Ketapang, 22 Juli 2026.Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio
Kalimantan yang diselenggarakan di Catholic Center Keuskupan Ketapang
pada 20–22 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik di
Pulau Kalimantan dalam memperkuat pelayanan komunikasi sosial yang profesional,
berintegritas, dan berakar pada semangat Injil. Mengusung tema "Semakin
Tangguh dalam Berbelaskasih kepada Sesama yang Menderita," kegiatan
ini mempertemukan para pegiat Komunikasi Sosial (Komsos) dari berbagai
keuskupan di Regio Kalimantan untuk memperdalam spiritualitas pewartaan
sekaligus meningkatkan kompetensi di bidang jurnalistik, fotografi, videografi,
wawancara empatik, serta produksi konten digital sebagai sarana evangelisasi di
tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Selama tiga hari penyelenggaraan, para peserta mengikuti berbagai kegiatan
yang memadukan pembinaan rohani dengan pelatihan praktis. Pertemuan ini tidak
hanya menjadi wadah peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi ruang
membangun jejaring persaudaraan antarpegiat Komsos dari berbagai keuskupan.
Melalui kebersamaan tersebut, para peserta diajak memperkuat komitmen untuk
menghadirkan karya komunikasi yang mampu membawa harapan, memperjuangkan
kebenaran, dan menyuarakan kasih Kristus kepada masyarakat, khususnya mereka
yang mengalami penderitaan.
Hari kedua kegiatan, Selasa, 21 Juli 2026, diawali dengan Perayaan Ekaristi Pagi yang berlangsung pukul 06.00–07.00 WIB di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, Paya Kumang. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR dengan bacaan Injil Matius 12:46–50 pada pesta Santo Laurensius dari Brindisi dengan warna liturgi hijau.
Dalam homilinya, RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR mengangkat tema Injil
mengenai keluarga sejati menurut Yesus. Ketika Yesus berkata, "Siapa
ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?", Ia tidak sedang menolak
keluarga-Nya menurut hubungan darah, melainkan memperluas makna keluarga
menjadi semua orang yang melaksanakan kehendak Allah. Pesan Injil tersebut
menjadi refleksi yang sangat relevan bagi para peserta Pertemuan Komsos Regio
Kalimantan yang datang dari berbagai keuskupan, budaya, dan latar belakang
pelayanan.
RP. Dominikus Maxi Bulu, CSsR menjelaskan bahwa pelayanan Komunikasi
Sosial merupakan bagian dari karya evangelisasi Gereja yang membangun
persaudaraan rohani. Melalui media komunikasi, umat dipersatukan bukan hanya
karena hubungan biologis, tetapi karena memiliki iman, tujuan, dan semangat
pelayanan yang sama. Di era digital, jejaring komunikasi menjadi sarana
memperluas persaudaraan sehingga Gereja semakin mampu hadir di tengah
masyarakat melalui informasi yang benar, membangun, dan membawa pengharapan.
Beliau juga mengajak seluruh peserta agar menggunakan media sosial,
website, video, foto, dan berbagai platform digital sebagai sarana pewartaan
Injil. Menurutnya, teknologi hendaknya dipakai untuk menyebarkan nilai-nilai
kasih, mempererat persaudaraan, membangun solidaritas, dan menjadi ruang
perjumpaan yang menghadirkan wajah Gereja yang ramah kepada semua orang.
Pesan tersebut selaras dengan tema besar pertemuan, "Semakin
Tangguh dalam Berbelaskasih kepada Sesama yang Menderita." Tema ini
mengajak seluruh pegiat Komunikasi Sosial untuk tidak hanya menguasai kemampuan
teknis dalam menghasilkan berita, foto, maupun video, tetapi juga memiliki hati
yang peka terhadap berbagai persoalan kehidupan umat. Pewarta Gereja dipanggil
untuk menjadi mata yang melihat penderitaan, telinga yang mau mendengarkan, dan
suara yang membawa harapan bagi mereka yang membutuhkan perhatian.
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan Sesi II: Dasar
Jurnalistik dan Menulis Berita Cepat yang dipandu oleh Severianus Endi. Dalam sesi ini peserta diperkenalkan kembali
pada prinsip dasar jurnalistik melalui konsep 5W + 1H, yaitu Who,
What, When, Where, Why, dan How. Keenam unsur tersebut menjadi
fondasi utama dalam menghasilkan berita yang lengkap, akurat, dan mudah
dipahami pembaca.
Severianus Endi menegaskan bahwa seorang pewarta Gereja harus mampu
menulis berita dengan struktur Piramida Terbalik, yakni menempatkan
informasi terpenting pada paragraf pertama. Lead harus menjawab unsur siapa,
apa, kapan, dan di mana, sedangkan bagian tubuh berita menjelaskan kronologi,
latar belakang, serta alasan terjadinya suatu peristiwa. Informasi tambahan ditempatkan
pada bagian akhir sehingga berita tetap utuh meskipun bagian penutup
dipersingkat oleh editor.
Selain memahami teknik penulisan, peserta juga mempelajari bagaimana
menyusun judul yang menarik, ringkas, aktif, dan tetap mencerminkan isi berita
secara akurat. Menurut pemateri, judul merupakan pintu pertama yang menentukan
ketertarikan pembaca sehingga harus disusun dengan cermat tanpa mengorbankan
nilai kebenaran.
Pelatihan kemudian berlanjut pada materi Etika Peliputan Pastoral.
Dalam sesi ini peserta diingatkan bahwa jurnalis Gereja memiliki tanggung jawab
moral untuk menghormati kesakralan liturgi. Mereka harus berpakaian sopan,
berkoordinasi dengan pastor paroki sebelum melakukan peliputan, memahami tata
liturgi, menjaga ketenangan selama Misa berlangsung, tidak menggunakan lampu
kilat, serta menghormati privasi umat ketika menerima Sakramen Ekaristi maupun
Sakramen Tobat.
Bagi Gereja, dokumentasi bukanlah tujuan utama. Dokumentasi menjadi sarana
untuk mendukung pewartaan tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah. Oleh sebab itu,
setiap pegiat Komunikasi Sosial diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara
profesionalisme jurnalistik dan penghormatan terhadap nilai-nilai pastoral
Gereja.Banyak Pertanyaan yang Muncul Pada Sesi ini setiap Peserta Mendapatkan
Hadiah Permen dari Nara sumber untuk yang bertanya dan bisa menjawab Pertanyaan
Memasuki sesi berikutnya, peserta mengikuti materi Seni Wawancara
Empatik yang dibawakan oleh Severianus Endi. Materi ini mengajak
seluruh peserta memahami bahwa wawancara bukan sekadar kegiatan mengajukan
pertanyaan dan memperoleh jawaban, melainkan sebuah proses membangun relasi
yang dilandasi penghormatan terhadap martabat manusia. Seorang pewawancara
dituntut mampu menciptakan suasana yang aman sehingga narasumber merasa nyaman
untuk berbagi pengalaman, pergumulan, maupun harapannya secara terbuka.
Dalam paparannya, Severianus Endi menegaskan bahwa pewarta Gereja tidak
boleh datang sebagai hakim ataupun penyelidik. Sebaliknya, mereka dipanggil
menjadi pendengar yang baik, mampu memberikan perhatian penuh, menjaga kontak
mata, serta menghargai setiap cerita yang disampaikan narasumber. Melalui
pendekatan empatik, kisah-kisah sederhana umat dapat diangkat menjadi berita
yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati pembaca maupun
penonton.
Peserta juga diajak memahami pentingnya menghindari pertanyaan yang
menghakimi, memotong pembicaraan narasumber, ataupun memaksakan sudut pandang
pribadi. Seorang pewarta yang baik justru mampu membangun dialog yang setara
sehingga narasumber merasa dihargai sebagai pribadi yang memiliki martabat.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pelayanan Komunikasi Sosial
Gereja yang mengedepankan kasih, penghormatan, dan kejujuran dalam setiap karya
jurnalistik.
Semangat tersebut selaras dengan tema "Semakin Tangguh dalam
Berbelaskasih kepada Sesama yang Menderita." Belas kasih tidak hanya
diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui kesediaan mendengarkan
kisah hidup sesama dengan hati yang terbuka. Dalam dunia komunikasi, sikap
empatik menjadi jembatan yang menghubungkan pewarta dengan umat sehingga berita
yang dihasilkan benar-benar menghadirkan wajah Gereja yang peduli terhadap
setiap orang.
Setelah sesi wawancara empatik, kegiatan berlanjut dengan materi Dasar-Dasar
Videografi yang dipandu oleh Kornelius Budi Prasetyo. Materi ini
membekali peserta dengan pemahaman mengenai pentingnya bahasa visual dalam
menyampaikan pesan-pesan Gereja kepada masyarakat luas. Di era digital, gambar
dan video menjadi media yang sangat efektif untuk menjangkau berbagai kalangan,
khususnya generasi muda yang akrab dengan media sosial.
Dalam pelatihan tersebut peserta mempelajari berbagai jenis pengambilan
gambar, mulai dari long shot, full shot, medium shot,
hingga medium close up. Selain itu dijelaskan pula pentingnya komposisi
visual, pengaturan looking space, psikologi sudut kamera, teknik panning
dan tilt, serta penerapan 180-degree rule agar hasil video tetap nyaman
ditonton dan memiliki kesinambungan visual.
Kornelius Budi Prasetyo menekankan bahwa setiap gambar harus mampu
bercerita. Sebuah video yang baik bukan sekadar kumpulan gambar, melainkan
rangkaian visual yang mampu menghidupkan suasana, menghadirkan emosi, serta
membantu penonton memahami pesan yang ingin disampaikan. Oleh sebab itu,
seorang videografer Gereja tidak hanya dituntut menguasai teknik kamera, tetapi
juga memiliki kepekaan dalam menangkap momen-momen yang mengandung nilai
kemanusiaan dan iman.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai proses produksi
media audio visual. Peserta dikenalkan pada konsep shot, scene,
dan sequence, penyusunan camera script, penggunaan insert shot,
serta pentingnya menjaga continuity dalam proses penyuntingan video.
Seluruh tahapan tersebut dirancang agar karya audio visual yang dihasilkan
memiliki alur cerita yang runtut, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Menjelang siang hingga sore hari, peserta memperoleh pembekalan mengenai produksi
konten digital. Mereka belajar mengedit berita, menyusun caption yang kuat,
menghasilkan video pendek, serta mendistribusikan konten ke berbagai platform
digital. Materi ini menjadi sangat penting karena pelayanan Komunikasi Sosial
Gereja saat ini tidak lagi hanya mengandalkan media cetak, tetapi juga
memanfaatkan website, Facebook, Instagram, YouTube, dan berbagai media digital
lainnya sebagai sarana evangelisasi.
Setelah seluruh materi selesai diberikan, peserta dibagi ke dalam beberapa
kelompok untuk menyusun strategi peliputan. Setiap kelompok merancang pembagian
tugas mulai dari penulis berita, fotografer, videografer, hingga pewawancara.
Pendekatan ini bertujuan membiasakan peserta bekerja secara kolaboratif
sebagaimana yang dilakukan dalam sebuah tim redaksi media profesional.
Memasuki sesi praktik lapangan yang berlangsung hingga malam hari, seluruh
peserta diterjunkan langsung untuk bertemu dengan umat. Mereka melakukan
wawancara, mengambil gambar, merekam video, serta mengumpulkan berbagai
informasi yang kemudian diolah menjadi berita dan konten digital. Praktik ini
menjadi kesempatan berharga untuk menerapkan seluruh materi yang telah
dipelajari sejak awal kegiatan.
Lebih dari sekadar latihan jurnalistik, praktik lapangan menjadi ruang
perjumpaan yang memperlihatkan wajah Gereja yang hidup di tengah umat. Para
peserta belajar bahwa di balik setiap berita terdapat pribadi-pribadi yang
memiliki kisah perjuangan, pengharapan, dan iman yang layak didengar. Kesadaran
inilah yang membentuk para pewarta agar selalu mengedepankan empati dalam
setiap proses peliputan.
Selama tiga hari pelaksanaan Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio
Kalimantan, suasana persaudaraan tampak begitu kuat. Peserta yang berasal dari
berbagai keuskupan saling bertukar pengalaman mengenai pelayanan komunikasi di
wilayah masing-masing. Mereka berbagi praktik baik, tantangan, serta gagasan
inovatif untuk mengembangkan karya Komunikasi Sosial di tengah perkembangan
teknologi yang terus berubah.
Kebersamaan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan Komunikasi
Sosial bukanlah karya individual, melainkan pelayanan bersama seluruh Gereja.
Melalui jejaring yang semakin erat, para pegiat Komsos diharapkan mampu saling
mendukung dalam menghasilkan karya-karya komunikasi yang berkualitas,
bertanggung jawab, dan semakin menjangkau masyarakat luas.
Tema "Semakin Tangguh dalam Berbelaskasih kepada Sesama yang
Menderita" menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh rangkaian
kegiatan. Ketangguhan yang dimaksud bukan hanya kemampuan menghadapi
perkembangan teknologi atau perubahan media komunikasi, tetapi juga keteguhan
hati untuk tetap berpihak kepada kebenaran, membela martabat manusia, serta
menghadirkan harapan bagi mereka yang mengalami penderitaan.
Melalui tema tersebut, para peserta diingatkan bahwa setiap berita, foto,
video, maupun konten digital yang dipublikasikan hendaknya menjadi sarana
pewartaan Injil yang menghadirkan kasih Kristus. Komunikasi Sosial Gereja
dipanggil bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun
persaudaraan, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan semangat saling peduli di
tengah masyarakat.
Berakhirnya Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan di Catholic
Center Keuskupan Ketapang pada 20–22 Juli 2026 bukanlah akhir dari
proses pembelajaran. Sebaliknya, kegiatan ini menjadi awal perutusan baru bagi
seluruh peserta untuk kembali ke keuskupan dan paroki masing-masing sebagai
pewarta yang profesional, kreatif, berintegritas, dan memiliki spiritualitas pelayanan
yang kuat.
Dengan bekal pengetahuan jurnalistik, keterampilan komunikasi digital,
kemampuan wawancara empatik, teknik videografi, serta pengalaman praktik
lapangan, para peserta diharapkan mampu menghadirkan karya-karya komunikasi
yang semakin berkualitas. Setiap berita, foto, video, maupun konten media
sosial yang mereka hasilkan diharapkan menjadi media evangelisasi yang
menghadirkan kebenaran, memperkuat iman umat, membangun persaudaraan, dan
menjadi tanda nyata belas kasih Allah bagi sesama, terutama mereka yang sedang
mengalami penderitaan. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa Gereja di Regio
Kalimantan terus berkomitmen membangun pelayanan Komunikasi Sosial yang relevan
dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pewarta Kabar
Sukacita.
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 22 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar