Refleksi Hidup dari Sepotong Sawi: Prodiakon Ignasius Rinso Tigor Bagikan Makna Mendalam Lewat Status WhatsApp
Ketapang, 23 Mei 2025 — Sebuah status WhatsApp sederhana dari Ignasius Rinso Tigor, S.S., seorang Prodiakon di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, telah menyentuh hati banyak orang sore ini, Jumat (23/5). Dengan kata-kata reflektif, ia menulis:
“Bukan saya yang menanam sawi, tetapi sawilah yang mengajari bagaimana menumbuhkan dan menghidupinya.”(Status WhatsApp Ignasius Rinso Tigor, 23 Mei 2025, pukul 17.56 WIB)
Ungkapan tersebut, meski ringkas, mengandung makna mendalam. Dalam keseharian yang penuh hiruk pikuk, status itu mengajak siapa pun yang membacanya untuk kembali merenungi nilai kehidupan bahwa dalam hal-hal kecil dan biasa, seperti tanaman sawi, tersimpan pelajaran besar tentang ketekunan, pertumbuhan, dan kerendahan hati.N
Sebagai seorang Prodiakon yang dikenal aktif dalam pelayanan, Ignasius Rinso Tigor kerap membagikan permenungan rohani dalam bentuk yang sederhana namun mengena. Statusnya kali ini menjadi bukti bahwa refleksi tidak harus berbentuk panjang lebar atau menggunakan bahasa teologis rumit. Justru dari kesederhanaan, muncul kekuatan yang menggugah.
Beberapa umat yang membaca status tersebut mengaku tersentuh. Seorang jemaat paroki menanggapi, “Saya jadi sadar bahwa hidup bukan soal seberapa banyak kita menabur, tapi bagaimana kita bersedia belajar dari apa yang tumbuh di sekitar kita.”
Ungkapan Ignasius juga menjadi simbol bagaimana iman Katolik bisa bertumbuh melalui keheningan dan pengamatan terhadap alam sekitar. Sawi, tanaman yang kerap dipandang remeh, dalam refleksi ini justru tampil sebagai guru kehidupan.
Kehadiran figur seperti Ignasius Rinso Tigor di tengah umat menjadi pengingat bahwa pewartaan tidak selalu terjadi di mimbar atau altar. Melalui status singkat di media sosial pun, benih-benih kebaikan dan kebijaksanaan dapat tersebar dan tumbuh di hati banyak orang.
Penulis:Tim Komsos Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 23 Mei 2025


0 comments:
Posting Komentar