Foto Romo Vitalis Nggeal, CP.Pastor Kepala Paroki St.Agustinus Paya Kumang.Keuskupan Ketapang
Ketapang, 27 Agustus 2024 - **Romo RP. Vitalis Nggeal, CP: Panduan Bulan Kitab Suci Nasional 2024**
**Menjaga Hubungan Normal dengan Tuhan: 3 Langkah untuk Hidup yang Lebih Dekat dengan-Nya**
Membangun hubungan yang erat dengan Tuhan adalah sebuah perjalanan spiritual yang tak ternilai. Hal ini bukan sekadar rutinitas religius, tetapi menjadi dasar kehidupan iman yang kokoh dan penuh makna. Melalui hubungan yang normal dan intim dengan Tuhan, kita dapat merasakan kedekatan-Nya, mendapatkan pencerahan dalam doa, dan memperoleh bimbingan Roh Kudus dalam setiap aspek kehidupan. Untuk membantu umat memperkuat hubungan ini, Romo RP. Vitalis Nggeal, CP, dalam Panduan Bulan Kitab Suci Nasional 2024, membagikan tiga langkah utama yang perlu diambil oleh setiap orang beriman.
**1. Menenangkan Hati di Hadapan Tuhan: Kunci Berdoa dengan Tulus**
Yesus Kristus mengajarkan dalam Yohanes 4:24, "Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Firman ini menegaskan pentingnya berdoa dengan hati yang tulus dan terbuka di hadapan Tuhan. Berdoa bukan hanya tentang mengucapkan kata-kata yang indah, tetapi tentang membawa segala beban, kesulitan, dan keraguan kita ke hadapan-Nya dengan penuh kejujuran. Ketika kita benar-benar terbuka kepada Tuhan, kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam hati kita, membawa penyesalan yang tulus dan kedamaian sejati.
Contohnya, dalam doa, kita bisa berkata, "Tuhan, aku melihat banyak orang yang tulus melayani-Mu, sementara aku masih terbelenggu oleh beban hidupku—pekerjaan, keluarga, dan masa depanku. Berilah aku kekuatan untuk melepaskan beban ini dan mengikuti kehendak-Mu." Dengan berdoa demikian, kita membuka hati kepada Tuhan, dan doa kita pun diterima oleh-Nya. Sebaliknya, jika kita berdoa dengan sikap asal-asalan atau dengan niat untuk "bertransaksi" dengan Tuhan, doa kita tidak akan membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
Selain berdoa, membaca Alkitab dengan penuh perenungan dan membiarkan firman Tuhan berbicara ke dalam hati kita adalah cara lain untuk menenangkan diri di hadapan Tuhan. Merenungkan firman-Nya tidak hanya membantu kita memahami kehendak Tuhan, tetapi juga memperkuat iman dan ketenangan batin. Di tengah kesibukan dunia, penting bagi kita untuk mengambil waktu sejenak, baik di pagi hari maupun sebelum tidur, untuk menyentuh kehadiran Tuhan. Dengan berlatih menenangkan hati setiap hari, kita akan terus memperkuat hubungan kita dengan Tuhan.
**2. Menyerahkan Hati kepada Tuhan: Kepercayaan dan Ketaatan Penuh**
Menyerahkan hati kita kepada Tuhan berarti mempercayakan segala aspek kehidupan kita kepada-Nya, termasuk pekerjaan, keluarga, dan masa depan. Ketika kita menghadapi berbagai situasi dalam hidup, kita harus mencari Tuhan, berdoa memohon petunjuk-Nya, dan mengikuti kehendak-Nya dengan sepenuh hati. Menyerahkan hati kepada Tuhan bukan berarti kita melepaskan tanggung jawab, tetapi kita menyerahkan kendali kepada Tuhan, percaya bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik untuk kita.
Misalnya, ketika menghadapi keputusan besar seperti pernikahan anak, kita dapat berdoa, "Ya Tuhan, anakku adalah pemberian-Mu. Aku percaya Engkau akan menuntun jalannya. Aku berserah pada kehendak-Mu dan percaya bahwa apa yang Engkau atur adalah yang terbaik." Ketaatan ini mengajarkan kita untuk melepaskan keinginan pribadi dan mengikuti pengaturan Tuhan dengan tulus. Seperti teladan tiga teman Daniel yang rela mati daripada menyembah berhala, ketaatan mereka yang penuh kepada Tuhan adalah contoh dari hati yang benar-benar tunduk pada-Nya.
Namun, menyerahkan hati kepada Tuhan juga berarti kita harus menghindari sikap munafik. Jika kita berkata bahwa kita tunduk pada kehendak Tuhan, tetapi dalam hati kita penuh dengan keluhan dan ketidakpuasan ketika ujian datang, maka itu berarti kita belum sepenuhnya menyerahkan hati kita kepada Tuhan. Yesus mengingatkan dalam Matius 15:8-9, "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." Tuhan tidak menginginkan kata-kata kosong, tetapi kepercayaan dan ketaatan penuh dari hati kita.
**3. Mencari dan Mengamalkan Kebenaran dalam Segala Hal: Keteguhan dalam Iman**
Mencari kebenaran berarti kita harus peka terhadap apa yang benar di mata Tuhan dan berani mengambil sikap untuk itu, meskipun berhadapan dengan tantangan atau tekanan dari lingkungan sekitar. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menegakkan kebenaran, bukan hanya menurut apa yang dikatakan oleh orang lain, tetapi sesuai dengan firman Tuhan.
Dalam gereja, sering kali kita dihadapkan pada pilihan untuk mengikuti suara mayoritas atau tetap setia pada kebenaran firman Tuhan. Ketika kita melihat ada ketidakadilan atau pelanggaran, kita tidak boleh diam saja atau menghindar. Kita harus berani berbicara dan bertindak sesuai dengan kebenaran, meskipun itu mungkin membuat kita tidak populer atau menghadapi penolakan. Seperti para rasul yang mengatakan, "Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia" (Kisah Para Rasul 5:29), kita pun harus memiliki keberanian yang sama.
Sayangnya, dalam gereja saat ini, banyak orang yang lebih menghormati status dan kedudukan daripada kebenaran. Seperti bangsa Israel yang secara membabi buta mengikuti para imam kepala dan ahli Taurat, akhirnya mereka menolak dan menyalibkan Yesus. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak terjebak dalam penyembahan kepada manusia, melainkan berfokus kepada Tuhan yang sejati.
**Kesimpulan: Menghidupi Hubungan yang Normal dengan Tuhan**
Menjalani kehidupan iman bukanlah perjalanan yang mudah, tetapi dengan tekad untuk menerapkan tiga langkah ini—menenangkan hati di hadapan Tuhan, menyerahkan hati kita kepada-Nya, dan mencari serta mengamalkan kebenaran—kita dapat membangun hubungan yang lebih normal dan erat dengan Tuhan. Hubungan ini adalah dasar bagi kehidupan rohani yang sehat dan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan hidup. Apakah Anda siap untuk memulai perjalanan ini dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara yang lebih mendalam? Dengan mempraktikkan prinsip-prinsip ini, kita semua dapat hidup lebih dekat dengan Tuhan dan merasakan kasih serta bimbingan-Nya setiap hari.
Tim Komsos Paroki St. Agustinus Paya Kumang

0 comments:
Posting Komentar