JANGAN JADI BATU SANDUNGAN
Ketapang,Hari ini, Senin, 11 Agustus 2025, Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Klara dari Asisi, seorang perawan kudus yang hidupnya dipersembahkan sepenuhnya bagi Allah melalui semangat kemiskinan dan pelayanan tanpa pamrih. Bersama Santa Klara, Gereja juga mengenang Santa Susana, seorang martir yang setia mempertahankan imannya sampai akhir hayat. Momen liturgi ini menjadi kesempatan bagi umat untuk merenungkan panggilan hidup kudus dan kesaksian iman yang bebas dari sikap menjadi “batu sandungan” bagi sesama.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus digambarkan tengah menghadapi pertanyaan tentang kewajiban membayar bea atau pajak. Ketika ditanya, Ia menegaskan bahwa pajak seharusnya dibebankan kepada orang asing, bukan warga sendiri. Namun, Yesus memilih untuk tetap membayar, bukan karena Ia bersalah atau wajib, tetapi demi menghindari kesalahpahaman yang bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ia bahkan meminta Petrus untuk mendapatkan koin dari mulut ikan sebuah tanda mukjizat yang menunjukkan kebijaksanaan sekaligus kuasa-Nya.
Pesan ini sangat relevan di tengah situasi sosial kita saat ini. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai isu hangat seperti perdebatan royalti lagu, pemblokiran rekening dormant, hingga wacana pajak untuk amplop kondangan ramai diperbincangkan di media sosial dan dunia nyata. Perbedaan pandangan sering kali memicu gejolak di masyarakat, bahkan memecah belah.
Sebagai umat Katolik dan warga negara Indonesia, kita diundang untuk bersikap kritis terhadap kebijakan yang ada. Kritis bukan berarti menentang segalanya, melainkan menggunakan hati nurani dan akal budi untuk menimbang kebenaran. Namun, kritis juga perlu dibarengi kebijaksanaan agar suara yang kita sampaikan tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.
Yesus memberi teladan yang jelas: mendahulukan damai dan persatuan tanpa mengorbankan kebenaran. Kita pun dipanggil untuk menjadi “100% Katolik, 100% Indonesia” yang berani menyuarakan keadilan, namun tetap menjaga keharmonisan hidup bersama. Kita diminta untuk menghindari sikap yang justru menghalangi orang lain mendekat kepada Tuhan hanya karena kata-kata atau tindakan kita yang kurang bijak.
Santa Klara dari Asisi menghidupi semangat ini dengan sangat indah. Meski hidup dalam kemiskinan yang total, ia menjadi teladan kerendahan hati dan pelayanan penuh cinta kasih. Ia tidak pernah memecah belah, melainkan mempersatukan banyak orang melalui kesaksian hidup yang murni dan penuh damai. Santa Klara mengajarkan bahwa kesucian hidup bukan hanya soal doa, tetapi juga soal menjaga hati agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.
Doa
Ya Yesus yang penuh kasih, kami bersyukur atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Bimbinglah kami agar mampu bersuara kritis dalam menyikapi kebijakan dan peristiwa di negeri kami, tanpa mengorbankan persatuan dan kesejahteraan bersama. Semoga kami menjadi pembawa damai, seperti Engkau, dan seperti Santa Klara yang rendah hati. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 11 Agustus 2025

0 comments:
Posting Komentar