Belajar Firman Tuhan di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Narasumber: Ibu Angelina Norma Sanger
Ketapang, 1 September 2025.Kegiatan pendalaman iman kembali digelar di Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, pada Senin sore (1/9). Acara yang berlangsung di Gedung Jeron Stoop, C.P., dimulai pukul 18.45 WIB hingga 21.00 WIB dan dihadiri oleh 14 peserta.
Dalam kesempatan ini hadir Sekretaris Panitia, Saudari Even Fransiska, bersama sejumlah umat dan panitia, antara lain Ibu Sutarti Rahayu, Ibu Yanti, Ibu Kafui Lai, Bapak Melanius Momang, dan Ibu Luliana Suan. Narasumber utama yang membawakan materi adalah Ibu Angelina Norma Sanger, yang mengangkat tema seputar Kesaksian Iman berdasarkan Kitab Suci dan pengalaman hidup Kristiani.
Materi: Kesaksian Iman dalam Pewartaan
Narasumber menekankan bahwa Kitab Suci Katolik berisi kesaksian iman, khususnya dalam Perjanjian Baru yang menuliskan pengalaman para murid Yesus dan Gereja Perdana. Kesaksian iman bukan hanya sekadar cerita, tetapi ungkapan kebenaran akan kasih Tuhan yang menyelamatkan dan membawa pembaruan dalam hidup.
Mengutip Kitab 1 Petrus 3:15-16, umat diajak untuk senantiasa siap memberi jawaban atas pengharapan yang dimiliki, dengan sikap lemah lembut, penuh hormat, dan hati nurani yang murni.
Ibu Angelina Norma Sanger menjelaskan bahwa kesaksian iman dapat diungkapkan melalui:
Kesaksian hidup: sikap dan perilaku Kristiani yang mencerminkan kasih, kepedulian, dan solidaritas di tengah masyarakat.
Kesaksian iman: penjelasan dengan kata-kata mengenai alasan dan dasar hidup beriman yang bersumber dari ajaran Yesus Kristus.
“Kesaksian hidup Kristiani yang otentik merupakan sarana utama evangelisasi. Namun cepat atau lambat, kesaksian itu perlu dijelaskan dengan sabda,” jelasnya, sambil mengutip Evangelii Nuntiandi (EN 21-22).
Kriteria dan Tahapan Kesaksian Iman
Kesaksian iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang Kristiani. Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Namun, kesaksian iman bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja tanpa proses. Ia bertumbuh melalui pengalaman pribadi bersama Tuhan, melalui pergulatan hidup sehari-hari, serta melalui bimbingan Roh Kudus yang terus menuntun setiap umat dalam perjalanan rohani.
Agar kesaksian iman dapat sungguh bernilai dan berdaya guna bagi pewartaan Injil, ada kriteria dan tahapan yang perlu dipahami dan dihayati. Dalam pendalaman iman ini, peserta diajak untuk melihat empat tahapan penting yang membentuk kesaksian iman yang sejati, yakni:
-
Pengalaman kasih Tuhan yang otentik dan pribadi
-
Pertobatan (metanoia) setelah mengalami kasih dan pertolongan Tuhan
-
Perubahan hidup baru yang menghasilkan buah-buah rohani
-
Pelayanan kasih melalui keterlibatan dalam Gereja dan evangelisasi
Masing-masing tahapan ini bukanlah langkah yang terpisah, melainkan sebuah perjalanan yang saling berkaitan, membentuk sebuah alur pertumbuhan iman yang utuh. Mari kita uraikan lebih dalam setiap tahapan tersebut.
1. Pengalaman Kasih Tuhan yang Otentik dan Pribadi
Segala bentuk kesaksian iman berawal dari pengalaman pribadi bersama Tuhan. Tanpa pengalaman pribadi ini, kesaksian hanya akan menjadi sekadar cerita yang diulang dari orang lain, tanpa kekuatan rohani yang mampu menyentuh hati pendengar.
a. Apa yang dimaksud dengan pengalaman otentik?
Pengalaman otentik berarti pengalaman yang sungguh-sungguh dialami, dirasakan, dan dihayati secara pribadi. Ia tidak dipinjam dari orang lain, melainkan lahir dari perjumpaan langsung dengan Tuhan. Bisa berupa pengalaman doa yang mendalam, pengalaman diselamatkan dari bahaya, pengalaman kekuatan di tengah sakit, atau pengalaman damai yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.
Contoh:
-
Seorang ibu yang hampir kehilangan anaknya karena sakit, namun ia merasakan kuasa doa yang membawa kesembuhan.
-
Seorang pemuda yang kehilangan arah hidup, namun melalui retret ia mengalami kembali cinta Tuhan yang meneguhkan.
b. Mengapa pengalaman pribadi penting?
Karena hanya pengalaman pribadi yang memiliki daya sentuh. Saat seseorang bersaksi dari hatinya sendiri, maka kesaksian itu keluar dengan ketulusan, kejujuran, dan kekuatan yang tidak dibuat-buat. Orang yang mendengar bisa merasakan bahwa kesaksian itu benar-benar nyata.
c. Ciri-ciri pengalaman kasih Tuhan yang otentik:
-
Mengubah hati – setelah mengalami kasih Tuhan, seseorang merasa disentuh dan diubahkan.
-
Menghadirkan damai – walaupun masalah tidak hilang, hati dipenuhi ketenangan.
-
Membangkitkan syukur – hati terdorong untuk memuji Tuhan dan mengucap syukur.
-
Mendorong iman bertumbuh – pengalaman itu meneguhkan keyakinan bahwa Tuhan sungguh hadir dan setia.
Dengan demikian, langkah pertama kesaksian iman adalah membuka hati untuk sungguh mengalami kasih Tuhan secara nyata dan pribadi.
2. Pertobatan (Metanoia) Setelah Mengalami Kasih dan Pertolongan Tuhan
Pengalaman kasih Tuhan seharusnya tidak berhenti pada rasa kagum semata. Ia menuntun seseorang pada langkah berikutnya, yaitu pertobatan. Dalam bahasa Yunani, pertobatan disebut metanoia, yang berarti perubahan cara berpikir, cara melihat hidup, dan cara mengambil keputusan.
a. Hakikat pertobatan
Pertobatan bukan sekadar meninggalkan dosa, melainkan perubahan arah hidup. Dari hidup yang berpusat pada diri sendiri, seseorang mulai hidup berpusat pada Kristus. Dari hidup yang hanya mengejar kesenangan dunia, seseorang mulai mencari kehendak Allah.
b. Proses pertobatan
-
Kesadaran akan dosa – pengalaman kasih Tuhan membuka mata seseorang akan kelemahan dan dosanya. Ia menyadari bahwa tanpa Tuhan, ia rapuh dan mudah jatuh.
-
Pengakuan dosa – pertobatan diwujudkan secara konkret melalui sakramen tobat, di mana seseorang mengakui dosanya dan menerima pengampunan.
-
Perubahan sikap – setelah menerima pengampunan, seseorang berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya.
-
Komitmen hidup baru – pertobatan selalu melahirkan tekad untuk hidup lebih baik, sesuai kehendak Tuhan.
c. Contoh dalam Kitab Suci
-
Zakeus: setelah berjumpa Yesus, ia bertobat dengan mengembalikan harta hasil penipuan dan memberi separuh kekayaannya kepada orang miskin (Luk 19:8).
-
Paulus: dari seorang penganiaya jemaat, ia bertobat total setelah bertemu Kristus di jalan menuju Damsyik, dan kemudian menjadi rasul besar bangsa-bangsa.
Pertobatan adalah tanda bahwa pengalaman kasih Tuhan telah menyentuh hati secara mendalam. Tanpa pertobatan, pengalaman iman hanya menjadi kenangan, bukan kekuatan yang mengubah hidup.
3. Perubahan Hidup Baru yang Menghasilkan Buah-buah Rohani
Pertobatan yang sejati akan terlihat dari perubahan hidup. Perubahan ini bukan hanya diucapkan, tetapi nyata dalam sikap, perilaku, dan gaya hidup sehari-hari. Rasul Paulus menggambarkan perubahan hidup baru ini sebagai hidup dalam Roh yang menghasilkan buah-buah rohani.
a. Buah-buah Roh Kudus
Dalam Galatia 5:22-23, Paulus menyebut sembilan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Seorang Kristiani yang mengalami perubahan hidup akan menunjukkan ciri-ciri ini dalam kehidupannya. Ia menjadi lebih sabar, lebih mudah mengampuni, lebih peduli pada sesama, lebih mampu menguasai diri, dan hatinya dipenuhi damai.
b. Proses perubahan hidup
Perubahan ini sering kali terjadi secara bertahap, seperti metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu:
-
Ulat – menggambarkan hidup lama yang penuh kelemahan dan dosa.
-
Kepompong – menggambarkan proses pemurnian, di mana seseorang bergumul untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan belajar hidup baru.
-
Kupu-kupu – menggambarkan hidup baru yang indah, penuh sukacita, dan memancarkan kasih Tuhan.
c. Kesaksian melalui perubahan hidup
Sering kali, kesaksian yang paling kuat justru bukan kata-kata, tetapi perubahan hidup yang terlihat nyata. Misalnya:
-
Seorang ayah yang dulunya pemabuk, namun setelah bertobat menjadi teladan bagi keluarganya.
-
Seorang anak muda yang dulunya malas dan suka berbohong, kini menjadi rajin, jujur, dan penuh semangat.
Perubahan hidup seperti ini membuat orang lain penasaran, dan akhirnya terdorong untuk bertanya, “Mengapa hidupmu bisa berubah? Apa yang membuatmu berbeda?” Saat itulah kesaksian iman sungguh berbicara.
4. Pelayanan Kasih Melalui Keterlibatan dalam Gereja dan Evangelisasi
Tahap terakhir dari kesaksian iman adalah membagikan kasih yang telah dialami kepada orang lain. Iman yang sejati tidak berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi mendorong seseorang untuk melayani.
a. Makna pelayanan kasih
Pelayanan kasih berarti menyalurkan kasih Tuhan yang telah dialami kepada sesama. Kasih yang diterima tidak disimpan untuk diri sendiri, melainkan dibagikan agar semakin banyak orang merasakan kebaikan Tuhan.
Pelayanan kasih dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk:
Pelayanan dalam Gereja: menjadi prodiakon, lektor, anggota koor, katekis, pendamping OMK, atau aktif dalam kegiatan kategorial.
Pelayanan sosial: membantu orang miskin, mendampingi orang sakit, mengunjungi yang kesepian, atau terlibat dalam karya karitatif.
Pelayanan evangelisasi: ikut serta dalam pewartaan, pendalaman iman, retret, atau kegiatan misi.
b. Dasar Kitab Suci
c. Pelayanan sebagai puncak kesaksian iman
Seseorang yang telah mengalami kasih Tuhan, bertobat, dan hidup baru, akan dengan sendirinya terdorong untuk melayani. Pelayanan bukan lagi beban, melainkan sukacita. Pelayanan menjadi tanda bahwa iman yang dimiliki sungguh hidup dan berkembang.
Dengan demikian, kesaksian iman mencapai puncaknya ketika seorang Kristiani tidak hanya menceritakan pengalamannya, tetapi juga mengabdikan hidupnya bagi sesama melalui karya pelayanan kasih.
Penutup: Kesaksian Iman sebagai Perjalanan Hidup
Jika keempat tahapan ini dijalani, maka kesaksian iman seorang Kristiani akan menjadi kesaksian yang kuat, otentik, dan berbuah:
-
Berawal dari pengalaman kasih Tuhan yang pribadi,
-
Dilanjutkan dengan pertobatan yang mendalam,
-
Terwujud dalam perubahan hidup baru yang nyata,
-
Dan mencapai puncak dalam pelayanan kasih bagi sesama.
Kesaksian iman bukanlah tugas segelintir orang, melainkan panggilan setiap umat. Setiap orang bisa bersaksi, sesuai dengan pengalaman hidupnya masing-masing. Tuhan tidak meminta kesaksian yang spektakuler, tetapi kesaksian yang tulus, jujur, dan penuh kasih.
Dengan kesaksian iman seperti inilah Injil dapat terus diwartakan, Gereja terus bertumbuh, dan dunia dapat melihat cahaya Kristus yang memancar melalui hidup umat-Nya.
Narasumber menegaskan bahwa kesaksian iman bukanlah sekadar kata-kata, melainkan pengalaman nyata akan kasih Tuhan yang mendorong seseorang untuk bertobat, berubah, dan akhirnya melayani sesama.
Semboyan dan Perisai Hidup
Sebagai bagian dari kegiatan, peserta juga diajak menyusun semboyan pribadi dan menggambarkan perisai hidup yang mencerminkan nilai utama dalam hidup mereka. Latihan ini dimaksudkan agar setiap umat semakin menyadari panggilan untuk mewartakan iman melalui nilai hidup yang otentik.
Penutup
Kegiatan ditutup dengan doa bersama, penuh rasa syukur atas kesempatan untuk memperdalam iman dan saling meneguhkan. Melalui pendalaman ini, umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang diingatkan kembali bahwa kesaksian iman adalah sarana penting dalam evangelisasi bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui hidup sehari-hari yang mencerminkan kasih Kristus.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 1 September 2025
0 comments:
Posting Komentar