**Seminar Peringatan 100 Tahun KWI: Umat Katolik Ketapang Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa**

           Flayer Seminar Peringatan 100 Tahun KWI: Umat Katolik Ketapang Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa

**Ketapang, 16 November 2024** Dalam rangka peringatan 100 tahun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Keuskupan Ketapang mengadakan seminar bertajuk "Umat Katolik Ketapang Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa". Acara ini berlangsung di Rumah Adat Dermalo Yosep Murial, Kompleks Catholic Center Paya Kumang, dan dihadiri oleh 100 peserta dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang dan Paroki Santa Gemma Galgani, Keuskupan Ketapang. Seminar ini bertujuan untuk memperkuat kesadaran umat Katolik akan pentingnya peran mereka dalam membangun Gereja dan bangsa, di tengah tantangan modernitas yang semakin kompleks.


         Foto Bapak.Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang.dan Moderator Pak Elias Ngiuk

                      Foto Peserta Seminar Peringatan 100 Tahun KWI:  Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa 

                             Foto Peserta Seminar Peringatan 100 Tahun KWI:  Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa 
























                          Foto Peserta Seminar Peringatan 100 Tahun KWI:  Berjalan Bersama Membangun Gereja dan Bangsa 

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan registrasi peserta dan sesi pembuka berupa snack. Seminar dipandu oleh moderator Pak Elias Ngiuk dan menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang, sebagai pembicara utama. Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi utama yang masing-masing membahas isu-isu penting bagi umat Katolik:

 Sesi I:

Pembimas Katolik Provinsi Kalimantan Barat menyampaikan materi tentang "Pengembangan Iman Umat Beragama dan Pembangunan Rumah Ibadah (Gereja)". Pembicara menekankan pentingnya nilai-nilai iman yang mendasar dalam kehidupan umat Katolik dan bagaimana hal ini berkontribusi pada pembangunan rumah ibadah yang kokoh serta penguatan kehidupan beragama di tengah masyarakat.

 Sesi II:

Mgr. Pius Riana Prapdi menyampaikan ceramah tentang "Pengembangan Kader Iman dan Pengajaran Iman (100 Tahun KWI dan Partisipasi Umat Katolik dalam Membangun Daerah dan Bangsa)". Dalam pemaparannya, Mgr. Pius menekankan pentingnya membiasakan nilai-nilai Katolik sejak dini kepada anak-anak, mendukung anak-anak menjadi misdinar, dan terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja seperti turne romo. Uskup juga berbagi pengalaman bahwa panggilan menjadi imam bisa datang dari berbagai cara, termasuk mimpi dan perjalanan iman pribadi.

 Sesi III:

Perwakilan dari Kesbangpol/Bawaslu Kabupaten Ketapang membahas topik "Pengembangan Nilai Demokrasi dan Kerukunan" sebagai upaya memperkuat peran umat Katolik dalam kehidupan berbangsa. Diskusi ini melibatkan berbagai pertanyaan menarik dari peserta, termasuk pertanyaan dari Romo GM Pamungkas Winarta, Pr., yang menanyakan cara mempersiapkan calon imam di Gereja Katolik. Mgr. Pius menjawab dengan menekankan pentingnya dukungan orang tua dalam membina anak-anak menjadi pribadi Katolik yang berkomitmen sejak dini.

Pertanyaan lain dari Pak Daduanto menyoroti perbedaan antara Keuskupan Agung dan Keuskupan Sufragan, yang dijelaskan oleh Mgr. Pius dengan cara sederhana: Keuskupan Agung adalah wilayah yang mempersatukan beberapa keuskupan di sekitarnya, dengan Uskup Agung sebagai pemimpin, sementara Keuskupan Sufragan adalah bagian dari provinsi gerejawi tersebut. Pak Hendrikus Hendri, S.S. juga bertanya mengenai syarat pemekaran keuskupan, dan Mgr. Pius menjelaskan bahwa keputusan ini ada di tangan Vatikan dan bergantung pada berbagai faktor, seperti jumlah imam, seminari, kemampuan finansial, serta aktivitas pastoral yang sudah mandiri.

Dalam diskusi, juga ada pertanyaan dari Pak Abin dan Pak Aniko yang menanyakan peran sekolah Katolik dalam menyediakan pendidikan berkualitas dan mengatasi tantangan biaya. Mgr. Pius menekankan bahwa sekolah Katolik berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, meski menghadapi tantangan biaya yang tinggi.

Acara juga dimeriahkan dengan pertanyaan dari Pak Iyan Paulus tentang istilah "Kristen Katolik", dan pertanyaan dari Pak Aniko mengenai cara menangani umat Katolik yang pindah agama karena masalah sosial, seperti hamil di luar nikah. Mgr. Pius menekankan pentingnya penguatan nilai moral dan bimbingan yang komprehensif kepada generasi muda di lingkungan Keluarga.sekolah dan Gereja.

Penutupan acara dilakukan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, dan disertai dengan pemberian sertifikat kepada seluruh peserta sebagai penghargaan atas partisipasi aktif mereka. Seminar ini menjadi momen refleksi bagi umat Katolik Ketapang untuk terus berperan aktif dalam kehidupan Gereja dan bangsa, sesuai dengan tema besar 100 Tahun KWI: "Berjalan Bersama Gereja dan Bangsa". 

** Moh Dofir, Ketua Bawaslu Kabupaten Ketapang: Mengawal Pemilu dengan Integritas**

Dalam upaya mengawal proses pemilu yang bersih dan demokratis, Moh Dofir, Ketua Bawaslu Kabupaten Ketapang, menyampaikan komitmennya untuk terus meminimalisir potensi konflik dan praktik politik yang tidak sehat. Menurutnya, peran Bawaslu sangat penting untuk memastikan pemilu berjalan dengan jujur, adil, dan transparan.

                                    Foto. Ketua Bawaslu Kabupaten Ketapang.Moh Dofir dan Moderator Pak Elias Ngiuk

**Catatan Khusus dari Moh Dofir:**

“Kami dari Bawaslu Kabupaten Ketapang turut mengawal pemilu dengan tujuan meminimalisir potensi konflik serta mengajak masyarakat untuk memilih dengan cerdas. Minggu tenang adalah kesempatan bagi kami untuk memastikan tidak adanya politik uang dan menegakkan integritas pemilu di tengah masyarakat yang semakin kritis dan jenuh terhadap praktik politik yang tidak sehat. Keberhasilan sebuah pemilu tidak boleh diwarnai oleh konflik atau SARA; oleh karena itu, kami terus meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya memilih dengan hati nurani yang bersih dan tanpa tekanan.”

Moh Dofir menegaskan bahwa Minggu Tenang, yang menjelang pemilu, bukan hanya sebagai waktu untuk berkampanye, tetapi sebagai momentum bagi masyarakat untuk merenung dan memilih calon pemimpin dengan objektivitas dan akal sehat. Salah satu fokus Bawaslu adalah menegakkan aturan terkait politik uang, dengan memastikan bahwa setiap proses pemilihan berjalan tanpa adanya unsur yang bisa merusak integritasnya.

**Pentingnya Pemilu Tanpa Konflik dan SARA**

Bawaslu Kabupaten Ketapang juga terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat untuk lebih memahami pentingnya pemilu yang damai. Menurut Moh Dofir, "Keberhasilan pemilu bukan hanya soal angka, tetapi tentang bagaimana kita bisa melaksanakan pemilu yang bersih dan tanpa ada konflik yang membelah masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi harus tetap terjaga."

Selain itu, Bawaslu juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak terjebak dalam politik uang dan memilih dengan penuh pertimbangan berdasarkan rekam jejak dan visi misi calon pemimpin. "Kami mengajak semua pihak untuk menjaga kualitas pemilu dengan memilih calon yang memang memiliki integritas dan komitmen untuk membangun negara ini," ujarnya.

Dengan komitmen kuat dari Bawaslu Kabupaten Ketapang, harapannya adalah pemilu yang berjalan lancar dan damai, serta hasilnya dapat diterima oleh seluruh masyarakat dengan lapang dada tanpa ada gejolak yang merusak tatanan sosial.

**Keterlibatan Masyarakat dalam Pengawasan Pemilu**

Sebagai penutup, Moh Dofir mengajak seluruh masyarakat Ketapang untuk aktif berpartisipasi dalam pengawasan pemilu, baik itu secara langsung melalui pemilihan yang bijak maupun dengan melaporkan pelanggaran yang ditemukan selama proses berlangsung. "Pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat juga sangat membantu kami dalam menjaga proses pemilu agar tetap sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sehat," tegasnya.

Semoga dengan usaha bersama, pemilu di Kabupaten Ketapang bisa berjalan dengan baik, tanpa ada tekanan eksternal, dan masyarakat dapat memilih dengan bebas serta merdeka.

**Penulis: Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang** 

**Tanggal: 16 November 2024**

 

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar