Berbahagialah Karena Mendengar: Kelimpahan Hikmat dan Berkat Tuhan

 

Foto RP. Vitalis Nggeal, CP

“Berbahagialah Karena Mendengar: Kelimpahan Hikmat dan Berkat Tuhan”

Renungan Harian Katolik  Kamis, 24 Juli 2025
Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang
Oleh: RP. Vitalis Nggeal, CP

Hari Kamis Biasa Pekan XVI
Perayaan fakultatif: Santo Syarbel Makhlouf, Imam, Santo Kristoforus, Martir, Santa Kristina, Perawan dan Martir
Liturgi: Hijau
Bacaan Injil: Matius 13:10-17

Bapak, Ibu, serta saudara-saudari terkasih dalam Kristus Yesus,

Ketapang,24 Juli 2025.Hari ini Gereja kembali mengundang kita merenungkan sabda Tuhan yang penuh kelimpahan hikmat dan berkat. Dalam Injil Matius 13:10-17, Yesus menegaskan kepada para murid, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.” Perkataan ini sungguh meneguhkan kita bahwa hidup orang beriman selalu dipenuhi berkat berupa hikmat dan pengetahuan rohani, asal kita membuka diri dan hati kepada-Nya.

Yesus memakai perumpamaan agar kita mau menggali lebih dalam, berpikir lebih luas, dan menafsirkan hidup dengan kacamata iman. Perumpamaan bukan sekadar cerita sederhana, tetapi sarana Tuhan mendewasakan iman kita. Hidup ini bukan sekadar menerima sesuatu secara mentah, melainkan kita diajak untuk mencari, menemukan, dan membagikan nilai-nilai kehidupan kepada sesama. Inilah cara agar hidup kita berharga di hadapan-Nya.

Saudara-saudari terkasih,

Sering kali kita merasa cukup dengan apa yang kita ketahui, lalu menutup diri dari pengetahuan baru, pengalaman baru, atau cara pandang yang lebih luas. Akibatnya, hidup kita mandek. Kita berjalan di tempat dan merasa nyaman dalam kejumudan. Yesus menolak cara hidup demikian. Ia menghendaki kita menjadi pribadi-pribadi yang haus akan kebenaran dan kebijaksanaan Allah. Hanya dengan begitu, kita dapat berkembang dan membawa terang-Nya kepada dunia yang gelap dan kering akan kasih.

Yesus bersabda bahwa berbahagialah mata yang melihat dan telinga yang mendengar. Kita patut bersyukur, sebab sabda ini menegaskan betapa berharganya rahmat iman yang kita miliki. Berapa banyak orang di luar sana yang belum mengenal Tuhan, sementara kita diberi kesempatan untuk mendengar sabda-Nya setiap hari. Namun, rahmat mendengar sabda bukan hanya untuk disimpan sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi saksi dan pembawa kabar sukacita itu kepada semua orang.

Tuhan Yesus hari ini mengajak kita memeriksa hati. Apakah selama ini kita sungguh mendengarkan sabda-Nya dengan penuh iman dan kerendahan hati? Ataukah kita hanya mendengar sepintas lalu tanpa menyimpan dan merenungkannya dalam hati, seperti benih yang jatuh di pinggir jalan? Mendengar sabda Tuhan menuntut kesediaan untuk diubah, dibentuk, dan diarahkan oleh-Nya. Tidak jarang sabda-Nya menegur, menantang, atau mengguncang kenyamanan kita. Namun itulah proses pertumbuhan iman yang sejati.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita juga merayakan Santo Syarbel Makhlouf, seorang imam yang hidup dalam keheningan, doa, dan mati raga. Ia memilih hidup tersembunyi, mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Dari hidupnya, kita belajar bahwa hikmat dan berkat Tuhan tidak selalu diukur dari prestasi besar di mata manusia, melainkan dari kedekatan kita dengan Tuhan dan kesetiaan kita melayani Dia dalam keheningan dan kesederhanaan.

Marilah hari ini kita mohon kepada Tuhan agar hati kita senantiasa terbuka untuk sabda-Nya. Semoga telinga kita peka mendengar suara-Nya di tengah hiruk-pikuk dunia, mata kita mampu melihat karya-Nya dalam setiap peristiwa hidup, dan mulut kita mau mewartakan kebaikan-Nya kepada sesama. Sebab hanya dengan mendengar dan melaksanakan sabda Tuhanlah kita memperoleh kebahagiaan sejati, kelimpahan hikmat, dan berkat yang melimpah di dunia ini maupun di kehidupan kekal nanti.

Saudara Saudari terkasih dalam Kristus,

Apakah kita ingin memiliki berkat dan hikmat dari Tuhan yang berkelimpahan dalam hidup kita? Tentu setiap kita ingin menjadi pribadi yang diberkati dan penuh hikmat. Namun, apakah kita selalu dekat dan percaya pada Tuhan? Apakah kita mau mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti kehendak-Nya? Apakah kita melihat kondisi sekitar dan berbelas kasih pada mereka? Jika kita ingin diberkati Tuhan dan penuh hikmat maka syaratnya yakni percaya pada Tuhan, membuka hati mendengarkan suara-Nya serta mengikuti kehendak-Nya. Dalam Injil hari ini dikatakan berbahagialah telinga karena mendengar. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang meski telah mendengar suara Tuhan namun tidak mendengarkan-Nya.

Sering kali kita menuntut agar Tuhan segera mencurahkan berkat dan hikmat-Nya atas kita, namun kita sendiri enggan menyiapkan hati untuk menerimanya. Kita menginginkan kebijaksanaan Allah untuk menghadapi masalah hidup kita, tetapi kita tidak menyediakan waktu untuk duduk diam di hadapan-Nya dan merenungkan sabda-Nya. Kita ingin hidup kita berjalan sesuai rencana dan keinginan kita, tetapi kita tidak bertanya pada Tuhan apa kehendak-Nya atas hidup kita. Kita berdoa meminta berkat kesehatan, rezeki, damai sejahtera, tetapi lupa bahwa semua itu mengalir jika kita melekat pada Tuhan sumber segala berkat.

Saudara Saudari  terkasih,

Yesus berkata, “Kepadamu diberikan karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga.” Ini adalah rahmat istimewa. Namun, karunia ini menuntut tanggung jawab. Kita tidak boleh menutup telinga terhadap firman Tuhan. Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap keadaan sesama kita. Hikmat Tuhan tidak hanya menuntun kita mengenal kebenaran, tetapi juga menggerakkan hati kita untuk berbelas kasih, menolong mereka yang menderita, menguatkan mereka yang lemah, dan menjadi pembawa terang di tengah dunia yang gelap. Inilah wujud nyata hikmat ilahi dalam hidup kita.

Oleh karena itu, hari ini kita diingatkan untuk menjadi pendengar sabda yang setia. Mendengar bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati yang terbuka dan pikiran yang mau diubah oleh sabda-Nya. Mendengar bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk menjadi perpanjangan kasih dan hikmat Tuhan bagi orang lain. Setiap kali kita mendengarkan sabda Tuhan dengan sungguh, sesungguhnya kita sedang menerima benih kehidupan yang akan tumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat, menghadirkan damai, sukacita, dan pengharapan bagi dunia.

Mari kita memohon rahmat kepada Tuhan agar kita memiliki telinga yang senantiasa peka mendengar suara-Nya, hati yang mau dibentuk oleh kehendak-Nya, dan hidup yang selalu diarahkan untuk memuliakan nama-Nya melalui setiap langkah, perkataan, dan perbuatan kita. Sebab hanya dengan demikian, kita sungguh layak disebut sebagai pribadi yang berbahagia karena mendengar dan melaksanakan sabda-Nya.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus Kristus, Engkau menganugerahkan kepada kami karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga. Jadikanlah kami selalu haus akan sabda-Mu, setia mendengarkan dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari, agar hidup kami berbuah dan menjadi berkat bagi sesama. Santo Syarbel Makhlouf, doakanlah kami agar setia dalam doa dan pelayanan kami. Amin.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   24 Juli 2025 


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar