Foto Pastor Frans Mba’a, OSA
“Lukisan Sang Semesta Hadir untuk Kita Jaga”: Pesan Mendalam Romo Fransiskus Mba’a, OSA, Menyentuh Hati Umat Ketapang.
Ketapang, 28 Mei 2025.Dalam suasana siang yang tenang, ketika matahari perlahan menembus langit Ketapang yang biru dan angin berembus pelan membelai pepohonan, umat Katolik di Keuskupan Ketapang dikejutkan dengan sebuah pesan rohani yang menyentuh hati. Tepat pada pukul 09.54 WIB, sebuah status WhatsApp dari Romo Fransiskus Mba’a, OSA, muncul di layar ponsel banyak umat. Singkat, sederhana, namun menyimpan makna yang begitu dalam: “Lukisan Sang Semesta hadir untuk kita jaga.”
Imam yang dikenal akrab dan penuh cinta kasih ini, merupakan anggota dari Ordo Santo Agustinus (OSA) yang telah lama melayani di tanah Kalimantan Barat. Dalam setiap perjumpaan pastoral maupun khotbah-khotbahnya, Romo Frans selalu menekankan pentingnya keterhubungan manusia dengan alam semesta sebagai karya agung Sang Pencipta.
Pesan yang dibagikan melalui status WhatsApp tersebut bukan sekadar rangkaian kata-kata puitis, melainkan sebuah permenungan spiritual yang mengajak umat untuk merenungkan kembali peran manusia sebagai penjaga ciptaan. Dalam wawancara singkat yang dilakukan oleh tim pastoral Keuskupan Ketapang, Romo Frans menjelaskan bahwa inspirasi dari pesan tersebut datang saat ia sedang duduk merenung di halaman pastoran, menyaksikan daun-daun berguguran dan burung-burung kecil bernyanyi di sela-sela dahan.
“Saya melihat keindahan yang tenang langit, daun, hembusan angin. Lalu saya berpikir, ini bukan hanya milik saya atau umat Katolik. Ini adalah lukisan semesta yang Tuhan hadirkan untuk seluruh umat manusia. Tapi, siapa yang menjaganya?” tutur Romo Frans dengan nada lembut.
Makna Teologis dan Ekologis
Pernyataan Romo Frans bukan sekadar perenungan pribadi. Ia selaras dengan seruan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ tentang “Pemeliharaan Rumah Kita Bersama.” Paus menyerukan bahwa bumi adalah saudari yang menangis karena perlakuan manusia yang tidak bertanggung jawab. Dalam terang iman, menjaga alam bukan hanya tugas ekologis, melainkan juga perwujudan kasih kepada Sang Pencipta.
Beberapa umat yang sempat melihat dan membagikan ulang status Romo Frans merasa tergerak dan terdorong untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar mereka.
“Saya membaca kalimat itu sambil duduk di teras rumah. Tiba-tiba saya sadar, setiap plastik yang saya buang sembarangan, setiap pohon yang ditebang tanpa tanggung jawab, itu berarti saya merusak lukisan Tuhan sendiri,” ujar Benediktus, seorang guru agama Katolik di Ketapang.
Konsistensi Pesan Pastoralis
Bukan pertama kalinya Romo Frans menyampaikan pesan reflektif melalui media digital. Dalam era di mana teknologi sering kali memisahkan manusia dari keheningan batin, ia justru memilih untuk menggunakannya sebagai jembatan pewartaan. Status WhatsApp, homili daring, hingga renungan singkat yang dikirimkan dalam grup-grup umat menjadi saluran rohani yang efektif.
“Di dunia yang cepat ini, saya ingin menaburkan benih-benih kecil yang bisa tumbuh dalam hati orang, meski hanya satu kalimat. Kalau itu bisa membuat satu orang lebih peduli terhadap alam atau bersyukur atas hidup, itu sudah cukup,” ujar Romo Frans menutup perbincangan.
Penutup
Di tengah riuhnya dunia yang terus berlari, sebuah kalimat bisa menjadi titik hening yang membangkitkan kesadaran. “Lukisan Sang Semesta hadir untuk kita jaga” adalah panggilan bukan hanya bagi umat Katolik di Ketapang, tetapi bagi setiap insan yang percaya bahwa bumi adalah rumah bersama. Dari pesan WhatsApp yang singkat, Tuhan kembali berbicara melalui hamba-Nya mengajak kita semua untuk lebih mencintai dan merawat anugerah terbesar: ciptaan-Nya yang agung dan indah.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
About
Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
0 comments:
Posting Komentar