Jangan Menilai dari Latar Belakang: Pesan Injil untuk Dunia Modern
Renungan oleh Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil / Fr. Boy
Ketapang. 1 September 2025.Dalam dunia yang serba cepat, digital, dan penuh dinamika, penilaian manusia terhadap sesamanya sering kali terjebak pada hal-hal yang bersifat subjektif dan dangkal. Fenomena ini disoroti secara mendalam oleh Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil., atau yang akrab disapa Fr. Boy, ketika membawakan renungan dari Injil Lukas 4:16-30 pada hari Senin, 1 September 2025.
Penilaian yang Subjektif: Cermin dari Dunia Modern
Menurut Fr. Boy, di tengah kehidupan masyarakat modern, penilaian subjektif terhadap seseorang berdasarkan latar belakangnya masih sering terjadi. Ia menilai bahwa cara pandang ini tidak hanya menutup peluang seseorang untuk berkembang, tetapi juga menutup hati manusia terhadap karya Allah yang nyata dalam hidup orang lain.
“Kita sering memberi label hanya karena seseorang berasal dari lingkungan tertentu atau memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Padahal hal ini sungguh memperihatinkan kita semua,” ungkap Fr. Boy dengan nada tegas namun penuh keprihatinan.
Penilaian subjektif ini, lanjutnya, dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Misalnya, di dunia pendidikan, masih ada siswa yang dipandang sebelah mata hanya karena berasal dari keluarga dengan ekonomi terbatas. Di dunia kerja, masih ada diskriminasi yang dilakukan terhadap pelamar karena asal daerah, suku, atau bahkan penampilan luar. Di lingkungan sosial, seseorang sering kali diukur dari status atau popularitas, bukan dari integritas, kebaikan, atau kualitas hidupnya.
Fr. Boy menekankan bahwa fenomena ini bukan sekadar masalah sosial, melainkan juga masalah iman. “Ketika kita menilai orang hanya dari latar belakangnya, kita sebenarnya sedang mengabaikan karya Allah dalam dirinya. Kita lupa bahwa setiap orang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah,” tegasnya.
Pesan Injil: Belajar dari Penolakan Yesus
Dalam renungan Injil Lukas 4:16-30, Fr. Boy mengajak umat untuk merenungkan kisah Yesus yang ditolak di kampung halamannya, Nazaret. Bagi orang-orang sekampung, Yesus hanyalah “anak Yusuf si tukang kayu,” bukan seorang Mesias yang diutus Allah.
“Yesus sendiri mengalami penolakan di kampung halamannya, bukan karena ajarannya salah, melainkan karena orang-orang hanya melihat latar belakang-Nya,” jelas Fr. Boy.
Kisah ini, menurutnya, menjadi cermin bagi dunia saat ini. Banyak orang baik, berprestasi, dan memiliki integritas justru tidak dihargai hanya karena latar belakang keluarga atau asal usul mereka. Sebaliknya, orang yang populer, kaya, atau memiliki pengaruh sering kali lebih dihormati meski belum tentu memiliki hati yang tulus.
“Di sinilah Injil memberi kita peringatan. Jika Yesus yang adalah Putra Allah saja ditolak karena pandangan yang sempit, maka kita pun bisa jatuh dalam sikap yang sama. Pertanyaannya: apakah kita mau belajar dari kisah ini atau tetap menutup hati kita?” ujar Fr. Boy.
Dunia Digital: Antara Realita dan Imajinasi
Refleksi Fr. Boy kemudian merambah pada fenomena dunia digital dan media sosial. Ia menyoroti bagaimana hal-hal konyol sering kali lebih cepat viral ketimbang prestasi yang sungguh membanggakan.
“Di media sosial, seseorang bisa terkenal karena konten lucu atau sensasi murahan, sementara orang-orang yang bekerja keras dengan prestasi akademik atau karya nyata justru tenggelam dalam arus informasi. Inilah salah satu bentuk nyata bagaimana dunia lebih mudah menilai sesuatu dari permukaan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menambahkan bahwa maraknya pembullyan di sekolah-sekolah yang sering dibiarkan adalah refleksi nyata dari sikap menilai secara dangkal. Anak-anak yang berbeda – entah karena penampilan, kemampuan, atau latar belakang keluarga – sering menjadi korban ejekan.
“Ketika bullying terjadi, kita seakan-akan sedang mengulangi sikap orang-orang di Nazaret yang menolak Yesus hanya karena Dia anak tukang kayu. Kita menolak orang lain bukan karena mereka salah, tetapi karena kita tidak bisa menerima siapa mereka sebenarnya,” tegasnya.
Belajar Menghargai dari Perspektif Iman
Fr. Boy kemudian mengajak umat untuk merenungkan pertanyaan reflektif:
“Bisakah kita tidak menilai sesuatu atau seseorang dari sudut manapun? Atau bisakah kita menghargai orang karena kelebihan yang dianugerahkan Tuhan padanya?”
Menurutnya, ini bukan hanya pertanyaan etis, melainkan tantangan iman. Setiap orang dipanggil untuk melihat sesamanya dengan kacamata Allah, bukan dengan kacamata dunia. Dalam pandangan iman, seseorang dihargai bukan karena latar belakang atau statusnya, melainkan karena ia adalah anak Allah yang berharga.
Ia mencontohkan bagaimana Yesus dalam pelayanan-Nya selalu melihat hati manusia, bukan penampilannya. Ia makan bersama pemungut cukai, menyembuhkan orang kusta, berbicara dengan perempuan Samaria, dan mengampuni perempuan berdosa. Semua ini menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui latar belakang dan label sosial.
“Kalau Yesus saja membuka hati untuk orang-orang yang dianggap hina oleh masyarakat, mengapa kita masih sibuk menilai dan membeda-bedakan sesama?” tanya Fr. Boy.
Relevansi untuk Kehidupan Sehari-hari
Pesan Injil hari ini, menurut Fr. Boy, sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk:
-
Menghargai orang tua dan keluarga – Tidak menilai berdasarkan kondisi ekonomi atau latar belakang pendidikan, tetapi menghargai pengorbanan dan kasih yang telah diberikan.
-
Mendukung sesama di tempat kerja atau sekolah – Memberikan apresiasi pada prestasi orang lain, bukan mencibir kekurangannya.
-
Menggunakan media sosial dengan bijak – Menyebarkan hal-hal positif yang menginspirasi, bukan memperkuat stereotip atau memviralkan hal-hal negatif.
-
Membangun budaya anti-bullying – Membela mereka yang lemah dan berbeda, serta menciptakan lingkungan yang inklusif.
-
Membuka hati dalam kehidupan iman – Melihat sesama dengan kacamata Kristus, bukan kacamata dunia yang penuh prasangka.
Penutup: Sebuah Undangan untuk Berubah
Mengakhiri renungannya, Fr. Boy menekankan bahwa perubahan cara pandang bukanlah hal yang mudah, tetapi sangat mungkin jika setiap orang membuka hati pada karya Roh Kudus.
“Menilai tanpa latar belakang berarti kita berani membuka hati untuk melihat sesama dengan kasih. Kita tidak hanya berhenti pada apa yang tampak di luar, melainkan mau masuk lebih dalam, melihat hati, dan menemukan Allah yang berkarya dalam setiap pribadi,” ungkapnya.
Ia berharap umat tidak hanya mendengarkan Injil, tetapi juga menjadikannya pedoman hidup sehari-hari. Dengan demikian, dunia yang sering kali keras, diskriminatif, dan penuh prasangka, bisa berubah menjadi dunia yang lebih ramah, penuh kasih, dan berbelas kasih.
📌 Ikuti renungan dan refleksi Fr. Boy di Instagram: @frater_boy
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 1 September 2025

0 comments:
Posting Komentar