Ketapang, 10 Agustus 2025. Umat Katolik Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, berkumpul dengan penuh sukacita pada Sabtu malam 9 Agustus 2025 untuk merayakan Minggu Biasa XIX yang bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga serta pesta Santo Laurensius, Martir. Misa dimulai tepat pukul 18.00 WIB dengan warna liturgi putih, sebagai simbol kemurnian, sukacita, dan kemenangan iman.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Liturgi dimeriahkan oleh para pelayan liturgi, di antaranya Saudari Even Fransiska sebagai lektor, Saudari Rossy Widyamarta sebagai pemazmur, Ibu Maria Theresia Budi Supri Handini sebagai dirigen, dan Ibu Martha Koleta Popyzesika sebagai organis. Paduan suara dari Lingkungan Santa Lusia mengiringi umat dalam nyanyian penuh syukur.
Homili: Menghayati Kerendahan Hati dan Syukur Bersama Maria
Mengacu pada Injil Lukas, Pastor Oscar menegaskan makna perjumpaan antara Maria dan Elisabet. Maria, yang telah menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel dengan jawaban iman “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” segera bergegas mengunjungi Elisabet yang mengandung pada masa tuanya.
Pastor Oscar menggambarkan suasana yang sarat sukacita itu: "Elisabet dipenuhi Roh Kudus, begitu pula Santa Maria. Bayi dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan. Elisabet pun berkata: ‘Siapakah aku ini sehingga Ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?’"
Menurutnya, kerendahan hati Elisabet dan syukur mendalam Maria adalah teladan bagi umat beriman. Maria mengungkapkan imannya melalui Magnificat, pujian agung yang memuliakan Allah karena karya besar yang dilakukan-Nya. Bahkan, Maria tetap teguh dan bersyukur sampai menyaksikan Putranya wafat di kayu salib.
"Siapakah aku ini sehingga Ibu Tuhan selalu mengunjungi kita? Setiap berkat yang kita terima adalah tanda bahwa Allah hadir. Bersama Maria, kita pun dipanggil untuk membawa damai," ujar Pastor Oscar.
Magnificat: Pujian Jiwa yang Menggetarkan Surga
Perayaan kali ini juga mengajak umat menyelami keindahan Magnificat, kidung pujian Maria yang lahir dari hati penuh iman. Kisahnya bermula saat Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel, lalu bergegas menuju pegunungan Yudea menemui Elisabet.
Perjumpaan mereka menjadi lebih dari sekadar pertemuan keluarga itu adalah perjumpaan iman yang mengundang Roh Kudus hadir, membawa sukacita dan damai.
Di akhir misa, umat diajak pulang dengan hati penuh syukur, membawa pesan untuk selalu rendah hati, mengakui karya besar Allah dalam hidup, serta menjadi pembawa damai di tengah keluarga dan masyarakat, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Santa Perawan Maria.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 10 Agustus 2025
0 comments:
Posting Komentar