Renungan Fr. Boy: Pujian Setan Adalah Dusta, Jangan Terjebak Kata-Kata Manis Dunia

 

Foto Fr. Alexander Fransesco 

Renungan Fr. Boy: Pujian Setan Adalah Dusta, Jangan Terjebak Kata-Kata Manis Dunia

Ketapang, 2 September 2025.Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, digital, dan penuh dinamika, penilaian manusia terhadap sesamanya kerap terjebak pada hal-hal yang dangkal dan subjektif. Fenomena ini disoroti secara mendalam oleh Fr. Alexander Fransesco Agnes Ranubaya, S.Kom., S.Fil., atau yang akrab disapa Fr. Boy, dalam renungan yang disampaikannya pada Selasa (2/9) dengan mengangkat bacaan Injil Lukas 4:31-37.

Baik, saya akan kembangkan bagian tersebut menjadi naskah berita/renungan reflektif sepanjang ±2000 kata dengan bahasa jurnalistik yang naratif, mendalam, dan kaya deskripsi agar sesuai dengan gaya Anda yang biasanya menyukai berita panjang, detail, dan penuh makna. Berikut drafnya:

Pujian Setan Adalah Dusta

Dalam renungan bertajuk Refleksi, Fr. Boy menegaskan dengan lantang bahwa “pujian setan adalah dusta bagi Tuhan.” Ucapan ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah ajakan bagi umat untuk lebih waspada dalam menilai setiap kata manis yang mereka terima.

Menurutnya, pujian yang lahir dari kejahatan tidak pernah benar-benar menjadi kebaikan, melainkan justru kekejian yang menodai hati. “Seperti pujian di depan, namun keburukan yang diumpat di belakangnya,” ungkapnya, seraya menekankan bahwa dunia sering kali menampilkan wajah yang berbeda antara di hadapan publik dan di balik layar kehidupan.

Bahaya Kata-Kata Manis yang Menikam

Lebih jauh, Fr. Boy mengingatkan umat untuk tidak mudah silau oleh kata-kata manis. Kata-kata yang terdengar indah di telinga bisa saja menyimpan niat jahat di baliknya. Ia mencontohkan bagaimana dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang memuji di depan, tetapi sesungguhnya memiliki maksud tersembunyi untuk menjatuhkan.

“Penghargaan yang tulus merupakan buah dari cinta kasih. Namun kata-kata manis untuk menikam seseorang di belakang merupakan kejahatan moral,” tegasnya. Menurutnya, sikap ini tidak hanya melukai orang yang menjadi sasaran, tetapi juga merusak relasi antar manusia serta menghancurkan kepercayaan.

Ia menggambarkan betapa sakitnya bila seseorang menerima sanjungan di hadapan banyak orang, namun kemudian mendengar kabar bahwa orang yang sama justru menjelek-jelekkannya di tempat lain. “Itu bukan sekadar luka kecil, tetapi pengkhianatan moral yang mendalam,” tambahnya.

Diam dan Tenang di Dalam Roh

Dalam menghadapi realitas kehidupan yang penuh dengan dinamika pujian dan caci maki, Fr. Boy menekankan pentingnya sikap tenang dan rendah hati. Ia mengajak umat untuk bersikap seperti batu karang yang kokoh, yang tidak goyah diterpa ombak, baik ketika dipuji maupun ketika dicaci.

“Diam dan tenanglah di dalam Roh. Tidak terbang ketika dipuji, tidak tumbang ketika dicaci. Balaslah setiap pujian dunia dengan rasa syukur dan belajarlah untuk tidak berpuas diri,” pesannya.

Ia menambahkan bahwa sikap ini hanya bisa lahir dari hati yang terlatih dalam doa dan hidup yang ditopang oleh iman. Tanpa kekuatan Roh Kudus, manusia akan mudah terbawa arus: melayang tinggi ketika dipuji, lalu jatuh terpuruk ketika dihina.

Menghadapi Dunia yang Penuh Kepalsuan

Melalui renungan tersebut, Fr. Boy mengajak umat untuk memandang segala bentuk penghargaan dan kritik dengan kacamata iman, bukan dengan ukuran duniawi yang penuh kepalsuan. Dunia sering kali menilai manusia berdasarkan penampilan luar, pencapaian materi, atau kata-kata yang terdengar indah, padahal Tuhan melihat hati.

Ia menegaskan bahwa ukuran sejati dari nilai hidup manusia bukanlah seberapa banyak pujian yang diterima, melainkan seberapa dalam kasih yang ditanamkan kepada sesama. “Pujian dunia hanyalah sementara, tetapi cinta kasih yang tulus akan tinggal selamanya,” ujarnya.

Keteladanan dari Injil Lukas 4:31-37

Mengacu pada bacaan Injil hari itu, Fr. Boy menguraikan bagaimana Yesus mengusir roh jahat di Kapernaum. Dalam kisah itu, setan berusaha memuji Yesus dengan mengatakan, “Engkaulah Yang Kudus dari Allah.” Namun, Yesus tidak menerima pujian tersebut karena Ia tahu bahwa itu bukanlah pujian yang lahir dari kebenaran, melainkan tipu daya.

“Yesus sendiri tidak silau dengan pujian setan. Ia tahu bahwa kata-kata manis yang keluar dari mulut roh jahat adalah dusta, sebuah cara untuk mengaburkan kebenaran,” jelasnya. Dari teladan ini, umat diajak untuk belajar membedakan antara pujian yang tulus dan pujian yang menyesatkan.

Relevansi di Dunia Modern

Fr. Boy lalu mengaitkan pesan Injil ini dengan konteks dunia modern yang serba cepat, digital, dan penuh dinamika. Di era media sosial, kata-kata pujian dan cacian bisa tersebar begitu cepat. Banyak orang tergoda untuk mengejar “likes,” “followers,” atau komentar manis, padahal tidak semuanya lahir dari ketulusan.

“Di media sosial, kita sering kali melihat pujian yang tak lebih dari topeng. Ada yang memuji di kolom komentar, namun di balik layar justru iri, dengki, atau bahkan menjelekkan. Inilah bentuk modern dari pujian setan yang menipu,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar umat tidak menilai diri berdasarkan standar semu tersebut. “Kita bukanlah nilai yang ditentukan oleh jumlah likes atau komentar indah. Identitas sejati kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi, bukan makhluk yang bergantung pada pujian semu dunia,” tegasnya.

Belajar dari Kehidupan Sehari-Hari

Dalam renungan panjangnya, Fr. Boy memberikan contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari. Ia menyinggung fenomena di tempat kerja, di mana seseorang bisa saja dipuji oleh rekan atau atasan, namun sesungguhnya hanya dijadikan “tameng” untuk kepentingan tertentu.

“Berapa banyak orang yang dipuji sebagai pekerja keras, padahal di belakang dibicarakan buruk hanya karena dianggap saingan? Atau ada yang dipuji sebagai sahabat, namun di belakang dihianati? Semua itu adalah cermin dari betapa seringnya manusia terjebak dalam kata-kata manis yang menipu,” ujarnya.

Menurutnya, cara terbaik menghadapi situasi ini adalah dengan kembali kepada nilai-nilai iman: kejujuran, ketulusan, dan kerendahan hati. Dengan demikian, manusia tidak lagi terombang-ambing oleh pujian palsu atau kritik yang menjatuhkan.

Tidak Berpuas Diri, Selalu Bersyukur

Fr. Boy menekankan bahwa setiap pujian yang datang harus dibalas dengan rasa syukur, bukan dengan kesombongan. “Balaslah setiap pujian dunia dengan rasa syukur dan belajarlah untuk tidak berpuas diri,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa rasa syukur menjaga hati tetap rendah. Syukur membuat manusia sadar bahwa setiap keberhasilan bukan semata-mata hasil kerja keras pribadi, melainkan anugerah Tuhan. Dengan begitu, pujian dunia tidak lagi menjadi jebakan, melainkan jalan untuk semakin dekat kepada Sang Pemberi Hidup.

Ajakan untuk Bertumbuh dalam Kasih dan Kejujuran

Menutup refleksinya, Fr. Boy kembali menegaskan ajakan agar setiap orang terus bertumbuh dalam kasih dan kejujuran hidup. Ia mengingatkan bahwa dunia akan selalu menawarkan kepalsuan, namun hanya orang yang berpegang teguh pada kebenaran yang akan menemukan damai sejati.

“Marilah kita belajar untuk setia pada kasih yang tulus. Jangan terjebak dalam permainan kata-kata manis yang menipu. Kita dipanggil bukan untuk hidup dalam kepalsuan, tetapi untuk mewartakan kebenaran,” pungkasnya.

Renungan lengkap Fr. Boy dapat diikuti melalui akun Instagram pribadinya: @frater_boy, tempat ia kerap membagikan refleksi iman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari umat Katolik.frater_boy

📍Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

🕊️ Gembala Umat, Pelita Iman, Sahabat Jiwa

Ditulis oleh: Tim Redaksi Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki Santo Agustinus Paya Kumang

Tanggal:   2  September  2025

About Gr.SAPRIYUN,S.ST.Pi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Posting Komentar