Ketapang, 10 Agustus 2025 .Perayaan Misa Minggu Biasa XIX di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, yang dimulai pukul 07.00 WIB, berlangsung khidmat dan penuh makna. Misa kali ini dirayakan bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga serta Pesta Santo Laurensius, Martir, dengan warna liturgi putih.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh RP. Vitalis Nggeal, CP. Tugas koor dipercayakan kepada Lingkungan St. Yosef, dengan dirigen Ibu Herklana Haini, organis Saudari Margareta Nina, lektor Ibu Klaudia Sri Pawanti, dan pemazmur Ibu Kresensia Nini.
Dalam kesempatan tersebut, RP. Vitalis Nggeal, CP. membacakan Surat Gembala Keuskupan Ketapang Tahun 2025 yang ditetapkan untuk menggantikan homili. Surat ini mengusung tema besar “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, sejalan dengan perayaan 80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Tahun Yubileum Gereja.
Surat gembala ini menekankan tiga unsur pokok: jati diri bangsa, upaya demi kesejahteraan rakyat, dan harapan menuju Indonesia Emas 2045. Umat diajak untuk menghayati semboyan Mgr. Albertus Soegiyapranata, “100% Katolik, 100% Indonesia” dengan semangat persatuan dan semangat gotong royong demi kesejahteraan bersama.
RP. Vitalis menyampaikan bahwa “Bersatu Berdaulat” mengingatkan pada perjuangan para pahlawan kemerdekaan yang mempersatukan seluruh Nusantara. Ia menegaskan bahwa tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 mencakup perlindungan seluruh rakyat, peningkatan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.
“Rakyat Sejahtera” akan terwujud jika semua pihak, mulai dari pemerintah, rakyat, hingga pelaku usaha, bekerja sama. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dari desa hingga nasional menjadi contoh nyata kerja sama ini, yang hanya akan berhasil jika setiap pribadi mengutamakan kepentingan umum.
Tema “Indonesia Maju” disorot sebagai pengharapan yang nyata karena bangsa ini memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Tahun Yubileum dimaknai sebagai Tahun Pembaruan Hidup, baik dengan Allah, sesama, alam semesta, maupun diri sendiri.
Santa Perawan Maria diangkat sebagai teladan pembaruan hidup, dengan keteguhan hati dan keberaniannya merespons panggilan Allah, meski penuh risiko. Maria tidak terjebak dalam ketakutan, melainkan bergegas melayani Elisabet, menjadi teladan untuk bergegas dan berbagi bagi sesama.
Dalam konteks bangsa, umat diajak untuk bergegas menata kehidupan bersama demi Indonesia yang lebih baik, melalui toleransi, kerja sama lintas agama, pendidikan yang berlandaskan kasih, dan ekonomi yang mengutamakan belas kasih.
Surat gembala diakhiri dengan doa agar bangsa Indonesia semakin bergotong royong, bersatu mewujudkan birokrasi yang bersih, hukum yang adil, dan kesejahteraan yang merata. Umat diajak menyambut kemerdekaan dengan semangat pelayanan dan pengorbanan.
Misa ditutup dengan seruan “Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka!” yang menggema di seluruh gereja, membangkitkan semangat iman sekaligus nasionalisme. Surat gembala ini ditandatangani oleh Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Keuskupan Ketapang.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 10 Agustus 2025
0 comments:
Posting Komentar