Uskup juga mengingatkan bahwa kasih Allah sering kali melampaui pengertian manusia.

Ia menyinggung perumpamaan tentang anak yang hilang, di mana seorang ayah tetap menerima kembali anaknya dengan penuh kasih meskipun anak tersebut telah melakukan kesalahan.

Kasih Allah yang tanpa batas itu menjadi sumber kekuatan bagi setiap orang yang ingin kembali kepada Tuhan.

Bagi para animator misioner, pengalaman akan kasih Allah tersebut harus menjadi dasar dalam pelayanan mereka kepada anak-anak dan remaja.

Ajakan untuk Tidak Mencari Pelarian

Dalam bagian lain homilinya, Bapa Uskup mengingatkan bahwa banyak orang mencoba mengatasi kehausan hidup dengan cara yang keliru.

Sebagian orang mencari pelarian melalui berbagai kesibukan atau hiburan duniawi, seperti nongkrong di kafe atau aktivitas lain yang tidak memberikan makna mendalam.

Padahal, menurut beliau, kehausan batin manusia hanya dapat dipuaskan oleh Yesus sendiri.

Oleh karena itu, umat diajak untuk datang kepada Tuhan dan menerima “air hidup” yang ditawarkan oleh Kristus.

Air hidup tersebut adalah kasih, pengampunan, dan keselamatan yang membawa kehidupan sejati.

Evaluasi dan Refleksi Peserta

Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan penutupan SOMA juga diisi dengan sesi refleksi dan evaluasi bersama.

Dalam sesi tersebut, para peserta diajak untuk melihat kembali pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan SOMA.

Banyak peserta mengungkapkan rasa syukur karena melalui kegiatan ini mereka memperoleh pengalaman yang sangat berharga. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru tentang karya misioner Gereja, tetapi juga mengalami pertumbuhan iman dan persaudaraan.

Kegiatan SOMA menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan peserta dari berbagai paroki sehingga terjalin relasi dan jaringan pelayanan yang lebih luas.

Pengutusan: Aku Diutus Bersama dan Bagi yang Lain

Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah pengutusan para peserta sebagai animator dan animatris misioner.

Dalam momen tersebut, para peserta diingatkan bahwa panggilan sebagai animator bukanlah sekadar tugas organisasi, tetapi sebuah perutusan iman.

Mereka diutus untuk mendampingi anak-anak dan remaja agar semakin mengenal Yesus serta memiliki semangat misioner sejak usia dini.

Tema “Aku Diutus Bersama dan Bagi yang Lain” menjadi pengingat bahwa misi Gereja selalu dijalankan dalam kebersamaan.

Setiap orang dipanggil untuk melayani bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi kebaikan dan keselamatan sesama.

Harapan bagi Masa Depan Gereja

Melalui kegiatan SOMA (School of Missionary Animators) ini, Gereja Keuskupan Ketapang berharap dapat menyiapkan generasi muda yang memiliki semangat misioner yang kuat.

Para animator dan animatris yang telah diutus diharapkan mampu menjadi pendamping yang kreatif, penuh kasih, dan setia dalam pelayanan kepada anak-anak dan remaja.

Dengan demikian, karya pastoral anak dan remaja di Keuskupan Ketapang dapat terus berkembang dan membawa buah bagi kehidupan Gereja.

Perayaan penutupan SOMA ini bukan hanya menjadi akhir dari sebuah kegiatan pembinaan, tetapi juga menjadi awal dari sebuah perjalanan perutusan.

Para peserta kini kembali ke paroki masing-masing dengan membawa semangat baru untuk melayani, mendampingi, dan mewartakan kasih Kristus.

Dengan penuh harapan, Gereja Keuskupan Ketapang mempercayakan masa depan karya misioner kepada para animator dan animatris muda ini, agar melalui mereka semakin banyak anak dan remaja yang mengenal Yesus serta mengalami kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 8 Maret 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar