Misa Syukur Lingkungan Santa Lusia: Doa Bersama untuk Pensiun, Studi, Pekerjaan, dan Keharmonisan Keluarga
Ketapang, 2 September 2025.Umat Lingkungan Santa Lusia, Paroki Santo Agustinus Paya Kumang, Keuskupan Ketapang, malam ini menggelar misa syukur di rumah Bapak DERSI, SH., M.A.P. Perayaan ekaristi yang dimulai pukul 18.30 WIB ini dipimpin oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP, dengan lagu dipimpin Ibu Lucia Nilus, mazmur oleh Ibu Efriana, serta pengantar dan doa makan oleh Bapak Antonius Suparno.
Misa syukur ini dihadiri oleh umat Lingkungan Santa Lusia beserta para suster, sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan yang diterima keluarga dan umat, antara lain:
-
Syukur atas tercapainya usia pensiun ASN/PNS Bapak DERSI, SH., M.A.P. pada usia 60 tahun, setelah 26 tahun mengabdi sebagai pegawai negeri.
-
Syukur atas pekerjaan baru yang diterima oleh Basilio Gregori Chepno, ST.
-
Syukur atas kelancaran studi yang dijalani Paskalia Anastasia di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (UNTAN).
-
Syukur atas keharmonisan keluarga, kesehatan, dan rezeki yang senantiasa dilimpahkan Tuhan.
Refleksi Homili RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP dalam Misa Syukur Lingkungan Santa Lusia
Dalam misa syukur yang diadakan di rumah Bapak DERSI, SH., M.A.P., umat Lingkungan Santa Lusia memperoleh kesempatan mendengarkan homili mendalam yang disampaikan oleh RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP. Homili ini bukan sekadar renungan singkat, tetapi menjadi pengingat spiritual yang kaya makna, khususnya dalam suasana Bulan Kitab Suci Nasional yang setiap tahun mengajak umat Katolik untuk semakin mencintai, merenungkan, dan menghidupi Sabda Tuhan.
Pastor Oscar membuka homili dengan mengajak umat merenungkan perikop Injil yang berkisah tentang Yesus di rumah ibadat Kapernaum. Di tempat itu terjadi dua peristiwa penting yang menyingkapkan siapa sesungguhnya Yesus: pertama, Yesus mengajar dengan kewibawaan yang tidak sama dengan ahli-ahli Taurat; kedua, Yesus menunjukkan kuasa-Nya dengan mengusir roh jahat yang merasuki seorang manusia. Dua peristiwa ini, sebagaimana dijelaskan Pastor Oscar, bukan hanya menunjukkan kuasa spektakuler, tetapi sekaligus mempertegas identitas Yesus sebagai Mesias yang datang membawa keselamatan.
“Identitas Yesus sebagai Mesias nyata melalui kuasa-Nya yang menyembuhkan dan mengusir setan. Sabda-Nya hendaknya menjadi pegangan hidup kita, khususnya dalam Bulan Kitab Suci ini,” tegas Pastor Oscar di hadapan umat.
Yesus yang Mengajar dengan Kewibawaan
Kewibawaan Yesus dalam mengajar berbeda dengan kewibawaan manusia biasa. Ia tidak mengajar dengan mengutip hukum secara kaku, melainkan menyampaikan Sabda dengan otoritas ilahi yang lahir dari kesatuan dengan Allah Bapa. Dalam Injil Markus, umat yang mendengarkan-Nya merasa takjub, karena pengajaran-Nya penuh kuasa. Pastor Oscar menekankan bahwa kewibawaan Yesus ini tidak sekadar karena kata-katanya indah, tetapi karena Ia hidup sesuai dengan apa yang Ia ajarkan. Kehidupan-Nya adalah kesaksian nyata.
Bagi umat beriman, teladan ini mengandung pesan mendalam: Sabda Allah tidak boleh hanya berhenti sebagai pengetahuan di kepala, melainkan harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bulan Kitab Suci bukanlah ajakan untuk sekadar membaca Alkitab sebagai bacaan rohani, tetapi mendorong umat untuk membiarkan Sabda itu mengubah hati, pikiran, perkataan, dan tindakan.
Kuasa Yesus yang Mengusir Roh Jahat
Peristiwa kedua yang terjadi di Kapernaum, yakni Yesus mengusir roh jahat, menunjukkan aspek lain dari identitas-Nya. Ketika roh jahat berteriak, “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah!”, hal itu menyingkapkan bahwa bahkan kuasa gelap pun mengenal Yesus. Pastor Oscar menekankan bahwa pengusiran roh jahat adalah tanda nyata bahwa Kerajaan Allah hadir, dan kuasa kegelapan tidak dapat bertahan di hadapan kuasa Kristus.
Bagi umat yang hidup di zaman modern, kuasa Yesus ini tetap relevan. Walau wujud “roh jahat” sering kali tidak hadir dalam bentuk kerasukan yang dramatis, namun kuasa kegelapan dapat hadir melalui sikap iri hati, kebencian, permusuhan, kesombongan, korupsi, dan segala bentuk dosa struktural maupun pribadi. Sabda Yesus, doa, serta kehidupan dalam sakramen adalah cara untuk terus melawan kuasa kegelapan itu.
Sabda yang Menghidupkan, Bukan Mematikan
Dalam bagian berikut homilinya, Pastor Oscar mengingatkan umat tentang kuasa perkataan. “Kata-kata yang mematikan adalah kata-kata yang menghujat, sedangkan kata-kata yang menghidupkan adalah pujian dan kasih sayang. Berpikirlah sebelum berbicara,” pesannya.
Refleksi ini sangat aktual dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini. Kita hidup di era media sosial, di mana kata-kata dapat dengan cepat menyebar, baik untuk kebaikan maupun untuk melukai. Satu komentar negatif bisa menghancurkan harga diri seseorang, sedangkan kata-kata penuh cinta dapat membangkitkan semangat dan memberi pengharapan.
Pastor Oscar menegaskan bahwa setiap orang beriman dipanggil untuk meneladani Yesus yang Sabda-Nya selalu menghidupkan. Umat diajak bertanya pada diri sendiri: Apakah perkataan kita membawa kehidupan bagi orang lain? Ataukah justru menjadi sumber perpecahan, gosip, atau kebencian?
Hidup Berjaga dalam Terang Kristus
Mengutip surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, Pastor Oscar menekankan ajakan untuk berjaga dalam kehidupan sehari-hari. Berjaga tidak berarti hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa hadir dan berkarya dalam hidup kita.
“Persekutuan yang teguh dalam kebenaran adalah wujud berjaga. Teristimewa ketika kita menyantap Tubuh dan Darah Kristus, kita dikuatkan dalam karya-karya kita,” lanjutnya.
Berjaga berarti menolak hidup dalam kegelapan dosa, dan sebaliknya memilih berjalan dalam terang kasih Kristus. Dalam praktiknya, berjaga diwujudkan melalui sikap saling menasihati, menegur dalam kasih, dan bersedia dibimbing oleh kehendak Allah. Dalam kehidupan berkeluarga, berjaga berarti menjaga kesetiaan dan cinta kasih. Dalam kehidupan sosial, berjaga berarti menolak ketidakadilan, serta membela mereka yang lemah.
Apresiasi bagi Bapak DERSI, SH., M.A.P.
Bagian homili juga diisi dengan ungkapan syukur dan apresiasi kepada keluarga tuan rumah, yakni Bapak DERSI, SH., M.A.P. yang baru saja memasuki masa pensiun setelah 26 tahun mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Pastor Oscar menyebut karya pengabdian Bapak DERSI sebagai “cahaya yang tetap bersinar walaupun telah memasuki masa pensiun.”
Pensiun bukan akhir dari pelayanan, melainkan awal untuk memperluas karya dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat. Semangat pengabdian selama bertahun-tahun menjadi teladan bagi generasi muda untuk bekerja dengan penuh integritas, dedikasi, dan tanggung jawab.
Selain itu, Pastor Oscar juga mengungkapkan rasa syukur atas berkat lain yang diterima keluarga, yakni putra-putri yang telah memperoleh pekerjaan dan yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. Semua ini menjadi tanda penyertaan Allah yang nyata dalam kehidupan keluarga.
Membangun Sikap Syukur dan Ketergantungan pada Allah
Pastor Oscar menekankan bahwa seluruh berkat ini bukanlah semata hasil usaha manusia, melainkan anugerah Allah yang harus disyukuri. Misa syukur menjadi bentuk nyata pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.
Syukur bukan hanya diungkapkan lewat doa atau perayaan liturgis, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata: hidup sederhana, berbagi dengan sesama, mengabdi tanpa pamrih, serta menjaga keharmonisan keluarga. Dengan demikian, syukur tidak berhenti pada kata-kata, melainkan mewujud dalam perbuatan yang menghadirkan kasih Allah bagi orang lain.
Penutup Penuh Sukacita
Homili yang disampaikan RP. FX. Oscar Aris Sudarmadi, CP akhirnya membawa umat kepada refleksi mendalam bahwa iman bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Identitas Yesus sebagai Mesias harus menjadi identitas umat-Nya yang hidup dalam kasih, kebenaran, dan kesetiaan.
Misa syukur pun ditutup dengan doa bersama serta ramah tamah yang penuh keakraban. Suasana sukacita iman begitu terasa, memperlihatkan bahwa iman tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dihidupi dalam kebersamaan sebagai saudara seiman.
📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa
Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang
Tanggal: 2 September 2025
0 comments:
Posting Komentar