Misa Pembukaan Teens School of Mission 2026 Resmi Dibuka di Keuskupan Ketapang

 

Foto Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi.Pimpin Misa

Uskup Mgr. Pius Riana Prapdi Ajak Remaja Menjadi 

"JOSSS": Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart

Ketapang, 9 Juli 2026 .Sukacita memenuhi Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, ketika Teens School of Mission (T-SoM) 2026 atau Sekolah Misi Remaja resmi dibuka melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Keuskupan Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi, pada Kamis, 9 Juli 2026, pukul 19.00 WIB.

Perayaan Ekaristi pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat misioner. Sebanyak 183 peserta T-SoM, para pendamping, panitia, serta umat dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dan Paroki Santa Gemma Galgani Katedral Ketapang memenuhi gereja untuk bersama-sama mengawali perjalanan pembinaan iman yang akan berlangsung hingga 12 Juli 2026.

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi Keuskupan Ketapang yang dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Teens School of Mission tingkat Provinsi Gerejani Kalimantan Barat. Kehadiran para peserta dari berbagai keuskupan menjadi tanda nyata semangat persaudaraan Gereja yang bersatu dalam Kristus dan bersama-sama menjalankan misi pewartaan Injil.








Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi sebagai selebran utama, didampingi para imam konselebran, yaitu RP. Vitalis Nggeal, CP, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Paya Kumang; RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia; RP. Petrus Maman Suparman, OSC, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Bandung; RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Makassar; RP. Rovinus Longa, CP, Direktur Diosesan KMKI Keuskupan Ketapang; RD. Zurich Arian Withosha, Sekretaris KMKI Keuskupan Ketapang; RD. GM Lastsendy Pamungkas Winarta; RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP; RP. Atanasius Agu, CP; serta RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR.

Perayaan liturgi berlangsung dengan penuh penghayatan. Tugas liturgi dipercayakan kepada Saudari Khandita Tiara Dewi sebagai lektor, Saudari Jessica Damara Abigail Siregar sebagai pemazmur, Bapak Dominikus sebagai organis, dan Saudari Reva Karlina sebagai dirigen. Pujian liturgi dipersembahkan oleh Koor SEKAMI Paroki Salib Suci Menyumbung, yang mengiringi seluruh rangkaian Ekaristi dengan nyanyian yang khidmat dan membangkitkan semangat doa umat.

Dalam homilinya, Mgr. Pius Riana Prapdi mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya Teens School of Mission di Keuskupan Ketapang. Menurut beliau, kegiatan ini bukan sekadar sebuah agenda pembinaan kaum muda, melainkan sebuah peristiwa bersejarah yang menunjukkan semakin bertumbuhnya semangat misioner Gereja lokal.

"Teens School of Mission ini merupakan sejarah bagi Keuskupan kita. Kita berkumpul dalam semangat One in Christ, United in Mission. Kita dipersatukan oleh Kristus untuk semakin meneguhkan misi Gereja dan menghadirkan kasih Allah kepada sesama," ungkap Uskup.

Mengacu pada bacaan Kitab Suci hari itu, Mgr. Pius mengajak seluruh peserta menghidupi tiga kata kunci yang dirangkumnya menjadi sebuah ajakan sederhana namun mendalam, yakni menjadi pribadi "JOSSS", singkatan dari Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart.

Menurut beliau, ketiga nilai tersebut merupakan fondasi penting bagi setiap remaja Katolik yang ingin bertumbuh sebagai murid Kristus sekaligus pewarta Injil di tengah dunia.

Sukacita: Allah Mengenal Kita Secara Pribadi

Kata kunci pertama yang disampaikan Uskup adalah Sukacita.

Beliau mengingatkan bahwa Allah mengenal setiap pribadi secara istimewa. Seperti Allah memanggil Israel dengan nama yang baru, demikian pula Tuhan mengenal nama setiap orang secara pribadi.

"Allah menyebut nama kita satu per satu. Itu berarti kita sangat berharga di hadapan-Nya. Tidak ada seorang pun yang dilupakan oleh Tuhan," katanya.

Mgr. Pius kemudian mengajak para peserta menyadari bahwa kasih Allah pertama-tama dialami melalui keluarga, terutama melalui kasih seorang ayah dan ibu.

Beliau menggambarkan bagaimana seorang ibu mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak dengan penuh kasih, sementara seorang ayah bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga.

"Kasih Allah nyata melalui orang tua kita. Mereka menjadi tanda kehadiran Allah yang hidup. Semua yang terbaik mereka berikan agar kita dapat bertumbuh hingga hari ini," tuturnya.

Beliau bahkan mengutip syair lagu yang akrab di telinga masyarakat Indonesia:

Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.

Menurutnya, gambaran tersebut juga mencerminkan kasih seorang ayah yang rela berkorban tanpa pamrih.

Karena itu, setiap peserta diajak untuk selalu bersyukur atas kasih Allah yang telah diterima melalui keluarga, sekaligus menjadi pembawa sukacita bagi orang lain.

Suci: Allah Hadir di Tengah Umat-Nya

Pesan kedua yang disampaikan Mgr. Pius adalah mengenai kesucian.

Beliau menjelaskan bahwa Allah yang kudus senantiasa hadir di tengah umat-Nya. Kehadiran itu diwujudkan dalam pribadi Yesus Kristus yang disebut Emanuel, yang berarti Allah beserta kita.

Beliau mengingatkan kembali kisah Malaikat Gabriel yang menyampaikan kabar kepada Yusuf bahwa Maria akan melahirkan Putra Allah yang akan dinamai Emanuel.

"Kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan selalu hadir di tengah kehidupan kita," katanya.

Beliau mengutip sabda Yesus:

"Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku hadir di tengah-tengah mereka."

Karena itu, setiap doa yang dipanjatkan, setiap Perayaan Ekaristi, maupun setiap kebersamaan dalam komunitas menjadi kesempatan mengalami kehadiran Allah yang menyucikan.

Mgr. Pius juga mengingatkan bahwa Tuhan datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan.

Beliau mengaitkan pesan Injil dengan berbagai tantangan yang dihadapi kaum muda masa kini.

"Ada anak-anak yang hilang karena terlalu tenggelam dalam telepon genggam, lupa belajar, lupa berdoa, kehilangan harapan, kehilangan kasih sayang karena orang tua telah meninggal, bahkan ada yang terjerumus dalam narkoba. Tuhan datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang."

Menurut beliau, kasih Kristus selalu terbuka bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.

"Tuhan tidak datang dalam murka. Tuhan datang membawa belas kasih. Dia hadir untuk mengangkat kita dan menyucikan hidup kita."

Pesan tersebut disambut penuh perhatian oleh seluruh peserta yang memenuhi gereja.

Smart: Cerdas dalam Terang Kristus

Bagian ketiga homili berbicara mengenai Smart, yang oleh Uskup dimaknai bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kecerdasan ilahi.

Beliau mengajak para remaja untuk memiliki hati yang sederhana, tulus, dan rendah hati sebagaimana diajarkan Yesus.

Mengutip Injil Matius, beliau berkata,

"Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku."

Menurut beliau, Kerajaan Surga diperuntukkan bagi mereka yang memiliki hati yang murni, tidak sombong, serta terbuka terhadap kehendak Allah.

Kecerdasan sejati, lanjutnya, diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya pengetahuan.

Karena itu beliau mengajak peserta menghidupi empat pilar utama karya misioner anak dan remaja, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian.

Sebagai contoh sederhana, beliau mengajak peserta belajar berkorban dengan menyisihkan sebagian uang jajan selama satu minggu untuk membantu teman yang membutuhkan.

"Pengorbanan kecil yang dilakukan dengan kasih memiliki nilai besar di hadapan Tuhan," ujarnya.

Beliau juga mengajak peserta meneladani kehidupan Santo Carlo Acutis, remaja kudus yang dikenal sangat mencintai Ekaristi.

Menurut beliau, Carlo Acutis setiap hari menghadiri Misa Kudus dan secara rutin menerima Sakramen Tobat.

Keteladanan itu menunjukkan bahwa kekudusan dapat diwujudkan oleh siapa saja, termasuk kaum muda, apabila hidup berakar pada Kristus.

Melalui keteladanan Santo Carlo Acutis, Mgr. Pius Riana Prapdi mengajak seluruh peserta Teens School of Mission untuk tidak takut menjadi orang muda yang mencintai Tuhan di tengah perkembangan zaman. Kemajuan teknologi, menurut beliau, merupakan anugerah yang dapat dimanfaatkan untuk mewartakan Injil, selama digunakan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.

"Jadilah remaja yang mampu menggunakan teknologi untuk melakukan kebaikan, bukan sebaliknya diperbudak oleh teknologi. Jadilah pribadi yang tetap setia berdoa, rajin mengikuti Perayaan Ekaristi, mengasihi sesama, dan menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari," pesan beliau.

Di akhir homilinya, Bapa Uskup kembali menegaskan tiga kata kunci yang diharapkan menjadi pedoman hidup seluruh peserta selama mengikuti Teens School of Mission maupun ketika kembali ke paroki masing-masing.

"Jadilah anak-anak SEKAMI yang JOSSS, yaitu Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart. Ketika kalian hidup dalam sukacita, menjaga kekudusan hidup, dan memiliki kecerdasan yang berasal dari Tuhan, maka kalian akan mampu menjadi misionaris-misionaris muda yang membawa terang Kristus bagi dunia," tuturnya yang disambut tepuk tangan meriah dari seluruh umat.

Pesan homili tersebut sangat selaras dengan tema besar Teens School of Mission tahun 2026, yaitu "Remaja Katolik Misioner Hidup dalam Kristus, Mewartakan Sukacita Injil dengan Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian dalam Kebhinekaan."

Tema tersebut diperdalam melalui semboyan "One in Christ, United in Mission" (Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi) yang menjadi semangat bersama seluruh peserta dan pendamping selama mengikuti pembinaan.

Semboyan ini mengingatkan bahwa setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk hidup dalam persatuan dengan Kristus sekaligus mengambil bagian dalam karya perutusan Gereja. Persatuan bukan hanya diwujudkan dalam kebersamaan selama kegiatan berlangsung, melainkan juga dalam komitmen untuk saling mendukung, menghargai keberagaman, dan bersama-sama menjadi pewarta Injil di lingkungan masing-masing.

Melalui Teens School of Mission, para remaja diajak memahami bahwa misi Gereja bukan hanya tugas para imam, biarawan, dan biarawati. Setiap orang beriman, termasuk kaum muda, memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kasih Allah melalui perkataan, tindakan, dan teladan hidup.

Semangat tersebut diwujudkan melalui empat pilar utama karya misioner anak dan remaja yang dikenal dengan 2D2K, yaitu Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian.

Pilar pertama adalah Doa, yang menjadi dasar seluruh kehidupan misioner. Seorang remaja Katolik dipanggil membangun relasi yang akrab dengan Kristus melalui doa pribadi, doa bersama keluarga, membaca Kitab Suci, mengikuti Perayaan Ekaristi, dan adorasi. Dari kehidupan doa itulah lahir kekuatan untuk melayani dengan setia.

Pilar kedua adalah Derma, yaitu semangat berbagi kepada sesama, terutama mereka yang mengalami kesulitan. Derma bukan semata-mata memberi materi, tetapi juga berbagi perhatian, waktu, tenaga, serta kasih kepada mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, para remaja belajar menghadirkan wajah Gereja yang peduli dan penuh belas kasih.

Pilar ketiga adalah Kurban. Nilai pengorbanan mengajarkan bahwa mengikuti Kristus berarti berani memberikan yang terbaik bagi sesama. Pengorbanan dapat diwujudkan melalui kesediaan membantu orang tua, melayani di paroki, belajar dengan sungguh-sungguh, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang berkekurangan. Seperti disampaikan dalam homili Bapa Uskup, pengorbanan kecil yang dilakukan dengan kasih memiliki makna besar di hadapan Tuhan.

Pilar keempat adalah Kesaksian dalam Kebhinekaan. Indonesia dianugerahi keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Karena itu, remaja Katolik dipanggil menjadi saksi kasih Kristus yang membawa damai, membangun persaudaraan, serta menghargai setiap perbedaan. Kesaksian hidup yang baik akan menjadi bentuk pewartaan Injil yang paling nyata.

Selama empat hari pelaksanaan Teens School of Mission, seluruh peserta akan mengikuti berbagai kegiatan pembinaan yang dirancang untuk memperdalam kehidupan iman, meningkatkan kemampuan kepemimpinan, membangun semangat misioner, serta mempererat persaudaraan antarremaja dari berbagai keuskupan.

Selain mengikuti sesi materi, peserta juga akan terlibat dalam dinamika kelompok, doa bersama, Perayaan Ekaristi, pendalaman Kitab Suci, diskusi, refleksi, permainan edukatif, dan berbagai aktivitas yang bertujuan membentuk karakter Kristiani yang tangguh.

Sebanyak 183 peserta, yang berasal dari Keuskupan Ketapang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Sanggau, hadir dengan latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman hidup yang berbeda. Namun, seluruh perbedaan itu dipersatukan oleh iman kepada Kristus dan semangat yang sama untuk menjadi remaja Katolik yang misioner.

Suasana persaudaraan sudah tampak sejak hari pertama. Senyum, sapaan hangat, serta semangat saling mengenal menjadi gambaran nyata Gereja yang hidup dalam kebersamaan. Kehadiran para pendamping, imam, biarawan, biarawati, serta panitia semakin memperkaya pengalaman iman yang akan dijalani para peserta selama kegiatan berlangsung.

Kepercayaan yang diberikan kepada Keuskupan Ketapang sebagai tuan rumah menjadi kesempatan berharga untuk menunjukkan wajah Gereja yang terbuka, ramah, dan siap melayani. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh panitia jauh sebelum kegiatan dimulai, mulai dari akomodasi, konsumsi, liturgi, kesehatan, keamanan, hingga dokumentasi, sehingga seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman.

Perayaan Ekaristi pembukaan menjadi sumber dan puncak seluruh rangkaian kegiatan T-SoM 2026. Dari altar Tuhan, seluruh peserta diutus untuk semakin mencintai Kristus dan menghadirkan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi bukan hanya menjadi pembukaan sebuah acara, tetapi juga menjadi awal perjalanan rohani yang diharapkan membawa perubahan dalam diri setiap peserta.

Melalui homili yang penuh inspirasi, Mgr. Pius Riana Prapdi mengingatkan bahwa dunia saat ini membutuhkan remaja yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati yang penuh sukacita, hidup dalam kekudusan, dan mampu menjadi terang bagi sesama. Ajakan untuk menjadi pribadi "JOSSS" menjadi pesan yang sederhana, mudah diingat, namun memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan kaum muda.

Harapan Gereja melalui Teens School of Mission adalah agar setiap peserta kembali ke keluarga, sekolah, lingkungan, dan paroki masing-masing sebagai pewarta Injil yang hidup. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak Orang Muda Katolik, aktif dalam pelayanan, mencintai Ekaristi, membangun budaya doa, serta berani menjadi saksi Kristus di tengah tantangan zaman.

Semangat "One in Christ, United in Mission" diharapkan tidak berhenti selama empat hari pelaksanaan kegiatan, melainkan terus hidup dalam setiap langkah para peserta setelah kembali ke daerah asal mereka. Persaudaraan yang terjalin selama T-SoM menjadi benih lahirnya jaringan remaja Katolik yang saling mendukung dalam karya misi Gereja di berbagai keuskupan.

Mengakhiri Perayaan Ekaristi, seluruh umat bersama-sama memanjatkan doa agar seluruh rangkaian Teens School of Mission 2026 berjalan dengan lancar, aman, dan menghasilkan buah-buah rohani yang melimpah. Dalam suasana penuh syukur, para peserta meninggalkan gereja dengan semangat baru, membawa pesan Sang Gembala untuk menjadi remaja yang "JOSSS"Jadi Orang Sukacita, Suci, dan Smart.

Kiranya melalui penyelenggaraan Teens School of Mission 2026 di Keuskupan Ketapang, semakin banyak lahir generasi muda Katolik yang mencintai Kristus, setia kepada Gereja, peduli terhadap sesama, serta berani menjadi saksi Injil di tengah masyarakat yang majemuk. Dengan berakar pada doa, derma, kurban, dan kesaksian dalam kebhinekaan, mereka diharapkan menjadi pelopor Gereja yang hidup, bertumbuh, dan semakin misioner demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 9 Juli 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar