Misa Minggu Mengajak Umat Mengampuni Tanpa Batas


                                         Foto RP. Vitalis Nggeal, CP.Selebran Utama.                                         Konselebran Diakon Andreas Pisin, CP

Ketapang, 13 September 2026.Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, diajak untuk membangun kehidupan yang penuh kasih melalui sikap saling mengampuni. Pesan tersebut menjadi inti perayaan Ekaristi Minggu Pekan Biasa XXIV yang berlangsung pada Minggu, 13 September 2026.

Misa dimulai pukul 07.00 WIB. Perayaan dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. sebagai selebran utama. Ia didampingi Diakon Andreas Pisin, CP. sebagai konselebran sekaligus pembaca Injil.

Perayaan berlangsung dalam suasana doa dan penghayatan iman. Warna liturgi yang digunakan adalah hijau, sesuai dengan masa liturgi Minggu Pekan Biasa XXIV. Umat mengikuti rangkaian peribadatan dengan penuh perhatian, terutama ketika Sabda Tuhan berbicara tentang pengampunan.

Bacaan Injil diambil dari Matius 18:21-35. Perikop tersebut menghadirkan percakapan antara Petrus dan Yesus mengenai batas pengampunan. Petrus bertanya apakah ia harus mengampuni saudaranya sampai tujuh kali.

Yesus memberikan jawaban yang melampaui perhitungan manusia. Ia mengatakan bahwa pengampunan bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Jawaban itu bukan sekadar persoalan angka. Yesus hendak menegaskan bahwa kasih dan pengampunan tidak boleh dibatasi oleh hitungan manusia.

Dalam homilinya, RP. Vitalis Nggeal, CP. mengajak umat melihat pengampunan sebagai bagian penting dari kehidupan orang beriman. Menurutnya, mengampuni bukan perkara sederhana. Banyak faktor dalam diri manusia yang membuat seseorang sulit meminta maaf maupun memberikan maaf.

Salah satu hambatan terbesar adalah ego.

Mengampuni begitu sulit. Ada banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya adalah ego,” ujar RP. Vitalis dalam homilinya.

Ia menjelaskan bahwa manusia sering merasa dirinya lebih benar dibandingkan orang lain. Perasaan tersebut membuat seseorang sulit mengakui kesalahan. Harga diri juga dapat menjadi penghalang ketika seseorang harus mengatakan bahwa dirinya telah melakukan kekeliruan.










Ego Membuat Manusia Sulit Mengakui Kesalahan

Menurut RP. Vitalis, manusia kerap memiliki kecenderungan mempertahankan harga diri. Ketika melakukan kesalahan, seseorang dapat mencari alasan untuk membenarkan tindakan sendiri.

Pada kondisi seperti itu, kata “maaf” terasa berat untuk diucapkan.

Manusia kadang merasa bahwa meminta maaf berarti merendahkan diri. Ada pula yang menganggap permintaan maaf sebagai tanda kelemahan. Padahal, keberanian mengakui kesalahan justru menunjukkan kedewasaan.

“Saya tahu saya salah dan saya mau minta maaf,” menjadi sikap yang perlu dibangun dalam kehidupan bersama.

Pengakuan tersebut tidak membuat seseorang kehilangan martabat. Sebaliknya, sikap rendah hati membuka jalan bagi pemulihan hubungan. Permintaan maaf dapat menjadi awal untuk memperbaiki kesalahan dan membangun kembali kepercayaan.

RP. Vitalis juga mengingatkan umat agar tidak mudah menempatkan diri sebagai pihak yang selalu benar. Sikap tersebut dapat membuat seseorang sulit melihat kekurangan dalam dirinya.

Manusia sering kali mampu menemukan kesalahan orang lain dengan cepat. Namun, ketika berhadapan dengan kekeliruan sendiri, ia dapat mencari pembenaran.

Karena itu, umat diajak untuk melakukan pemeriksaan diri.

Sebelum menuntut orang lain berubah, setiap pribadi perlu melihat kehidupannya sendiri. Apakah dirinya sudah mampu mengasihi? Apakah ia bersedia mengakui kesalahan? Apakah ia telah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan bersama tidak pernah lepas dari kekhilafan.

Menuntut Kesempurnaan dari Sesama

Dalam kehidupan keluarga, komunitas, lingkungan kerja, maupun masyarakat, perbedaan dapat melahirkan konflik. Setiap orang memiliki karakter, kebiasaan, pemikiran, serta cara bertindak yang berbeda.

Perbedaan itu terkadang memunculkan kekecewaan.

Seseorang dapat terluka karena perkataan. Orang lain merasa tersinggung karena tindakan. Ada pula hubungan yang terganggu akibat kesalahpahaman.

Dalam keadaan demikian, manusia mudah menuntut orang lain untuk selalu sempurna.

RP. Vitalis mengingatkan agar umat tidak menggunakan standar yang berbeda. Jangan sampai seseorang menuntut kesempurnaan dari sesama, tetapi meminta pengertian ketika dirinya melakukan kesalahan.

Sikap tersebut dapat menghambat terciptanya kehidupan yang damai.

Setiap manusia memiliki kelemahan. Tidak seorang pun bebas dari kesalahan. Karena itu, kasih harus menjadi dasar dalam menghadapi kekurangan sesama.

Pengampunan tidak berarti membenarkan tindakan yang salah. Memaafkan juga bukan berarti menganggap sebuah kesalahan tidak pernah terjadi.

Pengampunan merupakan keputusan untuk tidak membiarkan luka menguasai kehidupan.

Seseorang tetap dapat menegur kesalahan. Namun, teguran perlu disampaikan dengan kasih. Tujuannya bukan menjatuhkan, melainkan membantu orang lain menyadari kekeliruan dan memperbaiki kehidupannya.

Petrus Bertanya tentang Batas Pengampunan

Injil Matius 18:21-35 memberikan gambaran yang kuat tentang makna pengampunan. Petrus datang kepada Yesus dan bertanya mengenai batas kesediaan untuk memaafkan.

Petrus menyebut angka tujuh kali.

Dalam pemikiran manusia, tujuh kali sudah terlihat sangat banyak. Namun, Yesus memberikan jawaban yang jauh lebih luas. Ia menyebut “tujuh puluh kali tujuh kali”.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pengampunan tidak seharusnya menjadi transaksi yang dihitung. Orang beriman tidak dipanggil untuk membuat daftar kesalahan lalu menentukan berapa kali seseorang masih layak mendapatkan maaf.

Kasih Allah tidak bekerja seperti itu.

Pengampunan harus menjadi bagian dari cara hidup.

Yesus kemudian memberikan perumpamaan tentang seorang raja dan hambanya. Seorang hamba memiliki utang yang sangat besar kepada sang raja. Jumlahnya mencapai sepuluh ribu talenta.

Utang tersebut digambarkan sebagai sesuatu yang mustahil dibayar oleh hamba itu. Karena tidak mampu melunasinya, ia memohon belas kasihan.

Raja kemudian tergerak oleh kasih. Ia membebaskan hamba tersebut dan menghapus seluruh utangnya.

Peristiwa itu menggambarkan besarnya belas kasih Allah kepada manusia.

Namun, kisah tersebut tidak berhenti di sana.

Setelah keluar dari hadapan raja, hamba yang telah menerima penghapusan utang bertemu dengan rekannya. Orang tersebut memiliki utang seratus dinar kepadanya.

Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan utang yang sebelumnya telah dihapuskan oleh raja.

Ironisnya, hamba tersebut tidak menunjukkan belas kasih.

Ia menangkap kawannya dan menuntut agar utang segera dibayar. Rekannya memohon kesabaran. Namun, permintaan tersebut ditolak.

Hamba itu kemudian menyerahkan kawannya ke dalam penjara.

Kejadian tersebut akhirnya diketahui oleh hamba-hamba lain. Mereka menyampaikan semuanya kepada raja.

Raja menjadi marah.

Hamba yang sebelumnya menerima pengampunan besar dipanggil kembali. Raja menegurnya karena tidak menunjukkan belas kasih kepada rekannya.

Pertanyaan raja menjadi pusat pesan perumpamaan tersebut: jika dirinya telah menghapus utang yang sangat besar, bukankah hamba itu seharusnya memberikan belas kasih kepada orang lain?

Pengampunan Allah Menjadi Dasar Hidup Bersama

RP. Vitalis menegaskan bahwa manusia sering lupa terhadap pengampunan yang telah diterimanya dari Tuhan.

Setiap orang memiliki pengalaman jatuh dan bangkit. Ada masa ketika seseorang melakukan kesalahan. Ada pula saat dirinya membutuhkan kesempatan kedua.

Tuhan memberikan kesempatan tersebut tanpa membatasi jumlahnya.

Karena itu, manusia tidak semestinya menerima belas kasih Allah hanya untuk dirinya sendiri. Karunia tersebut perlu diteruskan dalam relasi dengan sesama.

“Kita diberikan kesempatan oleh Tuhan tidak terbatas. Tetapi kita memberikan pengampunan dengan batasan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bagi umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi.

Sering kali manusia ingin mendapatkan pengampunan dengan cepat. Namun, ketika orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia sulit memberikan kesempatan.

Injil mengajak umat untuk keluar dari sikap tersebut.

Pengampunan perlu berakar pada kesadaran bahwa setiap pribadi juga membutuhkan belas kasih.

Keluarga Menjadi Tempat Belajar Mengampuni

Dalam homilinya, RP. Vitalis menggunakan kehidupan keluarga sebagai contoh sederhana.

Seorang ibu dan ayah tidak langsung membatalkan kasih kepada anak hanya karena anak melakukan kesalahan. Orang tua dapat menegur. Mereka dapat memberikan nasihat. Namun, kasih tetap menjadi dasar hubungan.

Gambaran tersebut membantu umat memahami bahwa pengampunan tidak berarti menghapus tanggung jawab.

Anak tetap perlu belajar dari kesalahan. Ia harus memahami akibat tindakannya. Tetapi kesempatan untuk memperbaiki diri tetap diberikan.

Hal yang sama berlaku dalam kehidupan komunitas.

Gereja dipanggil menjadi tempat belas kasih. Gereja bukan ruang untuk menghakimi orang yang jatuh. Komunitas beriman seharusnya membantu seseorang menemukan jalan untuk bangkit.

Gereja adalah tempat belas kasih, tempat menolong orang untuk bangkit,” pesan RP. Vitalis.

Pesan tersebut relevan dalam kehidupan umat sehari-hari. Tidak semua orang datang ke komunitas dengan kondisi sempurna. Ada yang membawa luka. Ada yang memiliki persoalan keluarga. Ada yang pernah melakukan kesalahan.

Kehadiran komunitas seharusnya membantu mereka menemukan kekuatan baru.

Mengampuni Bukan Berarti Melupakan Luka

Pengampunan sering disalahpahami sebagai tindakan melupakan seluruh kejadian. Padahal, seseorang dapat mengingat sebuah peristiwa tanpa terus memelihara kebencian.

Luka membutuhkan proses.

Ada kesalahan yang dapat diselesaikan melalui percakapan sederhana. Ada pula persoalan yang membutuhkan waktu lebih panjang. Dalam keadaan tertentu, seseorang perlu membangun kembali kepercayaan secara perlahan.

Yang terpenting adalah tidak membiarkan kebencian menguasai hati.

Pengampunan membuka kemungkinan bagi pemulihan.

Sikap tersebut membutuhkan keberanian. Orang yang mengampuni tidak selalu langsung merasa nyaman. Ia perlu memilih untuk melepaskan keinginan membalas.

Kasih kemudian mengambil tempat kebencian.

Menanggalkan Keakuan

Pesan Injil juga mengajak umat menanggalkan keakuan.

Keakuan membuat seseorang ingin menang sendiri. Ia ingin pendapatnya diterima. Ia ingin pihak lain mengakui kesalahan terlebih dahulu.

Dalam hubungan yang sedang mengalami konflik, sikap semacam itu dapat memperpanjang persoalan.

Kerendahan hati membuka jalan berbeda.

Seseorang dapat menjadi pihak pertama yang berkata, “Maaf.” Ia tidak harus menunggu orang lain lebih dahulu. Langkah kecil tersebut dapat menghentikan pertengkaran.

Demikian pula dengan pengampunan.

Seseorang dapat memilih untuk membuka ruang dialog. Ia dapat mendengarkan alasan orang lain. Ia dapat menyampaikan luka tanpa mempermalukan pihak yang bersalah.

Cara tersebut memungkinkan hubungan dipulihkan.

Pengampunan Tanpa Batas

“Tujuh puluh kali tujuh kali” menjadi simbol pengampunan tanpa batas. Yesus tidak meminta manusia menghitung berapa kali sudah memaafkan.

Ia mengajarkan sebuah cara hidup.

Kasih tidak berhenti ketika seseorang mengalami kekecewaan. Belas kasih tidak hilang hanya karena orang lain melakukan kesalahan.

Namun, panggilan untuk mengampuni tetap perlu disertai kebijaksanaan. Dalam situasi tertentu, seseorang dapat menjaga jarak untuk menghindari terulangnya tindakan yang merugikan. Pengampunan dan batas yang sehat dapat berjalan bersama.

Yang perlu dilepaskan adalah kebencian dan keinginan untuk membalas.

Dengan demikian, pengampunan menjadi jalan kebebasan batin.

Liturgi Berjalan dalam Kebersamaan

Perayaan Ekaristi Minggu itu turut didukung oleh berbagai petugas liturgi.

Saudari Caroline bertugas sebagai lektor. Ibu Lastri Anita Gultom melayani sebagai pemazmur. Bagian musik liturgi ditangani oleh Ibu Cindy sebagai organis.

Bapak Hendra bertugas sebagai dirigen. Sementara itu, pelayanan paduan suara dipercayakan kepada Vox Fidei Choir.

Bacaan Injil dibacakan oleh Diakon Andreas Pisin, CP. Sabda Tuhan dari Matius 18:21-35 menjadi pusat permenungan umat.

Keterlibatan para petugas tersebut membantu perayaan berjalan dengan tertib dan khidmat. Setiap pelayanan menjadi bagian dari satu kesatuan liturgi.

Membawa Pesan Injil ke Kehidupan Sehari-hari

Perayaan Ekaristi tidak berhenti ketika umat meninggalkan gereja. Pesan yang didengarkan perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat diajak mulai dari lingkungan terdekat.

Dalam keluarga, pengampunan dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan. Dalam komunitas, sikap tersebut dapat terlihat melalui kesabaran menghadapi perbedaan. Di tengah masyarakat, kasih dapat diwujudkan dengan tidak mudah menghakimi.

Pengampunan juga dapat dimulai dari hal sederhana.

Berani mengakui kesalahan. Bersedia meminta maaf. Menerima permintaan maaf. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berubah.

Langkah-langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama.

RP. Vitalis mengajak umat untuk terus membangun relasi yang dilandasi kasih.

“Mari kita saling mengasihi dan mengampuni,” pesannya.

Ajakan tersebut menjadi penutup yang kuat dari permenungan Injil.

Matius 18:21-35 mengingatkan bahwa manusia telah menerima belas kasih yang besar dari Tuhan. Karena itu, pengampunan kepada sesama bukan sekadar pilihan tambahan. Sikap tersebut menjadi konsekuensi dari iman yang dihidupi.

Ketika seseorang mampu mengampuni, ia membuka ruang bagi pemulihan. Ketika sebuah keluarga saling memaafkan, hubungan dapat kembali bertumbuh. Ketika komunitas membangun belas kasih, orang yang jatuh memperoleh kesempatan untuk bangkit.

Perayaan Minggu di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang akhirnya menjadi kesempatan bagi umat untuk melihat kembali kehidupan masing-masing.

Pengampunan tidak mengenal batas hitungan. Kasih tidak seharusnya berhenti pada kesalahan orang lain. Sebaliknya, belas kasih perlu terus dihidupkan karena setiap manusia juga pernah membutuhkan pengampunan.

Melalui Sabda Tuhan, umat diajak meninggalkan ego, merendahkan hati, mengakui kekurangan, serta membuka kesempatan bagi sesama.

Pesan itu menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah perayaan Ekaristi.

Mengampuni berarti memilih kasih daripada kebencian, pemulihan daripada pembalasan, serta kehidupan bersama daripada keinginan untuk menang sendiri.

📍 Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:  13 September 2026

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar