Tim Koor MSE Gelar Latihan Perdana Persiapan Misa Krisma dan Pelantikan Prodiakon

 

Tim Koor MSE Gelar Latihan Perdana Persiapan Misa Krisma dan Pelantikan Prodiakon

Ketapang 2 September 2025.Dalam rangka persiapan menyongsong Perayaan Misa Krisma dan Pelantikan Prodiakon yang akan digelar pada Minggu, 21 September 2025 mendatang, Tim Koor Maria Serva Evangelii (MSE) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, melaksanakan latihan perdana pada Senin, 1 September 2025 di Gereja Paroki Santo Agustinus Paya Kumang.

Latihan ini dipimpin langsung oleh dirigen Hendrik, yang dengan penuh semangat mengarahkan seluruh anggota tim koor dalam mempersiapkan paduan suara yang liturgis, indah, dan selaras dengan nuansa perayaan sakral tersebut. Semangat yang ditunjukkan Hendrik sejak awal sesi latihan bukan sekadar bentuk rutinitas seorang pemimpin koor, melainkan sebuah wujud panggilan pelayanan yang lahir dari hati yang tulus. Hendrik menyadari sepenuhnya bahwa perayaan Misa Krisma dan Pelantikan Prodiakon yang akan digelar pada 21 September 2025 mendatang bukanlah peristiwa biasa, melainkan momentum istimewa bagi seluruh umat Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, bahkan bagi Keuskupan Ketapang secara keseluruhan.

























Sebagai dirigen, Hendrik memiliki tanggung jawab ganda: pertama, memastikan kualitas teknis vokal, aransemen, dan dinamika lagu berjalan sesuai aturan liturgi; kedua, membangun suasana kebersamaan di antara para anggota Tim Koor Maria Serva Evangelii (MSE). Ia tidak hanya berdiri di depan memimpin gerakan tangan untuk mengatur tempo, melainkan juga memberi motivasi, membimbing intonasi, dan menjelaskan makna dari setiap lagu yang dinyanyikan. Dalam pandangan Hendrik, nyanyian liturgi bukan sekadar kumpulan nada, melainkan doa yang dinaikkan kepada Tuhan. Maka, setiap latihan selalu diawali dengan doa singkat, memohon penyertaan Roh Kudus agar seluruh rangkaian persiapan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga menjadi sarana pendalaman iman.

Pada latihan perdana tanggal 1 September 2025 ini, Hendrik terlihat menekankan pentingnya penghayatan. Ia mengingatkan bahwa perayaan Krisma akan menghadirkan Sakramen Penguatan, di mana Roh Kudus dicurahkan bagi umat, khususnya bagi mereka yang akan menerima Sakramen tersebut. Oleh karena itu, setiap lagu yang dipilih harus benar-benar mengarahkan umat pada pengalaman iman yang mendalam. Hendrik mencontohkan pada lagu Datanglah Roh Mahakudus (MB 448). Lagu ini bukan hanya rangkaian kata-kata puitis, melainkan seruan nyata agar Roh Kudus hadir di tengah-tengah umat. Ia mengajak para penyanyi untuk menyanyikannya dengan penuh iman, bukan sekadar dengan suara yang nyaring.

Ketegasan sekaligus kelembutan Hendrik dalam memimpin tampak ketika ia menghentikan latihan beberapa kali untuk memperbaiki intonasi. Misalnya, pada bagian “Tuhan Kasihanilah Kami” yang dibawakan dalam gaya Minang, Hendrik mengarahkan agar aksentuasi khas Minang benar-benar terasa, tetapi tetap dalam koridor liturgi yang sakral. Ia mengingatkan agar para anggota tidak tergoda untuk berlebihan, sebab liturgi mengutamakan keseimbangan antara kekayaan budaya dan kesederhanaan iman. “Kita menyanyi dengan gaya Minang, tetapi jangan sampai umat merasa sedang berada di panggung hiburan. Kita hadir untuk mendukung doa umat, bukan untuk unjuk kebolehan,” tegas Hendrik sambil tersenyum memberi semangat.

Di sisi lain, Hendrik juga memberi perhatian pada aransemen musikal. Ia meminta agar setiap suara, baik sopran, alto, tenor, maupun bas, dapat terdengar seimbang. Dalam latihan kali ini, beberapa anggota masih tampak ragu saat memasuki bagian nada tinggi. Hendrik tidak marah, melainkan memberikan arahan sabar sambil mencontohkan cara mengambil napas dengan benar. Ia bahkan mengajak anggota untuk melakukan latihan vokal sederhana: menarik napas dalam, menahan sejenak, lalu mengeluarkannya perlahan dengan mengucapkan “haaa…” agar pita suara lebih rileks. Metode sederhana ini membuat suasana latihan lebih hidup, sekaligus menjadi sarana pembelajaran bersama.

Lebih jauh, Hendrik menjelaskan makna setiap bagian lagu dalam kaitannya dengan perayaan. Pada bagian Kemuliaan dengan gaya Minang, ia menggarisbawahi bahwa lagu ini adalah puncak pujian umat kepada Allah Tritunggal. Oleh sebab itu, meski dinyanyikan dengan sentuhan budaya, hendaknya setiap anggota tidak melupakan isi doa yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, untuk bagian persembahan, Hendrik mengarahkan agar lagu Bawalah Persembahan versi kroncong dan Terimalah Persembahan gaya Melayu dibawakan dengan nada penuh sukacita, mencerminkan kerelaan hati umat yang mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan. “Musik boleh bergaya kroncong atau Melayu, tetapi hati kita tetap harus diarahkan kepada Tuhan. Jangan biarkan gaya mengalahkan makna,” ungkapnya.

Selain sisi musikal, Hendrik juga memperhatikan kekompakan tim. Ia menyadari bahwa anggota Tim Koor MSE berasal dari berbagai latar belakang: ada yang masih remaja, ada pula yang sudah berkeluarga, bahkan beberapa di antaranya memiliki kesibukan pekerjaan sehari-hari. Namun, keberagaman itu justru menjadi kekayaan tersendiri. Dengan sabar, Hendrik membangun komunikasi yang akrab. Ia sesekali melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana. “Kalau suara fals, jangan malu. Yang penting kita sama-sama belajar. Ingat, Tuhan melihat hati kita lebih dulu daripada nada kita,” ujarnya sambil membuat semua orang tertawa.

Suasana hangat ini mencerminkan bahwa latihan bukan hanya ajang persiapan teknis, melainkan juga perjumpaan iman. Setiap anggota merasakan bahwa mereka bagian dari tubuh Kristus yang satu. Hendrik menanamkan pemahaman bahwa pelayanan musik liturgi adalah sebuah panggilan. “Kita melayani, bukan mencari pujian. Kita dipilih untuk menolong umat berdoa melalui nyanyian. Inilah cara kita mengabdi kepada Gereja,” katanya dengan suara penuh keyakinan.

Tak heran jika latihan perdana ini berlangsung hingga malam dengan penuh antusias. Meskipun beberapa anggota tampak lelah setelah seharian beraktivitas, mereka tetap bertahan sampai akhir. Dorongan semangat dari Hendrik membuat mereka rela memberikan waktu dan tenaga. Ada anggota yang datang dengan membawa anak kecil, ada pula yang menempuh perjalanan jauh dari kampung sekitar paroki, tetapi semuanya merasa gembira bisa ikut ambil bagian. “Capek hilang kalau ingat kita sedang mempersiapkan acara besar Gereja,” tutur salah satu anggota koor sambil tersenyum.

Latihan ini juga menjadi ajang pembentukan disiplin. Hendrik menetapkan jadwal latihan rutin setiap minggu menjelang perayaan. Ia mengajak semua anggota untuk berkomitmen hadir, sebab keberhasilan paduan suara tidak bisa dibangun secara instan. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan suara. Ia memberi tips sederhana: jangan terlalu sering minum es, hindari makanan berminyak sebelum latihan, dan biasakan melakukan pemanasan vokal di rumah. Perhatian detail seperti ini menunjukkan betapa seriusnya Hendrik dalam mempersiapkan timnya.

Menjelang akhir latihan, Hendrik mengajak seluruh anggota untuk menyanyikan Mars Yubelium sebagai lagu penutup. Lagu ini dipilih bukan sekadar untuk mengakhiri sesi, tetapi juga untuk menanamkan semangat pelayanan yang tak pernah padam. Ketika lagu itu berkumandang, seluruh anggota berdiri dengan wajah penuh sukacita. Seolah-olah mereka sudah membayangkan suasana perayaan 21 September nanti, di mana ribuan umat akan hadir dan bergabung dalam doa serta pujian.

Hendrik menutup latihan dengan sebuah pesan: “Mari kita terus berlatih, bukan untuk kesempurnaan manusia, tetapi untuk kemuliaan Allah. Kita boleh punya suara pas-pasan, tetapi jika dinyanyikan dengan hati, Tuhan akan menerimanya sebagai doa yang indah.” Pesan ini disambut tepuk tangan riuh dari seluruh anggota, menandakan bahwa mereka siap melanjutkan perjalanan persiapan.

Dari uraian panjang ini, tampak jelas bahwa kepemimpinan Hendrik sebagai dirigen bukan hanya soal teknik, melainkan soal hati dan iman. Ia menghidupkan semangat pelayanan, membangun kebersamaan, dan mengarahkan seluruh tim agar paduan suara benar-benar menjadi sarana doa dalam liturgi. Dengan bimbingannya, Tim Koor Maria Serva Evangelii semakin siap menyambut perayaan besar Gereja, di mana nyanyian mereka akan menjadi persembahan bagi Tuhan dan sukacita bagi umat.

Adapun susunan nyanyian liturgi yang dilatih mencakup:

  1. Pembukaan – “Marilah Kita Memuji”

  2. Tuhan Kasihanilah Kami – gaya Minang

  3. Kemuliaan – gaya Minang

  4. Mazmur (akan ditentukan lebih lanjut)

  5. Bagian Krisma:

    • MB 448 Datanglah Roh Mahakudus

    • MB 452 Roh Allah Bangkitkan Kami

  6. Pelantikan Prodiakon – PS 630

  7. Persembahan:

    • MB 228 Bawalah Persembahan – gaya Kroncong

    • Terimalah Persembahan – gaya Melayu

  8. Kudus – gaya Minang

  9. Bapa Kami – versi biasa

  10. Anak Domba Allah A – gaya Minang

  11. Komuni:

  • Servien In Caritate

  • Jiwa Kristus

  1. Penutup: Mars Yubelium

Menurut Hendrik, latihan ini akan terus berlanjut secara rutin agar kualitas paduan suara semakin baik dan siap mengiringi perayaan akbar di paroki. “Kita bukan hanya bernyanyi, tetapi juga melayani melalui musik liturgi. Mari kita lakukan dengan hati dan penuh sukacita,” ungkapnya saat memberikan arahan.

Dengan penuh antusias, seluruh anggota Tim Koor MSE pun mengikuti latihan ini sebagai wujud pelayanan nyata bagi Gereja dan umat.

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   2  September  2025


About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar