Ketapang, 5 Agustus 2026.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, menggelar Misa Syukur Ulang Tahun ke-53 Ibu Sutarti Rahayu pada Rabu (5/8/2026) pukul 18.30 WIB. Perayaan Ekaristi berlangsung di rumah Ibu Sutarti Rahayu yang beralamat di Jalan Gatot Subroto, BTN Sukaharja Indah II Nomor 14A, Ketapang, dan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Misa dihadiri umat Lingkungan Santa Lusia, kerabat dari berbagai lingkungan, para suster, keluarga, serta sahabat yang datang untuk memanjatkan syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan keluarga.
Perayaan tersebut menjadi momen penuh sukacita karena bertepatan dengan hari ulang tahun Ibu Sutarti Rahayu, yang lahir pada 5 Agustus 1973. Tepat pada 5 Agustus 2026, beliau genap berusia 53 tahun. Pertambahan usia dimaknai sebagai anugerah Allah yang patut disyukuri melalui Perayaan Ekaristi bersama keluarga, sanak saudara, dan umat.
Sejak sore hari, umat mulai berdatangan ke rumah Ibu Sutarti Rahayu yang beralamat di Jalan Gatot Subroto, BTN Sukaharja Indah II Nomor 14A, Ketapang. Mereka disambut hangat oleh keluarga yang telah mempersiapkan tempat ibadat dengan tertata rapi. Ruang perayaan ditata sederhana namun penuh makna. Sebuah altar dihiasi salib, lilin, bunga, serta perlengkapan liturgi sehingga menghadirkan suasana doa yang tenang dan khusyuk.
Kedatangan umat dari berbagai lingkungan menunjukkan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja. Mereka hadir tidak hanya untuk mengikuti misa, tetapi juga memberikan dukungan, doa, dan ucapan syukur kepada keluarga yang merayakan hari istimewa tersebut. Kehangatan terasa sejak para tamu saling menyapa dan berbagi cerita sebelum perayaan dimulai.
Beberapa anggota lingkungan datang lebih awal untuk membantu mempersiapkan perlengkapan liturgi, mengatur tempat duduk, memastikan tata suara berfungsi dengan baik, serta menata konsumsi yang akan dinikmati bersama setelah misa selesai. Semangat gotong royong tampak nyata sebagai wujud kebersamaan umat di tingkat lingkungan.
Tepat pukul 19.00 WIB, Sampai selesai.Perayaan Ekaristi,yang dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Suasana berubah semakin hening ketika imam bersiap memulai ibadat sambil diiringi lagu pembuka yang dinyanyikan penuh penghayatan.
Seluruh nyanyian liturgi dipimpin oleh Ibu Maria Suharyati. Lagu-lagu pujian dibawakan dengan suara yang merdu dan mengajak umat ikut bernyanyi bersama. Iringan tersebut membantu seluruh peserta memusatkan hati kepada Tuhan serta mempersiapkan diri mengikuti setiap rangkaian liturgi.
Tugas membawakan Mazmur Tanggapan dipercayakan kepada Ibu Efriana Pipin. Mazmur dilantunkan dengan penuh penghayatan sehingga memperdalam permenungan umat atas Sabda Tuhan yang telah dibacakan.
Sementara itu, Saudari Silpa Kurnianti menjalankan tugas sebagai lektor. Ia membacakan bacaan pertama dengan suara jelas, intonasi yang baik, serta penghayatan yang mendalam. Cara penyampaiannya membantu umat memahami isi Kitab Suci yang menjadi dasar renungan pada malam itu.
Di antara peserta tampak hadir pula para suster yang ikut berdoa bersama. Kehadiran mereka memberikan semangat rohani bagi seluruh umat. Selain itu, kerabat dari berbagai lingkungan turut memenuhi tempat ibadat sehingga suasana semakin hangat dan penuh persaudaraan.
Perayaan malam itu menjadi bukti bahwa kehidupan menggereja tidak hanya diwujudkan melalui ibadat di gedung gereja, tetapi juga melalui persekutuan umat di lingkungan. Rumah keluarga menjadi tempat berkumpul untuk mendengarkan Sabda Tuhan, merayakan Ekaristi, dan mempererat hubungan antarsesama.
Dalam kata pengantar, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak seluruh umat memusatkan hati kepada Tuhan yang selalu menyertai perjalanan hidup manusia. Beliau mengingatkan bahwa setiap kesempatan berkumpul dalam Perayaan Ekaristi merupakan rahmat yang patut disyukuri.
Menurut beliau, kehidupan setiap orang dipenuhi berbagai pengalaman, baik sukacita maupun tantangan. Semua itu menjadi bagian dari proses pertumbuhan iman. Oleh sebab itu, misa syukur ulang tahun bukan sekadar tradisi keluarga, melainkan ungkapan iman bahwa seluruh kehidupan berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.
Ajakan tersebut disambut dengan penuh perhatian oleh seluruh peserta. Keheningan menyelimuti ruangan ketika doa pembuka dipanjatkan. Setiap umat mengikuti liturgi dengan sikap hormat dan khusyuk.
Bacaan pertama diambil dari Kitab Yeremia 31:1–7. Firman Tuhan menyampaikan janji pemulihan bagi bangsa Israel yang pernah mengalami penderitaan dan pembuangan. Allah menegaskan bahwa kasih-Nya tidak pernah berakhir.
"Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."
Ayat tersebut menjadi pusat pewartaan bacaan pertama. Melalui Nabi Yeremia, Allah memberikan harapan kepada umat-Nya bahwa penderitaan bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Tuhan tetap setia mendampingi orang-orang yang berharap kepada-Nya.
Firman itu juga menggambarkan bagaimana Allah akan membangun kembali umat-Nya. Sukacita akan menggantikan tangisan. Kehidupan akan dipulihkan. Umat kembali menari, bekerja, menikmati hasil kebun anggur, serta memuji Tuhan di Gunung Sion. Janji tersebut memperlihatkan kasih Allah yang tidak pernah berubah meskipun manusia sering mengalami kelemahan.
Pesan Kitab Yeremia memiliki makna yang sangat dekat dengan tema syukur ulang tahun. Bertambahnya usia menjadi bukti bahwa Allah terus memelihara kehidupan umat-Nya. Setiap tahun yang dilewati merupakan kesempatan baru untuk merasakan kasih setia Tuhan yang tidak pernah berkesudahan.
Sesudah bacaan pertama, umat bersama-sama menyanyikan Mazmur Tanggapan yang dipimpin oleh Ibu Efriana Pipin. Suara umat bergema memenuhi ruangan, menciptakan suasana doa yang semakin mendalam.
Liturgi Sabda dilanjutkan dengan pembacaan Injil menurut Matius 15:21–28. Seluruh peserta berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Sabda Tuhan.
Perikop Injil mengisahkan seorang perempuan Kanaan yang memohon kesembuhan bagi putrinya. Walaupun menghadapi penolakan, ia tetap percaya kepada Yesus. Keteguhan iman dan kerendahan hatinya akhirnya memperoleh jawaban. Tuhan mengabulkan permohonannya dan menyembuhkan anaknya.
Kisah tersebut menjadi pengantar yang sangat tepat menuju homili RP. Vitalis Nggeal, CP. Seluruh umat mendengarkan pembacaan Injil dengan penuh perhatian sambil mempersiapkan hati menerima penjelasan Sabda Tuhan.
Suasana malam itu semakin khusyuk. Keheningan memenuhi ruang perayaan ketika imam bersiap menyampaikan homili. Seluruh perhatian umat tertuju kepada altar, menantikan pesan rohani yang akan memperdalam makna bacaan Kitab Suci sekaligus menguatkan semangat syukur keluarga Ibu Sutarti Rahayu atas penyertaan Tuhan sepanjang lima puluh tiga tahun perjalanan hidupnya.
Mengawali homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP menyampaikan salam kepada seluruh umat yang memenuhi rumah Ibu Sutarti Rahayu. Dengan sapaan hangat, beliau mengajak semua yang hadir membuka hati untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
"Selamat malam Bapak, Ibu, para Suster, dan adik-adik yang dikasihi Tuhan," sapa beliau, yang langsung disambut perhatian penuh dari seluruh peserta.
Imam kemudian mengajak umat merenungkan Kitab Yeremia 31:1–7 yang menjadi bacaan pertama pada perayaan tersebut. Menurut beliau, firman Tuhan dalam kitab itu merupakan ungkapan kasih Allah yang tidak pernah berakhir kepada umat pilihan-Nya. Bangsa Israel pernah mengalami penderitaan, peperangan, pembuangan, serta kehilangan harapan. Namun, di tengah keadaan yang sulit itu, Tuhan tetap hadir membawa janji pemulihan.
Beliau menjelaskan bahwa Allah tidak meninggalkan umat ketika mereka berada dalam kesusahan. Sebaliknya, Tuhan terus menyatakan kasih-Nya melalui janji keselamatan dan kehidupan baru.
Mengutip firman Tuhan, beliau menegaskan bahwa kalimat "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal" menjadi pusat pewartaan bacaan pertama. Kasih Allah tidak bergantung pada keadaan manusia. Kesetiaan-Nya tidak berubah meskipun umat sering jatuh dalam kelemahan.
Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP, pengalaman bangsa Israel memberikan pelajaran berharga bagi setiap orang beriman. Dalam perjalanan hidup, manusia sering menghadapi kegagalan, kehilangan, sakit, maupun berbagai persoalan yang menguji iman. Kendati demikian, Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya.
Beliau mengingatkan bahwa penderitaan bukan tanda Allah menjauh. Sebaliknya, setiap pengalaman hidup dapat menjadi kesempatan untuk semakin mengenal kasih Tuhan yang bekerja secara nyata dalam kehidupan manusia.
Firman Tuhan melalui Nabi Yeremia juga menggambarkan pemulihan yang diberikan kepada Israel. Bangsa yang pernah tercerai-berai dipersatukan kembali. Mereka memperoleh sukacita setelah melalui masa dukacita. Mereka kembali menari, membangun kehidupan, menanam kebun anggur, dan menikmati hasil jerih payahnya.
Bagi RP. Vitalis Nggeal, CP, gambaran tersebut menunjukkan bahwa Allah selalu membuka masa depan bagi orang yang berharap kepada-Nya. Tidak ada luka yang terlalu dalam untuk dipulihkan oleh kasih Tuhan.
Beliau kemudian menghubungkan pesan Kitab Yeremia dengan makna ulang tahun yang dirayakan malam itu.
Menurut beliau, pertambahan usia bukan sekadar bertambahnya angka dalam hitungan waktu. Setiap tahun merupakan bukti nyata bahwa Tuhan tetap memelihara kehidupan manusia.
"Ketika kita merayakan ulang tahun, sesungguhnya kita sedang mengenangkan penyertaan Tuhan yang luar biasa. Semua yang kita miliki merupakan buah kasih Allah," ungkap beliau.
Imam mengajak seluruh umat melihat kembali perjalanan hidup masing-masing. Setiap pengalaman, baik yang menggembirakan maupun yang penuh tantangan, merupakan bagian dari penyelenggaraan Tuhan.
Beliau menegaskan bahwa kesehatan, pekerjaan, keluarga, sahabat, dan kesempatan berkumpul dalam doa merupakan anugerah yang tidak boleh dianggap biasa.
Dalam kesempatan itu, RP. Vitalis Nggeal, CP mengajak umat bersyukur bersama Ibu Sutarti Rahayu yang genap berusia 53 tahun.
Perjalanan hidup selama lebih dari lima dasawarsa dipandang sebagai bukti kasih setia Allah yang terus menyertai dirinya.
Beliau juga menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan keluarga yang senantiasa menjadi tempat bertumbuhnya iman.
Ucapan syukur turut ditujukan kepada suami beliau, Bapak Jeno Leo, yang melayani Gereja sebagai Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP). Menurut imam, pelayanan di tengah umat merupakan bentuk nyata tanggapan atas kasih Tuhan yang telah diterima sepanjang hidup.
Beliau mengajak seluruh peserta memberikan dukungan doa agar keluarga tetap diberi kesehatan, kebijaksanaan, kerukunan, dan semangat melayani Gereja.
Dalam homili tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP juga mengajak umat bersyukur atas kesehatan putri mereka, Saudari Evangelia Tuko, S.Pd., M.Pd.. Kehadiran anak dalam keluarga disebut sebagai salah satu berkat terbesar yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua.
Beliau berharap seluruh anggota keluarga terus bertumbuh dalam iman, saling mengasihi, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.
Memasuki penjelasan Injil, imam mengajak umat memperhatikan kisah perempuan Kanaan yang datang memohon pertolongan kepada Yesus.
Menurut beliau, pada masa itu hubungan antara bangsa Israel dan bangsa Kanaan tidak harmonis. Orang Kanaan sering dipandang sebagai bangsa asing yang tidak termasuk dalam kelompok umat pilihan.
Keadaan tersebut membuat perempuan itu menghadapi tembok sosial dan budaya ketika datang kepada Yesus.
Namun, ia tidak membiarkan keadaan menghalangi imannya.
Ia tetap percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkan putrinya yang sedang menderita.
Ketika Yesus belum memberikan jawaban, perempuan itu tetap bertahan.
Ia tidak pergi.
Ia tidak kehilangan harapan.
Ia terus memohon dengan penuh kerendahan hati.
Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP, sikap tersebut menjadi teladan bagi setiap orang beriman.
Doa yang baik bukan hanya soal meminta.
Doa juga mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kepercayaan kepada waktu Tuhan.
Beliau menjelaskan bahwa dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan sering dipahami secara keliru apabila dibaca sepintas.
Ungkapan mengenai roti dan anjing bukan dimaksudkan untuk merendahkan seseorang.
Melalui percakapan itu, Yesus justru memperlihatkan keteguhan iman perempuan tersebut di hadapan para murid.
Jawaban perempuan Kanaan menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa.
Ia tidak membalas dengan kemarahan.
Ia tidak merasa tersinggung.
Sebaliknya, ia tetap percaya kepada belas kasih Kristus.
Iman seperti itulah yang akhirnya memperoleh jawaban.
"Hai ibu, besar imanmu. Jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki."
Menurut RP. Vitalis Nggeal, CP, kalimat tersebut menjadi bukti bahwa Allah memandang iman, bukan asal-usul seseorang.
Beliau menegaskan bahwa keselamatan yang dibawa Kristus terbuka bagi semua orang.
"Tuhan Yesus hadir untuk semua suku bangsa. Tuhan Yesus adalah Allah semua orang," tegas beliau.
Pesan itu mengajak umat menghilangkan sikap membeda-bedakan sesama.
Gereja dipanggil menjadi rumah bersama yang menerima setiap orang tanpa melihat latar belakang suku, budaya, maupun status sosial.
Beliau mengingatkan bahwa pewartaan Injil tidak boleh dilakukan dengan memilih-milih orang yang akan dilayani.
Kasih Kristus harus menjangkau siapa pun yang membutuhkan.
Sikap terbuka tersebut menjadi ciri utama kehidupan orang beriman.
Dalam kehidupan sehari-hari, lanjut beliau, umat sering bertemu dengan orang yang berbeda agama, budaya, bahasa, maupun kebiasaan.
Perbedaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk menolak atau merendahkan sesama.
Sebaliknya, setiap orang dipanggil menghadirkan kasih, penghormatan, dan persaudaraan.
Beliau mengajak umat menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk belajar mengasihi tanpa syarat.
Rumah tangga hendaknya menjadi sekolah iman yang mengajarkan doa, pengampunan, kesabaran, dan kepedulian.
Nilai-nilai tersebut akan membentuk pribadi yang mampu menjadi berkat bagi masyarakat.
Mengakhiri homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP kembali mengajak seluruh peserta mengucapkan syukur atas penyertaan Tuhan yang dialami keluarga Ibu Sutarti Rahayu.
Beliau berharap pertambahan usia menjadi kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam iman, memperkuat pelayanan, memelihara persaudaraan, dan memperbanyak karya kasih.
Imam juga mengajak seluruh umat menjadikan pesan Kitab Yeremia dan Injil Matius sebagai pedoman hidup. Kasih Allah bersifat kekal, sedangkan keselamatan-Nya terbuka bagi semua orang yang datang kepada-Nya dengan iman yang teguh.
Ajakan tersebut diterima dengan penuh perhatian oleh seluruh umat. Keheningan memenuhi ruangan beberapa saat setelah homili berakhir. Setiap peserta tampak merenungkan pesan yang baru saja didengar sebelum liturgi dilanjutkan dengan Doa Umat dan Liturgi Ekaristi.
Suasana doa yang mendalam malam itu memperlihatkan bahwa Perayaan Ekaristi bukan sekadar mengenang hari kelahiran seseorang, melainkan kesempatan memperbarui iman, memperteguh harapan, serta mengucapkan syukur atas kasih Allah yang terus menyertai setiap langkah kehidupan.
Setelah Perayaan Ekaristi berakhir, umat mengikuti doa penutup dengan penuh khidmat sebelum memasuki acara ramah tamah. Suasana kekeluargaan semakin terasa ketika seluruh hadirin saling menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Ibu Sutarti Rahayu serta doa agar senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, damai sejahtera, kebijaksanaan, dan kekuatan untuk terus mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.
Sebelum menikmati hidangan yang telah dipersiapkan keluarga, Suster Stela, O.S.A. memimpin doa makan. Dalam doanya, beliau mengajak seluruh umat bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan yang selalu mencukupi kebutuhan hidup, sekaligus memohon berkat bagi keluarga Ibu Sutarti Rahayu dan Bapak Jeno Leo, agar senantiasa dilimpahi kasih, persatuan, kesehatan, serta semangat melayani Gereja dan sesama.
Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dalam suasana penuh keakraban. Umat dari Lingkungan Santa Lusia, kerabat dari berbagai lingkungan, para suster, serta keluarga besar menikmati kebersamaan sambil berbincang dan saling mempererat tali persaudaraan. Momen tersebut menjadi wujud nyata kehidupan menggereja yang bertumpu pada doa, persaudaraan, dan semangat saling mendukung.
Perayaan syukur itu meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Melalui Sabda Tuhan yang diwartakan, homili RP. Vitalis Nggeal, CP, serta kebersamaan dalam Ekaristi, umat kembali diingatkan bahwa kasih Allah bersifat kekal dan keselamatan-Nya terbuka bagi semua orang tanpa membedakan suku, budaya, maupun latar belakang. Pertambahan usia Ibu Sutarti Rahayu menjadi pengingat bahwa setiap tahun kehidupan merupakan anugerah yang patut disyukuri, sekaligus kesempatan untuk semakin bertumbuh dalam iman, memperkuat pelayanan, dan menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga, Gereja, serta masyarakat.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Agustus 2026


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar