Pantang dan Puasa, Dasar Solidaritas Misioner
Ketapang, Kamis 5 Maret 2026.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengadakan Ibadat Masa Prapaskah Pertemuan II dengan tema “Pantang dan Puasa Dasar Solidaritas Misioner”, Kamis (5/3/2026) pukul 18.30 WIB. Ibadat dilaksanakan di kediaman Bapak Petrus Sapriyun, di Jalan Gatot Subroto (Komplek SMKN 2), dan berlangsung dalam suasana khidmat, sederhana, namun penuh makna rohani.
Hadir dalam ibadat tersebut Ketua Lingkungan Santa Lusia Ibu Sutarti Rahayu, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Bapak Jeno Leo, serta umat Lingkungan Santa Lusia dari berbagai kalangan usia. Ibadat dipimpin oleh Suster Stella, OSA, dan lagu-lagu dipandu oleh Ibu Dina yang membantu umat menghayati perayaan dengan penuh kekhusyukan.
Suasana Ibadat yang Sederhana dan Penuh Makna
Rumah Bapak Petrus Sapriyun malam itu menjadi ruang perjumpaan iman, di mana umat duduk rapi di lantai dalam suasana yang sederhana namun penuh kekhusyukan. Lilin dinyalakan sebagai simbol terang Kristus, dan Kitab Suci ditempatkan di tengah sebagai pusat permenungan.
Dalam salam pembuka ditegaskan bahwa pantang dan puasa bukan sekadar kewajiban formal, melainkan sarana pembentukan hati agar semakin peduli dan misioner.
Teladan Santa Elisabeth dari Hungaria
Dalam sesi pendalaman, umat diajak merenungkan kisah Santa Elisabeth dari Hungaria yang memilih hidup sederhana dan penuh kasih meskipun berasal dari keluarga kerajaan. Kisah mukjizat bunga mawar menjadi simbol bahwa setiap perbuatan kasih yang tulus akan diberkati Tuhan.
Santa Elisabeth mengajarkan bahwa pantang dan puasa bukanlah tindakan menyiksa diri, melainkan cara mengosongkan diri agar hati dipenuhi kasih dan kepedulian terhadap sesama.
Pertanyaan Pendalaman dan Reflektif
Sebagai bagian dari dinamika pertemuan, pemandu mengajak umat masuk dalam permenungan yang lebih pribadi melalui pertanyaan reflektif berikut:
Di tengah dunia yang konsumtif, bersediakah kita membatasi keinginan pribadi demi membantu mereka yang benar-benar membutuhkan?
Percayakah kita bahwa sekecil apa pun solidaritas yang kita berikan, Tuhan akan mengubahnya menjadi sesuatu yang indah seperti bunga mawar bagi sesama?
Setelah pertanyaan tersebut disampaikan, peserta diminta untuk membagikan jawaban mereka kepada peserta lain di sebelah kanan atau kiri masing-masing selama kurang lebih lima menit. Suasana hening namun penuh keterbukaan terasa saat umat saling berbagi pengalaman dan pergumulan iman.
Selanjutnya, pemandu memberikan kesempatan kepada satu atau dua orang peserta untuk membagikan refleksinya secara umum di hadapan seluruh umat. Sharing ini memperkaya permenungan bersama dan meneguhkan bahwa setiap orang memiliki perjuangan dan harapan yang serupa dalam menghidupi pantang dan puasa.
Injil Matius 4:1–11: Yesus Dicobai di Padang Gurun
Bacaan Kitab Suci diambil dari Injil Matius 4:1–11 tentang Yesus yang berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam di padang gurun, lalu dicobai oleh Iblis.
Tiga godaan yang dialami Yesus menjadi cermin kehidupan umat:
Godaan konsumerisme (mengubah batu menjadi roti).
Godaan kesombongan dan popularitas (menjatuhkan diri dari Bait Allah).
Godaan kekuasaan instan (menyembah Iblis demi kerajaan dunia).
Yesus menolak semuanya dengan berpegang teguh pada Sabda Allah.
Sharing dan Kesaksian Umat
Beberapa umat membagikan refleksi mereka:
Ibu Klaudia Sri Pawanti menyadari bahwa dirinya mudah tergoda, namun ingin belajar meneladani Yesus dan lebih percaya diri dalam pelayanan.
Bapak Stepanus Kauti menceritakan pengalaman sakit dan kesulitan dalam keluarga. Ia sempat bertanya mengapa keluarganya mengalami penderitaan, namun melalui doa ia menyadari Tuhan selalu mendampingi dan membentuk iman melalui salib kehidupan.
Ibu Efriana Pipin menekankan pentingnya hidup sederhana dan menjauhi iri hati. Ia juga mengajak umat aktif terlibat dalam pelayanan lingkungan.
Bapak Daduanto mengingatkan bahwa puasa tidak hanya menahan makan, tetapi juga puasa marah, puasa stres, dan puasa membicarakan orang lain.
Bapak Suhardi menyoroti godaan zaman modern seperti penggunaan handphone yang berlebihan, bahkan saat Misa.
Suster Katarina, OSA, menegaskan bahwa dalam pelayanan sering muncul komentar negatif yang melemahkan, namun iman harus tetap diteguhkan dalam doa.
Penegasan Suster Stella, OSA
Suster Stella, OSA, menekankan beberapa poin penting:
Kasih yang tulus kepada orang miskin
Ketaatan iman
Kekuatan dan keteguhan hati
Kesederhanaan dan kerendahan hati
Melihat orang lain sama-sama berarti
Kekayaan sejati adalah cinta
Beliau mengingatkan bahwa Tuhan Yesus sendiri mengalami pencobaan, maka umat pun tidak luput dari godaan. Namun melalui doa dan Firman Tuhan, umat diberi kekuatan untuk bertahan dan bertumbuh.
Doa dan Pengutusan
Ibadat ditutup dengan doa penyerahan diri kepada Tuhan agar umat mampu melawan keegoisan, kesombongan, dan ketamakan, serta menjadi misionaris yang membawa kasih nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berkat dan pengutusan, umat diingatkan bahwa pertemuan ini bukan akhir, melainkan awal perutusan untuk menjadi saksi solidaritas misioner di tengah masyarakat.
“Marilah pergi, kita diutus untuk menjadi saksi solidaritas misioner.”
“Syukur kepada Allah.”
Pertemuan II APP Lingkungan Santa Lusia ini menjadi momentum pembaruan iman dan komitmen bersama. Dalam kesederhanaan rumah umat, Gereja hidup dan bertumbuh.
Karena pada akhirnya, seperti yang ditegaskan malam itu:
Kekayaan sejati adalah cinta.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Maret 2026
0 comments:
Posting Komentar