Ketapang, 27 Mei 2025.Pagi yang tenang di Kota Ketapang seolah disambut oleh sapaan lembut yang tidak terdengar lewat suara, tetapi terbaca lewat layar ponsel. Tepat pukul 07.10 WIB, sebuah pesan rohani sederhana namun menyentuh kalbu muncul dalam status WhatsApp milik Bapak Yohanes Suprastha, seorang Prodiakon di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang.
Pesan tersebut berbunyi:
Pesan Malam IniPilihlah untuk:
Tidak mudah tersinggung
Tidak menjadi pendendam
Tidak mudah emosi
Tidak khawatir berlebih
Empat kalimat singkat ini tampak sederhana, namun jika direnungkan, setiap baris menyimpan kekuatan pembaruan batin yang mendalam. Dalam kehidupan yang penuh tekanan, tuntutan, dan cepatnya arus informasi, manusia sering kali larut dalam kelelahan emosional. Emosi mudah tersulut, luka batin disimpan dalam-dalam, dan kekhawatiran kerap menguasai pikiran.
Namun pesan ini mengajak kita untuk memilih sebuah kata kunci yang menunjukkan bahwa kehidupan rohani bukan sekadar mengikuti arus, melainkan soal mengambil keputusan sadar untuk menciptakan kedamaian, baik dalam hati sendiri maupun terhadap sesama. Setiap pilihan yang disebutkan dalam pesan tersebut merupakan pilar yang membangun ketenangan batin:
-
Tidak mudah tersinggung: menunjukkan kematangan emosional, kerendahan hati, dan kesediaan untuk memahami bahwa tidak semua hal perlu direspons dengan sakit hati.
-
Tidak menjadi pendendam: sebuah langkah menuju pengampunan, membebaskan diri dari beban masa lalu yang mengikat dan melukai.
-
Tidak mudah emosi: panggilan untuk mengendalikan diri, memilih respon yang bijak daripada reaksi impulsif yang merusak.
-
Tidak khawatir berlebih: ajakan untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada penyelenggaraan ilahi, mengistirahatkan hati dalam kuasa kasih Tuhan.
Apa yang disampaikan Prodiakon Yohanes Suprastha melalui status WhatsApp-nya bukan hanya sekadar pesan malam yang tertunda, tetapi menjadi semacam wake-up call rohani di pagi hari bagi siapa pun yang membacanya. Dalam ketenangan dan kesederhanaannya, pesan ini menjadi sapaan yang menyentuh jiwa dan membimbing ke arah hidup yang lebih tenang, damai, dan selaras dengan kehendak Tuhan.
Tanpa perlu kata-kata panjang atau kutipan dari kitab suci, pesan ini mengandung prinsip-prinsip kehidupan Kristiani yang mendasar: kesabaran, pengampunan, penguasaan diri, dan iman. Nilai-nilai ini bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk dijalani dalam keluarga, di tempat kerja, dalam pelayanan, dan bahkan dalam dunia digital yang kini menjadi bagian dari keseharian umat beriman.
Di tengah derasnya arus konten media sosial yang terkadang penuh keluhan, sindiran, dan informasi yang membebani pikiran, kehadiran pesan rohani seperti ini menjadi penyejuk. Sebuah pengingat bahwa hidup bisa dijalani dengan lebih damai, jika kita mau memilih jalan yang menenangkan jalan yang dituntun oleh kasih, bukan kemarahan; oleh pengampunan, bukan dendam; oleh harapan, bukan kekhawatiran.
Dengan caranya yang sederhana, Prodiakon Yohanes telah menjalankan peran pewartaan di era digital: mewartakan Kristus melalui kebaikan, refleksi, dan kesadaran akan panggilan hidup sebagai pengikut Nya. Sebuah renungan kecil yang mungkin hanya terlihat sekilas, namun dapat menjadi titik awal perubahan besar dalam hidup seseorang.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 27 Mei 2025


0 comments:
Posting Komentar