Kitab Suci Menghidupkan Iman dan Mengubah Kehidupan

 

Foto Bapak Hendrikus Hendri, S.S

Ketapang, 9 September 2026.Ajakan untuk kembali membaca dan mendalami Kitab Suci menjadi pesan utama yang disampaikan Bapak Hendrikus Hendri, S.S., Ketua Bidang Liturgi dan Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Ia mengingatkan umat Katolik bahwa Sabda Allah bukan sekadar kumpulan tulisan keagamaan, melainkan sumber kehidupan iman yang mampu mengajar, menegur, memperbaiki perilaku, serta membimbing manusia untuk hidup dalam kebenaran.

Pesan tersebut berangkat dari nasihat Rasul Paulus dalam Surat Kedua kepada Timotius 3:16. Ayat itu menegaskan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran.

Menurut Bapak Hendrikus Hendri, S.S., pesan tersebut tetap relevan bagi umat pada masa sekarang. Perkembangan zaman membawa berbagai perubahan dalam kehidupan manusia. Informasi dapat diterima dalam hitungan detik melalui berbagai media. Namun, derasnya arus informasi tidak selalu membuat manusia semakin dekat dengan kebenaran. Karena itu, umat membutuhkan dasar iman yang kuat.

Salah satu cara untuk membangun dasar tersebut ialah menyediakan waktu untuk membaca, mendengarkan, memahami, dan menghayati Kitab Suci.

Ajakan itu dirangkum dalam sebuah seruan sederhana tetapi mendalam, yakni “Ambillah dan bacalah!” Seruan tersebut mengingatkan umat agar tidak menjadikan Alkitab sebagai buku yang hanya disimpan di rumah. Kitab Suci perlu dibuka, dibaca, direnungkan, dan diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.

Kitab Suci sebagai Firman Allah

Dalam kehidupan Gereja Katolik, umat mengenal Kitab Suci yang terbagi dalam dua bagian besar, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pembagian tersebut tidak sekadar menunjukkan perbedaan kumpulan kitab. Keduanya menggambarkan perjalanan hubungan Allah dengan manusia dalam karya keselamatan.

Perjanjian Lama berbicara mengenai hubungan khusus antara Allah dengan para Bapa Bangsa dan umat Israel. Allah membangun hubungan dengan umat-Nya serta menyertai perjalanan mereka. Di dalam kisah tersebut, umat manusia belajar mengenal kasih, kesetiaan, hukum, panggilan, dan penyelenggaraan Allah.

Sementara itu, Perjanjian Baru menunjukkan hubungan Allah dengan manusia melalui Yesus Kristus. Kehadiran Kristus menjadi pusat karya keselamatan. Melalui Dia, hubungan Allah dan manusia memperoleh kepenuhan yang baru.

Perjanjian Baru tidak berdiri sendiri dan tidak memutuskan hubungan dengan Perjanjian Lama. Sebaliknya, Perjanjian Baru melanjutkan serta menyempurnakan Perjanjian Lama. Hubungan tersebut menunjukkan kesinambungan rencana keselamatan Allah bagi manusia.

Dalam Perjanjian Baru juga dikenal istilah “Perjanjian Baru” yang dikaitkan dengan perkataan Yesus dalam Injil Lukas 22:20. Melalui Yesus Kristus, Allah mengikat perjanjian dengan umat manusia. Hubungan tersebut bersifat kekal karena kasih Allah tidak pernah berhenti.

Pemahaman itu membantu umat melihat Kitab Suci bukan hanya sebagai dokumen sejarah. Di dalamnya terdapat kesaksian iman tentang karya Allah yang terus menyapa manusia.

Firman yang Dibaca Menjadi Firman yang Hidup

Kitab Suci disebut sebagai Firman Allah yang tertulis. Namun, Sabda tersebut menjadi hidup ketika manusia membacanya, mendengarkannya, dan menerimanya dengan iman.

Membaca Alkitab tidak cukup dilakukan sebagai kegiatan intelektual. Umat diajak menemukan pesan Allah yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, membaca Kitab Suci memiliki hubungan langsung dengan cara seseorang menjalani kehidupan.

Firman yang direnungkan dapat memberikan kekuatan ketika seseorang menghadapi persoalan. Sabda Tuhan juga dapat menjadi teguran ketika manusia mulai menjauh dari nilai kebaikan. Pada saat yang sama, pesan ilahi dapat menjadi petunjuk ketika seseorang harus mengambil keputusan.

Karena itu, membaca Kitab Suci perlu disertai sikap terbuka. Pembaca tidak hanya mencari informasi. Ia datang untuk mendengarkan kehendak Allah.

Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana. Umat dapat menyediakan waktu tertentu setiap hari untuk membaca satu bagian Kitab Suci. Setelah itu, isi bacaan dapat direnungkan dan dikaitkan dengan pengalaman hidup.

Cara sederhana ini membantu umat membangun hubungan yang lebih dekat dengan Sabda Tuhan.

Kekayaan Kitab Suci Gereja Katolik

Gereja Katolik mengakui Kitab Suci lengkap yang dikenal sebagai Kitab-Kitab Deuterokanonika. Dalam tradisi Katolik terdapat 73 kitab, terdiri atas 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.

Jumlah tersebut menunjukkan kekayaan sumber iman yang diwariskan kepada umat. Setiap kitab memiliki latar belakang, bentuk tulisan, tokoh, serta pesan yang berbeda. Ada sejarah, hukum, nubuat, puisi, kebijaksanaan, Injil, kisah para rasul, surat-surat, hingga kitab apokaliptik.

Keragaman tersebut membuat umat memiliki banyak jalan untuk semakin mengenal karya Allah. Membaca Kitab Suci secara perlahan membantu pembaca memahami bahwa iman tidak hanya berbicara mengenai satu aspek kehidupan.

Sabda Tuhan menyentuh hubungan manusia dengan Allah, hubungan dengan sesama, kehidupan keluarga, pekerjaan, tanggung jawab sosial, pengampunan, penderitaan, harapan, serta panggilan untuk hidup dalam kasih.

Karena itu, umat tidak perlu takut ketika menemukan bagian Kitab Suci yang sulit dipahami. Proses memahami membutuhkan kesabaran, pendalaman, dan pendampingan. Gereja menyediakan tradisi serta pengajaran untuk membantu umat membaca Kitab Suci secara benar dalam terang iman.

“Ambillah dan Bacalah” dalam Pengalaman Santo Agustinus

Seruan “Ambillah dan bacalah!” memiliki hubungan kuat dengan pengalaman pertobatan Santo Agustinus. Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan hidup santo pelindung Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Dalam perjalanan hidupnya, Agustinus pernah mengalami pergulatan batin yang panjang. Ia mencari kebenaran dan berusaha menemukan arah kehidupan. Pada suatu kesempatan ketika berada di sebuah taman di Milan, ia mendengar suara seorang anak kecil yang berulang kali menyanyikan kata-kata, “Tolle lege, tolle lege,” yang berarti “Ambillah dan bacalah.”

Pengalaman tersebut mendorong Agustinus mengambil Kitab Suci. Ia kemudian membukanya dan membaca bagian dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, khususnya Roma 13:13-14.

Peristiwa itu menjadi titik penting dalam perjalanan pertobatannya. Agustinus kemudian memulai kehidupan baru.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa Sabda Tuhan dapat menjadi jalan perubahan. Sebuah bacaan dapat menjadi pintu yang membawa seseorang kepada pertobatan. Sebuah ayat dapat menyentuh hati ketika manusia berada dalam pergulatan.

Pengalaman Santo Agustinus juga memberikan pesan bahwa tidak ada manusia yang terlalu jauh untuk kembali kepada Tuhan.

Tuhan Terus Menyapa Manusia

Dalam kehidupan modern, manusia dapat mengalami berbagai bentuk kesibukan. Pekerjaan, pendidikan, keluarga, teknologi, media sosial, serta berbagai tuntutan kehidupan sering kali membuat waktu untuk berdoa dan membaca Kitab Suci semakin terbatas.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi kehidupan iman. Manusia dapat mengetahui banyak hal dari berbagai sumber, tetapi belum tentu memiliki kedalaman rohani.

Karena itu, ajakan untuk mengambil dan membaca Kitab Suci menjadi semakin penting. Tuhan dapat menyapa manusia melalui Sabda-Nya dalam berbagai keadaan.

Seseorang yang sedang mengalami kesulitan dapat menemukan penghiburan. Mereka yang sedang kehilangan arah dapat memperoleh tuntunan. Orang yang sedang mengalami konflik dapat menemukan panggilan untuk mengampuni. Sementara mereka yang sedang memperoleh keberhasilan dapat diingatkan untuk tetap rendah hati dan bersyukur.

Sabda Tuhan bekerja dalam hati manusia ketika diterima dengan iman dan diwujudkan dalam tindakan.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S., menekankan bahwa iman tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Apa yang dibaca perlu diterapkan dalam kehidupan.

Dengan demikian, Kitab Suci bukan hanya dibaca untuk mengetahui isi cerita. Umat membacanya agar hidup semakin sesuai dengan kehendak Allah.

“Tidak Mengenal Kitab Suci Berarti Tidak Mengenal Kristus”

Pentingnya membaca Kitab Suci juga ditegaskan melalui perkataan Santo Hieronimus: “Karena tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus.”

Ungkapan tersebut memiliki makna yang mendalam bagi kehidupan umat Kristiani. Yesus Kristus menjadi pusat iman Gereja. Karena itu, semakin seseorang mendalami Kitab Suci, semakin terbuka pula kesempatan untuk mengenal pribadi, ajaran, pelayanan, sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.

Mengenal Kristus tidak cukup hanya melalui informasi mengenai diri-Nya. Umat dipanggil untuk membangun hubungan iman dengan-Nya.

Hubungan itu tumbuh melalui doa, perayaan Ekaristi, kehidupan menggereja, pelayanan kepada sesama, serta pendalaman Sabda Allah.

Membaca Kitab Suci menjadi salah satu fondasi penting dalam proses tersebut.

Iman Bertumbuh Melalui Sabda

Alasan lain untuk membaca Kitab Suci ialah karena iman dapat bertumbuh melalui Sabda Tuhan. Surat Kedua kepada Timotius 3:16-17 menunjukkan bahwa Kitab Suci memiliki fungsi mendidik dan membentuk kehidupan manusia.

Iman membutuhkan proses. Ia tidak tumbuh secara otomatis. Seseorang perlu mendengar, belajar, merenung, berdoa, kemudian menjalankan apa yang diyakini.

Kebiasaan membaca Sabda Tuhan dapat membantu umat melihat pengalaman hidup dalam terang iman. Masalah yang sebelumnya dianggap sebagai beban semata dapat dilihat sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Kegagalan dapat menjadi ruang belajar. Keberhasilan dapat menjadi alasan untuk bersyukur.

Dengan cara tersebut, Kitab Suci memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Kitab Suci sebagai Buku Gereja dan Buku Iman

Kitab Suci juga merupakan buku Gereja dan buku iman Gereja. Gereja menerima Kitab Suci sebagai Sabda Allah yang disampaikan dalam bahasa manusia.

Di dalamnya terdapat pengalaman umat beriman yang menjadi kesaksian tentang karya Allah. Gereja menjaga, mewartakan, serta meneruskan Sabda tersebut kepada generasi berikutnya.

Karena itu, membaca Kitab Suci tidak dapat dilepaskan dari kehidupan Gereja. Umat membacanya dalam semangat iman dan dalam kesatuan dengan ajaran Gereja.

Konsili Vatikan II melalui Dei Verbum artikel 25 juga memberikan dorongan kuat kepada umat beriman agar sering membaca Kitab-Kitab Ilahi. Tujuannya ialah memperoleh pengertian yang mulia mengenai Yesus Kristus.

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa pendalaman Kitab Suci bukan tugas kelompok tertentu saja. Setiap orang beriman memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk mengenal Sabda Tuhan.

Membangun Kebiasaan Membaca Kitab Suci

Ajakan “Ambillah dan bacalah!” dapat diwujudkan melalui kebiasaan konkret. Umat dapat memulai dengan menyediakan waktu singkat setiap hari.

Tidak harus langsung membaca dalam jumlah banyak. Yang lebih penting ialah konsistensi. Satu perikop yang dibaca dengan penuh perhatian dapat memberikan bahan renungan yang berarti.

Setelah membaca, umat dapat bertanya kepada diri sendiri. Apa pesan utama bacaan tersebut? Apa yang Tuhan ingin saya lakukan? Bagian mana yang menyentuh kehidupan saya? Sikap apa yang perlu diperbaiki?

Pertanyaan sederhana tersebut membantu pembaca menghubungkan Sabda dengan pengalaman nyata.

Keluarga juga dapat menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari kehidupan bersama. Orang tua dapat mengajak anak membaca satu bagian pendek sebelum berdoa. Kelompok umat dapat melakukan pendalaman bersama. Lingkungan dan komunitas dapat menyediakan ruang untuk berbagi pengalaman iman berdasarkan bacaan Kitab Suci.

Dengan cara itu, budaya membaca Sabda Tuhan dapat tumbuh secara perlahan dalam kehidupan umat.

Sabda Tuhan Mendorong Pertobatan

Salah satu kekuatan Kitab Suci terletak pada kemampuannya mengajak manusia melakukan perubahan. Sabda Tuhan tidak hanya memberikan kenyamanan. Pada waktu tertentu, ia juga memberikan teguran.

Manusia dapat menemukan kelemahan dirinya ketika membaca ajaran Tuhan. Kesombongan, kebencian, iri hati, ketidakpedulian, dan berbagai sikap yang menjauhkan seseorang dari kasih dapat disadari kembali.

Kesadaran tersebut menjadi awal pertobatan.

Santo Agustinus memberikan contoh nyata bahwa perjumpaan dengan Sabda Tuhan dapat mengubah arah hidup. Ia tidak berhenti pada pengalaman mendengar dan membaca. Ia menanggapi panggilan tersebut dengan perubahan hidup.

Pengalaman itu tetap menjadi inspirasi bagi umat masa kini.

Menjadikan Kitab Suci sebagai Pedoman Kehidupan

Pada akhirnya, membaca Kitab Suci merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan yang semakin dekat dengan Allah. Sabda Tuhan menjadi pedoman dalam mengambil sikap, memperlakukan sesama, menghadapi persoalan, dan menjalankan tanggung jawab.

Umat diajak untuk tidak membiarkan Alkitab hanya menjadi benda yang tersimpan di rak. Kitab tersebut perlu dibuka dan dibaca. Pesannya perlu direnungkan. Nilainya perlu diwujudkan.

Bapak Hendrikus Hendri, S.S., mengajak umat untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai kebiasaan. Seruan “Ambillah dan bacalah!” bukan sekadar ajakan untuk membuka halaman sebuah buku. Seruan itu merupakan undangan untuk membuka hati terhadap sapaan Allah.

Sabda Tuhan dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang lemah. Ia dapat menjadi cahaya bagi mereka yang mencari arah. Ia dapat menjadi teguran bagi mereka yang mulai menyimpang. Ia juga dapat menjadi sumber pengharapan bagi siapa pun yang sedang menghadapi kesulitan.

Karena itu, umat Katolik diajak kembali kepada Kitab Suci. Membaca dengan iman, memahami dengan hati, dan menjalankan pesan yang ditemukan di dalamnya.

Seruan Santo Agustinus pada masa lalu tetap memiliki makna bagi umat sekarang: “Ambillah dan bacalah!”

Melalui kebiasaan tersebut, umat tidak hanya semakin mengenal isi Kitab Suci. Mereka juga diajak semakin mengenal Kristus, memperdalam iman, memperbaiki kehidupan, serta menghadirkan kasih Allah di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Ketapang, 09 September 2026

Bapak Hendrikus Hendri, S.S.
Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Ketapang

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  9 September 2026


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar