Kamis Putih 2026 di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Ekaristi, Kasih Tanpa Diskriminasi, dan Semangat Persaudaraan Lintas Iman

 NNN





Kamis Putih 2026 di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang: Ekaristi, Kasih Tanpa Diskriminasi, dan Semangat Persaudaraan Lintas Iman

Ketapang, Kamis 2 April 2026 .Suasana penuh khidmat dan makna mendalam menyelimuti perayaan Kamis Putih di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Kamis malam (2/4/2026). Perayaan yang dimulai pukul 18.00 WIB ini menjadi pembuka rangkaian Tri Hari Suci yang sangat penting dalam kehidupan umat Katolik, sekaligus mengenangkan Perjamuan Malam Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya.

Kamis Putih tahun ini juga bertepatan dengan peringatan Santo Fransiskus dari Paula, Pertapa, Santa Theodosia, Perawan dan Martir, serta Santa Maria dari Mesir, seorang pengaku iman. Liturgi dilaksanakan dengan warna putih sebagai simbol kesucian, kemuliaan, dan sukacita atas penetapan Sakramen Ekaristi.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RD. Aloysius Budi Purnomo yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia. Ia didampingi oleh Pastor Kepala Paroki, RP. Vitalis Nggeal, CP. Kehadiran kedua imam ini tidak hanya memberi kedalaman liturgis, tetapi juga memperkuat pesan persaudaraan lintas iman yang menjadi salah satu tema penting dalam perayaan tersebut.

Petugas liturgi yang terlibat dalam misa ini adalah Saudara Hanzen Marvel Candra sebagai lektor, Saudari Renatha Ziovanya Prasetyo sebagai pemazmur, serta Ibu Martha Koleta Popyzesika sebagai organis. Koor MSE mengiringi jalannya misa dengan penuh penghayatan, dipimpin oleh dirigen Bapak Hendrik.

Sejak sore hari, umat telah memadati gereja dengan penuh antusias. Banyak umat mengenakan pakaian putih sebagai bentuk partisipasi simbolis dalam perayaan Kamis Putih, meskipun tidak diwajibkan. Warna putih yang mendominasi suasana gereja semakin menegaskan makna kesucian dan pembaruan diri dalam Kristus.

Dalam homilinya, RD. Aloysius Budi Purnomo menyampaikan refleksi yang mendalam tentang makna Ekaristi, kasih Kristus, serta pentingnya membangun hubungan harmonis antarumat beragama. Ia mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan mengunjungi Keuskupan Ketapang, yang merupakan keuskupan ke-24 yang ia kunjungi sejak menjalankan tugasnya.

“Saya baru satu tahun bertugas di Keuskupan Jakarta, dan perjalanan ini menjadi pengalaman iman yang sangat berharga. Ketapang adalah tempat yang luar biasa, tidak hanya karena umatnya, tetapi juga karena semangat toleransi yang hidup di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tokoh-tokoh lintas agama yang berperan aktif dalam menjaga kerukunan, termasuk Drs. Heronimus Tanam, M.E., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Ketapang periode 2022–2027, serta Pak Suhardi, S.Ag.

Dalam homilinya, RD. Aloysius juga menceritakan pengalaman kunjungan bersama Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, ke Pondok Pesantren Hidayaturrahman. Dalam kunjungan tersebut, mereka disambut oleh KH. Jemai Makmur, Ustadz Rizky, serta Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Ketapang, Drs. KH. Faisol Maksum, dan tokoh-tokoh lainnya seperti Ustadz Nanang Yusriq.Dan  RP. Vitalis Nggeal, CP.

Kunjungan tersebut menjadi simbol nyata dialog lintas iman yang penuh persaudaraan. RD. Aloysius menegaskan bahwa Gereja tidak hanya hadir untuk umatnya sendiri, tetapi juga untuk seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan.

“Kita tidak hanya menjadi tokoh Gereja, tetapi juga dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat luas, termasuk para ulama dan tokoh agama lain. Kita membangun jembatan kasih, bukan tembok pemisah,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa kasih Kristus tidak pernah diskriminatif. Yesus telah memberikan teladan dengan mengasihi semua orang, bahkan sampai mengorbankan diri-Nya di kayu salib.

“Kristus terlebih dahulu mengasihi kita. Ia mencurahkan darah-Nya sebagai tanda perjanjian baru dan kekal. Ini adalah bukti kasih yang tidak terbatas,” lanjutnya.

Dalam perayaan Ekaristi, umat diajak untuk memahami makna mendalam dari roti dan anggur yang dikonsekrasi. Gereja Katolik mengajarkan bahwa roti dan anggur tersebut bukan sekadar simbol, melainkan benar-benar berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus melalui misteri transubstansiasi.

Makna “Darah Perjanjian Baru dan Kekal” menandai hubungan baru antara Allah dan manusia melalui kurban Yesus di salib. Kurban ini menggantikan perjanjian lama dan berlaku sepanjang masa sebagai jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Perintah “Lakukanlah ini sebagai pengenangan akan Daku” bukan hanya sekadar mengingat peristiwa masa lalu, melainkan menghadirkan kembali kurban Kristus secara sakramental dalam setiap perayaan Ekaristi.

Ekaristi juga menjadi sarana pengampunan dosa dan jaminan kehidupan kekal. Dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus, umat memperoleh kekuatan rohani untuk hidup dalam kasih dan kebenaran.

“Berbahagialah kita yang boleh merasakan kasih Allah secara nyata dalam Ekaristi. Ini adalah anugerah terbesar dalam hidup kita,” kata RD. Aloysius.

Selain Ekaristi, perayaan Kamis Putih juga menampilkan simbol penting yaitu pembasuhan kaki. Dalam Injil Yohanes 13:1–15, Yesus membasuh kaki para murid sebagai tanda kerendahan hati dan pelayanan.

Tindakan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Yesus, sebagai Guru dan Tuhan, rela merendahkan diri untuk melayani. Ia memberikan teladan bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan.

Pembasuhan kaki juga menunjukkan kasih tanpa syarat. Yesus tetap membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk Yudas yang akan mengkhianati-Nya.

“Yesus mengajarkan kita untuk saling membasuh kaki, artinya saling melayani, saling mengasihi, dan merendahkan diri satu sama lain,” jelasnya.

RD. Aloysius juga membagikan pengalaman pribadinya setelah ditahbiskan sebagai imam. Ia membasuh kaki ibu dan saudara-saudaranya sebagai bentuk penghayatan iman.

“Saya juga membasuh kaki satpam, cleaning service, bahkan rektor. Ini adalah panggilan kita semua, tanpa memandang status,” ujarnya.

Pesan ini menjadi relevan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Suami, istri, dan anak-anak diajak untuk saling melayani dan mengasihi. Orang tua dan anak saling membasuh kaki sebagai simbol kasih dan penghormatan.

Dalam kehidupan sosial, pembasuhan kaki mengajak umat untuk peduli terhadap sesama, terutama mereka yang kecil dan tersingkir.

Warna putih dalam perayaan ini menjadi simbol kesiapan umat untuk diperbarui oleh kasih Kristus. Meskipun tidak diwajibkan, banyak umat memilih mengenakan pakaian putih sebagai bentuk partisipasi visual.

Namun, yang terpenting adalah sikap hati yang bersih, tulus, dan penuh kasih dalam beribadah.

Setelah perayaan Ekaristi, umat melanjutkan dengan tradisi Tuguran, yaitu berjaga dan berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Tradisi ini menjadi bagian penting dari Kamis Putih, sebagai bentuk menemani Yesus dalam doa-Nya di Taman Getsemani.

Tuguran dilakukan dalam suasana hening, meditatif, dan penuh permenungan. Sakramen Mahakudus dipindahkan ke altar khusus, dan umat berdoa secara bergiliran sesuai jadwal lingkungan.

Adapun jadwal Tuguran di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang adalah sebagai berikut:

Pukul 20.00–20.30 WIB: Lingkungan Santo Yosef dan Kanak-Kanak Yesus
Pukul 20.30–21.00 WIB: Lingkungan Santo Vinsensius Maria Strambi dan Santo Philipus
Pukul 21.00–21.30 WIB: Lingkungan Santa Sesilia dan Santa Perawan Maria
Pukul 21.30–22.00 WIB: Lingkungan Santa Lusia dan Santo Rafael
Pukul 22.00–22.30 WIB: Lingkungan Santo Gabriel Possenti dan Santo Simon
Pukul 22.30–23.00 WIB: Lingkungan Santo Paulus dari Salib bersama Pastor Paroki

Dalam Tuguran ini, umat diajak untuk berjaga bersama Yesus, sebagaimana sabda-Nya: “Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Matius 26:38). Momen ini menjadi waktu refleksi mendalam atas penderitaan Kristus sebelum wafat-Nya.

Suasana hening dan doa yang mendalam membawa umat pada pengalaman iman yang lebih personal. Banyak umat yang larut dalam doa, merenungkan kasih dan pengorbanan Kristus.

Setelah Tuguran selesai, Sakramen Mahakudus dipindahkan kembali ke sakristi sebagai bagian dari rangkaian liturgi Tri Hari Suci.

Perayaan Kamis Putih di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang tahun ini tidak hanya menjadi momen liturgis, tetapi juga menjadi refleksi nyata tentang kasih, pelayanan, dan persaudaraan lintas iman.

Pesan yang disampaikan dalam homili menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya dihayati dalam doa, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.

Dengan semangat Kamis Putih, umat diajak untuk menjadi pribadi yang rendah hati, penuh kasih, dan siap melayani sesama tanpa diskriminasi.

Perayaan ini juga memperkuat komitmen umat untuk membangun kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Sebagai penutup, RD. Aloysius mengajak seluruh umat untuk menyambut Kristus dengan penuh syukur dan menghidupi kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita sambut Kristus dengan hati yang penuh syukur dan menghadirkan kasih-Nya tanpa diskriminasi kepada semua orang,” pungkasnya.

Perayaan Kamis Putih 2026 di Ketapang menjadi bukti bahwa iman, kasih, dan persaudaraan dapat berjalan bersama dalam harmoni yang indah. Umat pulang dengan hati yang diperbarui, siap melangkah dalam terang kasih Kristus.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 2 April 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar