Ketapang, 25 Maret 2026.Dalam suasana Masa Prapaskah yang sarat dengan pertobatan, puasa, dan matiraga, umat Katolik di seluruh dunia, termasuk umat di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, merayakan sebuah peristiwa iman yang penuh sukacita, yakni Hari Raya Kabar Sukacita. Perayaan ini menjadi momen istimewa yang seakan “menyela” suasana hening dan reflektif Masa Prapaskah, menghadirkan terang harapan melalui peristiwa inkarnasi, saat Sang Sabda menjadi manusia dalam rahim Perawan Maria.
Hari Raya Kabar Sukacita yang dirayakan setiap tanggal 25 Maret bukan sekadar sebuah peringatan liturgis, melainkan sebuah misteri iman yang mendalam. Peristiwa ini mengingatkan umat akan saat ketika Malaikat Gabriel diutus Allah untuk menyampaikan kabar gembira kepada Maria, bahwa ia akan mengandung oleh kuasa Roh Kudus dan melahirkan Sang Juruselamat dunia.
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, perayaan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali merenungkan makna ketaatan, kerendahan hati, dan iman yang teguh sebagaimana diteladankan oleh Bunda Maria. Bapak Hendrikus Hendri, S.S, selaku Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pewartaan di paroki tersebut serta seorang prodiakon, menyampaikan refleksi mendalam tentang arti penting Hari Raya Kabar Sukacita dalam kehidupan iman umat.
Menurut beliau, peristiwa Kabar Sukacita bukan hanya kisah masa lalu, melainkan peristiwa iman yang terus relevan dan hidup dalam perjalanan spiritual umat Katolik hingga saat ini. “Maria menjadi teladan iman yang sempurna. Ia tidak menuntut tanda, tidak meminta jaminan, tetapi dengan penuh kepercayaan menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah,” ujarnya.
Dalam Injil Lukas 1:38, Maria dengan penuh kerendahan hati berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Kalimat ini dikenal sebagai Fiat Maria, sebuah ungkapan iman yang sederhana namun sarat makna. Kata “fiat” sendiri berarti “jadilah”, sebuah bentuk penyerahan total kepada kehendak Allah.
Refleksi atas Fiat Maria ini menjadi inti dari perayaan Hari Raya Kabar Sukacita. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan, sikap Maria mengajarkan umat untuk belajar percaya, bahkan ketika tidak memahami sepenuhnya rencana Tuhan. Ketaatan Maria menjadi contoh bahwa kehendak Allah selalu membawa kebaikan, meskipun sering kali tidak sesuai dengan harapan manusia.
Lebih lanjut, Bapak Hendrikus Hendri menjelaskan bahwa Hari Raya Kabar Sukacita memiliki hubungan erat dengan perayaan Natal. Secara liturgis, tanggal 25 Maret dipahami sebagai saat Yesus mulai dikandung dalam rahim Maria. Sembilan bulan kemudian, pada tanggal 25 Desember, Gereja merayakan kelahiran-Nya. Perhitungan ini didasarkan pada masa perkembangan seorang anak dalam kandungan, yang secara simbolis menunjukkan bahwa inkarnasi adalah proses nyata, bukan sekadar simbol.
Selain itu, dalam kisah Injil juga disebutkan bahwa pada saat Malaikat Gabriel menjumpai Maria, Elisabet — saudara Maria — telah mengandung selama enam bulan. Hal ini menjadi dasar penetapan tanggal 24 Juni sebagai Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, yang lahir tiga bulan setelah peristiwa Kabar Sukacita.
Di tengah perayaan ini, umat diajak untuk tidak hanya memahami secara historis, tetapi juga menghidupi makna spiritualnya. Fiat Maria menjadi panggilan bagi setiap orang beriman untuk belajar mengatakan “ya” kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Namun, realitas kehidupan menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu mudah.
