Pesan Rohani Sederhana Hadir Menyapa Jiwa, Disampaikan Prodiakon Ignasius Rinso Tigor,S.S, di Pagi Buta
Ketapang, 27 Mei 2025.Di tengah rutinitas yang padat dan kehidupan yang seringkali membawa manusia pada pusaran kegelisahan batin, sebuah pesan rohani sederhana hadir menyapa jiwa, membawa kedamaian, dan mengetuk pintu hati banyak umat yang merenung dalam keheningan dini hari.
Tepat pukul 04.39 WIB, Selasa, 27 Mei 2025, sebuah status WhatsApp diunggah oleh Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., seorang Prodiakon dari Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang. Meskipun pesan tersebut tampil dalam format singkat di media sosial, kandungan makna rohaninya begitu dalam dan menenangkan. Dalam status yang ia beri judul “Pesan Malam Ini,” beliau menuliskan:
“Perbaiki yang masih bisa diperbaiki,Relakan yang pergi,Lepaskan yang menyakiti,Hargai yang peduli,Ikhlaskan yang tak bisa dimiliki.Perjuangkan dengan selayaknya,Jaga baik-baik yang menyayangi,Dan syukuri apa yang Allah beri.”
Pesan ini segera mendapat perhatian dari sejumlah umat yang terhubung dalam lingkar pertemanan digital beliau. Banyak di antara mereka yang merasa dikuatkan dan menemukan kembali semangat untuk menata hidup dan iman di tengah berbagai tantangan.
Pesan tersebut hadir bukan hanya sebagai kata-kata, tetapi sebagai refleksi spiritual yang menyentuh banyak sisi kehidupan manusia baik dalam relasi dengan sesama maupun relasi dengan Tuhan. Di saat banyak orang terjebak dalam kekhawatiran masa depan dan luka masa lalu, pesan ini mengajak untuk memulai dari hal yang sederhana: memperbaiki yang masih mungkin, merelakan yang telah lewat, dan menyambut kasih Allah dengan penuh syukur.
Sebagai Prodiakon, Ignasius Rinso Tigor memang dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan kerap menghadirkan permenungan rohani singkat dalam berbagai platform komunikasi. Baik dalam pelayanan liturgi di altar maupun dalam keheningan media sosial, ia menyampaikan kehadiran Kristus melalui kata dan sikap.
Menurut beberapa umat yang dimintai tanggapan, pesan tersebut bukan hanya relevan secara spiritual, tetapi juga menyentuh realitas konkret kehidupan sehari-hari.
“Waktu saya membaca status Pak Tigor pagi ini, saya merasa seolah Tuhan sedang berbicara langsung kepada saya. Saya sedang bergumul untuk mengikhlaskan sesuatu yang tidak bisa saya miliki, dan kata-katanya membuat saya merasa tenang,” ujar seorang umat yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pesan ini juga menjadi pengingat bahwa pewartaan tidak selalu harus dilakukan lewat mimbar atau khutbah panjang. Kadang, satu paragraf pendek bisa menjadi terang bagi mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan. Dunia digital, jika digunakan dengan bijak, menjadi saluran baru untuk menyebarkan kabar baik dan penghiburan dari Allah.
Keuskupan Ketapang sendiri dalam beberapa tahun terakhir semakin menumbuhkan semangat pewartaan digital di kalangan pelayan gereja dan umat. Para Prodiakon, Katekis, dan OMK mulai dibekali dengan literasi digital agar mampu menghadirkan nilai-nilai Kristiani di ruang publik virtual.
Apa yang dilakukan oleh Ignasius Rinso Tigor pagi ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pesan sederhana bisa menjadi saluran rahmat, penghiburan, dan refleksi iman. Dalam dunia yang makin hiruk-pikuk, suara hening dari sebuah status WhatsApp di pagi buta menjadi oase bagi banyak jiwa yang haus akan ketenangan rohani.
Semoga pesan ini terus menggema dan menginspirasi, bukan hanya hari ini, tetapi dalam langkah-langkah hidup umat ke depan. Sebab seperti sabda Kristus, "Apa yang kamu katakan dalam gelap, hendaklah dikatakan dalam terang..." (Mat. 10:27)
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 27 Mei 2025


0 comments:
Posting Komentar