Ketekunan Iman dan Kesederhanaan Hati dalam Doa: Pesan Rohani yang Menyapa Jiwa
Ketapang, 5 Juli 2025.Pesan rohani sederhana kembali hadir menyapa jiwa umat Katolik pada pagi ini. Tepat pukul 09.30 WIB, Bapak Ignasius Rinso Tigor, S.S., seorang Prodiakon di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, membagikan sebuah status WhatsApp yang tampak singkat, namun menyimpan kekayaan makna rohani yang dalam. Berikut isi pesannya:
09.30 WIB. Iman adalah kaki yang melangkah dikehendaki-Nya, walau kita tahu, tak selalu pasti ke mana tujuan dan perhentiannya.
09.32 WIB. Dalam sujudmu, lebih baik punya hati tanpa kata-kata daripada berkata-kata tanpa hati, sebab Tuhan dapat mengenalimu dengan hati bukan hanya kata-kata.
Pesan rohani ini mengajak setiap umat untuk kembali meninjau relasi pribadinya dengan Tuhan. Kata-kata pertama menekankan bahwa iman bukan sekadar pengetahuan intelektual atau sekadar keinginan untuk merasa aman di dunia ini, melainkan keberanian untuk melangkah dengan penuh penyerahan diri kepada kehendak Allah. Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, “Karena hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7). Allah menuntun setiap langkah, walaupun arah dan tujuan akhir belum tampak jelas di hadapan kita. Dengan demikian, iman sejati menuntut kepercayaan total kepada Allah yang Mahatahu dan Mahabaik.
Selanjutnya, dalam pesan kedua, Bapak Ignasius Rinso Tigor menegaskan hakikat doa dan sujud di hadapan Tuhan. Doa bukanlah sekadar rangkaian kata indah, tetapi ungkapan hati yang tulus dan penuh kasih kepada Sang Pencipta. Seperti dikatakan oleh St. Teresa dari Avila, “Doa pada dasarnya adalah perjumpaan persahabatan dengan Allah; sering kali kita berbicara dengan-Nya hanya untuk mengatakan bahwa kita mengasihi-Nya.” Maka, doa yang tanpa kata-kata pun tetaplah doa yang berkenan, apabila hati sungguh hadir dan terarah kepada Allah. Sebaliknya, kata-kata doa yang diucapkan tanpa kehadiran hati akan hampa, sebab Allah melihat kedalaman hati manusia, bukan hanya apa yang terucap dari bibir.
Pesan ini sangat relevan di zaman modern yang serba sibuk dan instan. Umat Katolik diundang untuk meneladani Yesus yang selalu menempatkan doa sebagai napas hidup-Nya, bukan hanya kewajiban ritual semata. Setiap sujud dan keheningan di hadapan-Nya adalah wujud kerendahan hati, penyerahan total, serta relasi cinta yang tak terputus.
Dalam Tahun Iman dan Sinode tentang Komuni, Partisipasi, dan Misi yang sedang berjalan di seluruh Gereja Katolik, renungan singkat ini menjadi undangan bagi kita untuk semakin mendalamkan iman dan doa kita. Semoga setiap langkah hidup kita senantiasa berlandaskan iman yang kokoh dan doa yang lahir dari hati, sehingga hidup kita memancarkan kasih dan damai Kristus bagi sesama.
“Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu berjalan dalam iman dan berdoa dengan hati yang tulus, agar hidup kami senantiasa memuliakan nama-Mu. Amin.”
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 Juli 2025



0 comments:
Posting Komentar