Konselebran Mgr. Pius Riana Prapdi
RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro
Ketapang, 21 Juli 2026.Semangat
membangun komunikasi yang semakin humanis, evangelis, dan relevan dengan
perkembangan zaman mewarnai Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio
Kalimantan yang diselenggarakan di Catholic Center Keuskupan Ketapang
pada 20–22 Juli 2026. Mengangkat tema "Semakin Tangguh dalam
Berbelaskasih kepada Sesama yang Menderita," kegiatan ini menjadi
ruang perjumpaan sekaligus pembelajaran bagi para pelayan komunikasi sosial
dari berbagai keuskupan di Pulau Kalimantan untuk memperkuat semangat pewartaan
Injil melalui media komunikasi sosial.
Pertemuan tersebut diikuti oleh 71 peserta yang berasal dari berbagai paroki dan keuskupan di Kalimantan. Mayoritas peserta berasal dari Keuskupan Ketapang, sementara peserta lainnya datang dari Keuskupan Sintang, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Agung Pontianak, serta sejumlah paroki lainnya di wilayah Kalimantan. Kehadiran peserta lintas keuskupan memperlihatkan semangat sinodalitas, yaitu berjalan bersama dalam membangun komunikasi Gereja yang semakin efektif, kreatif, dan mampu menjawab tantangan zaman digital.
Sebelum memasuki rangkaian kegiatan utama, seluruh peserta disambut
dalam suasana hangat melalui Sambutan Acara Adat Dayak yang berlangsung
di Rumah Adat Dermalo Josep Murial, Paya Kumang. Tarian adat yang
ditampilkan menjadi ungkapan penghormatan kepada para tamu sekaligus
memperlihatkan kekayaan budaya lokal yang tetap hidup berdampingan dengan
kehidupan Gereja. Penyambutan adat tersebut mencerminkan semangat inkulturasi,
yaitu perjumpaan iman Katolik dengan budaya lokal yang saling memperkaya.
Momentum penyambutan menjadi semakin istimewa ketika Mgr. Pius Riana
Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, secara langsung menyambut para tamu utama
kegiatan. Sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Dayak, beliau memasangkan
peci Dayak dan syal Dayak kepada Mgr. Agustinus Tribudi Utomo,
Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Komsos
KWI) periode 2025–2028. Sementara itu, narasumber Severianus Endi serta Kornelius Budi
Prasetyo juga menerima
syal Dayak sebagai simbol persaudaraan dan penghargaan dari masyarakat serta
Gereja lokal Keuskupan Ketapang.
Setelah penyambutan adat, seluruh peserta mengikuti Perayaan Ekaristi
Pembukaan yang berlangsung dengan penuh khidmat. Perayaan ini dipimpin oleh
Mgr. Agustinus Tribudi Utomo, Uskup Keuskupan Surabaya, sebagai selebran
utama. Beliau didampingi oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan
Ketapang, serta RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro, Ketua Komisi Komunikasi
Sosial Keuskupan Ketapang, sebagai konselebran. Kehadiran para uskup dan imam
dari berbagai daerah memberikan makna mendalam bahwa pelayanan komunikasi
sosial merupakan bagian integral dari tugas pewartaan Gereja.
Dalam homilinya, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo mengajak seluruh
peserta untuk melihat kembali panggilan sebagai pelayan komunikasi sosial
melalui terang Kitab Suci, khususnya kisah Nabi Yunus dan Nabi Mikha. Menurut
beliau, para nabi dipanggil untuk menangkap tanda-tanda zaman dan menyampaikan
kebenaran Allah kepada umat. Panggilan itu tetap relevan bagi insan Komsos pada
masa kini, terutama ketika dunia memasuki era digital yang berkembang sangat
cepat.
Beliau mengenang masa pandemi COVID-19 sebagai titik balik perkembangan
komunikasi Gereja. Ketika umat tidak dapat hadir secara fisik di gereja, media
digital menjadi sarana yang memungkinkan Misa Kudus, katekese, dan berbagai
bentuk pelayanan pastoral tetap menjangkau umat. Bahkan, melalui media sosial,
banyak orang yang sebelumnya jauh dari Gereja dapat kembali mengenal dan
mendengarkan pewartaan Injil. Menurut beliau, pengalaman tersebut menunjukkan
bahwa media komunikasi sosial telah menjadi salah satu sarana penting dalam
karya evangelisasi Gereja masa kini.
Mgr. Agustinus Tribudi Utomo juga menekankan bahwa perkembangan teknologi,
termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), merupakan
kenyataan yang tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, Gereja tidak boleh
tertinggal dalam memanfaatkan teknologi untuk mewartakan kasih Kristus.
Sebaliknya, insan Komsos dipanggil untuk menggunakan setiap perkembangan
teknologi secara bijaksana, bertanggung jawab, dan tetap berakar pada
nilai-nilai Injil.
Menurut beliau, terdapat tiga tanggung jawab utama pelayanan komunikasi
sosial. Pertama, menghadirkan tanda kehadiran Allah melalui setiap karya
komunikasi yang dilakukan. Kedua, menangkap berbagai krisis, ketidakadilan,
maupun persoalan yang dihadapi masyarakat, lalu menyuarakan kebenaran
berdasarkan terang Injil. Ketiga, membangun regenerasi agar semakin banyak
generasi muda yang terpanggil untuk terlibat dalam karya komunikasi Gereja
sehingga pewartaan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa komunikasi Gereja bukanlah sarana untuk
menghakimi ataupun memperkeruh situasi. Sebaliknya, komunikasi Gereja harus
menjadi media yang menghadirkan harapan, membangun jejaring persaudaraan,
memperkuat iman umat, serta menghadirkan belas kasih Allah kepada mereka yang
sedang mengalami penderitaan. Semangat tersebut selaras dengan tema besar
Pertemuan Komsos Regio Kalimantan tahun 2026, yaitu menjadi semakin tangguh
dalam berbelaskasih kepada sesama yang menderita.
Sambutan Para Tokoh: Komsos Menjadi Jantung
Pewartaan Gereja di Era Digital
Setelah Perayaan Ekaristi Pembukaan berakhir, suasana penuh sukacita masih
terasa di tengah para peserta Pertemuan Komunikasi Sosial (Komsos) Regio
Kalimantan. Sebelum berkat penutup Misa, Ketua Panitia, Saudara Isidorus
Holy Pangestu, menyampaikan sambutan yang menegaskan tujuan utama
penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia mengucapkan selamat datang kepada seluruh
peserta yang berasal dari berbagai keuskupan di Kalimantan serta menyampaikan
apresiasi kepada para uskup, imam, biarawan-biarawati, narasumber, dan seluruh
panitia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Dalam sambutannya, Isidorus Holy Pangestu secara khusus menyampaikan
penghormatan kepada Mgr. Agustinus Tribudi Utomo, Ketua Komisi
Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Komsos KWI) periode
2025–2028, Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, RD.
Blasius Suhanedi Kusmantoro, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan
Ketapang, narasumber Severianus Endi,
Kornelius Budi Prasetyo, serta
seluruh peserta yang telah hadir untuk mengikuti dinamika Temu Komsos Regio
Kalimantan selama tiga hari. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi wujud nyata
perhatian Gereja terhadap pentingnya pelayanan komunikasi sosial sebagai bagian
dari karya evangelisasi.
Ketua Panitia menegaskan bahwa tema "Semakin Tangguh dalam
Berbelaskasih kepada Sesama yang Menderita" bukan sekadar slogan
kegiatan, melainkan menjadi panggilan bersama bagi seluruh insan komunikasi
sosial Gereja. Melalui media komunikasi, para pelayan Komsos diharapkan mampu
menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih, memberi penghiburan kepada mereka yang
mengalami penderitaan, serta membangun persaudaraan lintas keuskupan di seluruh
Kalimantan.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia yang telah
bekerja jauh sebelum kegiatan dimulai. Berbagai persiapan dilakukan dengan
semangat pelayanan agar seluruh peserta dapat mengikuti setiap sesi dengan
nyaman dan memperoleh manfaat maksimal. Menutup sambutannya, Isidorus Holy
Pangestu mengajak seluruh peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan
dengan semangat belajar, saling berbagi pengalaman, serta membangun jejaring
komunikasi yang semakin erat demi perkembangan Komsos di masing-masing
keuskupan.
Komsos Harus Berjalan Bersama
Sambutan berikutnya disampaikan oleh RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro,
Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Ketapang. Ia mengawali sambutannya
dengan menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para peserta dan para tamu
undangan dari berbagai wilayah Kalimantan. Menurutnya, Temu Komsos Regio
Kalimantan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk saling mengenal,
mempererat persaudaraan, sekaligus memperkuat kerja sama pelayanan komunikasi
sosial lintas keuskupan.
Secara khusus, RD. Blasius Suhanedi Kusmantoro menyampaikan ucapan terima
kasih kepada Mgr. Agustinus Tribudi Utomo, Mgr. Pius Riana Prapdi,
RD. Hiasintus Eko Pompang dari Keuskupan Sanggau, Paulus Mashuri, S.Pd., M.Si., Ketua Komisi
Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak beserta tim, RD. Ardianus Diri
dari Keuskupan Sintang, para peserta dari Keuskupan Ketapang, para anggota
Kongregasi OSA, serta RP. Antonius Tony Kema, CP., Sekretaris Komisi
Komunikasi Sosial Keuskupan Ketapang. Ucapan terima kasih tersebut juga
ditujukan kepada seluruh panitia yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan
pikiran demi kelancaran kegiatan.
Menurutnya, komunikasi sosial Gereja tidak dapat berkembang apabila hanya
dikerjakan oleh individu atau satu kelompok saja. Pelayanan Komsos harus
dibangun melalui kolaborasi, saling mendukung, dan saling berbagi pengalaman
sehingga setiap keuskupan dapat saling belajar dalam mengembangkan media
komunikasi yang kreatif, edukatif, dan mampu menjangkau umat secara luas.
Memiliki "Drone Vision" dalam Pelayanan
Dalam sambutannya, Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang,
mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa Komisi Komunikasi Sosial
merupakan bagian penting dari rumpun pewartaan Gereja. Setiap komisi memiliki
tugas pelayanan masing-masing, namun Komsos menjadi jembatan yang mampu memperkenalkan
seluruh karya pastoral Gereja kepada umat melalui berbagai media komunikasi.
Beliau menggunakan istilah "drone vision" untuk
menggambarkan cara pandang seorang pelayan Komsos. Seorang pewarta tidak cukup
hanya melihat persoalan dari dekat, tetapi juga harus mampu melihat gambaran
yang lebih luas sehingga dapat memahami kebutuhan Gereja, dinamika masyarakat,
serta arah perkembangan zaman. Dengan cara pandang seperti itu, karya
komunikasi sosial tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menghadirkan
makna dan harapan bagi umat.
Mgr. Pius Riana Prapdi juga mengenang pengalaman selama pandemi COVID-19.
Menurut beliau, situasi yang semula dianggap sebagai keterbatasan justru
membuka peluang baru bagi Gereja untuk berkembang melalui media digital.
Berbagai karya pastoral yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka mulai
menjangkau umat melalui siaran langsung Misa, media sosial, dan berbagai
platform digital lainnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat
menjadi sarana pewartaan yang efektif apabila dimanfaatkan secara bertanggung
jawab.
Beliau juga memperkenalkan kekayaan Gereja Katolik di Ketapang, khususnya
keindahan Katedral yang menyimpan berbagai ukiran Kitab Suci dari Perjanjian
Lama hingga Perjanjian Baru. Menurutnya, kekayaan tersebut merupakan bagian
dari pewartaan iman yang perlu didokumentasikan dan dipublikasikan secara lebih
luas melalui karya-karya komunikasi sosial sehingga semakin banyak orang
mengenal sejarah dan kehidupan Gereja di Keuskupan Ketapang.
Menutup sambutannya, Mgr. Pius Riana Prapdi mengajak seluruh peserta agar
menjadi tanda kehadiran Kristus melalui setiap karya komunikasi yang dibuat.
Berita, foto, video, maupun konten digital hendaknya selalu membawa harapan,
kasih, dan semangat persaudaraan bagi masyarakat.
Komsos sebagai Pelayanan Pastoral
Sebelum sesi materi dimulai, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo kembali
memberikan pengantar singkat mengenai spiritualitas dan fungsi pastoral Komisi
Komunikasi Sosial. Beliau menegaskan bahwa pelayanan Komsos dimulai dari
tingkat keuskupan, kemudian membina komisi komunikasi sosial di tingkat paroki,
yang selanjutnya mendampingi stasi maupun lingkungan. Dengan demikian,
pewartaan Gereja dapat berlangsung secara terstruktur hingga menjangkau umat di
akar rumput.
Beliau juga mengajak seluruh peserta untuk menggali sejarah paroki,
asal-usul gua Maria, kisah para tokoh Gereja, warisan budaya Katolik, hingga
berbagai sarana pewartaan yang dimiliki Gereja lokal. Semua kekayaan tersebut,
menurut beliau, merupakan bagian dari Injil yang hidup dan perlu
didokumentasikan melalui karya komunikasi sosial agar menjadi warisan iman bagi
generasi mendatang.
Usai sambutan para tokoh dan berkat penutup, seluruh peserta memasuki agenda berikutnya, yaitu Sesi I: Spiritualitas Komsos, yang dipandu oleh Mgr. Agustinus Tribudi Utomo. Sesi ini menjadi dasar pembinaan bagi seluruh peserta sebelum mengikuti pelatihan jurnalistik, reportase lapangan, produksi konten digital, dan praktik komunikasi sosial selama rangkaian Temu Komsos Regio Kalimantan berlangsung.
Sesi I: Spiritualitas dan Fungsi Pastoral Komisi
Komsos
Media sebagai Sarana Belaskasih dan Pewartaan
Injil di Era Digital
Memasuki sesi malam pada hari pertama Temu Komsos Regio Kalimantan, seluruh
peserta mengikuti Sesi I: Spiritualitas Komsos yang dibawakan oleh Mgr.
Agustinus Tribudi Utomo, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi
Waligereja Indonesia (Komisi Komsos KWI) periode 2025–2028. Materi yang
disampaikan tidak hanya mengulas aspek teknis komunikasi, tetapi terutama
mengajak seluruh peserta memahami bahwa pelayanan komunikasi sosial merupakan
bagian dari spiritualitas Gereja yang berakar pada pewartaan Injil dan pelayanan
kasih kepada sesama.
Mengawali paparannya, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo menjelaskan bahwa setiap
karya komunikasi Gereja harus selalu berangkat dari tiga unsur utama, yaitu peristiwa,
makna, dan motivasi. Sebuah peristiwa bukan sekadar informasi yang
diberitakan, tetapi harus mampu membantu umat menemukan makna kehadiran Allah
dalam kehidupan sehari-hari. Di balik setiap berita yang ditulis, foto yang
dipublikasikan, maupun video yang dibagikan, harus terdapat motivasi untuk
menghadirkan harapan, menguatkan iman, dan menumbuhkan kasih kepada sesama.
Beliau menegaskan bahwa pelayanan komunikasi sosial bukan sekadar aktivitas
dokumentasi. Komsos merupakan bagian dari karya pastoral Gereja. Oleh karena
itu, struktur pelayanan komunikasi dibangun secara berjenjang. Komisi Komsos di
tingkat keuskupan memiliki tanggung jawab membina Komisi Komsos Paroki,
sedangkan Komsos Paroki mendampingi Komsos di tingkat stasi maupun lingkungan.
Dengan pembinaan yang berkesinambungan, semangat pewartaan diharapkan
menjangkau hingga komunitas umat yang paling kecil sekalipun.
Mgr. Agustinus Tribudi Utomo kemudian mengajak para peserta
merefleksikan motivasi pribadi dalam melayani. Menurut beliau, setiap pelayan
komunikasi sosial dipanggil untuk melihat tugasnya sebagai cara Tuhan berkarya
melalui talenta yang dimiliki. Menulis berita, mengambil gambar, membuat video,
mengelola media sosial, hingga menyiarkan Misa secara langsung merupakan bentuk
pelayanan yang dapat membawa semakin banyak orang mengenal Kristus. Ketika karya komunikasi dilakukan dengan
semangat iman, maka media menjadi sarana evangelisasi yang hidup.
Dalam paparannya, beliau membagikan berbagai pengalaman pastoral yang
menunjukkan dampak nyata pelayanan komunikasi sosial. Di sejumlah daerah
pedalaman, konten-konten yang diproduksi oleh tim Komsos telah membantu umat
kembali aktif mengikuti kehidupan menggereja. Berita mengenai kegiatan
pastoral, kesaksian iman, maupun siaran Misa telah menjadi jembatan yang
menghubungkan umat dengan Gereja, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari
pusat paroki. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa media komunikasi mampu
menjadi alat yang memperkuat kehidupan iman apabila digunakan secara
bertanggung jawab.
Beliau juga mengingatkan bahwa pelayanan komunikasi sosial tidak terlepas
dari tantangan. Di satu sisi, media dapat menggerakkan solidaritas ketika
terjadi bencana atau musibah. Sebuah unggahan sederhana dapat mengundang
kepedulian banyak orang untuk membantu mereka yang menderita. Namun di sisi
lain, kesalahan informasi atau miskomunikasi dapat menimbulkan persoalan baru.
Karena itu, insan Komsos dituntut memiliki kepekaan, ketelitian, dan tanggung
jawab moral dalam setiap informasi yang dipublikasikan. Bahkan sebuah karya
kecil yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi penyemangat bagi banyak
orang untuk terus mewartakan kasih Kristus.
Mgr. Agustinus Tribudi Utomo juga menyinggung kenyataan bahwa tidak semua
situasi memungkinkan penggunaan teknologi komunikasi. Dalam keadaan tertentu,
pesan dari mulut ke mulut tetap menjadi sarana komunikasi yang paling efektif.
Hal ini menunjukkan bahwa inti komunikasi Gereja bukanlah kecanggihan
teknologi, melainkan kemampuan menghadirkan relasi antarmanusia yang dilandasi
kasih. Di tengah berbagai tuntutan pelayanan, termasuk dilema antara tanggung
jawab keluarga dan pelayanan Komsos, beliau mengingatkan bahwa Tuhan tetap
menyertai setiap orang yang berkarya dengan tulus demi pewartaan Injil.
Salah satu pokok penting yang mendapat perhatian besar dalam sesi ini
adalah gambaran tentang Yesus Kristus sebagai Komunikator Paripurna.
Mengacu pada dokumen Communio et Progressio tahun 1971, Mgr. Agustinus
Tribudi Utomo menjelaskan bahwa Yesus tidak hanya menyampaikan pesan melalui
kata-kata, melainkan melalui seluruh hidup-Nya. Dalam misteri Inkarnasi, Putra
Allah hadir di tengah manusia, berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh
umat-Nya, memasuki pergumulan mereka, serta menghadirkan kasih Allah secara
nyata. Inilah teladan utama bagi setiap pelayan komunikasi Gereja pada masa
kini.
Beliau menambahkan bahwa komunikasi yang dilakukan Gereja harus selalu
berakar pada ajaran Konsili Vatikan II. Di pusat kehidupan Gereja terdapat
empat konstitusi utama, yaitu Sacrosanctum Concilium, Dei Verbum,
Lumen Gentium, dan Gaudium et Spes. Keempat dokumen tersebut
menjadi fondasi seluruh karya pastoral, termasuk pelayanan komunikasi sosial.
Liturgi, Sabda Allah, hakikat Gereja sebagai Umat Allah, dan keterlibatan
Gereja dalam dunia modern tidak dapat dipisahkan dari karya pewartaan melalui
media komunikasi.
Selain itu, beliau menjelaskan tiga arah besar pelayanan Gereja sebagaimana
digambarkan dalam materi presentasi. Pertama, Gereja dipanggil menjawab
tantangan zaman melalui pendidikan, komunikasi, dan karya kerasulan. Kedua,
Gereja membangun kehidupan umat Allah melalui pelayanan para uskup, imam, kaum
religius, dan umat awam. Ketiga, Gereja terus membangun relasi dengan
masyarakat luas, termasuk melalui dialog ekumenis dan hubungan dengan
agama-agama lain. Menurut beliau, komunikasi sosial memiliki peran strategis
dalam menghubungkan ketiga dimensi tersebut sehingga Gereja semakin mampu hadir
di tengah masyarakat.
Bagian berikutnya dari materi mengulas Dekrit Inter Mirifica,
dokumen Konsili Vatikan II mengenai Upaya-Upaya Komunikasi Sosial. Mgr.
Agustinus Tribudi Utomo menegaskan bahwa Gereja memiliki tanggung jawab
universal untuk mewartakan Injil dengan memanfaatkan berbagai sarana komunikasi
modern. Media cetak, radio, televisi, internet, maupun media sosial bukan
sekadar perangkat teknologi, melainkan instrumen pastoral yang dapat digunakan
untuk menghadirkan Warta Keselamatan kepada dunia.
Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa pemanfaatan media harus selalu
disertai tanggung jawab moral. Gereja tidak hanya menggunakan media, tetapi
juga berkewajiban mendidik umat agar mampu memanfaatkan teknologi secara sehat,
kritis, dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu, literasi digital menjadi bagian
yang tidak terpisahkan dari pembinaan umat di era modern. Informasi yang benar,
etika komunikasi, serta penghormatan terhadap martabat manusia harus menjadi
prinsip dasar setiap karya komunikasi sosial Gereja.
Mengakhiri sesi ini, Mgr. Agustinus Tribudi Utomo mengajak seluruh peserta
menjadikan media komunikasi sebagai sarana belaskasih. Media hendaknya tidak
dipakai untuk menyebarkan kebencian, memperuncing perbedaan, ataupun mengejar
popularitas semata. Sebaliknya, media harus menjadi ruang untuk menghadirkan
pengharapan, memperjuangkan kebenaran, membangun persaudaraan, menguatkan
mereka yang menderita, serta semakin memuliakan Allah melalui setiap karya
pewartaan. Semangat inilah yang menjadi jiwa Temu Komsos Regio Kalimantan tahun
2026 dengan tema "Semakin Tangguh dalam Berbelaskasih kepada Sesama
yang Menderita."
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 21 Juli 2026
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar