Pesan Rohani Sederhana, Menyapa Jiwa”: Refleksi Malam dari Seorang Prodiakon Paroki Santo Agustinus Paya Kumang


Foto Bapak. Ignasius Rinso Tigor,S.S

Pesan Rohani Sederhana, Menyapa Jiwa”: Refleksi Malam dari Seorang Prodiakon              Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Ketapang, 29 Mei 2025.Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang sering kali menguras energi dan meredupkan keheningan batin, sebuah pesan sederhana muncul sebagai oase rohani yang menyegarkan. Tepat pada pukul 21.16 WIB, Rabu malam, 28 Mei 2025, Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., seorang Prodiakon yang melayani di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, membagikan sebuah status WhatsApp yang singkat namun kaya akan makna spiritual dan permenungan hidup.

Pesan tersebut berbunyi:

“Pelajaran terbesar yang aku pelajari akhir-akhir ini adalah untuk tidak memaksa apapunkomunikasi, pertemanan, perhatian, apapun itu yang dipaksakan hasilnya tidak akan baik. Apapun yang terjadi biarlah terjadi, itulah kenyataan yang harus dijalani dan dilewati dengan keikhlasan.” 

Status WhatsApp Bapak. Ignasius Rinso Tigor,S.S

Pesan ini, dalam kesederhanaannya, mengandung kekuatan yang mendalam. Ia mengajak siapa pun yang membacanya untuk berhenti sejenak dan merenungkan kembali bagaimana kita memandang dinamika kehidupan, khususnya relasi antar manusia dan keinginan untuk mengendalikan segalanya.

Sebuah Pelajaran dari Kehidupan

Dalam refleksi tersebut, tersirat bahwa pengalaman-pengalaman konkret dalam keseharian yang mungkin penuh pergumulan, penantian, dan kekecewaan telah membentuk cara pandang baru dalam diri seorang pelayan Gereja. Bapak Ignasius Rinso Tigor, melalui kata-katanya, menunjukkan bahwa kedewasaan rohani tidak selalu lahir dari studi teologis yang kompleks, melainkan juga dari proses hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh dan kejujuran terhadap diri sendiri serta Allah.

Sikap untuk tidak memaksa bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi lebih kepada keterbukaan hati untuk menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai kehendak kita. Dalam terang iman, itu menjadi bentuk penyerahan diri kepada kehendak Allah suatu sikap rohani yang mendalam dan dewasa.

Keikhlasan sebagai Jalan Hidup

Lebih lanjut, pesan ini menekankan tentang keikhlasan suatu kata yang sering diucapkan namun tidak mudah dijalani. Keikhlasan di sini bukan sekadar menerima keadaan, tetapi juga merangkul kenyataan hidup dengan damai, tanpa kebencian atau dendam, serta tetap berjalan maju meski harapan yang dibangun mungkin tidak terwujud.

Dalam konteks pelayanan, pergaulan, dan kehidupan komunitas, keikhlasan juga berarti menerima orang lain apa adanya, tidak memaksakan kehendak atau ekspektasi pribadi kepada siapa pun. Ini adalah jalan kasih yang lembut namun kuat jalan yang sering kali menjadi inti ajaran Kristus: memberi, bukan menuntut; mencintai, bukan memaksa.

Pewartaan Lewat Media Sederhana

Apa yang dilakukan Bapak Ignasius Rinso Tigor  juga menunjukkan bagaimana media sosial yang kerap disalahgunakan untuk menyebarkan hal negatif justru bisa menjadi sarana pewartaan Injil dan pembaruan hidup rohani umat. Dengan satu kalimat reflektif yang dibagikan melalui status WhatsApp, ia telah menunjukkan bahwa pewartaan tidak harus melalui mimbar yang tinggi atau forum besar. Satu pesan sederhana, bila lahir dari pengalaman dan permenungan mendalam, dapat menyentuh dan menggugah hati.

Kesimpulan

Kehadiran pesan rohani dari Bapak Ignasius Rinso Tigor ini mengingatkan kita semua bahwa Tuhan bisa bekerja dalam keheningan, dalam kata-kata sederhana, dan dalam waktu yang tak terduga. Refleksi malam itu menjadi sebuah undangan bagi siapa saja untuk kembali pada hati yang tenang, menerima kenyataan hidup dengan keikhlasan, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

Dalam dunia yang sering kali terlalu tergesa dan penuh tuntutan, mari kita belajar untuk tidak memaksa dan lebih ikhlas. Karena dalam keikhlasan, ada damai. Dan dalam damai, kita menemukan wajah Allah yang setia menyertai perjalanan hidup kita.

Tim Komunikasi Sosial (Komsos)
Penulis : Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang – Ketapang

Tanggal: 29 Mei 2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar