Yubileum Ormas-Ormas Katolik Ketapang
Hadirkan Diskusi Sejarah Gereja yang Inspiratif
Ketapang, 5 September 2025.Dalam rangka memperingati Yubileum Ormas-Ormas Katolik di Kabupaten Ketapang, Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Ketapang menyelenggarakan sebuah acara monumental berupa bedah buku berjudul Surat-Surat Mgr. Gabriel Wilhelmus Sillekens, CP., Uskup pertama Keuskupan Ketapang. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (5/9/2025) di Gedung Gemalo Murial, Catholic Center Paya Kumang, dengan menghadirkan dua narasumber utama: RD. Lorensius Sutadi, Pr, yang kini menjabat Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Ketapang, serta Amon Stefanus, seorang pensiunan guru sekaligus penulis produktif asal Ketapang.
Acara yang digagas Pemuda Katolik ini tidak sekadar menjadi forum akademis untuk membedah isi buku, melainkan juga perayaan iman, sejarah, dan kebersamaan umat Katolik di Ketapang. Mengangkat tema “Pemuda Katolik Komcab Ketapang Gelar Bedah Buku Surat-Surat Mgr. Gabriel Sillekens, CP, Uskup Pertama Ketapang”, kegiatan ini menjadi penanda bahwa organisasi-organisasi Katolik di Ketapang berkomitmen untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi Gereja serta masyarakat luas.

Rangkaian Acara: Dari Lagu Kebangsaan hingga Diskusi Sejarah
Sejak pagi, ratusan peserta telah memadati aula Gemalo Murial. Acara diawali dengan registrasi peserta,dan ramah tamah saling Berkenalan sederhana. Setelah itu, seluruh hadirin berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars Pemuda Katolik yang menggema penuh semangat.
Erasmus Canaga Antutn, Ketua Pemuda Katolik Komcab Ketapang periode 2025–2028 sekaligus Ketua Panitia, membuka acara dengan kata pengantar. Ia menegaskan bahwa Yubileum Ormas-Ormas Katolik bukan hanya momentum seremonial, tetapi juga sarana untuk menggali kembali akar sejarah Gereja Katolik di Tanah Kayong.
“Generasi muda Katolik harus mengenal sejarah, khususnya warisan dari Mgr. Sillekens, CP. Dengan memahami jejak beliau, kita bisa lebih mantap melangkah dalam pelayanan dan perutusan di tengah masyarakat,” ujar Erasmus dalam sambutannya.
Hadir pula tokoh umat, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Agustinus Paya Kumang, Bapak Jeno Leo, serta perwakilan ormas Katolik lain. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah kehadiran yang mencapai ratusan orang, terdiri dari pemuda Katolik, OMK, umat paroki, kaum religius, hingga pemerhati sejarah lokal.
Acara dipandu dengan apik oleh Dedy Candra selaku pembawa acara, sementara jalannya diskusi dimoderatori oleh Feri Hyang Daika, Sekretaris Pemuda Katolik Komcab Ketapang.
Amon Stefanus: Mengulas Jejak Sejarah Sang Uskup Pertama
Sebagai narasumber pertama, Amon Stefanus menyampaikan paparannya dengan gaya naratif dan penuh data sejarah. Ia memulai dengan menuturkan biografi Mgr. Gabriel Wilhelmus Sillekens, CP (1911–1981), yang lahir di Roggel, Limburg, Belanda, lalu bergabung dengan Kongregasi Pasionis pada 1929, ditahbiskan menjadi imam tahun 1936, dan akhirnya datang ke Ketapang pertama kali pada 6 Desember 1949.
Menurut Amon, sosok Sillekens tidak hanya seorang gembala, melainkan juga pionir pembangunan pendidikan, kesehatan, dan sosial di Ketapang. Beliau mendirikan Yayasan Usaba, membangun sekolah-sekolah di pedalaman, menghadirkan para Bruder FIC untuk mendukung dunia pendidikan, serta menginisiasi Panitia Beasiswa (PBS) bersama para imam lainnya demi membantu anak-anak Dayak melanjutkan pendidikan.
“Beliau adalah peletak dasar Gereja lokal Ketapang. Dari lima paroki yang ada pada awal masa penggembalaannya, bertambah menjadi sembilan. Katedral Santa Gemma pun dibangun dan diberkati tahun 1961, yang kini kita kenal sebagai Gedung Sillekens,” ungkap Amon dengan penuh semangat.
Ia juga menekankan betapa pentingnya buku Surat-Surat Mgr. Gabriel Sillekens, CP sebagai dokumen sejarah. Buku tersebut memuat 16 surat gembala yang ditulis antara tahun 1962–1978, lengkap dengan pesan moral, ajakan pastoral, hingga pandangan sosial-politik seorang uskup di masa awal Republik Indonesia.
RD. Lorensius Sutadi: Menyoroti Peran Awam dalam Gereja
Narasi historis dari Amon dilengkapi dengan perspektif pastoral dari RD. Lorensius Sutadi, Vikjen Keuskupan Ketapang. Ia menyoroti pesan-pesan Mgr. Sillekens yang relevan hingga saat ini, khususnya mengenai peran kaum awam dalam karya Gereja.
“Gereja tidak bisa hadir secara utuh tanpa awam. Justru awamlah yang membawa wajah Kristus ke tengah dunia. Para imam berperan dalam sakramen, tetapi para awamlah yang menghadirkan Injil di dunia kerja, keluarga, dan masyarakat,” tegasnya.
RD. Sutadi mengutip beberapa poin dari surat gembala Sillekens, antara lain ajakan agar pemuda-pemudi Katolik bersatu dalam organisasi Pemuda Katolik dan Ikatan Siswa Katolik Indonesia (ISKI), juga dorongan bagi orang beriman untuk menjadi warga negara yang baik, setia, dan berani berkorban demi bangsa.
Menurutnya, pesan-pesan ini tidak pernah kehilangan relevansi, terlebih di tengah tantangan zaman modern. “Kita sedang memasuki era digital dengan arus informasi tanpa batas. Justru di situ kita dipanggil untuk menjadi garam dunia dan terang dunia, sesuai semangat yang diwariskan Mgr. Sillekens,” tambahnya.
Isi Buku: Dari Surat Gembala Hingga Seruan Sosial
Bedah buku ini tidak hanya membahas biografi sang uskup, tetapi juga isi surat-surat gembala yang sarat makna. Beberapa di antaranya yang disorot dalam acara adalah:
Surat Gembala Pemilu 1955, yang menegaskan pentingnya partisipasi umat Katolik dalam Pemilihan Umum demi kemajuan bangsa.
Ajakan Menjadi Rakyat yang Baik dan Setia, dengan dasar Pancasila sebagai fondasi kebangsaan dan iman.
Pesan tentang Keluarga Katolik, yang menekankan doa bersama dalam keluarga, salib kudus sebagai simbol iman, dan pentingnya pendidikan iman bagi anak-anak.
Peran Legio Maria dalam mengisi kekurangan tenaga misionaris sekaligus sebagai benteng melawan ideologi komunisme pada masa itu.
Buku ini juga memuat data statistik Prefektur Apostolik Ketapang tahun 1954, dokumentasi pelantikan Mgr. Sillekens, hingga sambutan-sambutan dari tokoh lintas agama, termasuk apresiasi dari Kolonel Soedharmo, Panglima Darurat Militer Kalimantan Barat, atas kontribusi Uskup Sillekens dalam pembangunan sosial-keagamaan.
Nuansa Kebersamaan dan Nostalgia
Sesi diskusi semakin hidup dengan tanya jawab peserta. Beberapa pemuda menanyakan bagaimana pesan-pesan Mgr. Sillekens bisa diterapkan dalam konteks kekinian, khususnya dalam menghadapi tantangan generasi muda Katolik.
Acara kemudian ditutup dengan penayangan slideshow foto-foto lawas Gereja Katolik di Ketapang. Gambar-gambar hitam putih memperlihatkan pembangunan Katedral Santa Gemma, perayaan Ekaristi bersama umat Dayak, hingga dokumentasi kuno para misionaris yang setia melayani di pedalaman.
Suasana nostalgia bercampur haru memenuhi ruangan. Para peserta merasa seakan dibawa kembali ke masa awal berdirinya Gereja Katolik di tanah Kayong. “Ini bukan hanya bedah buku, tetapi refleksi iman dan sejarah yang meneguhkan,” ujar salah satu peserta.
Tokoh-Tokoh di Balik Acara
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari kerja keras panitia. Selain Erasmus Canaga Antutn sebagai Ketua Panitia, dukungan penuh datang dari seluruh jajaran Pemuda Katolik Komcab Ketapang. Moderator Feri Hyang Daika mengatur jalannya diskusi dengan cermat, sementara Dedy Candra tampil energik sebagai pembawa acara.
Keterlibatan umat paroki, ormas Katolik, serta dukungan Keuskupan Ketapang menjadi bukti nyata bahwa semangat sinodalitas berjalan bersama sebagai umat Allah hidup dan berkembang di Ketapang.
Signifikansi Yubileum: Membangun Gereja yang Lebih Kuat
Yubileum Ormas-Ormas Katolik di Ketapang bukan sekadar peringatan angka tahun, melainkan momentum untuk memperkuat persekutuan, memperdalam iman, dan memperluas pelayanan. Melalui kegiatan seperti bedah buku ini, generasi muda diajak untuk mengenang sejarah sambil menatap masa depan.
“Tema Katolik Grow Further, Level Up bukan slogan kosong. Ini komitmen kita semua untuk naik tingkat dalam pelayanan, dalam keterlibatan sosial, dan dalam kesaksian iman di tengah masyarakat Ketapang,” ujar Erasmus dalam penutupan acara.
Penutup
Bedah buku Surat-Surat Mgr. Gabriel Sillekens, CP yang digelar di Gedung Gemalo Murial, Catholic Center Paya Kumang, pada 5 September 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perayaan Yubileum Ormas-Ormas Katolik Ketapang. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti RD. Lorensius Sutadi dan Amon Stefanus, acara ini membuka ruang refleksi yang kaya akan sejarah, iman, dan semangat kebersamaan.
Lebih dari sekadar mengenang, kegiatan ini menjadi panggilan nyata bagi generasi Katolik Ketapang untuk terus tumbuh, berinovasi, dan melanjutkan perjuangan para pendahulu, sebagaimana diwariskan oleh Mgr. Sillekens. Dengan demikian, Yubileum ini tidak hanya menjadi perayaan masa lalu, tetapi juga pijakan kokoh untuk membangun masa depan Gereja Katolik di tanah Kayong.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 5 September 2025



0 comments:
Posting Komentar