Sering kali manusia lebih cenderung memaksakan kehendaknya sendiri daripada mengikuti kehendak Allah. Dalam doa, manusia tidak jarang “meminta” Tuhan untuk mengikuti rencana mereka, bukan sebaliknya. Iman menjadi bersifat egois, di mana Tuhan diposisikan sebagai sarana untuk memenuhi keinginan pribadi.
“Di sinilah kita perlu belajar dari Maria,” ungkap Hendrikus Hendri. “Ia tidak memaksakan kehendaknya, tetapi justru membuka diri sepenuhnya pada rencana Allah. Inilah iman sejati — iman yang percaya tanpa syarat.”
Perayaan Hari Raya Kabar Sukacita juga menjadi momentum bagi umat untuk merenungkan kembali relasi pribadi dengan Tuhan. Apakah selama ini kita sungguh terbuka terhadap kehendak-Nya? Ataukah kita masih berusaha mengendalikan hidup kita sepenuhnya tanpa melibatkan Tuhan?
Di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, perayaan ini diisi dengan Ekaristi Kudus, doa bersama, serta refleksi iman yang dipimpin oleh para pelayan pastoral. Umat diajak untuk merenungkan kembali panggilan hidup mereka masing-masing, serta memperbaharui komitmen untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah.
Sebagai Ketua Bidang Pewartaan, Hendrikus Hendri juga menekankan pentingnya peran pewartaan dalam menyebarkan pesan iman ini kepada umat, khususnya generasi muda. Menurutnya, nilai-nilai seperti ketaatan, kerendahan hati, dan kepercayaan kepada Tuhan perlu terus ditanamkan sejak dini.
“Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang penuh distraksi. Oleh karena itu, pewartaan iman harus dilakukan dengan cara yang relevan dan menyentuh kehidupan mereka,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh umat untuk menjadikan perayaan ini sebagai kesempatan untuk memperdalam kehidupan doa. Doa bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Dalam doa, umat belajar mendengarkan kehendak Tuhan, sebagaimana Maria mendengarkan pesan Malaikat Gabriel.
Selain itu, perayaan ini juga menjadi pengingat akan peran penting Maria dalam sejarah keselamatan. Sebagai Bunda Allah, Maria tidak hanya menjadi sarana inkarnasi, tetapi juga teladan iman bagi seluruh umat manusia. Kepercayaannya kepada Allah membawa berkat yang tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh seluruh dunia.
“Melalui ‘ya’ Maria, keselamatan menjadi nyata bagi kita semua,” tambah Hendrikus Hendri. “Inilah misteri besar yang kita rayakan hari ini.”
Di akhir refleksinya, beliau mengajak umat untuk meneladani Maria dalam kehidupan sehari-hari. Mengatakan “fiat” kepada Tuhan berarti siap menerima segala konsekuensi dari kehendak-Nya, baik dalam suka maupun duka. Ini adalah panggilan untuk hidup dalam iman yang dewasa, yang tidak bergantung pada situasi, tetapi berakar pada kepercayaan kepada Tuhan.
Perayaan Hari Raya Kabar Sukacita di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita. Umat yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian liturgi, mulai dari pembacaan Sabda Tuhan hingga perayaan Ekaristi.
Suasana yang penuh damai dan reflektif menjadi tanda bahwa perayaan ini tidak hanya dirayakan secara lahiriah, tetapi juga dihayati secara batiniah oleh umat. Banyak umat yang mengaku tersentuh oleh pesan homili dan refleksi yang disampaikan, serta merasa dikuatkan dalam iman mereka.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, perayaan Hari Raya Kabar Sukacita menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu hadir dan bekerja dalam kehidupan manusia. Seperti Maria, umat diajak untuk membuka hati dan berkata: “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Sebagai penutup, doa kepada Santa Maria Bunda Allah pun dipanjatkan bersama:
Santa Maria, Bunda Allah, Bunda kami semua, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.
Dengan semangat Fiat Maria, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diharapkan semakin bertumbuh dalam iman, semakin setia dalam panggilan hidup, dan semakin percaya bahwa kehendak Allah selalu yang terbaik.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 25 Maret 2026


0 comments:
Posting Komentar