Ketapang, 28 Agustus 2026. Peringatan Santo Agustinus setiap 28 Agustus tidak hanya menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk mengenang seorang uskup dan pujangga Gereja. Momentum tersebut juga mengajak umat melihat kembali perjalanan hidup seorang manusia yang pernah mengalami kegelisahan, pencarian panjang, hingga akhirnya menemukan ketenangan dalam Tuhan.
Pesan itu menjadi relevan bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, mengajak umat melihat Santo Agustinus sebagai teladan dalam menjalani perjalanan iman.
Kisah hidup Agustinus menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu menemukan Tuhan dalam perjalanan yang mudah. Ada pergulatan, pertanyaan, kesalahan, bahkan masa ketika seseorang merasa jauh dari jalan iman.
Namun, perjalanan itu dapat berubah ketika hati mulai terbuka terhadap rahmat Allah.
Santo Agustinus membuktikan hal tersebut. Ia pernah menjalani kehidupan yang penuh pencarian dan kesenangan duniawi. Ia juga dikenal memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Perjalanan hidupnya kemudian berubah setelah mengalami proses pertobatan yang mendalam.
Dari seorang pencari, ia menjadi seorang imam. Setelah itu, ia ditahbiskan sebagai Uskup Hippo. Pemikirannya berkembang luas dan menghasilkan karya-karya yang memberi pengaruh besar bagi Gereja selama berabad-abad.
Karena itu, peringatan Santo Agustinus tidak hanya berbicara mengenai seorang tokoh dari masa lampau. Kisahnya masih menyentuh kehidupan manusia masa kini.
Banyak orang menjalani hidup dengan kesibukan. Pekerjaan, keluarga, persoalan ekonomi, teknologi, dan berbagai tuntutan kehidupan sering membuat manusia lupa berhenti sejenak untuk melihat ke dalam dirinya.
Di tengah keadaan seperti itu, pengalaman Agustinus menjadi sebuah ajakan.
Manusia perlu bertanya kembali tentang tujuan hidupnya.
Lahir di Tagaste
Santo Agustinus lahir pada 13 November 354 di Tagaste, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Souk Ahras, Aljazair.
Ia tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang iman yang berbeda. Ibunya, Santa Monika, merupakan seorang Kristiani yang saleh. Sementara ayahnya, Patrisius, bukan seorang Kristiani pada awalnya dan baru menerima baptisan menjelang akhir hidupnya.
Santa Monika memiliki peran besar dalam perjalanan iman putranya.
Ia terus mendoakan Agustinus.
Doa tersebut tidak langsung menghasilkan perubahan. Agustinus tetap menjalani proses pencarian yang panjang. Ia memiliki keinginan untuk memperoleh pengetahuan dan memahami berbagai persoalan kehidupan.
Ia belajar retorika di Kartago. Kemampuan berbicara dan berpikirnya berkembang dengan baik.
Agustinus kemudian terlibat dalam dunia filsafat. Ia mencari jawaban atas pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
Namun, semakin jauh mencari, ia justru semakin menyadari adanya kegelisahan dalam dirinya.
Pengetahuan belum memberikan ketenangan yang ia harapkan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan rohaninya.
Doa Seorang Ibu Tidak Berhenti
Di balik perubahan hidup Agustinus terdapat sosok Santa Monika.
Sebagai seorang ibu, Monika tidak berhenti berharap.
Ia terus membawa nama putranya dalam doa.
Agustinus mungkin belum melihat hasil dari doa tersebut pada awalnya. Namun, perjalanan waktu memperlihatkan bahwa doa sang ibu menjadi bagian dari kisah pertobatannya.
Cerita ini menjadi salah satu pesan yang kuat bagi keluarga Katolik.
Orang tua tidak selalu dapat melihat perubahan anak secara cepat. Ada proses yang membutuhkan waktu.
Doa menjadi bentuk kasih yang tidak mengenal batas.
Santa Monika memberikan contoh bahwa mendampingi seseorang tidak selalu berarti memaksakan perubahan. Terkadang, yang dapat dilakukan adalah tetap mendoakan dan memberikan teladan.
Perjalanan Agustinus akhirnya bergerak menuju titik yang berbeda.
Ia bertemu dengan Santo Ambrosius, Uskup Milan.
Khotbah Ambrosius Membuka Hati
Pertemuan dengan Santo Ambrosius menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan iman Agustinus.
Ia mulai mendengarkan khotbah Uskup Milan tersebut.
Dari sana, pandangannya terhadap Kitab Suci berubah.
Sebelumnya, ia mengalami kesulitan memahami beberapa bagian Kitab Suci. Melalui penjelasan Ambrosius, ia mulai melihat bahwa Kitab Suci memiliki kedalaman makna yang tidak selalu dapat dipahami hanya melalui pembacaan harfiah.
Pikiran Agustinus mulai terbuka.
Ia semakin tertarik pada iman Kristiani.
Namun, mengetahui kebenaran belum membuatnya langsung mampu meninggalkan kehidupan lama.
Di dalam dirinya masih terjadi pergulatan.
Ia tahu ada jalan yang harus ditempuh. Tetapi ia masih bergumul untuk mengambil keputusan.
Pergulatan tersebut akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 386.
“Tolle, Lege” di Taman Milan
Peristiwa di taman Milan menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam kehidupan Santo Agustinus.
Saat berada dalam pergulatan batin, ia mendengar suara seorang anak kecil yang berkata, “Tolle, lege”, yang berarti “Ambil dan bacalah.”
Agustinus mengambil Kitab Suci.
Ia membukanya dan menemukan bagian dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma.
Pesan yang dibacanya berbicara tentang meninggalkan kehidupan lama dan mengenakan Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan terang.
Pengalaman itu menjadi titik balik.
Agustinus mengambil keputusan untuk mengubah hidupnya.
Ia tidak lagi ingin terus hidup dalam kegelisahan yang sama.
Pada Paskah tahun 387, ia menerima baptisan dari Santo Ambrosius.
Baptisan tersebut menjadi awal dari kehidupan baru.
Setelah itu, Agustinus semakin dekat dengan kehidupan Gereja. Ia kemudian menjadi imam dan pada tahun 396 ditahbiskan sebagai Uskup Hippo.
Perjalanan yang sebelumnya dipenuhi pencarian akhirnya berubah menjadi pelayanan.
Dari Pencari Menjadi Gembala
Setelah menjadi uskup, Agustinus tidak meninggalkan kemampuan intelektual yang telah dimilikinya.
Sebaliknya, ia menggunakannya untuk melayani Gereja.
Ia menulis buku, surat, dan khotbah. Ia menjelaskan iman kepada umat. Ia juga menjawab berbagai persoalan teologis dan filosofis yang berkembang pada zamannya.
Karya-karyanya kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah pemikiran Kristiani.
Beberapa tulisan yang paling dikenal antara lain Confessiones atau Pengakuan-Pengakuan, De Civitate Dei atau Kota Allah, serta De Trinitate atau Tentang Tritunggal.
Melalui tulisan tersebut, Agustinus berbicara tentang manusia, Tuhan, dosa, rahmat, Gereja, sejarah, dan kehidupan.
Ia tidak hanya berbicara sebagai seorang pemikir.
Ia menulis berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.
Itulah yang membuat kisahnya terasa dekat.
Agustinus pernah mengalami kelemahan. Ia pernah mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri. Ia pernah merasa gelisah.
Namun, semua pengalaman itu kemudian ia lihat dalam terang iman.
Hati Manusia yang Gelisah
Salah satu pesan Agustinus yang terus dikenang berkaitan dengan hati manusia yang tidak pernah benar-benar tenang sebelum menemukan Tuhan.
Dalam Confessiones, ia menggambarkan kerinduan tersebut dengan sangat kuat.
Manusia dapat mencari kebahagiaan melalui banyak hal.
Ada yang mengejar harta. Ada yang mencari kedudukan. Ada yang mengejar popularitas. Ada pula yang menghabiskan hidup untuk mendapatkan pengakuan.
Namun, semua itu belum tentu memberikan ketenangan batin.
Pengalaman Agustinus menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam.
Ia membutuhkan Tuhan.
Pesan ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang.
Kemajuan teknologi membuat manusia semakin mudah mendapatkan banyak hal. Informasi tersedia hampir tanpa batas. Komunikasi berlangsung cepat.
Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis membuat hati manusia tenang.
Seseorang dapat memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian.
Ia dapat memiliki banyak pengetahuan, tetapi masih bingung menentukan arah hidup.
Ia dapat memiliki kesuksesan, tetapi belum tentu menemukan kedamaian.
Di sinilah pesan Santo Agustinus kembali berbicara.
Ketenangan tidak hanya berasal dari apa yang dimiliki. Kedamaian juga berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan.
Pertobatan Mengubah Arah Hidup
Kisah Agustinus menjadi bukti bahwa masa lalu bukan akhir dari kehidupan.
Ia pernah menjalani masa yang jauh dari kehidupan iman. Namun, ia tidak berhenti di sana.
Pertobatan membuat arah hidupnya berubah.
Perubahan itu kemudian menghasilkan buah besar bagi Gereja.
Ia menjadi imam.
Ia menjadi uskup.
Ia menjadi penulis.
Ia menjadi guru iman.
Pemikirannya bahkan bertahan selama berabad-abad.
Kisah tersebut memberikan harapan bagi orang yang merasa hidupnya jauh dari Tuhan.
Pertobatan tidak mengenal kata terlambat.
Selama manusia masih memiliki kesempatan untuk berubah, pintu menuju kehidupan baru tetap terbuka.
Namun, perubahan membutuhkan keberanian.
Seseorang harus berani melihat dirinya sendiri.
Ia perlu mengakui kesalahan.
Ia juga harus bersedia meninggalkan kebiasaan yang membuat dirinya semakin jauh dari kebaikan.
Agustinus menjalani proses tersebut.
Karena itu, kisahnya bukan cerita tentang manusia yang sejak awal sempurna.
Justru sebaliknya.
Ia menjadi teladan karena pernah bergumul dan kemudian memilih berubah.
Teladan bagi Generasi Sekarang
Bagi umat Katolik saat ini, Santo Agustinus dapat menjadi teladan dalam banyak hal.
Ia menunjukkan pentingnya mencari kebenaran.
Ia juga mengajarkan bahwa kecerdasan harus digunakan untuk tujuan yang baik.
Pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan memahami sesuatu. Pengetahuan seharusnya membawa manusia kepada kebijaksanaan.
Kebijaksanaan membantu seseorang menentukan apa yang benar dan baik.
Dalam kehidupan anak muda, pesan tersebut menjadi penting.
Generasi sekarang memiliki akses luas terhadap informasi. Mereka dapat belajar dari berbagai sumber. Mereka juga dapat menyampaikan pendapat dengan mudah.
Namun, banyaknya informasi tidak selalu berarti banyaknya kebijaksanaan.
Karena itu, umat perlu belajar menyaring informasi.
Iman juga perlu terus diperdalam.
Santo Agustinus memberikan contoh bahwa pencarian intelektual dan kehidupan iman dapat berjalan bersama.
Ia tidak takut bertanya.
Ia tidak berhenti mencari.
Pada akhirnya, pencarian tersebut membawanya semakin dekat kepada Tuhan.
Nama yang Menjadi Identitas Paroki
Nama Santo Agustinus juga menjadi bagian dari identitas Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.
Karena itu, peringatan setiap 28 Agustus memiliki arti tersendiri bagi komunitas umat.
Peringatan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenal tokoh yang menjadi pelindung paroki.
Umat tidak hanya mengenal namanya.
Mereka dapat mempelajari perjalanan hidupnya.
Dari sana, teladan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertobatan menjadi salah satu pesan utama.
Selain itu, ada kerinduan kepada Tuhan, kecintaan terhadap kebenaran, semangat belajar, serta kesediaan melayani.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan.
Kehidupan gereja tidak hanya membutuhkan orang yang aktif dalam kegiatan. Gereja juga membutuhkan umat yang terus bertumbuh dalam iman.
Pertumbuhan tersebut dimulai dari hati.
Santo Agustinus dan Kehidupan Keluarga
Kisah Agustinus juga memiliki hubungan kuat dengan kehidupan keluarga.
Santa Monika menunjukkan bagaimana seorang ibu dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan iman anak.
Doanya tidak langsung mengubah keadaan.
Namun, ia tidak menyerah.
Teladan itu dapat menjadi inspirasi bagi orang tua.
Anak-anak membutuhkan pendampingan. Mereka juga membutuhkan teladan.
Kata-kata saja tidak selalu cukup.
Kehidupan orang tua menjadi contoh yang dapat dilihat setiap hari.
Karena itu, keluarga menjadi tempat pertama untuk menanamkan iman.
Doa bersama, percakapan, perhatian, dan teladan hidup dapat membantu anak mengenal nilai-nilai Kristiani.
Kisah Santa Monika dan Agustinus memperlihatkan bahwa proses tersebut membutuhkan kesabaran.
Wafat, Tetapi Warisannya Bertahan
Santo Agustinus wafat pada 28 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun.
Hari wafatnya kemudian menjadi tanggal peringatan bagi Gereja.
Meskipun telah meninggal lebih dari 1.500 tahun lalu, namanya tetap dikenal.
Karya-karyanya masih dibaca.
Pemikirannya masih dipelajari.
Kisah pertobatannya masih diceritakan.
Doanya masih digunakan dalam kehidupan umat.
Pada tahun 1303, Agustinus dinyatakan sebagai Doktor Gereja oleh Paus Bonifasius VIII.
Gelar tersebut menunjukkan besarnya pengaruh pemikirannya terhadap kehidupan Gereja.
Namun, warisan terbesar Agustinus bukan hanya jumlah buku yang ditulis.
Warisan itu terletak pada kesaksiannya.
Ia menunjukkan bahwa manusia dapat berubah.
Ia menunjukkan bahwa pencarian kebenaran membutuhkan ketekunan.
Ia juga menunjukkan bahwa hati yang gelisah dapat menemukan ketenangan ketika kembali kepada Tuhan.
Menjawab Kegelisahan Zaman
Kehidupan modern menghadirkan banyak pilihan.
Manusia dapat memilih pekerjaan, tempat tinggal, gaya hidup, pendidikan, bahkan cara berkomunikasi.
Namun, banyak pilihan juga dapat menimbulkan kebingungan.
Seseorang bisa kehilangan arah ketika terlalu banyak mengikuti keinginan.
Di tengah keadaan tersebut, Santo Agustinus mengajak manusia kembali pada pertanyaan dasar.
Untuk apa hidup ini dijalani?
Apa yang sebenarnya dicari?
Di mana manusia menemukan kebahagiaan?
Pertanyaan itu tidak selalu mudah dijawab.
Agustinus sendiri membutuhkan waktu panjang untuk menemukan jawabannya.
Namun, ia akhirnya memahami bahwa pencarian manusia bermuara pada Tuhan.
Karena itu, peringatan Santo Agustinus dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak.
Umat diajak melihat perjalanan hidup masing-masing.
Ada hal yang perlu dipertahankan.
Ada pula yang harus diperbaiki.
Pertobatan tidak hanya dilakukan sekali.
Setiap hari manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Menjadi Terang bagi Sesama
Santo Agustinus pernah hidup dalam kegelapan pencarian.
Namun, setelah mengalami pertobatan, hidupnya justru menjadi terang bagi banyak orang.
Ia menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk membantu Gereja.
Ia menulis untuk menjelaskan iman.
Ia berkhotbah untuk membimbing umat.
Ia melayani sebagai uskup.
Ia juga meninggalkan warisan pemikiran yang terus hidup.
Teladan itu mengajak umat menggunakan kemampuan masing-masing untuk kebaikan.
Tidak semua orang harus menjadi penulis atau teolog.
Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menjadi berkat.
Seorang guru dapat mendidik dengan ketulusan.
Orang tua dapat mendampingi anak.
Anak muda dapat menggunakan teknologi secara bijaksana.
Pemimpin komunitas dapat melayani dengan rendah hati.
Semua bentuk pelayanan tersebut dapat menjadi jalan menghadirkan terang.
Doa Menjadi Penutup
Peringatan Santo Agustinus akhirnya membawa umat kepada doa.
Bukan hanya doa untuk mengenang seorang santo, tetapi juga permohonan agar umat mampu mengikuti teladannya.
Umat diajak merindukan Tuhan sebagai sumber kebijaksanaan.
Mereka juga diajak mencari Allah sebagai sumber cinta.
Perjalanan Agustinus mengajarkan bahwa manusia dapat tersesat, tetapi tidak harus selamanya tinggal dalam kesesatan.
Manusia dapat jatuh, tetapi masih dapat bangkit.
Manusia dapat gelisah, tetapi masih dapat menemukan kedamaian.
Semua itu membutuhkan keterbukaan terhadap rahmat Allah.
“Tuhan, semoga kami merindukan Dikau, sumber kebijaksanaan sejati, dan mencari Engkau, asal segala cinta Ilahi.”
Doa tersebut menjadi ajakan sederhana untuk kembali kepada Tuhan.
Santo Agustinus telah menunjukkan jalan itu melalui hidupnya.
Ia pernah mencari kebahagiaan di banyak tempat.
Pada akhirnya, ia menemukan bahwa hatinya membutuhkan Tuhan.
Santo Agustinus Tetap Relevan
Setiap tanggal 28 Agustus, Gereja mengenang Santo Agustinus.
Namun, makna peringatannya tidak berhenti pada kalender liturgi.
Kisahnya dapat menjadi cermin bagi setiap orang.
Ketika hidup terasa gelisah, manusia diajak mencari sumber ketenangan yang benar.
Ketika melakukan kesalahan, manusia diajak berani bertobat.
Ketika memiliki pengetahuan, manusia diajak menggunakannya untuk kebaikan.
Ketika memperoleh kemampuan, manusia diajak melayani.
Dan ketika merasa jauh dari Tuhan, manusia diajak kembali.
Itulah salah satu pesan kuat dari kehidupan Santo Agustinus.
Ia bukan teladan karena tidak pernah salah.
Ia menjadi teladan karena berani berubah.
Dari kehidupan yang penuh pencarian, ia menemukan arah.
Dari kegelisahan, ia menemukan ketenangan.
Dari pengalaman pribadi, lahir kesaksian yang menguatkan Gereja.
Bagi umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, kisah tersebut menjadi bagian dari identitas iman komunitas.
Peringatan Santo Agustinus pada 28 Agustus menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan semangat pertobatan, memperdalam iman, serta membangun kerinduan kepada Tuhan.
Sebagaimana perjalanan Agustinus, kehidupan setiap manusia juga masih terus berlangsung.
Masih ada kesempatan untuk belajar.
Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Masih ada kesempatan untuk mengasihi.
Dan masih ada kesempatan untuk kembali kepada Tuhan.
Santo Agustinus, doakanlah kami.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 28 Agustus 2026


0 comments:
Posting Komentar