Hari ini, Rabu 2 Juli 2025, Gereja Katolik memperingati hari Rabu biasa Pekan XIII dengan warna liturgi hijau, mengenang Santo Bernardinus Realino, Pengaku Iman, Santo Fransiskus di Girolamo, Imam, serta Santo Yohanes Fransiskus Regis, Imam. Bacaan Injil hari ini diambil dari Matius 8:28-34.
Ketapang, 2 Juli 2025.Dalam renungan katekese hari ini, RP. Vitalis Nggeal, CP., mengajak seluruh umat untuk merenungkan sikap hidup yang kian hari semakin mengarah pada keegoisan dan individualisme. Dunia yang modern, maju, dan dipenuhi teknologi seakan menumbuhkan budaya ‘cuek’ terhadap penderitaan orang lain. Banyak orang kini hanya sibuk dengan urusannya sendiri tanpa peduli pada lingkungan sekitar, apalagi pada mereka yang menderita atau memerlukan bantuan.
Dalam Injil hari ini, Yesus tiba di daerah Gadara dan menjumpai dua orang yang dirasuki roh jahat sehingga hidup mereka sangat menderita dan dijauhi masyarakat. Yesus mengusir roh-roh jahat itu dan mengizinkan mereka masuk ke kawanan babi, sehingga seluruh kawanan itu terjun dari tebing ke danau dan mati. Namun reaksi masyarakat sungguh menyedihkan – mereka bukannya bersyukur dua saudara mereka dibebaskan dari belenggu setan, tetapi malah marah dan meminta Yesus pergi karena merasa dirugikan secara materi.
Inilah realitas hati manusia yang ditegur Yesus hari ini: ketika kita lebih peduli pada kerugian materi dan kenyamanan pribadi dibanding pada kehidupan sesama. Injil ini menjadi cermin bagi kita umat Katolik di era modern. Apakah kita lebih mementingkan keuntungan, jabatan, kekuasaan, dan kesenangan diri, hingga melupakan kewajiban mengasihi dan menolong mereka yang membutuhkan?
RP. Vitalis menekankan, “Sikap egois menjauhkan kita dari kehendak Allah. Allah ingin kita meneladani Yesus yang rela berkorban, yang mau menolong orang tanpa memikirkan kerugian atau ketidaknyamanan diri. Justru ketika kita rela berkorban dan mengulurkan tangan kepada saudara kita yang menderita, di situlah kita menjadi saksi kasih dan keselamatan Allah bagi dunia.”
Beliau juga menambahkan bahwa menjadi murid Kristus berarti memiliki hati yang peka, tidak menutup mata pada realitas penderitaan di sekitar kita. Terkadang, kita mengabaikan mereka yang miskin, sakit, putus asa, atau kehilangan arah hidup karena kita merasa tidak ada keuntungan apa-apa bagi diri kita. Padahal, mereka semua adalah saudara kita, bagian dari tubuh mistik Kristus yang sama-sama kita imani.
“Saudara-saudariku terkasih, mari kita bertanya kepada diri sendiri hari ini: apakah kita peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan kita? Apakah kita rela berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan kepentingan diri demi membantu saudara kita yang menderita? Ataukah kita menutup mata dan lebih memilih sibuk dengan kepentingan pribadi? Semoga Sabda Tuhan hari ini menegur hati kita agar semakin serupa dengan hati Kristus.”
Doa Penutup
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 2 Juli 2025

0 comments:
Posting Komentar