Refleksi Mendalam Bapak Hendrikus Hendri, S.S.,
Penyuluh
Agama Katolik KabupatenKetapang
dan Ketua
Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki
Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang
Ketapang, 13 Mei 2026.Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus kembali menjadi momentum penting bagi umat Katolik untuk memperdalam iman dan memperteguh panggilan hidup sebagai saksi Kristus di tengah dunia. Dalam refleksi rohani yang disampaikan oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang sekaligus Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang Keuskupan Ketapang, ditegaskan bahwa peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga bukan hanya peristiwa iman yang dikenang setiap tahun, tetapi juga menjadi dasar pengharapan, panggilan kesaksian, dan sumber kekuatan hidup umat beriman.
Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., kenaikan Yesus Kristus mengandung makna yang sangat dalam bagi kehidupan Gereja dan umat Katolik. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian kini dimuliakan oleh Allah Bapa dan duduk di sebelah kanan-Nya. Dengan demikian, umat manusia memperoleh harapan baru bahwa kehidupan kekal sungguh tersedia bagi setiap orang yang setia mengikuti kehendak Allah.
Beliau menjelaskan bahwa kenaikan Yesus Kristus merupakan kelanjutan dari misteri kebangkitan. Kebangkitan dan kenaikan Yesus tidak dapat dipisahkan karena keduanya mengungkapkan kebenaran iman yang sama, yakni kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Setelah melaksanakan karya penyelamatan di dunia, Yesus dimuliakan oleh Bapa dan masuk ke dalam kemuliaan surgawi.
Dalam refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengutip ajaran Gereja yang menegaskan bahwa Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja telah mendahului umat manusia masuk ke dalam kerajaan kemuliaan Bapa. Hal tersebut menjadi sumber harapan bagi seluruh umat beriman karena setiap anggota Tubuh Kristus dipanggil untuk turut ambil bagian dalam kehidupan kekal bersama Dia.
“Karena Yesus Kristus sudah masuk ke dalam tempat kudus di surga untuk selamanya, maka Ia tanpa henti-hentinya bertindak sebagai Pengantara yang senantiasa mencurahkan Roh Kudus ke atas kita,” ungkap Bapak Hendrikus Hendri, S.S.
Beliau menambahkan bahwa makna kenaikan Yesus Kristus tidak hanya berhenti pada aspek teologis semata, tetapi juga memiliki implikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari umat Katolik. Umat dipanggil untuk hidup dalam harapan, kesetiaan, kasih, dan pelayanan sebagai murid-murid Kristus.
Makna Teologis Kenaikan Yesus Kristus
Dalam ajaran Gereja Katolik, kenaikan Yesus Kristus dipahami sebagai peristiwa mulia ketika Yesus masuk secara definitif ke dalam kemuliaan Allah di surga. Peristiwa ini bukan berarti Yesus meninggalkan umat manusia sepenuhnya, melainkan memasuki cara kehadiran yang baru.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa sebelum naik ke surga, Yesus hidup bersama para murid secara fisik. Namun setelah kenaikan-Nya, Yesus tetap hadir melalui Roh Kudus yang dicurahkan kepada Gereja. Kehadiran Kristus kini dapat dialami dalam sakramen-sakramen, Sabda Tuhan, persekutuan umat beriman, dan dalam hati setiap orang yang percaya.
“Kenaikan Kristus ke surga menggambarkan langkah masuk yang definitif dari kodrat manusiawi Yesus dalam kemuliaan Allah di surga, dari mana Ia akan datang kembali tetapi untuk sementara tersembunyi bagi pandangan manusia,” jelas beliau.
Beliau menegaskan bahwa Yesus yang telah naik ke surga tetap menyertai umat-Nya. Kehadiran Kristus tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Oleh sebab itu, umat Katolik dipanggil untuk terus hidup dalam iman dan keyakinan bahwa Tuhan selalu berjalan bersama umat-Nya.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh tantangan, ajaran tentang kenaikan Yesus menjadi pengingat bahwa tujuan akhir kehidupan manusia bukan hanya keberhasilan duniawi, melainkan persatuan abadi dengan Allah. Dunia hanyalah tempat peziarahan sementara, sedangkan surga adalah tujuan kekal setiap orang beriman.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga menekankan bahwa umat Katolik hendaknya tidak mudah terjebak dalam gaya hidup materialistis yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Kenaikan Yesus Kristus mengajak umat untuk mengarahkan hati kepada nilai-nilai surgawi seperti kasih, keadilan, pengampunan, dan kekudusan hidup.
Yesus Kristus Kepala Gereja
Sebagai Kepala Gereja, Yesus Kristus mempersatukan seluruh umat beriman dalam satu tubuh rohani. Gereja bukan sekadar organisasi manusia, melainkan persekutuan umat Allah yang hidup karena Kristus sendiri.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa kenaikan Yesus ke surga memberikan jaminan bahwa Gereja tidak berjalan sendirian. Kristus tetap memimpin Gereja-Nya dan menyertai setiap karya pewartaan Injil di seluruh dunia.
Beliau mengatakan bahwa Gereja memiliki tugas untuk melanjutkan karya keselamatan Kristus melalui pewartaan Injil, pelayanan kasih, dan pembangunan persaudaraan. Karena itu, seluruh umat Katolik dipanggil untuk mengambil bagian aktif dalam kehidupan Gereja.
“Sebagai anggota Tubuh Kristus, kita semua dipanggil untuk hidup dalam kesatuan, kasih, dan pelayanan. Kenaikan Tuhan mengingatkan kita bahwa Gereja harus terus berjalan menuju kekudusan,” ujarnya.
Beliau juga mengajak umat agar semakin mencintai Gereja dan terlibat dalam kegiatan pastoral di lingkungan maupun paroki. Keterlibatan umat sangat penting demi pertumbuhan iman dan kehidupan bersama.
Menurut beliau, Gereja akan menjadi kuat apabila umat hidup dalam semangat persaudaraan dan saling mendukung. Sebaliknya, perpecahan, egoisme, dan sikap acuh tak acuh dapat melemahkan kehidupan menggereja.
Dalam konteks Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, berbagai kegiatan pastoral terus dilakukan untuk memperkuat kehidupan iman umat. Bidang liturgi dan pewartaan menjadi salah satu sarana penting dalam membangun kedewasaan rohani umat.
Sebagai Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. terus mendorong keterlibatan aktif umat dalam perayaan liturgi, pendalaman iman, serta kegiatan pewartaan Injil.
Dipanggil Menjadi Saksi Kristus
Salah satu pesan penting dalam refleksi kenaikan Yesus Kristus adalah panggilan menjadi saksi Kristus. Sebelum naik ke surga, Yesus memberikan tugas kepada para murid untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengutip Injil Lukas 24:48 yang berbunyi: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Menurut beliau, sabda tersebut tetap relevan bagi umat Katolik masa kini.
“Semua murid Yesus dipanggil menjadi saksi kehadiran Kristus. Walaupun Kristus telah naik ke surga dan tidak tampak lagi secara fisik, tetapi Ia tetap hadir melalui Roh-Nya di tengah-tengah kita,” jelas beliau.
Beliau menekankan bahwa kesaksian hidup tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi terutama melalui tindakan nyata. Sikap hidup yang penuh kasih, kejujuran, pengampunan, dan pelayanan menjadi bentuk pewartaan Injil yang paling nyata.
Dalam kehidupan sehari-hari, umat Katolik dipanggil untuk menghadirkan Kristus di tengah keluarga, lingkungan kerja, sekolah, masyarakat, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.
“Kita dipanggil memperkenalkan Kristus kepada siapa pun menurut keadaan dan kemampuan masing-masing, baik melalui sikap, perkataan, maupun perbuatan,” tutur beliau.
Beliau juga mengingatkan bahwa dunia saat ini membutuhkan teladan hidup yang baik. Banyak orang kehilangan arah hidup karena pengaruh kekerasan, kebencian, penyalahgunaan media sosial, serta lunturnya nilai moral.
Dalam situasi seperti itu, umat Katolik dipanggil menjadi terang dan garam dunia. Kehadiran orang beriman hendaknya membawa damai, harapan, dan semangat persaudaraan.
Menjadi Alter Christus
Dalam refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus mengingatkan umat Katolik akan panggilannya untuk sungguh menjadi “Alter Christus” atau “Kristus yang lain”.
Konsep Alter Christus berarti setiap orang Katolik dipanggil untuk menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, hidup orang beriman harus mencerminkan kasih, kerendahan hati, dan semangat pengorbanan seperti yang telah diteladankan oleh Yesus.
Beliau menjelaskan bahwa menjadi Alter Christus bukanlah tugas yang mudah. Dibutuhkan komitmen iman, doa yang tekun, dan kesediaan untuk terus bertobat.
“Menjadi Kristus yang lain berarti menghadirkan kasih Tuhan dalam hidup sehari-hari. Kita dipanggil menjadi pribadi yang membawa damai, penghiburan, dan harapan bagi sesama,” ujarnya.
Menurut beliau, keluarga menjadi tempat pertama dan utama untuk mewujudkan panggilan tersebut. Orang tua dipanggil menjadi teladan iman bagi anak-anaknya, sedangkan anak-anak diajak menghormati dan mengasihi orang tua.
Di tengah masyarakat, umat Katolik juga diharapkan menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, serta menghargai keberagaman. Dalam dunia kerja, umat dipanggil menunjukkan integritas dan etos kerja yang baik.
Beliau menambahkan bahwa menjadi Alter Christus juga berarti berani memperjuangkan nilai kebenaran dan keadilan. Orang beriman tidak boleh diam ketika melihat ketidakadilan, penindasan, maupun tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Kehadiran Kristus dalam Sakramen
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa meskipun Yesus telah naik ke surga, Ia tetap hadir secara nyata dalam Gereja melalui sakramen-sakramen.
Dalam tradisi Gereja Katolik, sakramen dipahami sebagai tanda dan sarana keselamatan yang menghadirkan rahmat Allah bagi umat manusia. Melalui sakramen, Kristus sendiri berkarya dan menyentuh kehidupan umat.
Beliau menjelaskan bahwa Ekaristi menjadi puncak kehadiran Kristus dalam kehidupan Gereja. Dalam perayaan Ekaristi, umat menerima Tubuh dan Darah Kristus sebagai santapan rohani yang menguatkan iman.
Selain Ekaristi, Kristus juga hadir dalam sakramen baptis, tobat, penguatan, perkawinan, imamat, dan pengurapan orang sakit.
“Melalui sakramen-sakramen, Tuhan tetap menyertai perjalanan hidup umat-Nya. Karena itu, umat Katolik hendaknya semakin mencintai kehidupan sakramental,” katanya.
Beliau juga mengajak umat agar tidak menjauh dari Gereja dan perayaan liturgi. Kehidupan doa dan partisipasi aktif dalam liturgi sangat penting untuk memperkuat iman.
Menurut beliau, umat yang setia mengikuti Ekaristi dan hidup doa akan memperoleh kekuatan rohani untuk menghadapi tantangan hidup.
Roh Kudus Sebagai Penolong
Dalam refleksi tentang kenaikan Yesus Kristus, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga menekankan peran Roh Kudus dalam kehidupan Gereja.
Setelah kenaikan Yesus, para murid menerima Roh Kudus yang memberi kekuatan untuk mewartakan Injil. Roh Kudus membimbing Gereja sepanjang zaman dan menolong umat hidup seturut kehendak Allah.
Beliau menjelaskan bahwa tanpa Roh Kudus, manusia mudah jatuh dalam dosa dan kelemahan. Namun melalui Roh Kudus, umat memperoleh kekuatan untuk hidup benar.
“Roh Kudus memampukan kita untuk menjadi saksi Kristus. Ia memberi keberanian, hikmat, dan ketekunan dalam menjalani hidup beriman,” ujarnya.
Beliau mengajak umat agar membuka hati terhadap karya Roh Kudus melalui doa, pembacaan Kitab Suci, dan kehidupan rohani yang mendalam.
Dalam kehidupan sehari-hari, Roh Kudus membantu umat mengambil keputusan yang benar, memperkuat semangat pelayanan, serta mempersatukan umat dalam kasih persaudaraan.
Tantangan Umat Katolik di Era Modern
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengakui bahwa umat Katolik saat ini menghadapi berbagai tantangan besar di era modern. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi membawa dampak positif sekaligus negatif.
Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi dan penyebaran informasi. Namun di sisi lain, banyak nilai moral yang mulai luntur akibat pengaruh budaya konsumtif, individualisme, dan penyalahgunaan media digital.
Beliau menyoroti meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif di media sosial yang dapat merusak persatuan masyarakat.
Menurut beliau, umat Katolik harus bijaksana menggunakan teknologi dan media sosial. Kehadiran umat di ruang digital hendaknya menjadi sarana pewartaan kasih dan kebenaran.
“Media sosial jangan dipakai untuk menyebarkan kebencian atau fitnah. Sebaliknya, mari gunakan media sosial untuk menghadirkan pesan damai dan pengharapan,” katanya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga kehidupan doa di tengah kesibukan dunia modern. Banyak orang sibuk bekerja namun kehilangan kedekatan dengan Tuhan.
Karena itu, keluarga Katolik diajak membangun budaya doa bersama, membaca Kitab Suci, dan aktif dalam kegiatan Gereja.
Peran Kaum Muda Katolik
Dalam kesempatan tersebut, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. memberikan perhatian khusus kepada kaum muda Katolik. Menurut beliau, kaum muda memiliki peran strategis dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.
Kaum muda adalah generasi penerus Gereja yang harus dipersiapkan menjadi pribadi beriman, cerdas, dan bertanggung jawab.
Beliau mengajak kaum muda agar tidak malu menunjukkan identitas iman Katolik di tengah pergaulan modern.
“Kaum muda dipanggil menjadi saksi Kristus di sekolah, kampus, tempat kerja, dan media sosial. Jangan takut menjadi pribadi yang baik dan benar,” pesannya.
Beliau juga menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam pelayanan Gereja, seperti koor, lektor, misdinar, pendampingan kategorial, dan kegiatan sosial.
Dengan keterlibatan aktif, kaum muda dapat mengembangkan talenta sekaligus memperdalam iman.
Selain itu, beliau mengingatkan kaum muda agar menjauhi narkoba, pergaulan bebas, kekerasan, dan berbagai perilaku yang merusak masa depan.
Keluarga Sebagai Gereja Rumah Tangga
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa keluarga memiliki peran sangat penting dalam pembinaan iman. Keluarga disebut sebagai Gereja rumah tangga karena di sanalah anak-anak pertama kali belajar mengenal Tuhan.
Menurut beliau, keluarga Katolik harus menjadi tempat tumbuhnya kasih, pengampunan, dan pendidikan iman.
Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak dalam nilai-nilai Kristiani. Pendidikan iman tidak hanya dilakukan melalui nasihat, tetapi terutama melalui teladan hidup.
Beliau mengajak keluarga Katolik agar membangun komunikasi yang baik dan meluangkan waktu untuk berdoa bersama.
“Doa bersama dalam keluarga sangat penting untuk mempererat kasih dan menjaga persatuan keluarga,” ujarnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa keluarga harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap anggota keluarga.
Di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial, keluarga yang kuat dalam iman akan menjadi benteng utama menghadapi tantangan zaman.
Liturgi Sebagai Sumber Kehidupan Iman
Sebagai Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menaruh perhatian besar pada kehidupan liturgi umat.
Beliau menjelaskan bahwa liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan Gereja. Dalam liturgi, umat mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
Karena itu, beliau mengajak umat agar mengikuti liturgi dengan penuh kesadaran dan penghayatan.
“Liturgi bukan sekadar rutinitas, tetapi perjumpaan suci dengan Tuhan. Umat perlu mempersiapkan diri dengan baik ketika mengikuti perayaan liturgi,” katanya.
Beliau juga mendorong petugas liturgi agar menjalankan tugas pelayanan dengan penuh tanggung jawab dan semangat iman.
Pelayanan liturgi yang baik akan membantu umat mengalami suasana doa yang mendalam.
Selain itu, beliau menekankan pentingnya pewartaan Sabda Tuhan yang relevan dengan kehidupan umat. Homili dan katekese harus mampu menjawab tantangan zaman dan membantu umat memahami iman secara lebih mendalam.
Harapan Bagi Umat Katolik Ketapang
Di akhir refleksinya, Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menyampaikan harapan agar umat Katolik di Kabupaten Ketapang terus bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan semangat pelayanan.
Beliau berharap umat Katolik menjadi pribadi-pribadi yang membawa damai di tengah masyarakat yang majemuk.
“Sebagai umat Katolik, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan harapan. Mari kita hidup dalam persaudaraan dan saling mendukung,” ujarnya.
Beliau juga mengajak umat untuk terus mendukung karya Gereja melalui keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan pastoral.
Menurut beliau, Gereja akan semakin hidup apabila seluruh umat mau bekerja sama dan mengambil bagian dalam pelayanan.
Beliau menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari konflik yang dapat merusak kehidupan bersama.
“Kita semua adalah saudara dalam Kristus. Mari kita menjaga persatuan dan membangun Gereja bersama-sama,” katanya.
Menjadi Gereja yang Missioner
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. juga menegaskan bahwa Gereja dipanggil menjadi Gereja yang missioner, yaitu Gereja yang aktif mewartakan Injil.
Menurut beliau, pewartaan Injil bukan hanya tugas imam atau biarawan-biarawati, tetapi tugas seluruh umat beriman.
Setiap orang Katolik dipanggil menjadi pewarta kasih Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.
Beliau menjelaskan bahwa pewartaan Injil dapat dilakukan melalui tindakan sederhana seperti membantu sesama, mengunjungi orang sakit, mendukung yang lemah, dan menjadi pembawa damai.
“Kesaksian hidup yang baik sering kali lebih menyentuh daripada kata-kata,” ujarnya.
Beliau berharap umat Katolik di Ketapang semakin berani menunjukkan iman secara nyata melalui pelayanan dan tindakan kasih.
Menghidupi Pengharapan Kristiani
Kenaikan Yesus Kristus juga mengajarkan tentang pengharapan. Dalam dunia yang penuh tantangan dan ketidakpastian, umat Katolik diajak tetap berharap kepada Tuhan.
Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengatakan bahwa pengharapan Kristiani bukan sekadar optimisme manusiawi, melainkan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai umat-Nya.
Beliau mengajak umat agar tidak mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan hidup.
“Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dalam setiap penderitaan dan perjuangan hidup, Tuhan tetap hadir dan memberi kekuatan,” katanya.
Beliau menambahkan bahwa iman dan pengharapan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Orang beriman dipanggil untuk tetap berbuat baik, bekerja keras, dan membantu sesama meskipun menghadapi tantangan.
Penutup
Perayaan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus menjadi kesempatan penting bagi umat Katolik untuk memperbarui iman dan komitmen hidup sebagai murid Kristus.
Melalui refleksi yang disampaikan oleh Bapak Hendrikus Hendri, S.S., umat diajak memahami bahwa kenaikan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan sumber pengharapan dan panggilan hidup bagi Gereja sepanjang zaman.
Kenaikan Kristus mengingatkan umat bahwa tujuan akhir kehidupan manusia adalah kemuliaan bersama Allah. Sementara menjalani kehidupan di dunia, umat dipanggil menjadi saksi Kristus melalui kasih, pelayanan, dan kesaksian hidup yang nyata.
Sebagai umat beriman, setiap orang dipanggil menjadi “Alter Christus” atau “Kristus yang lain” dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Kristus harus tampak dalam sikap, perkataan, dan tindakan yang membawa damai dan pengharapan.
Dengan semangat kenaikan Tuhan, umat Katolik di Kabupaten Ketapang diharapkan semakin teguh dalam iman, aktif dalam pelayanan Gereja, serta mampu menjadi terang dan garam dunia di tengah masyarakat.
Ketapang, 11 Mei 2026
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 13 Mei 2026
.png)

0 comments:
Posting Komentar