JADWAL TUGURAN KAMIS PUTIH PAROKI ST. AGUSTINUS PAYA KUMANG, KEUSKUPAN KETAPANG: UMAT DIAJAK BERJAGA BERSAMA YESUS DI TAMAN GETSEMANI

 

 Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

JADWAL TUGURAN KAMIS PUTIH PAROKI ST. AGUSTINUS PAYA KUMANG, KEUSKUPAN KETAPANG: UMAT DIAJAK BERJAGA BERSAMA YESUS DI TAMAN GETSEMANI

Ketapang, 1 April 2026. Umat Katolik di Paroki St. Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, akan melaksanakan ibadat Tuguran Kamis Putih pada Kamis, 2 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah. Ibadat ini menjadi momen penting bagi umat untuk berjaga dan berdoa bersama Yesus, mengenangkan peristiwa di Taman Getsemani sebelum sengsara-Nya.

Dengan mengusung tema “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Matius 26:38b), kegiatan tuguran ini mengajak umat untuk masuk dalam suasana hening, reflektif, dan penuh penghayatan iman. Ibadat akan dilaksanakan di Gedung Pastoran (GP) “Pst. Jeroen Stoop, CP” dan dibagi dalam beberapa sesi berdasarkan lingkungan yang ada di paroki.

Makna Tuguran Kamis Putih

Tuguran Kamis Putih merupakan tradisi dalam Gereja Katolik yang dilakukan setelah Misa Perjamuan Malam Tuhan. Pada momen ini, Sakramen Mahakudus ditempatkan di tempat khusus untuk dihormati dan didoakan oleh umat secara bergantian. Tuguran menjadi simbol kesetiaan umat yang ingin menemani Yesus dalam kesendirian-Nya di Taman Getsemani.

Dalam konteks spiritualitas, tuguran tidak hanya sekadar berjaga secara fisik, tetapi juga menjadi ajakan untuk berjaga secara batin, yakni dengan membuka hati, merenungkan kasih Allah, serta memperbaharui komitmen iman. Umat diajak untuk tidak “tertidur” dalam kehidupan rohani, melainkan tetap setia dalam doa dan pengharapan.

Ketua Bidang Liturgi Panitia Paskah 2026, Hendrikus Hendri, S.S, menyampaikan bahwa tuguran tahun ini diharapkan mampu menggerakkan umat untuk lebih aktif berpartisipasi dan menghayati makna terdalam dari peristiwa sengsara Kristus.

“Kami mengajak seluruh umat untuk hadir sesuai jadwal lingkungan masing-masing, namun juga terbuka bagi siapa saja yang ingin berdoa lebih lama. Ini adalah kesempatan istimewa untuk membangun relasi pribadi dengan Tuhan,” ujarnya.

Jadwal Tuguran Berdasarkan Lingkungan

Untuk menjaga ketertiban dan memberikan kesempatan bagi seluruh umat, tuguran dibagi menjadi enam sesi, masing-masing berdurasi 30 menit. Berikut jadwal lengkapnya:

Sesi 1 (20.00 – 20.30 WIB)
Lingkungan St. Yosef dan Kanak-Kanak Yesus
Sesi pembuka ini akan diisi oleh umat dari dua lingkungan yang dikenal aktif dalam kegiatan kategorial dan pembinaan iman anak-anak. Diharapkan suasana doa dipenuhi semangat kesederhanaan dan ketulusan.

Sesi 2 (20.30 – 21.00 WIB)
Lingkungan St. Vinsensius Maria Strambi dan St. Philipus
Pada sesi ini, umat diajak merenungkan semangat pelayanan dan pengorbanan, meneladani para santo pelindung lingkungan.

Sesi 3 (21.00 – 21.30 WIB)
Lingkungan St. Sesilia dan St. Perawan Maria
Suasana doa akan diperkaya dengan nuansa devosi kepada Bunda Maria serta semangat pujian seperti yang dicerminkan oleh Santa Sesilia, pelindung para musisi gereja.

Sesi 4 (21.30 – 22.00 WIB)
Lingkungan St. Lusia dan St. Rafael
Refleksi pada sesi ini akan menekankan terang iman dan penyembuhan rohani, sesuai dengan spiritualitas kedua santo pelindung.

Sesi 5 (22.00 – 22.30 WIB)
Lingkungan St. Gabriel Possenti dan St. Simon
Umat diajak untuk semakin memperdalam iman dan kesetiaan dalam mengikuti Kristus, terutama dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Sesi 6 (22.30 – 23.00 WIB)
Lingkungan St. Paulus dari Salib dan Pastor Paroki
Sebagai penutup, sesi ini akan dipimpin bersama Pastor Paroki dan umat dari lingkungan terkait, dengan penekanan pada misteri sengsara Kristus dan makna salib dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Liturgis

Setelah seluruh rangkaian tuguran selesai, Sakramen Mahakudus akan dipindahkan ke sakristi sebagai bagian dari tata perayaan liturgi Kamis Putih. Hal ini menandai berakhirnya adorasi malam dan menjadi persiapan memasuki perayaan Jumat Agung.

Panitia juga mengingatkan umat untuk menjaga sikap hening selama berada di lokasi tuguran, serta mengenakan pakaian yang sopan dan pantas sebagai bentuk penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus.

Antusiasme Umat

Sejumlah umat menyambut dengan antusias pelaksanaan tuguran tahun ini. Maria Yuliana, salah satu umat dari Lingkungan St. Perawan Maria, mengatakan bahwa tuguran merupakan momen yang selalu ia nantikan setiap tahun.

“Suasana hening di hadapan Sakramen Mahakudus membuat saya bisa lebih dekat dengan Tuhan. Ini waktu yang sangat pribadi, sekaligus mendalam,” ungkapnya.

Hal serupa disampaikan oleh Antonius, umat dari Lingkungan St. Yosef. Ia menilai tuguran sebagai kesempatan untuk merefleksikan perjalanan hidup dan memperbaiki diri.

“Kadang kita sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Tuguran ini mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan kembali kepada Tuhan,” katanya.

Persiapan Panitia

Panitia Paskah 2026 Paroki St. Agustinus Paya Kumang telah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan kelancaran ibadat tuguran. Mulai dari penataan tempat, penyusunan tata ibadat, hingga koordinasi dengan masing-masing lingkungan.

Gedung Pastoran “Pst. Jeroen Stoop, CP” telah dipersiapkan sedemikian rupa agar mendukung suasana doa yang khusyuk. Pencahayaan dibuat lebih redup, dengan penataan altar yang sederhana namun penuh makna.

Selain itu, panitia juga menyiapkan petugas liturgi yang akan membantu jalannya ibadat di setiap sesi, termasuk lektor dan pemandu doa.

Harapan Gereja

Melalui tuguran Kamis Putih ini, Gereja berharap umat semakin menyadari pentingnya kehidupan doa dan relasi pribadi dengan Tuhan. Tuguran bukan hanya tradisi, tetapi juga sarana pembinaan iman yang konkret.

Tema yang diangkat tahun ini menjadi pengingat bahwa Yesus menghendaki kehadiran umat-Nya dalam setiap pergulatan hidup. Ajakan “berjaga” bukan hanya relevan pada peristiwa Getsemani, tetapi juga dalam kehidupan modern yang penuh tantangan.

Pastor Paroki dalam pesannya mengajak umat untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara batin.

“Datanglah dengan hati yang terbuka. Biarkan Tuhan berbicara dalam keheningan,” pesannya.

Penutup

Ibadat tuguran Kamis Putih di Paroki St. Agustinus Paya Kumang menjadi bagian penting dari perjalanan iman umat menuju Paskah. Melalui doa dan keheningan, umat diajak untuk semakin dekat dengan misteri kasih Allah yang dinyatakan dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Dengan keterlibatan aktif seluruh lingkungan, diharapkan tuguran ini tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan, tetapi juga pengalaman iman yang membaharui dan menguatkan kehidupan rohani umat.

Sebagaimana tema yang diusung, umat diajak untuk benar-benar tinggal bersama Yesus, berjaga bersama-Nya, dan tidak meninggalkan-Nya dalam kesendirian. Sebuah panggilan yang sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam bagi setiap orang beriman.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 1 April 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar