Ketapang, 8 September 2026.Umat Katolik Lingkungan Santa Lucia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, melaksanakan pertemuan pertama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 dengan tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa – Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Pertemuan berlangsung di rumah Bapak Markus Aluat dan Ibu Yushinta, Jalan Gatot Subroto, Gang Anggrek, Ketapang.
Pertemuan pertama mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati” dengan bacaan utama Injil Matius 5:1-12. Sabda Bahagia menjadi pusat permenungan umat untuk memahami makna kebahagiaan menurut Yesus Kristus.
Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Bapak Daduanto. Tugas lektor dipercayakan kepada Bapak Adolfo Larry, sedangkan lagu-lagu liturgis dibawakan oleh Ibu Sutarti Rahayu. Doa makan dipimpin oleh Bapak Yohanes Sigit Kurnianto. Dalam pertemuan tersebut, umat juga membawa Kitab Suci sebagai tanda kesediaan untuk semakin dekat dengan Sabda Allah.
BKSN merupakan kegiatan tahunan Gereja Katolik di Indonesia yang dirayakan setiap September. Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi umat untuk membaca, mendengarkan, memahami, serta menghidupkan pesan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari.
Tahun ini, umat diajak melihat sosok Yesus dalam Injil Matius sebagai Guru yang penuh kuasa. Pengajaran-Nya tidak hanya memberikan pengetahuan tentang iman. Sabda-Nya juga mengarahkan manusia untuk mengalami perubahan hidup.
Melalui pertemuan pertama, umat Lingkungan Santa Lucia diajak memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, jabatan, kesehatan, keberhasilan, atau pengakuan manusia. Kebahagiaan berakar pada hubungan yang benar dengan Allah serta kesediaan mengasihi sesama.
Yesus Mengajarkan Hidup yang Sejati
Bacaan Injil Matius 5:1-12 menghadirkan Yesus yang naik ke atas bukit. Ketika melihat orang banyak, Ia duduk dan murid-murid datang mendekat. Dari tempat tersebut, Yesus mulai mengajar mereka.
Pengajaran itu dikenal sebagai Sabda Bahagia. Yesus menyebut berbagai kelompok sebagai orang yang berbahagia. Mereka adalah orang yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, berbelaskasihan, suci hatinya, membawa damai, serta mengalami penderitaan karena kebenaran.
Pesan tersebut memiliki makna yang kuat bagi kehidupan umat pada masa sekarang. Dunia sering mengukur keberhasilan melalui kepemilikan materi, kedudukan, popularitas, dan pencapaian pribadi. Yesus menawarkan ukuran yang berbeda.
Miskin di hadapan Allah bukan berarti seseorang harus hidup dalam kemelaratan. Sikap tersebut menunjuk pada kerendahan hati dan kesadaran bahwa manusia membutuhkan Tuhan. Orang yang memiliki harta tetap dapat menjadi miskin di hadapan Allah apabila tidak menggantungkan hidupnya pada kekayaan.
Pemahaman tersebut menjadi salah satu pokok sharing umat dalam pertemuan pertama. Peserta diajak melihat kembali kehidupan masing-masing. Mereka diajak bertanya apakah selama ini sudah benar-benar mengandalkan Tuhan atau masih menempatkan kekuatan pribadi sebagai sandaran utama.
Kesaksian tentang “Miskin di Hadapan Allah”
Dalam sharing, Prodiakon Bapak Daduanto menanggapi pertanyaan pertama mengenai tindakan Yesus ketika melihat orang banyak dan murid-murid-Nya.
Ia menekankan bahwa Yesus memiliki naluri seorang Guru. Yesus mengetahui kebutuhan orang-orang yang datang kepada-Nya. Ia tidak membiarkan mereka pergi tanpa mendapatkan pengajaran.
Sementara itu, Bapak Suhardi mengungkapkan bahwa dirinya membayangkan berada langsung di tengah orang banyak yang mendengarkan pengajaran Yesus.
“Saya membayangkan saya berada di situ. Saya pasti sangat antusias mendengarkan pengajaran Yesus,” ungkapnya.
Menurutnya, ungkapan “miskin di hadapan Allah” perlu dipahami dengan benar. Orang kaya tidak harus meninggalkan seluruh kekayaannya. Hal yang penting ialah tidak menjadikan harta sebagai pusat kehidupan.
Ia menegaskan bahwa manusia perlu tetap rendah hati dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Sikap tersebut menjadi bentuk kepercayaan bahwa Allah selalu menyediakan yang terbaik bagi umat-Nya.
Pandangan serupa disampaikan Bapak Yohanes Sigit Kurnianto. Menurutnya, menjadi miskin di hadapan Allah berarti menyadari kebutuhan manusia akan kehadiran Tuhan.
Ia juga menghubungkan pesan Kitab Suci dengan tugas umat untuk membagikan kabar gembira. Iman tidak berhenti pada kegiatan ibadat. Sabda Tuhan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk kesediaan mengampuni sesama.
Kebahagiaan Tidak Selalu Berarti Tanpa Masalah
Pertemuan semakin berkembang ketika umat membahas pertanyaan mengenai alasan murid Yesus tetap berbahagia meskipun mengalami celaan, penganiayaan, dan fitnah.
Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa para pengikut-Nya akan terbebas dari persoalan. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk tetap setia ketika menghadapi kesulitan.
Bapak Adolfo Larry membagikan pengalamannya dalam membangun kehidupan bersama umat di Ketapang. Ia mengakui bahwa kesibukan terkadang membuat dirinya harus meminta izin dari lingkungan sebelumnya.
Ketika bergabung dengan Lingkungan Santa Lucia, ia berdiskusi dengan Bapak Suhardi dan Ibu Sutarti Rahayu. Dari proses tersebut, ia merasakan bahwa kehadiran dalam lingkungan memberikan kekuatan dan peneguhan dalam perjalanan iman.
Baginya, menjadi murid Kristus berarti berani hadir dan mengambil bagian. Kebersamaan umat menjadi ruang untuk saling mendukung ketika menghadapi tantangan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan menggereja tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dalam ibadat. Relasi antarumat juga menjadi bagian penting dari pertumbuhan iman.
Kebahagiaan Dimulai dari Keluarga
Dalam sesi sharing iman, umat menyampaikan berbagai pengalaman mengenai arti kebahagiaan.
Bapak Suhardi mengatakan bahwa salah satu sumber kebahagiaannya adalah melihat anak-anak dapat bersekolah. Hubungan suami dan istri yang baik juga menjadi hal penting. Ia bersyukur karena keluarganya masih dapat menjaga komunikasi.
Menurutnya, kebahagiaan sederhana sering kali justru memiliki nilai besar. Kehadiran keluarga dan komunikasi yang baik menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan.
Bapak Stepanus Kauti menyoroti tantangan kehidupan modern. Menurutnya, hampir setiap kebutuhan saat ini berkaitan dengan pengeluaran. Kondisi tersebut dapat menjadi tekanan bagi keluarga.
Namun, kehidupan bersama di lingkungan gerejani mengajarkan umat untuk mengikuti aturan, menghargai sesama, dan menjaga kebersamaan. Dari sana dapat tumbuh sukacita yang tidak bergantung pada keadaan materi.
Sementara itu, Bapak Jeno Leo melihat kesehatan sebagai salah satu bentuk kebahagiaan yang sering kurang disadari. Menurutnya, dapat berkumpul bersama, berdoa, melaksanakan ibadat, dan saling menyapa merupakan anugerah.
Pertemuan di rumah keluarga Markus Aluat dan Ibu Yushinta juga menjadi kesempatan bagi umat untuk mempererat persaudaraan. Kehadiran peserta menunjukkan bahwa kebersamaan dapat menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan iman.
Kebahagiaan Harus Diciptakan
Ibu Angelina Norma Sanger memberikan refleksi mengenai tawaran Yesus tentang kebahagiaan. Menurutnya, umat Katolik perlu terus membuka diri terhadap kabar gembira yang disampaikan Kristus.
Ia mempertanyakan mengapa masih ada umat yang belum sepenuhnya menerima dan menghidupi kabar gembira tersebut. Pertanyaan itu menjadi bahan refleksi bersama.
Dalam sharing-nya, ia mengatakan bahwa kebahagiaan tidak dapat dibeli atau sekadar dicari. Kebahagiaan perlu diciptakan melalui cara hidup yang baik dan penuh syukur.
Ia bersyukur melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagai orang tua, ia menyadari bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, orang tua membutuhkan kesabaran, doa, dan pendampingan.
Kebahagiaan semakin terasa ketika anak-anak menyelesaikan pendidikan dan memperoleh pekerjaan. Namun, keberhasilan tersebut tetap perlu ditempatkan dalam kerangka iman.
Ia juga membagikan pengalaman mengenai pengampunan. Ketika menghadapi orang yang menyakiti, ia berusaha mengingat Tuhan Yesus. Ingatan tersebut membantunya untuk belajar melupakan kesalahan dan memaafkan.
Sikap tersebut sejalan dengan ajaran Yesus tentang belas kasih. Pengampunan bukan berarti membenarkan kesalahan. Pengampunan menjadi jalan untuk membebaskan hati dari kebencian.
Membawa Damai di Tengah Kehidupan
Sabda Bahagia juga mengajak umat menjadi pembawa damai. Dalam kehidupan keluarga, lingkungan, maupun masyarakat, perdamaian membutuhkan tindakan nyata.
Membawa damai berarti berani menghentikan pertengkaran, menghindari perkataan yang melukai, serta membuka ruang dialog. Seorang murid Kristus dipanggil untuk menjadi jembatan ketika terjadi perbedaan.
Pesan ini semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang memiliki beragam pandangan dan kepentingan. Umat tidak cukup hanya mengetahui ajaran Yesus. Mereka perlu menghadirkannya dalam relasi sehari-hari.
Demikian pula dengan belas kasih. Yesus mengajarkan bahwa orang yang berbelaskasihan akan memperoleh belas kasih. Karena itu, umat dipanggil untuk peka terhadap penderitaan orang lain.
Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana. Menyapa tetangga, mengunjungi orang sakit, membantu keluarga yang mengalami kesulitan, mendengarkan orang yang sedang mengalami persoalan, serta mengampuni kesalahan merupakan bentuk nyata penghayatan Sabda Tuhan.
Peneguhan bagi Peserta
Dalam peneguhan, umat kembali diingatkan bahwa Sabda Bahagia tidak hanya berbicara mengenai kemiskinan, penderitaan, atau kelaparan. Yesus mengajak setiap orang melakukan pembaruan hati.
Seorang murid Kristus dipanggil untuk rendah hati, berbelaskasihan, mencintai kebenaran, membawa damai, serta tetap setia ketika menghadapi kesulitan.
Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh harta, jabatan, atau keberhasilan duniawi. Dasarnya adalah hati yang percaya kepada Allah.
Peserta diajak membawa pesan tersebut ke dalam keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, pertemuan BKSN tidak berhenti setelah doa penutup. Sabda yang direnungkan perlu menjadi pedoman dalam tindakan sehari-hari.
Doa Permohonan untuk Gereja dan Umat
Dalam rangkaian ibadat, umat menyampaikan sejumlah intensi doa. Pertama, mereka mendoakan kelancaran Perayaan Syukur 80 Tahun Karya Misi Kongregasi Pasionis di Indonesia yang akan dilaksanakan pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Kedua, umat berdoa bagi warga paroki yang sedang sakit dan mengalami penderitaan. Mereka memohon agar Tuhan memberikan kekuatan, kesembuhan, ketabahan, serta penghiburan.
Ketiga, doa dipanjatkan bagi warga paroki yang telah meninggal dunia. Umat menyerahkan mereka kepada kerahiman Allah.
Keempat, umat mendoakan perjalanan dan perkembangan Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang agar semakin dewasa dalam berbagai bidang.
Pada pertemuan pertama dan keempat, umat juga secara khusus mendoakan Doa untuk Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.
Rangkaian intensi tersebut memperlihatkan bahwa doa umat tidak hanya berpusat pada kebutuhan pribadi. Perhatian juga diarahkan kepada kehidupan gereja, keluarga, orang sakit, mereka yang telah meninggal, serta perkembangan komunitas.
Aksi Nyata Menghidupi Sabda
Sebagai bagian dari rencana kegiatan atau aksi nyata, umat diajak mendaraskan Filipi 2:10-11:
“Semoga, dalam nama Yesus, bertekuklah setiap lutut, di surga tinggi, di bumi dan di bawah bumi, dan setiap lidah mengakui: untuk kemuliaan Allah Bapa, Tuhanlah Yesus Kristus!”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Kristus harus mendapat tempat utama dalam kehidupan umat.
Aksi nyata tidak harus selalu berupa kegiatan besar. Setiap peserta dapat memulai dari keluarga. Membangun komunikasi yang baik, mengurangi pertengkaran, membantu anggota keluarga, memberikan waktu untuk berdoa, membaca Kitab Suci, dan belajar mengampuni merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Di lingkungan, umat dapat memperkuat kepedulian. Mereka dapat saling mengunjungi, memberikan perhatian kepada warga yang sakit, serta mendukung mereka yang sedang menghadapi persoalan.
Dengan cara tersebut, BKSN menjadi lebih dari sekadar kegiatan tahunan. Perayaan ini menjadi kesempatan untuk membentuk kebiasaan baru dalam kehidupan iman.
Sabda Bahagia Menjadi Jalan Kehidupan
Pertemuan pertama BKSN 2026 di Lingkungan Santa Lucia menegaskan kembali bahwa Yesus adalah Guru yang mengajarkan jalan kehidupan sejati.
Melalui Injil Matius 5:1-12, umat menemukan bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan kehidupan tanpa masalah. Seorang pengikut Kristus tetap dapat memiliki sukacita meskipun menghadapi kesulitan.
Kuncinya ialah kepercayaan kepada Allah, kerendahan hati, belas kasih, kemurnian hati, kecintaan terhadap kebenaran, serta keberanian untuk membawa damai.
Sharing para peserta menunjukkan bahwa Sabda Tuhan dapat ditemukan dalam pengalaman sehari-hari. Kebahagiaan hadir melalui keluarga yang harmonis, anak-anak yang bertumbuh, kesehatan, komunikasi, persaudaraan, kesempatan berkumpul, dan kemampuan mengampuni.
Pada akhirnya, Sabda Bahagia mengajak umat untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang membuat saya bahagia?” tetapi juga, “Apakah kehidupan saya membawa kebahagiaan bagi orang lain?”
Pertanyaan tersebut menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi setiap murid Kristus.
BKSN 2026 di Lingkungan Santa Lucia diharapkan membantu umat semakin akrab dengan Kitab Suci. Sabda Allah tidak hanya dibaca dalam pertemuan. Pesannya perlu dibawa pulang, direnungkan, dan diwujudkan melalui tindakan.
Dengan semangat “Yesus Guru yang Penuh Kuasa – Wajah Yesus dalam Injil Matius,” umat diajak terus belajar dari Kristus. Ia menjadi Guru yang membimbing manusia menuju kehidupan yang benar, penuh harapan, kasih, pengampunan, dan sukacita.
Pertemuan pertama pun menjadi langkah awal bagi umat Lingkungan Santa Lucia untuk memperbarui kehidupan sebagai orang Kristen dan murid Kristus yang sejati. Sabda Bahagia menjadi jalan untuk membangun keluarga yang lebih kuat, lingkungan yang semakin bersaudara, serta kehidupan menggereja yang semakin dewasa di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.
📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 8 September 2026


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 comments:
Posting Komentar