HIDUPKU BERBUAH BAGI SESAMA
Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan Perumpamaan tentang Penabur. Benih yang ditaburkan jatuh di empat tempat berbeda: di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu, di antara semak duri, dan di tanah yang baik. Hanya benih yang jatuh di tanah yang baiklah yang bertumbuh subur dan menghasilkan buah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang tiga puluh kali lipat.
Pastor Vitalis Nggeal, CP menegaskan bahwa perumpamaan ini adalah gambaran hidup rohani kita. Benih itu adalah Firman Tuhan, sedangkan tanah itu adalah hati kita masing-masing. Apakah hati kita saat ini seperti tanah di pinggir jalan, yang mendengar firman tetapi tidak memahami dan membiarkan si jahat merenggutnya? Ataukah hati kita seperti tanah berbatu, yang menerima firman dengan gembira sesaat, tetapi segera goyah saat menghadapi penderitaan dan kesulitan hidup? Ataukah hati kita seperti tanah bersemak duri, yang mendengar firman tetapi kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah?
Hanya hati yang seperti tanah yang baiklah yang mampu menerima firman Tuhan dengan penuh iman, memeliharanya, dan menghasilkan buah kebaikan bagi banyak orang. Pastor Vitalis mengajak umat untuk menjadi seperti tanah yang baik, agar hidup kita tidak hanya sekadar ada, melainkan menjadi hidup yang menghadirkan makna dan sukacita bagi sesama.
Ia menegaskan, “Keberadaan kita harus bermakna bagi sesama, bukan sekadar untuk diri sendiri. Hidup kita harus menghasilkan buah yang dapat dirasakan oleh orang lain, bukan menjadi batu sandungan atau buah masam yang tidak diinginkan.”
Yesus dalam Injil hari ini semakin terkenal. Banyak orang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Sebagian ingin mendengar ajaran-Nya yang penuh kuasa dan hikmat, sebagian lain ingin menyaksikan mukjizat-Nya. Namun Yesus menantang mereka melalui perumpamaan ini, agar mereka memeriksa diri sendiri. Apakah mereka sungguh mendengarkan firman-Nya dengan hati yang siap untuk bertobat dan diubah, ataukah hanya mendengarkan dengan rasa kagum sesaat tanpa niat untuk menghasilkan buah?
Demikian pula dengan kita sekarang. Kita mungkin aktif dalam kegiatan rohani, lingkungan, kelompok kategorial, dan berbagai pelayanan Gereja. Namun apakah kita sungguh menghidupi Firman Tuhan dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari kita?
Buah kehidupan yang dimaksud tampak dalam hal-hal nyata seperti:
-
Menolong mereka yang kesulitan
-
Menghibur mereka yang berduka
-
Menyemangati mereka yang putus asa
-
Menghadirkan damai dan sukacita di rumah, lingkungan kerja, dan pelayanan kita.
Pastor Vitalis mengingatkan bahwa hidup yang tidak menghasilkan buah adalah hidup yang sia-sia. Kita semua dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, menghadirkan kasih Allah di mana pun kita berada.
“Perumpamaan Yesus hari ini mendesak kita untuk memeriksa diri, apakah respons iman kita sejati? Apakah hati kita sungguh terbuka untuk menerima Sabda Tuhan dan menghidupinya dalam keseharian?” ujarnya menutup renungan.
Doa Penutup
Ya Yesus yang Mahabaik,
Terima kasih atas Sabda-Mu hari ini yang menegur dan meneguhkan kami untuk menjadi tanah yang baik bagi benih Firman-Mu. Tolonglah kami agar hidup kami senantiasa menghasilkan buah kebaikan bagi sesama. Jadikanlah kami pembawa damai, sukacita, penghiburan, dan pengharapan di mana pun kami Engkau utus hari ini.
Bunda Maria, dampingilah kami selalu, agar hidup kami berbuah dan menjadi berkat bagi siapa pun yang kami jumpai.Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 23 Juli 2025

0 comments:
Posting Komentar