Dari Yogyakarta ke Bumi Borneo: Jejak Panjang Pengabdian Mgr. Blasius Pujaraharja, Uskup Ketapang yang Mengabdi Tanpa Batas

 

Foto Bapa Mgr. Blasius Pujaraharja.Uskup Emeritus 

Ketapang, 26 April 2026.Pengabdian sejati tidak pernah lahir dari gemerlap sorotan, melainkan dari kesetiaan dalam tugas-tugas kecil yang dijalani dengan hati yang tulus. Kisah hidup Blasius Pujaraharja adalah gambaran nyata tentang bagaimana seorang gembala Gereja Katolik menapaki jalan panjang pelayanan dari tanah Jawa hingga pedalaman Kalimantan dengan keteguhan iman, kerendahan hati, dan dedikasi yang tak tergoyahkan oleh zaman.

Perjalanan hidupnya bukan sekadar catatan sejarah Gereja, tetapi juga refleksi mendalam tentang arti pengabdian, kepemimpinan rohani, serta kesetiaan terhadap panggilan hidup yang diemban sejak masa muda.

Awal Pengabdian: Dari Paroki Sederhana di Yogyakarta

Sebelum dikenal luas sebagai seorang uskup, Mgr. Blasius Pujaraharja memulai pelayanannya sebagai imam di wilayah yang sederhana dan penuh tantangan pastoral. Ia pertama kali menjalankan tugasnya di Paroki Santa Maria Tak Bercela, Nanggulan, Kulon Progo, sebuah wilayah pedesaan yang menjadi ladang awal pembentukan karakter pelayanannya.

Di tempat ini, ia belajar memahami denyut kehidupan umat kecil: petani, buruh, dan keluarga sederhana yang menggantungkan hidup pada alam. Pelayanan di Nanggulan bukan hanya tentang menjalankan liturgi, tetapi juga tentang hadir dalam kehidupan umat mendengarkan, menguatkan, dan menjadi sahabat dalam kesulitan.

Pengalaman ini membentuk dasar kuat bagi spiritualitasnya: bahwa seorang imam bukan hanya pemimpin liturgi, melainkan juga pelayan kehidupan.

Masa Gejolak Nasional dan Keteguhan Seorang Imam

Menjelang salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia, yakni peristiwa Gerakan 30 September 1965, Mgr. Pujaraharja dipindahkan ke Paroki Santo Yosep Medari, Sleman.

Pemindahan ini terjadi hanya tiga bulan sebelum gejolak besar melanda bangsa. Dalam situasi penuh ketidakpastian, konflik sosial, dan ketegangan ideologi, peran seorang imam menjadi sangat krusial.

Di Medari, ia tidak hanya melayani secara spiritual, tetapi juga menjadi penopang moral bagi umat yang diliputi rasa takut dan kebingungan. Keteguhan sikapnya dalam menghadapi situasi krisis menunjukkan kualitas kepemimpinan yang matang sejak dini.

Ia belajar bahwa iman tidak hanya diuji dalam doa, tetapi juga dalam keberanian menghadapi realitas hidup yang keras.

Periode Dinamis di Yogyakarta: Pelayanan dan Kepemimpinan

Memasuki tahun 1970-an, perjalanan pelayanannya semakin berkembang. Ia dipercaya merangkap sebagai Pastor Paroki Santo Aloysius Mlati (1970–1971), sebelum kemudian ditugaskan ke Paroki Santo Yusuf Bintaran, Yogyakarta, yang menjadi salah satu fase penting dalam hidupnya.

Di Bintaran, ia tidak hanya menjadi pastor paroki, tetapi juga memegang berbagai peran strategis di tingkat keuskupan:

Vikaris Episkopal DIY

Anggota Dewan Konsultores Keuskupan Agung Semarang

Anggota Panitia Pastoral Perkawinan KAS

Ketua Unio KAS

Ketua IKHAR DIY

Peran-peran ini menunjukkan kepercayaan besar yang diberikan kepadanya oleh pimpinan Gereja, khususnya Justinus Darmojuwono, yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Selain itu, ia juga terlibat dalam karya pelayanan kesehatan melalui Yayasan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Keterlibatannya dalam dunia kesehatan memperlihatkan visi pelayanan yang holistik bahwa Gereja hadir tidak hanya untuk kebutuhan rohani, tetapi juga kesejahteraan fisik umat.

Menimba Ilmu di Eropa: Wawasan Global untuk Pelayanan Lokal

Di tengah kesibukan pastoral, Mgr. Pujaraharja menyempatkan diri memperdalam ilmu dengan studi di Belgia pada tahun 1974–1975.

Pengalaman ini memperluas wawasannya tentang Gereja universal dan memperkaya perspektifnya dalam menghadapi tantangan pastoral di Indonesia. Ia membawa pulang semangat pembaruan, keterbukaan, dan pemahaman yang lebih luas tentang dinamika Gereja di dunia modern.

Ilmu yang diperoleh tidak disimpan sebagai pengetahuan pribadi, melainkan diterjemahkan dalam karya nyata bagi umat.

Titik Balik: Misi ke Kalimantan Barat

Tahun 1978 menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Ia diutus sebagai misionaris domestik ke Ketapang, Kalimantan Barat sebuah wilayah yang menuntut ketangguhan luar biasa.

Ketapang pada masa itu bukanlah wilayah yang mudah dijangkau. Infrastruktur terbatas, medan berat, dan kondisi sosial yang beragam menjadi tantangan nyata bagi setiap pelayan Gereja.

Namun, justru di sanalah panggilan sejatinya menemukan bentuk yang paling utuh.

Ia menjabat sebagai Pastor Paroki Katedral Santa Gemma Galgani sekaligus Vikaris Jenderal Keuskupan Ketapang. Dalam peran ini, ia mulai membangun fondasi pelayanan yang kuat di wilayah yang masih berkembang.

Diangkat Menjadi Uskup: Awal Pelayanan Episkopal

Tak lama setelah kedatangannya di Ketapang, Takhta Suci mengambil keputusan penting. Pada 15 Maret 1979, ia diangkat menjadi Uskup Ketapang, menggantikan Gabriel Willem Sillekens.

Penahbisan episkopalnya berlangsung pada 17 Juni 1979, dipimpin oleh Justinus Darmojuwono, dengan pendamping Mgr.Hieronymus Herculanus Bumbun,O.F.M.Cap dan  Mgr.Theodorus Lumanauw.

Peristiwa ini menandai awal dari lebih dari tiga dekade kepemimpinannya sebagai gembala umat di Keuskupan Ketapang.

Membangun Gereja di Tengah Keterbatasan

Sebagai uskup, Mgr. Pujaraharja menghadapi tantangan besar:

Wilayah pastoral yang luas dan sulit dijangkau

Keterbatasan tenaga imam

Minimnya fasilitas pendidikan dan kesehatan

Keragaman budaya dan adat

Namun, ia tidak melihat ini sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk membangun Gereja yang kontekstual dan dekat dengan umat.

Ia mendorong inkulturasi liturgi, memperhatikan pendidikan iman umat, serta mengembangkan karya sosial sebagai bagian integral dari pelayanan Gereja.

Peran Nasional: Kontribusi di Konferensi Waligereja Indonesia

Selain tugas di keuskupan, Mgr. Pujaraharja juga berperan penting di tingkat nasional melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Beberapa peran penting yang diembannya:

Ketua Komisi Kateketik KWI (1979–1988)

Anggota Presidium KWI

Ketua Komisi Liturgi KWI hingga 1997

Ketua Komisi Seminari KWI (1997–2003)

Ketua BKBLII hingga 2009

Salah satu kontribusi terbesarnya adalah dalam penerbitan buku lagu liturgi Puji Syukur, yang hingga kini menjadi bagian penting dalam kehidupan liturgi umat Katolik di Indonesia.

Peran dalam Penahbisan Uskup dan Regenerasi Gereja

Pada 22 Agustus 1997, ia turut ambil bagian dalam penahbisan Mgr.Ignatius Suharyo sebagai Uskup Agung Semarang, bersama Pietro Sambi dan Julius Darmaatmadja.

Keterlibatan ini menunjukkan perannya dalam proses regenerasi kepemimpinan Gereja di Indonesia.

Akhir Pelayanan Episkopal: Penyerahan Tongkat Estafet

Setelah lebih dari 30 tahun menggembalakan Keuskupan Ketapang, Mgr. Pujaraharja mengundurkan diri pada 25 Juni 2012.

Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Mgr.Pius Riana Prapdi.

Dalam penahbisan Mgr. Prapdi pada 9 September 2012, Mgr. Pujaraharja bertindak sebagai Uskup Penahbis Utama sebuah momen simbolis yang menandai penyerahan tanggung jawab dengan penuh sukacita dan kerendahan hati.

Warisan Seorang Gembala

Jejak pengabdian Mgr. Blasius Pujaraharja tidak hanya tercatat dalam sejarah Gereja, tetapi juga hidup dalam hati umat yang pernah dilayaninya.

Warisannya meliputi:

Kepemimpinan yang rendah hati

Komitmen terhadap pendidikan iman

Perhatian pada karya sosial dan kesehatan

Dedikasi dalam pembinaan imam

Ia adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari jabatan, tetapi dari kesetiaan dalam melayani.

Penutup: Keteladanan yang Melampaui Zaman

Dari Yogyakarta hingga Ketapang, dari paroki kecil hingga kepemimpinan episkopal, perjalanan hidup Mgr. Blasius Pujaraharja adalah kisah tentang iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Di tengah dunia yang terus berubah, keteladanannya tetap relevan: bahwa pelayanan sejati membutuhkan kesetiaan, keberanian, dan kasih yang tulus.

Namanya mungkin tercatat dalam sejarah, tetapi semangat pengabdiannya akan terus hidup dalam Gereja, dalam umat, dan dalam setiap langkah pelayanan yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 26 April 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar