"Empat sifat Gereja bukan hanya bagian dari rumusan teologis dalam Syahadat, tetapi menjadi arah penuntun bagi umat dalam bersaksi dan mewujudkan identitas Kristiani di dunia modern," ujar Hendrikus Hendri. Ia menambahkan bahwa Gereja yang hidup bukanlah institusi statis, melainkan persekutuan dinamis yang terus bergerak mengikuti bisikan Roh Kudus dalam setiap zaman.
1. Gereja yang SATU di Era Globalisasi
Kesatuan Gereja semakin relevan dalam dunia yang terfragmentasi oleh ideologi, politik, dan media sosial. Gereja Katolik menunjukkan kesatuannya secara nyata dalam kesetiaan pada ajaran Magisterium, perayaan Ekaristi yang seragam di seluruh dunia, dan kepemimpinan yang terpusat pada Paus Fransiskus dan para uskup. Dalam konteks lokal, semangat sinodalitas (berjalan bersama) menjadi wujud nyata persatuan umat, terkhusus di Paroki Paya Kumang yang mengedepankan musyawarah dan keterlibatan aktif umat dalam pelayanan.
2. Gereja yang KUDUS dalam Kerapuhan Manusia
Kesadaran akan kekudusan Gereja tidak menghapus kenyataan bahwa umat terdiri dari pribadi-pribadi yang penuh kelemahan. Namun, justru di sinilah kekuatan Gereja tampak: sebagai tempat rahmat dan pengudusan, melalui sakramen, doa, pelayanan kasih, dan pertobatan. Di era modern, kekudusan juga dimaknai sebagai panggilan hidup sehari-hari, mulai dari kejujuran bekerja, membela martabat manusia, hingga merawat ciptaan.
3. Gereja yang KATOLIK: Inklusif, Digital, dan Peduli
Kekatolikan berarti keterbukaan universal. Gereja Katolik hadir untuk semua bangsa, dan dalam era digital, misi evangelisasi kini dilakukan melalui berbagai platform komunikasi. Pewartaan Injil tidak hanya terjadi di mimbar, tetapi juga di media sosial, podcast, video singkat, dan ruang-ruang digital lainnya. Paroki-paroki, termasuk Paya Kumang, kini mulai mengembangkan pelayanan pastoral berbasis teknologi demi menjangkau umat muda dan mereka yang terpinggirkan.
4. Gereja yang APOSTOLIK: Setia dan Kontekstual
Sifat apostolik menandakan kesinambungan ajaran dari para rasul yang diwariskan secara utuh melalui para uskup. Namun dalam konteks kontemporer, Gereja juga berupaya menyampaikan ajaran itu secara inkulturatif dan kontekstual, sehingga bisa dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Di Keuskupan Ketapang sendiri, pewartaan iman disesuaikan dengan budaya lokal, tanpa kehilangan esensi ajaran Kristus. Hal ini termasuk dalam bentuk pendampingan iman anak-anak, remaja, OMK, hingga keluarga, serta keterlibatan aktif awam dalam pelayanan pewartaan.
Gereja yang Hidup, Bergerak Bersama Umat
Hendrikus Hendri mengajak seluruh umat untuk tidak sekadar memahami empat sifat Gereja sebagai doktrin, tetapi menghayatinya dalam tindakan. “Gereja adalah kita. Maka ketika kita hidup dalam kasih, dalam kesatuan, dalam kesetiaan, dan keterbukaan kepada sesama, maka kita sedang mewujudkan sifat sejati Gereja,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya membangun semangat pelayanan yang kolaboratif di tengah dunia yang semakin saling terhubung namun rentan terpecah-belah.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 28 Mei 2025


0 comments:
Posting Komentar