BKSN Mengajak Umat Mengenal Kristus Mendalam

 

Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

Ketapang, 31 Agustus 2026.Gereja Katolik di Indonesia kembali memasuki Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sepanjang September 2026. Momentum rohani ini mengajak seluruh umat untuk semakin dekat dengan Sabda Allah, mendalami pesan Kitab Suci, serta mewujudkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Tahun ini, perhatian umat diarahkan pada Injil Matius melalui tema “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.”

Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengajak umat untuk menjadikan September sebagai kesempatan memperbarui hubungan dengan Sabda Tuhan.

Menurut beliau, BKSN bukan sekadar agenda tahunan Gereja. Perayaan tersebut merupakan kesempatan untuk kembali menyadari bahwa Kitab Suci memiliki tempat penting dalam perjalanan iman setiap orang beriman.

“Kitab Suci bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga direnungkan, dipahami, dan diwujudkan dalam kehidupan. Melalui Sabda Tuhan, kita semakin mengenal Yesus Kristus dan memahami kehendak-Nya,” ungkap Bapak Hendrikus Hendri, S.S.

Pesan utama BKSN 2026 berpijak pada seruan dalam Injil Matius, “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5). Seruan tersebut menjadi ajakan bagi umat untuk membuka hati dan mendengarkan Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa.

Melalui peringatan selama satu bulan, umat Katolik diharapkan tidak berhenti pada kebiasaan membaca teks Kitab Suci. Sabda yang didengarkan perlu masuk ke dalam hati, membentuk cara berpikir, serta menjadi dasar dalam mengambil keputusan.

BKSN juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi keluarga, lingkungan, komunitas, serta seluruh kelompok kategorial. Dengan semakin akrab terhadap Alkitab, umat diharapkan mampu menemukan terang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

 

September Menjadi Bulan Kitab Suci

Setiap September, Gereja Katolik di Indonesia secara khusus memberikan perhatian kepada Kitab Suci. Bulan tersebut dikenal sebagai Bulan Kitab Suci Nasional atau BKSN.

Secara historis, penetapan peringatan Kitab Suci di Indonesia bermula pada tahun 1977. Pada waktu itu, Majelis Agung Waligereja Indonesia atau MAWI, yang sekarang dikenal sebagai Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), menetapkan minggu pertama September sebagai Hari Kitab Suci Nasional.

Seiring perjalanan waktu, semangat tersebut berkembang. Perayaan yang pada awalnya berlangsung dalam satu minggu kemudian semakin meluas hingga menjadi kegiatan selama September.

Perkembangan itu menunjukkan kesadaran Gereja akan pentingnya Sabda Allah dalam kehidupan umat. Kitab Suci dipandang bukan sebagai buku biasa, melainkan sebagai sumber penghayatan iman yang terus memberi arah bagi perjalanan manusia.

Melalui BKSN, Gereja Katolik Indonesia mendorong umat untuk semakin mengenal, mencintai, mendengarkan, merenungkan, serta mengamalkan Sabda Tuhan.

Kedekatan dengan Kitab Suci diharapkan tidak hanya tampak dalam berbagai kegiatan bersama. Yang lebih penting adalah lahirnya kebiasaan pribadi dan keluarga untuk membuka Alkitab serta menjadikan pesannya sebagai pedoman hidup.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menegaskan bahwa kehidupan modern sering kali membuat manusia dikelilingi oleh begitu banyak informasi. Berbagai pesan hadir setiap hari melalui media, percakapan, dan perkembangan teknologi.

Di tengah keadaan tersebut, umat perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan.

“Banyak suara yang hadir dalam kehidupan kita. Karena itu, kita perlu kembali kepada Sabda Tuhan agar memiliki dasar yang kuat dalam menjalani kehidupan,” ujar beliau.

Santo Hieronimus dan Cinta Kitab Suci

Pemilihan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional memiliki hubungan erat dengan peringatan Santo Hieronimus pada 30 September.

Santo Hieronimus merupakan seorang Bapa Gereja yang hidup pada abad keempat. Beliau dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Gereja dan mendapat sebutan Doktor Kitab Suci.

Sebagian besar hidupnya diabdikan untuk mempelajari, menerjemahkan, serta mendalami Kitab Suci. Salah satu karya pentingnya adalah penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin yang kemudian dikenal sebagai Vulgata.

Dedikasi Santo Hieronimus terhadap Sabda Allah menjadi warisan besar bagi Gereja. Semangatnya mengingatkan umat bahwa memahami Kitab Suci membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan kerendahan hati.

Salah satu perkataan beliau yang terus dikenang hingga sekarang berbunyi, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”

Ungkapan tersebut menjadi pesan yang sangat kuat bagi kehidupan umat beriman. Mengenal Yesus tidak cukup hanya melalui pengetahuan umum atau kebiasaan keagamaan. Pribadi Kristus juga dikenal melalui Sabda-Nya.

Dalam Kitab Suci, umat dapat menemukan kisah perjalanan keselamatan, ajaran Yesus, kesaksian para rasul, serta pengalaman iman umat Allah.

Karena itulah, pesta Santo Hieronimus yang jatuh pada akhir September dipandang sangat sesuai sebagai penutup Bulan Kitab Suci Nasional.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. melihat semangat Santo Hieronimus tetap relevan pada masa sekarang. Menurut beliau, umat membutuhkan ketekunan untuk membangun kebiasaan membaca Alkitab secara teratur.

“Kita dapat memulai dari langkah sederhana. Membaca satu bagian, merenungkannya, lalu bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan,” katanya.

Beliau menambahkan bahwa kedekatan dengan Sabda Tuhan akan menolong seseorang bertumbuh dalam kebijaksanaan dan pengharapan.

Injil Matius Menjadi Sorotan BKSN

BKSN 2026 menjadikan Injil Matius sebagai fokus pendalaman bersama. Tema “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius” mengajak umat melihat dan mengenal pribadi Kristus melalui pewartaan penginjil Matius.

Yesus dalam Injil Matius tampil sebagai Guru yang mengajar dengan kuasa. Ajaran-Nya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengubah kehidupan orang yang mendengarkan dan melaksanakannya.

Ia mengajarkan kasih, pengampunan, kerendahan hati, keadilan, kesetiaan, serta kepedulian terhadap sesama.

Kehadiran-Nya memberikan pencerahan bagi mereka yang mencari kebenaran. Sabda-Nya membangun kepribadian, menyegarkan jiwa, menghibur mereka yang mengalami kesedihan, dan memberikan harapan bagi orang yang menghadapi berbagai kesulitan.

Tema tersebut menjadi undangan untuk melihat Yesus bukan hanya sebagai tokoh sejarah atau pribadi yang dikenal melalui cerita. Umat diajak mengalami-Nya sebagai Guru yang terus berbicara melalui Sabda.

Ayat emas BKSN 2026 diambil dari Injil Matius 17:5, “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia.”

Kalimat tersebut merupakan perintah yang sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Mendengarkan Yesus berarti memberi ruang kepada ajaran-Nya untuk membentuk kehidupan.

Mendengar tidak selalu berarti langsung memahami. Karena itu, umat membutuhkan sikap terbuka dan kesediaan untuk terus belajar.

Sabda yang dibaca perlu direnungkan. Pesan yang direnungkan kemudian diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. menjelaskan bahwa proses tersebut penting agar Kitab Suci tidak hanya menjadi bacaan, tetapi sungguh menjadi sumber kehidupan.

“Firman Tuhan perlu mendapatkan tempat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita menghadapi persoalan, mengambil keputusan, membangun hubungan dengan keluarga, dan berhadapan dengan sesama, Sabda Tuhan harus menjadi terang,” tutur beliau.

Duduk dan Mendengarkan Sang Guru

Tema BKSN tahun ini mengarahkan perhatian umat kepada sikap seorang murid. Seorang murid perlu belajar duduk, mendengarkan, memahami, dan melaksanakan ajaran gurunya.

Di hadapan Yesus sebagai Guru bersama, umat diajak untuk memiliki kerendahan hati.

Sikap tersebut penting karena manusia sering merasa telah mengetahui banyak hal. Pengetahuan yang dimiliki terkadang membuat seseorang sulit mendengarkan.

Padahal, kehidupan iman membutuhkan hati yang terus bersedia dibentuk.

Perintah Bapa dalam Injil Matius, “Dengarkanlah Dia,” menjadi ajakan untuk kembali memberikan perhatian kepada Yesus.

Mendengarkan Kristus berarti membuka diri terhadap ajaran-Nya, termasuk ketika pesan tersebut menantang kebiasaan dan cara hidup manusia.

Yesus mengajarkan kasih ketika manusia mudah membenci. Ia mengajarkan pengampunan ketika seseorang sulit melepaskan kesalahan orang lain. Ia mengajarkan kerendahan hati ketika dunia sering mendorong manusia untuk mencari pujian.

Karena itu, mendengarkan Sang Guru membutuhkan keberanian untuk berubah.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengajak umat untuk memanfaatkan BKSN sebagai waktu pembaruan diri.

Beliau berharap keluarga Katolik dapat menyediakan waktu khusus untuk membaca dan membagikan pengalaman iman berdasarkan Kitab Suci.

Lingkungan dan kelompok umat juga dapat menjadikan September sebagai kesempatan memperkuat kebiasaan pendalaman Sabda Tuhan.

“Semoga kegiatan selama BKSN tidak berhenti ketika September berakhir. Yang kita harapkan adalah tumbuhnya kebiasaan mencintai Kitab Suci sepanjang tahun,” katanya.

Firman yang Berbuah dalam Kehidupan

Yesus sendiri memberikan gambaran tentang pentingnya mendengarkan dan memahami Firman Tuhan.

Dalam Injil Matius 13:23 tertulis, “Yang ditaburkan di tanah yang baik artinya orang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan Firman bukanlah tujuan akhir. Firman yang diterima perlu menghasilkan buah.

Buah itu dapat terlihat melalui perubahan sikap dan tindakan. Seseorang yang sungguh mendengarkan Sabda Tuhan diharapkan semakin mampu mengasihi, mengampuni, berkata jujur, serta membangun perdamaian.

Dalam keluarga, Firman dapat berbuah melalui kesediaan untuk saling memahami.

Di tengah masyarakat, Sabda dapat tampak dalam kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.

Dalam pekerjaan, ajaran Kristus dapat menjadi dasar untuk bertindak jujur dan bertanggung jawab.

Di tengah persoalan, Firman memberikan kekuatan untuk tetap berharap.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengatakan bahwa buah kehidupan tidak selalu muncul dalam bentuk hal besar. Perubahan sederhana yang dilakukan dengan kesetiaan juga merupakan wujud nyata dari Sabda yang bertumbuh dalam hati.

“Seseorang yang semakin dekat dengan Kitab Suci seharusnya semakin terlihat dalam sikap hidupnya. Bukan hanya pandai berbicara tentang Firman Tuhan, tetapi juga berusaha melaksanakannya,” ujar beliau.

Menurut beliau, perubahan tersebut membutuhkan proses. Tidak semua orang langsung memahami seluruh isi Kitab Suci dalam waktu singkat.

Yang terpenting adalah kemauan untuk terus membaca dan belajar.

Kesetiaan terhadap langkah-langkah kecil akan membantu seseorang semakin memahami pesan keselamatan.

Alkitab sebagai Sumber Kehidupan

Kitab Suci menjadi bagian penting dalam perjalanan iman Gereja. Melalui berbagai kitab yang terkandung di dalamnya, umat diajak mengenal karya Allah dalam sejarah manusia.

Alkitab menyampaikan kisah tentang penciptaan, perjalanan umat Israel, pewartaan para nabi, kehidupan dan karya Yesus Kristus, hingga kesaksian Gereja perdana.

Seluruh perjalanan tersebut memperlihatkan kasih Allah yang terus hadir bagi manusia.

Bagi umat Katolik, membaca Kitab Suci bukan hanya usaha memperoleh pengetahuan. Kegiatan itu juga merupakan perjumpaan iman.

Ketika seseorang membaca dengan hati terbuka, ia diajak mendengarkan apa yang hendak disampaikan Tuhan dalam situasi kehidupannya.

Karena itu, doa dan permenungan menjadi bagian penting dalam membaca Sabda.

BKSN menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan kesadaran tersebut.

Seruan “Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan” mengingatkan bahwa Firman Allah memiliki kekuatan untuk menyegarkan dan membarui manusia.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, manusia membutuhkan pegangan yang tidak mudah berubah.

Berbagai keadaan dapat datang dan pergi. Kesulitan, kegembiraan, keberhasilan, serta kegagalan silih berganti dalam perjalanan hidup.

Namun Sabda Tuhan tetap menjadi sumber pengharapan bagi mereka yang percaya.

Ajakan Memulai dari Hal Sederhana

Bapak Hendrikus Hendri, S.S. mengajak umat untuk tidak merasa terbebani ketika hendak mulai membaca Kitab Suci.

Menurut beliau, langkah awal dapat dilakukan dengan cara sederhana dan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Umat dapat menentukan waktu tertentu untuk membaca satu perikop. Setelah itu, pembaca dapat merenungkan pesan yang diterima dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan tersebut dapat dilakukan secara pribadi maupun bersama keluarga.

Bagi anak-anak dan kaum muda, pendampingan dari orang tua serta para pembina dapat membantu menumbuhkan kecintaan terhadap Alkitab sejak dini.

Sementara itu, kelompok-kelompok umat dapat memperkuat kebersamaan melalui kegiatan pendalaman yang kreatif dan sesuai kebutuhan.

Yang terpenting, kata beliau, adalah kesediaan untuk terus belajar.

“Jangan takut membuka Kitab Suci karena merasa belum memahami semuanya. Pemahaman bertumbuh melalui proses. Kita membaca, mendengarkan, bertanya, merenungkan, dan berusaha melaksanakannya,” jelas Bapak Hendrikus Hendri, S.S.

Beliau berharap BKSN 2026 menjadi momentum yang membawa pembaruan bagi umat di Keuskupan Ketapang, khususnya di lingkungan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Melalui pendalaman Injil Matius, umat diharapkan semakin mengenal wajah Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa.

Mengenal Kristus Melalui Sabda-Nya

Pesta Santo Hieronimus pada 30 September menjadi penutup yang bermakna bagi seluruh perjalanan Bulan Kitab Suci Nasional.

Pesan santo tersebut tetap relevan bagi setiap generasi: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”

Ungkapan itu menjadi undangan bagi umat untuk tidak menjauh dari Sabda Allah.

Mengenal Kristus berarti terus belajar tentang kehidupan, karya, ajaran, penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Perjalanan tersebut dapat semakin diperdalam melalui pembacaan Kitab Suci.

BKSN 2026 mengingatkan bahwa Yesus masih menjadi Guru bagi umat beriman.

Ia terus mengajar melalui Sabda yang dibacakan, direnungkan, dan dihayati.

Tugas manusia adalah menyediakan hati yang bersedia mendengarkan.

Perintah “Dengarkanlah Dia” dapat menjadi pegangan sepanjang September dan setelahnya.

Mendengarkan Yesus berarti membiarkan ajaran-Nya masuk ke dalam kehidupan.

Memahami Firman berarti membuka diri terhadap perubahan.

Melaksanakan Sabda berarti menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.

Dengan semangat tersebut, Bulan Kitab Suci Nasional 2026 diharapkan tidak hanya menjadi peringatan tahunan, melainkan perjalanan iman yang terus berlanjut.

Dari halaman Kitab Suci, umat diajak memasuki kehidupan nyata.

Dari Sabda yang didengarkan, lahir tindakan yang membawa kebaikan.

Dari perjumpaan dengan Firman, umat semakin mengenal Kristus.

Dan dari pengenalan tersebut, setiap orang dipanggil untuk menghasilkan buah yang nyata bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat.

“Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.”

Ketapang, 31 Agustus 2026

Hendrikus Hendri, S.S.
Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal: 31 Agustus 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar